Rabu, 30 Mei 2018

Perang Batin

3:39 PM 5/30/2018
Malam tadi saat aku hendak ke kamar mandi tiba-tiba saja kucing kecil ku diserang oleh kucing tetangga di atas atap kamar mandi. Kamar mandi ku terpisah dengan dapur jadi aku bisa melihat langsung kucing ku di atas loteng kamar mandi. Tanpa basa basi aku mengguyur dengan berberapa air ke atas loteng. Kucing ku melompat ke dinding dapur tempat yang memang biasanya kucing ku lewat, sementara kucing tetangga lari kocar-kacir, kadang lari ke loteng dapur. Sepertinya kucing tetangga ku ini tidak tau jalan baliknya, naik bisa turun enggak. Menggangu saja aku coba menolongnya dengan mengisyaratkan lewat sini, tapi kucing itu ketakutan. Bodoh amat repot-repot aku nolongin nanti dia terjun sendiri juga kok.

Seharusnya..

Kucing itu panggil aja Putut, dia malah naik ke loteng ruang tamu ku yang lumayan tinggi terus terjun ke loteng tetangga yang punya tu kucing!! nah gitu dong tanpa ku tolong itu kucing pasti bisa nekat cari solusi, aku kembali ke kehidupan ku dan ingin istirahat, aku masih lelah dan ngantuk. Kacaunya jam tidur beberapa hari ini membuatku tidak enak badan terlebih setelah dampak magang ku dulu yang sangat memakan energi kehidupan aku jadi lebih mudah kelelahan. Aku pernah memakai kekuatan melewati batas akibatnya aku tidak tau batas normal lelah ku, singkatnya seperti memaikan game dengan skor tertinggi tanpa sengaja dan terjadi check point disana. Aku tidak tau dikondisi mana harus istirahat. Kekuatan manusia penuh misteri. Jadi kali ini mumpung bulan puasa aku akan memulihkan tubuhku sebelum bertempur lagi dengan realita.

Aku melihat layar handphone ku dan ku dapati sudah jam setengah sepuluh, kalau aku sampai tidur jam 11 lewat aku bisa bermimpi yang aneh-aneh, mungkin itu isyarat kalau aku tidak boleh tidur di waktu masuknya jam sholat. Aku membuka FB dan Line, gak ada yang seru dengan kata lain aku bosan, ini pertama kalinya aku super bosan! aku juga mulai tidak tertarik dengan game, ke warnet juga males. Aku melongo sambil melihat ke luar jendela, terlintas dibenakku kalau aku harus fokus istirahat, ya aku harus istirahat.
Iqamat sudah terdengar aku siap sholat tapi suara tetangga mengejutkanku. Rupanya tetangga ku sedang memanggil kucingnya si Putut itu yang masih terjebak di atas loteng. Eh! aku kira sudah turun, dalam hati mau nolongin sih tapi iqamat sudah terdengar, aku pun lebih mementingkan sholat.
Suara tetangga mengangguku sholat, iii-ini pasti cobaan, aku meyakinkan diriku dalam rasa bersalah.
Aku menghela napas. Rasa bosan bercampur dengan rasa bersalah atas kucing tetangga ku yang masih terjebak, iya masih! suara batin ku mulai berkecamuk membahas permasalahan ini.

*Lagian itu kucing salahnya sendiri lompat ke sana!
*Kucing itu gak berakal, gak kayak kita
*ehhhh dia yang duluan nyerang kucing kita
*what! belum tentu dia berniat menyerang, dimana-mana reaksi kucing kalau ketemu yang lebih besar darinya bakalan ketakutan
*hah!? siapa peduli dengan opini mu

Begitulah apa yang sedang terjadi dengan ku. Cuaca panas ditambah rasa bosan dan rasa bersalah membuatku makin gelisah, kepala ku mulai sakit memikirkannya. Kadang sengaja aku melirik ke atap tetangga dan mencari keberadaan kucing itu, Ini sudah jam 3 sore tidak ada suara dari si kucing, aa-apa jangan-jangan dia pingsan dan mati terpanggang, aku mulai panik. Aku mencoba menepis hal itu dengan berbagai alasan lagi.
Kenapa tetangga ku malah gak mempedulikan kucingnya sendiri padahal mereka suka kucing?
Kenapa harus aku yang salah?
Usaha sendiri kek?
Aku mulai terpuruk dengan kesalahan ku. Iya aku sering melakukan ini yang selalu saja diakhiri dengan penyesalan, rasa ke tidak pedulian ini mengangguku yang ingin melangkah maju. Jika aku tidak melawan, aku.. tidak tau dan bagaimana? mungkin saja tetangga ku sudah tidak suka dengan ku akibat perbuatan ku yang membuat kucing mereka terjebak. Lagian sudah jam segini apa alasan ku untuk membantu? ahhh berisik. Aku hanya berharap pada Tuhan agar semua dilancarkan, aku berdoa di sujud terakhir sholat ashar, yang kata guru ku ketika posisi sujud disitulah kita lebih dekat dengan Tuhan dan berdoa padaNya dalam hati. 

Setelah selesai aku pun minta adik ku untuk membantuku. Biarlah apa yang terjadi aku tak peduli lagi, mau aku dikatain atau apalah yang penting aku ingin mengakhiri rasa gelisah ini dan menolong kucing itu yang ingin di hampiri malaikat maut. Kalau kucing itu mati akibat kelaparan atau dehidrasi kami yang menanggung dosanya atau bisa saja dosa ku yang makin parah akibat ke tidak pedulian ku, aku tidak ingin hati ku mati jadi mari akhiri semua ini.
Aku mengambil tangga dan membawanya. Aku merasa keadaan ku cukup pulih tangga ini begitu mudah ku tenteng. Sampailah, aku mendirikan tangganya dan langsung menaiki. Aku melihat kucing itu rebahan disisi lain loteng agar tidak kepanasan, aku lega kucing itu baik-baik saja walaupun terlihat kelaparan dan haus.
"nyaw nyaw! mau ayam goreng gak atau snack?" sambil menyodorkannya
lama sekali membujuknya karena angin bertiup ke arah ku sementara kucing itu berada di pojok sana. Aku mencoba melempar sedikit daging ayam goreng tadi ke arahnya, rasanya sulit sekali karena tangganya bergoyang. Kucing itu mengendus bau ayam goreng tadi, batin ku bersorak Eureka!
"oke nyaw nyaw terus kemari" dan hap aku mendapatkannya, ada sedikit pemberontakkan tapi bisa ku tangani, kondisinya lemah. Setengah dari ke tinggian tangga aku melepas kucing tadi, dalam ke tinggian segini itu kucing walaupun kondisinya lemah pasti bisa menahan tubuhnya.
*tap kucing tadi mendarat dan langsung lari ke rumahnya
Ah hatiku jadi lega..

Hari ini aku mendapatakan pembelajaran baru kalau menolong orang itu gak perlu dikompromikan, kalau tujuan sudah jelas ingin memperbaiki diri hajar saja dinding yang menghalangi itu. Dinding itu tidak kokoh, akunya saja yang kurang percaya dengan kekuatan ku. Ini masalah mental.
Oke siap-siap taraweh..

Minggu, 27 Mei 2018

Rumit yang Hampir Sempurna

9:58 AM 5/28/2018
Kemarin adalah hari spesial yang pernah ku alami. Banyak sekali kejadian dalam satu bungkus judul post kali ini. "Rumit yang Hampir Sempurna" begitulah hasil dari kerasnya otakku untuk mencari judul post ini haha. Posting an kali ini memang menyenangkan untuk si monster labil, dia tertawa dan merasa ini adalah akhir darinya. Tapi itu hanya perasaannya saja bukan akhir sesungguhnya hihi.. jadi bacalah perlahan agar bisa memahami tulisan ku ini.

Here, im monster labil

Aku bangun kurang lebih jam setengah empat, malam tadi aku tidur cuma satu jam saja. Males sekali sahur masih mau tidur. Di rumah ini aku tinggal hanya bertiga bersama nenek dan adik ku, sementara kaka ku sudah beristri dan pindah ke rumah asli kami di RT tetangga, disana lah aku dan kaka ku tinggal sebelum pindah ke sini rumah nenek ku. Banyak yang terjadi dulu makanya kami pindah disini.
Setelah makan aku mempersiapkan diri untuk hari ini, iya hari ini ibuku berniat membuat acara buka bersama sore ini. Aku agak cemberut mendengar kabar itu pada jumat siang kemarin. Kalian tahu sebelum ibuku menikah dengan Pak Iin kami hanyalah keluarga sederhana. Jadi rencana buka bersama itu terdengar agak kurang pas di telinga ku, tapi aku mencoba berpikir positif kalau yang bikin rencana itu adalah Pak Iin sendiri bukan ibuku. Kalau sudah terjadi biarlah, aku yang di masa depan berjuanglah.

=====

Pagi ini nenek ku banyak ngoceh karna ibuku terlambat datang. Aku melirik jam dinding sudah pukul 8 lewat, aku agak emosi hari ini karena kurang tidur kaka ku juga belum membalas pesan ku untuk menanyakan posisi ibuku. Bibi ku sudah datang kemari membawa bahan-bahan. Aku tidak mau ambil pusing jadi aku mau tidur saja sebentar sampai kenyamanan ku diganggu oleh suara gaduh dari arah dapur, ah ada suara ibuku dan Pak Iin mereka sudah datang. Aku keluar dari kamar dan memastikan suara indah itu. Alhamdulillah mereka berdua telah sampai. Rasa lega ini mengurangi beban ku, aku kembali ke kamar dan siap mimpi indah. Soal menyiapkan acara biar keluarga dan tetangga ku saja yang urus aku ngantuk berat.
Seharusnya aku tidur pulas, suara gaduh yang luar biasa dari arah dapur mengalahkan musik pilihan untuk melelapkan ku dalam tidur. Kaka ku juga sering bolak balik ke kamar ku. Berisiki sekali. Aku menyerah ketika ibuku, adik ku dan kaka ku berdiri dekat lamari. Aku sempat ngiggau ke mereka berisik banget. Terlihat ibuku membagikan uang untuk kami dan kaka ku yang berbicara ingin handphone baru, ya ampun aku tidak tahan lagi. Sejujurnya aku tidak berharap uang dari pak Iin maupun ibuku. Aku memang belum kerja tapi aku sudah melatih pikiran ku untuk sedikit lebih mandiri. Aku sudah mendapatkan apa yang ku mau, kehadiran ibuku saja sudah membuatku senang. Terlebih aku sudah sering diberi uang saat aku masih ber-status anak yatim, jadi menganggap uang itu bukan lah hal yang istimewa, kan Tuhan Maha Kaya dan Maha Segalanya jadi cobalah tanamkan kata-kata itu. Uang yang diberikan ibuku akan ku gunakan untuk keperluan penting saja.

Terdengar suara adzan dari langgar membuat kaki pak Iin melangkah menuju sumber suara. Aku belum bisa memastikan sifat pak Iin karena jarang sekali bertemu dengannya. Dia memang penyelamat sekaligus penculik ibuku, aku dibandingkan dengannya berbanding jauh dalam hal tentang ibuku. Dia menahan ku untuk tidak berpikir apa-apa tentangnya walaupun aku telah mencoba, seperti melayani tamu rumah, aku akan bersikap baik. Mumpung jumlah makmumnya bertambah aku juga ikut pak Iin, biasanya makmumnya ditambah dengan ku hanya 2 orang, ditambah aku phobia diperhatikan, takut adzan atau iqamat, kalau sampai salah aku bisa down seharian. Aku bisa rasakan aura Bapaknya Putri kalau aku ini harus jadi pengurus langgar, ah ya ampun seandainya aku tidak phobia.
Aku terkejut kenapa keluarga dari Bapaknya Putri sholat kesini kan rumah mereka beda RT, oh pantes di depan rumahnya banyak kendaraan roda dua, mungkin sedang ada pertemuan keluarga. Ah ada rasa lega sedikit karena banyak orang jadi aura nusuk gak terlalu berasa.

=====

"hah kenapa harus aku, kaka aja" spontan aku membalas pernyataan ibuku mengelak untuk menyeru para tetangga agar datang berbuka puasa mengingat aku pernah lupa menyeru beberapa tetangga dan nenekku habis-habisan membahas itu. Nenekku tidak sadar membahasanya seperti seseorang yang sedang menggosip, aku marah dan tidak mau lagi sampai nenekku sadar kalau sikapnya menyakitiku. Kasus kali ini berbeda karena ada ibuku, ah aku tidak tahan dengan suara memelasnya, untuk hari ini saja.
Sehabis ashar aku langsung saja ke rumah tetangga-tetangga yang sudah di mark. Dari pak RT, pengurus langgar, imam langgar dan lain-lain, huft tetangga sebelah kanan sudah ku seru kemudian di kiri. Sampailah aku di depan rumah Nisa, pintunya sudah terbuka. Aku mengetuk pintunya, "Adit Adit.." sambil mengetuk pintunya. Tiba-tiba saja yang muncul si Nisa, aku jadi gugup. Sudah lama aku tidak melihat wajahnya, agak ada perubahan. Mungkin semalam dia pulang dari kos-an nya, soalnya instingku merasa demikian. 

"ah anu sore ini di rumahku berbuka puasa bersama bilang pada bapak mu lah dan si Adit juga"
"oh iya nanti aku bilang" Nisa membalas, dia juga terkejut dengan kehadiranku.

Sebelumnya aku pernah bilang kepadanya untuk menjaga jarak, aku tidak ingin pikiran kotorku mengubahnya. Aku merasa memang itulah pilihan terbaik untuk kami berdua, hati ku jadi merasa sepi tapi mau bagiamana lagi, kami harus melangkah maju. Biar rasa sakit menjadi bahan bakar untuk berubah menjadi lebih baik lagi. Tapi kali ini aku bertemu dengannya lagi, aku hampir saja sudah move on denganya bukan sebagai mantan tapi sebagai sahabat. Dulu pernah terlintas ada solusi terbaik untuk masalah ku tapi kepribadian ku belum matang, kali ini mungkin sudah bisa, aku akan jadi seseorang yang selalu ada untuknya.
Aku mengirim pesan ke dia lewat Line

"nis kau juga datang ya"
"hehe insyaallah" katanya
dia agak lambat membalas pesan ku, biasanya cepat, apa dia memiliki kekasih? rasanya aku harus berhati-hati agar tidak terjadi kesalah pahaman.

*brak*
Kemudian terdengar suara jeritan perempuan. Apa ada kecelakaan? ah aku sedang berwudhu. Setelah selesai aku langsung lari keluar dan benar ada yang kecelakaan, orang-orang pada ramai berkumpul. Seperti biasa aku melihat Ardi sudah berada disana menolong korban. Anak yang berada di tas gendong bayi ibunya mengalami luka di dahinya, darahnya keluar. Ibu dan kakak dari adik itu tidak kenapa-kenapa hanya si kecil itu yang terluka. Sebagian wajah si kecil itu tertutup darahnya. Aku ingin kesana tapi rasanya sudah tidak papa karena ada Ardi yang menolongnya. Aku juga sudah terbiasa melihat ini dalam satu bulan ini sudah 3 kali terjadi kecelakan di sekitar sini. Kalian tau dalam setahun pasti selalu ada yang kecelakaan di sekitar sini. Masih belum ada yang memberi papan peringatan bahaya tikungan maut atau apalah dari RT atau dari yang memiliki kedudukan tinggi. Apakah karena rumah-rumah yang berdekatan dengan jalan sehingga meyulitkan pemasangan papan peringatan? ini sudah 3 kali terjadi kecelakaan di sekitar sini. Ah aku jadi banyak berpikir lagi.

=====

Sudah banyak orang telah berkumpul, keluarga ku juga sudah berdatangan. Hampir semuanya lengkap. Kakak Yudhi, Paman, orang tua, kaka ku dan si Melda istrinya dan keluarga lainnya. Nisa sepertinya gak datang, bapaknya yang mewakili. Well acara kami mulai. Beberapa menit sebelum berbuka puasa ibuku menyuruh kakak dan kakak Yudhi untuk memberikan amplop ke semua yang hadir. Aku merasa gak enak, ah ini pasti ide pak Iin. Syukurlah bukan aku yang disuruh membagikan amplopnya, kalau aku yang membagikan bisa kacau menanggapi reaksi dan aura tiap orang.

Ibuku terlihat seperti Madam saat menghitung uang yang akan dibagikan buat ibu-ibu di dapur. Aku tau sifat ibuku rasanya aku ingin menegurnya tapi sulit sekali tak tau darimana awal untuk menegur, kondisinya kurang tepat.
Sekali lagi aku ucapkan aku tidak tertarik dengan uang, tidak ada keistimewaan disana kalau hanya disimpan dan digunakan untuk hal yang kurang bermanfaat. Aku mengerti itu dan membuat hati ku tergerak untuk berkerja setelah ramadhan ini dan mengumpulkan uang sebanyaknya untuk hal yang bermanfaat. Latihan untuk mengendalikan sifat labil ku ini juga hampir selesai, aku merasa bisa menangani berbagai masalah yang akan datang.

Aku sudah mendapatkan apa yang aku mau. Tapi masih ada rasa kosong dalam hati ini. Apa aku membutuhkan kekasih? rasa gelisah di dada ini membuatku sesak. Aku mencoba berjalan ke sana kemari untuk menenangkan ku. Nihil. Rasanya gak enak banget. Bolak balik buka FB dan Line gak ada yang dicari. Ah aku diam sejenak berpikir untuk memaknai perasaan gelisah ini. Hari ini spesial sekali dari pada hari-hari lainnya. Hari ini perasaan ku bercampur aduk ada senang, tawa, sedih, takut, marah, semangat dan lainnya, mungkin itu yang membuat perasaan gelisah ini. Si monster labil merasa senang, sekarang apa? apakah sudah selesai? tu-tunggu dulu masih banyak pertanyaan yang belum terjawab ini bukan akhir kisah hahaha.

Jumat, 25 Mei 2018

Awal dari Sang Monster Labil

Sang monster labil tidaklah kesepian. Teman, keluarga, pengalaman cinta, tubuh standar hampir semua ia dapatkan. Tapi jalan yang ia tempuh tak berjalan mulus. Ketika tahun pertama sekolah SMA ibunya cerai dan membutnya sedih dan ceria ketika di sekolah, lalu sedih lagi saat pulang. Ibunya hampir seharian tidak mau makan karena sakit hati, menangis di kamarnya. Hafidz tidak bisa berbuat apa-apa ia menyadari itu, jadi ia hanya diam dan merasakan apa yang ibunya rasakan, dengan itu rasa bersalahnya berkurang sedikit. Ia bersumpah jika si brengsek itu datang lagi kemari ia akan menghajarnya.

Amarah dan dendam membuatnya tetap melangkah maju, ia mulai pintar menyembunyikan perasaannya, padahal saat itu ia memiliki geng kepompong, ia bisa saja curhat dengan mereka namun ia merasa mereka tidak terlalu membantu, jadi ia hanya menjaga karakter cerianya di sekolah maupun dengan geng nya ia rasa itu berjalan dengan sendirinya tanpa rencana, dengan kata lain terjadi begitu saja. Ia pernah ingin mengungkapkan rahasianya ke temannya Dayat, ia berbicara sedikit dengan dia apa yang terjadi pada keluarganya. Ia merasa bebannya sedikit meringan setelah mengungkapkannya tapi jawaban Dayat lebih membuatnya semangat. Ia kembali ceria lagi.

Hari demi hari akhirnya ibunya pulih dari sakit hatinya. Keluarga dan teman yang membuat ibunya ceria lagi, ia merasa semuanya mulai baik-baik saja.

Ibunya membuat bunga-bunga plastik yang indah, yang pada saat itu lagi trend, perpaduan warna yang benar-benar indah, ia meminta ibunya untuk membuat satu untuk tugas di sekolahnya, dan jadilah bunga mawar pendek yang bercabang, agak aneh tapi ia tetap suka, guru di sekolahnya pun juga melirik hasil buatan ibunya. Ia sangat ceria.

Di rumah ia tidak sengaja mendengar percakapan ibunya dengan neneknya bahwa si brengsek itu terkena santet yang membuat dia mencintai si pelakor tersebut. Siapa lagi yang bisa membuat rumah tangga seseorang hancur selain si pelakor, yang lebih mengejutkan si pelakor itu datang ke rumah ku dan ibuku yang menghadapinya. Ia sangat marah mendegar semua itu, bergejolak lagi amarahnya namun tiba-tiba saja padam mendengar kalimat kalau si brengsek itu tidak mau makan dan terus-terusan merenung itulah yang membuat si pelakor itu datang ke rumahnya. Jadi ia sadar kalau si brengsek itu memang cinta dengan ibunya.

Sms masuk di handphone jadulnya, nomor ini ia kenal sekali, si pemilik nomor ini adalah anak dari si brengsek itu, katanya dari pesan itu menanyakan di mana ibunya, ia bilang enak saja, ia marah dan  mengirim kata-kata menusuk. "Enak saja dia ibuku, ibuku tidak akan ke neraka sana lagi, ibuku sangat baik dan perhatian dengan orang-orang yang disayangnya tidak seperti kalian" ia berteriak dalam hatinya. Ke esokannya ibunya menasehatinya untuk tidak mengirim sms ke dia lagi. Ia merasa terhenti karena tidak ada yang bisa dilakukannya. Ia mulai bosan bersekolah.

Kejadian yang tak disukanya masih berlanjut, kali ini si brengsek itu yang datang kemari karena sudah cerai dari si plakor. Santet kalah dari kekuatan cinta. Hafidz agak terdiam sedikit memikirkan apa yang ingin dilakukannya. Rupanya mantan ayah tiri ingin ke pasar dan memberi kesempatan untuknya membelikan satu barang yang ia mau. Tanpa pikir panjang ia minta tas merk yang ia inginkan sejak dulu. Ibuku kurang setuju tapi dia masih mau membelikannya. Tas yang ia mau tidak ada, makanya dia hanya membelikan tas yang mirip dengan apa yang tadi disebutnya. Agak mengecewakan tapi ia hargai itu.

Rupanya dia ada maunya, dia ingin membawa ibunya ke sana lagi. Untuk apa? kenapa mendadak bigini?

Banyak pertanyaan yang membelenggunya, yang lebih anehnya lagi ibunya mau diajak kesana. Ia berharap semuanya baik-baik saja.

Seharusnya..

Keluarganya Hafidz datang ke rumahnya dan mengatakan kalau ibuku terkena imu penunduk dari si brengsek itu, apa?! ia mencoba memahami apa yang telah terjadi. Ibunya sedang dekat dengan seseorang makanya si brengsek itu mencoba merebutnya. Tapi kenapa harus memakai ilmu hitam.. lagi? ia merasa bersalah seharusnya ia menyadari kalau waktu itu adalah perangkap, bertapa tidak berdayanya.. lemah.. terlalu banyak celah.. ia benci dirinya sendiri, sosok ibu yang ingin ia harapkan tetap bahagia kini harus berhadapan lagi dengan masalah besar.

Amarah yang samar-samar itu telah berkobar dihatinya, sangat marah, hitam pekat. Tapi sedikit ada kelonggaran ketika mendengar ibunya ikut dengan seseorang yang mencintainya, orang itu yang sedang dekat dengan ibunya, mungkin kata hatinya dari pada ikut dengan si brengsek itu lebih baik dengan orang baru itu. Tapi tetap saja dalam tubuh rapuhnya itu sedang menyala api hitam pekat campuran dendam dan amarah yang perlahan mulai mengambil alih hatinya. Padahal waktu itu ia sedang suka dengan seseorang, ia memiliki banyak teman ceria, memiliki obsesi konspirasi, mulai memperbaiki agamanya dan mulai serius belajar, jadi warna auranya menjadi beragam. Hitam, putih, merah, biru, hijau, kuning, ungu dan warna yang belum ia sadari. Ia bertekad meningkatkan segala hal, ia tak membutuhkan kata-kata motivasi ataupun seseorang untuk menenangkannya, ia ingin kuat walaupun sendiri karena ia tahu tak ada siapapun yang bisa menolong dirinya ketika susah.

Inilah awal dari sang Monster Labil..

Kamis, 10 Mei 2018

Kelemahan

Aku mempunyai seorang adik laki-laki yang bukan dari hasil pembuahan ayah ku. Hasil hubungan terlarang. Aku tidak suka dengan adik ku, dari segala bentuk dan jiwa tidak ada yang aku sukai, inilah kelemahan terbesar ku.

Sejak kecil aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk bermain dengan teman-teman di luar. Tidak punya waktu untuk bermain dengan adik ku, dia cerewet, aku benci anak kecil. Ketika bertemu dengan anak kecil yang cerewet emosi ku bakalan keluar. Sebetulnya aku orang yang sangat emosian dan jarang sekali menunjukkan nya ke teman-teman ku. Jaga penampilan begitulah. Di rumah aku sering membentaknya, membuatnya nangis. Kalau dia nangis pasti merusak barang-barang di rumah, berisik sekali.

Kepribadian yang berbeda, adik ku lebih ke sisi manusia pada umumnya tidak ada yang spesial dari nya. Maksudnya kepribadian umum adalah sifat yang di miliki orang-orang pada umumnya dia suka permainan bola, balapan, jalan-jalan, mainan alat berat seperti mobil, truk, apa-apaan semua itu tidak ada yang spesial. Melihat banyaknya orang berjejal dan berteriak mendukung tim favorit mereka, padahal mereka tidak tau sama sekali sifat apa yang dimiliki orang tersebut. Jika kelemahan mereka diperlihatkan akan kah tetap dibanggakan. Kaka ku juga sama suka bola tapi dia pintar dalam pelajaran.

==========

Aku habis akal untuk menghindari adik ku, dia tidak pandai bergaul ditambah tidak naik kelas 2 tahun karena sering izin ikut ibu jalan-jalan membuat image tentangnya makin buruk. Jika aku tidak naik kelas saat SD dulu mungkin aku akan menjadi orang yang bodoh selamanya mengingat kepribadian ku yang sangat sensitif, kemudian aku kabur dari rumah dan di pungut oleh penjahat lalu di didik menjadi pembunuh bayaran, bisa jadikan.
Apa yang mesti dilakukan? aku tidak punya pengalaman dalam mendidik. Seorang guru? mereka tidak sempat mengurus banyak siswa siswi satu persatu. Aku tidak terlalu suka dengan guru-guru di sekolah mereka membuat ku gangguan mental. Jadi apa yang harus ku lakukan buat adik ku, mendekatinya saja sudah jijik. Ibu ku juga tidak ada waktu untuk mendidik. Oh iya aku lupa kalau ibu ku itu tidak terlalu pandai mendidik hal itu juga menjadi kelemahan terbesar dalam keluarga ku. Aku tidak bodoh aku hanya malas belajar dan aku sebenarnya phobia dengan guru yang di sekolah, sekolah mana? semua sekolah lah, tapi tidak semua guru juga sih.
Tidak ada cara yang lain selain membuat adik ku senang, aku membawanya memancing demi menebus apa yang telah ku perbuat. Sebetulnya aku masih jijik dengannya tapi dia tetap adik ku.

Saat Raga membawa adiknya ikut main badminton bersama kami aku iri melihatnya bisa akrab dengan adiknya. Coba kalau gua aku bawa adik ku belanja dia malah diam seribu kata, aku mau belikan baju tidak ada yang dia suka, aku nanya apa yang dia mau malah diam padahal dia sendiri yang mau ikut aku belanja akhirnya aku berantem dengannya di rumah. Tidak tau lagi apa yang harus dilakukan, bicara baik-baik salah apalagi sebaliknya. Mungkin adik ku juga phobia gara-gara di sekolah, tapi jika ada yang membully siap-siap aja mental. Ah itu bukan penyelesaian. Hal ini adalah salah satu jawaban atas pertanyaan yang dulu aku ragukan. Kini aku yakin masalah pertama kali yang harus diselesaikan adalah keluarga ku. Insting ku menunjuk ke arah yang belum aku temui, namun semuanya belum bisa diselesaikan dengan cepat karena aku masih memiliki banyak kelamahan.

Minggu, 06 Mei 2018

Beater

Bagian 2

Pernah gak kalian mengalami bad mood yang luar biasa?
pasti pernah, rasanya gak enak banget, terpaksa berperilaku baik padahal hati lagi panas. Oh iya pertama kali aku mendapatkan karakter Beater ketika aku kelas 2 SMA, aku rasa ini peningkatan diri. Nama karakter ini aku ambil dari anime S.A.O saat Kirito berpura-pura menjadi tokoh jahat. Awalnya aku juga gak sengaja memakai nama ini, ah bukan lebih tepatnya julukan.

Aku menganggap diri ku ada dua, Hafidz dan Beater. Beater itu merah gelap, kekuatan(strenght), kokoh, hanya peduli diri sendiri dan berpihak pada keadilan. Beater hadir sebagai penyempuraan, banyaknya masalah dan tidak adanya sandaran membuat karakter ini bangkit. Coba kalian tebak apa kemampuan pertama kali yang ku dapat dari karakter ini, haha mana mungkin kalian bisa jawab. Kemampuan pertama kali yang ku dapat dari karakter ini adalah niat membunuh.
Peningkatan yang seharusnya tidak diperlukan dalam dunia pelajaran.

Aku kacau sekali bisa-bisanya kemampuan ini muncul dan aku telah banyak menggunakannya, ke siapa saja aku menggunakannya? pertama ke Ebet saat aku main game di warnet, jelas sekali dia panik sampai curhat ke teman-temannya oh bukan maksudnya teman nongkrongnya. Setelah aku membuatnya takut aku langsung sadar "dia ketakutan" kok bisa ya?
Kedua aku menggunakannya ke Via, yap reaksinya kurang lebih sama dengan Ebet. Ketiga ke Agus dan banyak lagi. Aku menggunakannya karena mereka terlalu mengganggu ditambah aku sedang frustasi karena berbagai alasan.
Rasanya menakuti lawan? tidak enak sekali seolah-olah aku ingin merelakan segalanya kalau sampai niat membunuh mu tak terbendung, siapa yang ingin menjadi pelajar nakal di sekolah.

Oh iya aku juga pernah menggunakannya ke hewan, waktu itu kucing ku sering diserang oleh kucing gua juga cuman lebih tua, wajar setiap musim kawin selalu berantem. Tapi kucing ku yang satu ini masih kecil dan polos malah ikut terlibat, sampai-sampai pinggang kucing ku ini tergores seng tajam dan terluka, darah keluar. Aku sangat marah. Sedikitpun aku tidak akan membiarkannya masuk ke rumah ini lagi. Aku tau kebiasaan kucing preman ku yang satu ini panggilannya Uning jadi tiap kali dia bergerak aku sudah tau apa tujuannya karena aku yang membesarkannya.

Tiap kali kucing tetangga atau kucing ku sendiri yang diserang olehnya(yang jelas perbedaan kekuatan) aku langsung mengejarnya seperti mimpi buruk. Prediksi, kecepatan, insting, skill, aku akan mengejarnya sampai dia jera, inilah akibatnya menindas yang lebih lemah. Ya padahal sih dia juga lemah, namanya juga hewan, tapi entah kenapa hati ku sangat sakit kalau ada yang minta tolong, intinya kucing ku Si Uning hanya berniat menindas bukan- umm ah maksudnya si Uning itu aku yang telah membesarkan seharusnya dia tidak boleh berbuat jahat, ya~ walaupun saat kecil dia sering aku latih insting dan kekuatannya. Intinya Si Uning tidak boleh seperti ular yang memangsa kodok, kalau terjadi pastilah dia sudah dibuang.

==========

Rasa frustasi ku dapat disembunyikan dengan rapi berkat kemampuan penyesuaian ku dalam bergaul. Apakah masa-masa SMA ku penuh dusta? enggak juga, masa SMA ku justru penuh warna, hal itulah yang membuat aku banyak pikiran setiap kali berurusan dengan masalah. Aku tidak pernah bisa serius dalam hal pelajaran, aku ingin bergegas keluar dari lingkungan sekolah.
Kenapa ingin cepat-cepat lulus? aku ingin menenangkan diri, setidaknya keluar dari masalah sekolah membuat ku lebih leluasa berkembang dan mencari sesuatu yang harus ku cari.

==========

Aku tidak menyangka, semakin sering aku menggunakan kekuatan Beater semakin mudah fisik ku melemah. Aku tidak merasa karena faktor usia, jelas sekali karena berlebihan menggunakan kekuatan. Ketika kerja tenaga, pikiran, bakat benar-benar harus diuji. Terlebih lagi sedang aku puasa dan harus bekerja berat. Waktu itu hanya tanggung jawablah yang membuatku tetap bertahan. Rasa lelah, lapar, haus, sakit kepala, jantung kelelahan dan kurang tidur seandainya seseorang meninju dada kiri sekali saja mungkin aku akan mati atau aku menyerah oleh rasa sakit dan terjatuh bisa dipastikan aku akan mati, mati yang sesungguhnya.

Apakah aku takut? tidak justru aku ingin sekali dipanggil, aku merelakan segalanya karena aku berpikir telah melakukan hal yang benar.

Seminggu setelah hari raya aku jatuh sakit setiap kali jantungku berdetak akan menimbulkan rasa sakit seperti ditusuk jarum, ini menandakan aku telah melewati batasan ku. Aku berbohong kalau aku sedang sakit jantung, aku bolos magang lagi.
Keluarga ku memperlihatkan aura curiganya. Walaupun bukan sakit jantung aku bisa saja mati karena rasa sakit ini. Aku meminta kaka ku untuk menemani ku berobat tapi dia tidak mau alasannya kerja padahal aku telah menaruh kepercayaan ku pada kaka ku tapi jawabannya selalu saja, dan pasti karena peraturan Ushu ku atau adik ayah ku agar bekerja serius, mau nya~

Aku marah tapi Beater sudah melewati batas.. aku menjadi diriku dengan perasaan setengah campuran.

Aku berkendara melewati jalan rusak, ini jalan tercepat agar sampai. Setiap kali aku melewati lubang seminimal mungkin supaya tidak membuat getaran tapi tetap saja rasanya sakit sekali. Aku berobat ke menteri saja kalau ke rumah sakit rasanya ribet lagian aku sendirian dan- siapa yang peduli. Aku masuk ke ruang menteri dan ditanyakan berbagai pertanyaan  Dia bilang kalau bukan sakit jantung, dia juga tidak tau pasti. Apa-apaan menteri itu kerjanya tidak becus cuman diberi obat penghilang rasa sakit dan obat lainnya. Aku tidak meminumnya, obat-obat ini mencurigakan dan juga menterinya, gadungan? entahlah yang jelas mencurigakan. Akhirnya aku hanya istirahat di rumah dan berhenti magang padahal orang disana tertarik dengan hasil kerja ku.

Sayang sekali sih mungkin pekerjaan berat-berat tidak cocok untukku..