Minggu, 31 Maret 2019

Bronze Elder Dragonian

Kami murid kelas 9 C mendapat tugas membuat kerajinan tangan dari tanah liat. Kata bu guru bebas bentuknya.
Aku punya ide tersendiri.
Sorenya aku pergi ke sungai untuk mencari tanah liat yang bagus yang mudah dibentuk. Biasanya kami bermain adonan kue dari tanah di sungai ini makanya aku tahu kalau mudah dibentuk. Tinggal bagaimana cara aku mengolahnya seperti bikin adonan tepung. Harus benar-benar merata. Kerikil dan dedaunan mati aku singkirkan.
Dan.. siap dibentuk!!

Coba tebak aku akan membuat apa?

Ibuku merasa heran denganku. Sedang bikin apa anakku ini? mungkin katanya dalam hati.
"kerajinan apa nak yang kamu buat?" ibuku akhirnya penasaran.
Aku menjawab.
"Bikin Naga ma!" sambil tersenyum ceria.

*doengg

Esoknya di sekolah.
Syukurlah bentuknya gak rusak setelah melewati rintangan jalan gak rata saat bersepeda tadi.
Jam pelajaran kesenian akhirnya tiba.
Satu persatu kami maju ke depan menanti pendapat dan menunggu nilai dari bu guru. Sedari tadi aku lihat semuanya yang telah dinilai bentuknya sama aja.. yaitu asbak rokok.
Kecil, sedang, besar, bahkan ada yang dicat.
Punya Ramlan juga asbak dan bentuk kecil. Kayaknya lagi gak mau kotor-kotoran dia.

Kemudian giliranku tiba..

Aku membuka bungkus wadah dari kediaman Bronze Elder Dragonian.
Cahaya menyilaukan membuat semua teman sekelasku terpana.
*clinggg!

"bisa dijelaskan ini apa?" kata bu guru.

~~~
Terdiam sebentar..
~~~

"ini Naga bu.." aku membalas

astagadragon!!!

Teman sekelas mulai mengerumuni meja guru karena penasaran bagaimana sosok Naga yang aku buat.
Aku tersenyum sendirian.
"aa.. gunanya buat apa ya?" bu guru sedikit kebingungan.
*ehem
"enak dipandang bu, atau memperindah ruangan" spontan saja aku bilang begitu.
"ahaha.." bu guru tertawa
Dari semua murid di kelas ini hanya aku yang membuat kerajinan Patung Naga -__-
Sisanya asbak semua..
Ajaibnya dapat nilai 80an sama kayak lain.
*Ukh
Aku kira bakalan dapat nilai tertinggi karena beda dari yang lain.
huhu~

Yang bikin sakit itu! pas jam terakhir tak ada guru, hendak pulang sekolah, teman sekelas yang sering memalakku meminta izin padaku kalau Bronze Elder Dragonian dilemparkan ke teman yang lain(ceritanya lagi bercanda kejar-kejaran).
Akunya mengiyakan saja kemauannya soalnya aku gak butuh lagi sih tuh Naga.
*cplak
Sang Naga mencium lantai keramik.
Uwah! rupanya masih belum kering kerajinanku, padahal kemarin sudahku jemur seharian.
*huhu~

Selamat tinggal Bronze Elder Dragonian!!
*clingg

Kamis, 21 Maret 2019

Error

Gilee!! ngantuk banget -___-
Aku terlalu memaksakan diri menahan ngantuk. Pagi dan siang tadi aku sudah minum kopi 2 cangkir!.. jadinya sekarang aku sempoyongan.
Merebahkan diri sebentar saja bisa langsung membuatku tertidur.

*uah -_-
Layaknya seperti zombie geliat-geliut, otakku sudah sangat kelelahan. Tapi aku harus bertahan sampai waktu isya berakhir kemudian aku bisa istirahat.

Setelah sholat maghrib aku ingin ke pasar membeli pentol goreng dan keripik buat adikku. Aku juga ingin sih makanya aku mau menuruti keinginannya. Biasanya? aku berpikir dulu, misalnya di rumah makanan banyak yaa gak bakal beli makanan lagi, ini soal nafsu. Aku melarangnya agar menghemat pemakaian.
Eww.. sulit tahu, jadi kaka yang harus selalu ada menuruti keinginannya. Aku jadi terbatasi sekali.

Seperti biasanya pasar malam emang ramai oleh para remaja. Aku tak terlalu suka karena mereka semua saling unjuk penampilan untuk menarik pasangan. Aku jadi grogi. Terlalu banyak perasaan yang bisa aku tangkap dari berbagai arah.
*Aku memperbaiki poniku
Eh? kenapa aku malah memperbaiki penampilanku dan juga aku ikut-ikutan tebar pesona.
???
Ada yang aneh denganku.. kenapa aku malah mengikuti instingku? uh kepalaku sakit..
aku tak bisa berpikir..
Langsung saja tanpa basa-basi aku mengantri membeli keripik. Ada dua cewek yang sedang mengantri.
Oke! jaga jarak Beater!
seharusnya..
Kenapa malah dekat-dekat!!??
Dan juga auraku mencoba berbaur dengan mereka.
Ehh!??
Jarak penglihatanku terbatas..
Seperti bermimpi..
Ini tak bagus..

Terakhir membeli pentol. Masih harus mengantri.
"5000rb bu pentolnya"
"siap" balas istrinya paman pentol
Aku melihat jualan lain dekat pentol. Kue bingka berendam mini dibungkus dengan plastik es.
"wah jualan ini juga ya bu, sempat kukira ini pentol giga spesial" aku.. entah kenapa malah ngelawak..
Tertawa kecil mereka berdua karna lawakanku. Dalam hati emang senang melihat orang lain tertawa tapi yang ku lakukan kali ini jauh lebih bertentangan dengan kepribadian diriku yang super cool. Malah akunya yang membuka ruang untuk orang lain agar bisa mendekatiku.
Hendak berbalik mau pulang, aku lihat seorang cewek di atas kepalanya ada serangga.
*bzzzt.. Otakku mengolah informasi..
Sebaiknya aku bilang aja.
Hah!? impossible!!!
"hey.. tuh di atas kepalamu ada serangga" aku memberitahunya terus berbalik pulang.
Anjiirrrrr.. sok cari perhatian.
Gak beres, gak beres..
Pas pulang aku terlalu cepat mengemudikan kendaraan kemudian.. hampir menabrak orang. Beberapa meter lagi sih jadi gak bikin heboh. Syukurlah refleks ku aktif, bukan, syukurlah aku ditolong.
Alhamdulillah..

Besoknya..
Aku mengoreksi diri.
Kejadian kemarin adalah yang baru pertama kalinya aku rasakan.
Kesadaran yang tipis membuat pengendalian diri sulit teratasi. Cahaya pengingat menjadi kacau. Karakter lain saling bertabrakan.
Kalian bisa bayangkan siswa siswi satu kelas ribut karena gak ada guru mungkin seperti itulah.
Hapis nimbrung ke sana kemari bergaul dengan yang lain..
Zheill sok keren!
Beater membuka hati buat orang-orang di sekitarnya..
Kacau!!! Campur aduk!!!

Pelajaran yang bisa aku ambil dari pengalaman baru ini adalah menghindari kantuk yang berlebihan dan mengambil langkah pencegahan. Membuat cahaya pengingat yang kuat untuk kejadian seperti kemarin bila syarat terpenuhi.

Minggu, 17 Maret 2019

Hati

4. Keteguhan
Akhirnya aku ikut juga.
Tidak ada jalan untuk kabur lagi.
-__- labil..
Aku, kakakku, istri kakakku, adikku, keluarga 2 orang dan 2 orang luar. Keluarga ku itu tuh yang dulu tinggal dekat rumah ayahku. Panggilan julak untuk adik nenekku dan kaka Adi anaknya.
Kaka Adi yang menyupir.
*Uhh
Sudah ku duga, aku belum siap ditanyai banyak pertanyaan tentang keadaanku sekarang.
*hoekkk
Belum 5 menit aku sudah mual. Syukurnya aku sudah beli antimo!
"haha hafidz mabuk kendaraan ya" julakku
"hhaha" kaka Adi tertawa kecil
"hafidz ini memang mirip ibunya yang mabuk kendaraan" kakakku menambah.
*Aku teguk obat antimonya
Uuh.. ini kali pertama aku minum obat antimo.
Serius? yaa kalau gak salah sih haha..
Setelah beberapa menit ada reaksi di perutku. Agak hangat. Mungkinkah? keracunan karna habis sholat tadi aku minum kopi?! uhhh..
Beberapa jam perjalanan Imel atau istri kakakku ingin buang air. Aku lebih suka manggil Imel daripada kaka soalnya umurnya masih muda dibawahku. Ya suka aja sih, sempat ditegur ibuku kalau harus panggilnya dengan sebutan kaka. Imel gak keberatan jadinya yaa aku panggil aja begitu.
Pas banget kami singgahnya di mesjid.
"tunggu sebentar aku juga mau turun" ucapku
"oh iya, hafidz pengen sholat sebentar" kakaku ingat apa yang aku ucapkan sebelum pergi tadi kalau aku mau sholat Dhuha sebentar.
Kaaa! asemm.. seharusnya tak perlu diperjelas soalnya sudah ada alasan lain buat turun dari mobil.
"sembahyang apa?" kata temen kakakku
-___-;
"sunnah Dhuha" kaka balas
Hatiku langsung berkecamuk karena dibisiki setan.
*cie cie overproud
*cie cie anak alim
grrr... kalau setan tu keliatan udah gua tabok dari dulu..
Luruskan niat. Luruskan niat. Luruskan.. dan abaikan..
Yang kulakukan hanyalah biasa saja, bukan hal yang hebat kok.
Sehabis sholat sunnah yang lain pada makan, uhh.. aku malah cepet-cepet tadi sholatnya.
Hampir tiap kampung sepanjang jalan menuju tujuan pasti ada relawan yang menyediakan makan, minum dan tempat istirahat buat rombongan haul.
Keren..
Mungkin banyak pahala mereka daripada kami. Alasannya tak perlu ku terangkan, kalian pasti bisa menghitungnya.
Waktu Dzuhur hampir sampai, kami malah terjebak macet.
Hatiku mulai gelisah. Sembahyang menghormati waktu saat berpergian aku belum pernah mencobanya. Sulit dengan keadaan seperti ini. Keadaan dekat dengan orang lain. Kalau sendirian mungkin aku akan melakukannya.
Jadinya keputusan terletak pada si supir dan itu kesalahan fatal yang telah aku buat.
Akupun mengoreksi diri.
Dimana kesalahan pilihan yang telah aku buat.
Sebelum pergi.. Ataukah aku yang lambat mengutarkan kehendak..
Keputusan kak Adi pula tergantung ibunya. Julak gak bisa jalan jauh, faktor usia. Terpaksa mencari mushola atau mesjid yang dekat dengan jalan.
Terpaksa?..
Gawat.. aku mulai berpikir negatif.. segitunya menyepelekan sholat tepat waktu. Aku tak mau jika tekad juang ku lemah. Keutamaan kewajiban ku junjung tinggi walaupun itu akan menyakiti diri. Sampai habis pilihan baru aku pasrah.
Sial.. aku mulai emosi..
Dapat! akhirnya kami menemukan tempat yang tepat. Kak Adi sempat bimbang takut terjebak macet lagi kalau terlambat. Aku sudah turun sambil membawa baju kokoh. Bergegas aku menyeberang menuju mesjid.
Ketika aku menunggu untuk antri berwudhu kaka ku bilang kalau gak jadi sholat di sini. Duh kenapa lagi ini ucap ku dalam hati. Alasannya karena julak gak bisa jalan jauh.
Hah?
Terpaksa kalau gitu. Sudah sholat sunnah sebelum dhuzur ketinggalan, sholat wajibnya telat pula. Aku mulai termakan emosi. Beater aktif.
Karena keputusannya begitu aku langsung pergi belanja sebentar membeli minuman dingin terus nunggu di dekat mobil.
Duduk lama menunggu aku merasa penglihatanku memburam. Yaa soalnya diawal aku sudah gak enak badan.
Minuman ku habis namun yang lain tak kunjung datang.
Asemm.. katanya gak jadi, kok malah gak balik-balik. Aku mencari mereka di mesjid tidak ketemu. Masa mareka lagi makanan di rest area?
Cihh.. kalau gini mending aku sholat saja.
Setelah sholat aku duduk lagi menunggu dekat mobil dan akhirnya mereka kembali.
Kakakku memarahi ku kebingungan kemana aja dari tadi katanya. Mereka kesusahan mencariku.
"katanya tadi gak jadi? makanya aku nunggu lama di sini" ucapku marah
"makanya jangan berpisah, kami tadi makanan di rest area" balas kakakku
Dalam hatiku, bukannya tadi sudah makan. Apa perut jauh dilebih pentingkan daripada sholat. Marah aku marah. Adikku juga ikut-ikutan memanaskan ku.
"emangnya ini piknik? ini acara haul, bukan piknik"
Aku sempat ragu kenapa aku mengutarkan kalimat itu.
Apakah ini untukku atau mereka? namun sedikit ada perasaan kalau pernyataanku merujuk ke arah julakku.
Ahh aku kelelahan terlalu mudah emosi.
"nih makan kata kakakku" kakakku memberikan nasi bungkus.
Suasana jadi hening saat aku makan.
Satu saja yang ku inginkan dalam perjalanan ini yaitu tetap menjunjung tinggi kewajiban, dengan begitu aku bisa menjadi Hapis yang penuh ceria. Hatiku akan sangat gelisah kalau aku terlambat sholat. Jika terlambat sholat maka sunnah-sunnah yang lainnya akan melonggar karena menyepelekan kewajiban.
Sekalipun akan berkorban banyak aku tetap mengharuskan diri untuk melaksanakan kewajiban.
Sampai di tujuan atau lebih tepatnya mesjid yang akan dipakai buat acara. Alasannya sama karena julakku gak kuat jalan jauh jadinya yaa begini aja terus.
Waktu Ashar akan tiba. Terdengar rekaman mengaji dari mesjid. Masih sama apa yang harus aku lakukan disituasi seperti ini. Kakakku membujukku agar tetap dalam kelompok.
Aku berontak. Emangnya mau ya? tanggung jawab jika di akhirat alasan ku telat sholat karena tetap dalam kelompok supaya gak kesasar.
Dadaku hangat. Tenaga dari Beater yang terkumpul oleh tekad yang tak terbendung, mengalahkan bayangan resiko yang akan aku hadapi.
Tersasar dan yang lain akan mencampakkan ku.
Sekalipun semua memusuhi ku aku tetap akan teguh dengan pendirian ku karena ini satu-satunya alasan mengapa aku ada.
"tunggui di pos situ nanti kalau aku sudah selesai"
walaupun aku sudah pasrah akan ditinggalkan.
Tetap maju dan lupakan dunia sejenak. Apa gunanya jika aku melepaskan keteguhan yang sudah aku latih selama ini untuk alasan seperti itu? yang ada aku akan rugi terus dengan mengulang kejadian yang sama.
Mungkin ini jawaban dari firasat ku kemarin malam.
Beban berkurang setelah sholat.
Huahh.. aku sudah lebih lega dan syukurlah tadi aku masih sempat sholat berjamaah, mengingat antrian di wc begitu banyak, banget. Kalau telat memutuskan pilihan sudah pasti ketinggalan.
Nahh sekarang tinggal santai menunggu maghrib.
Berkeliling mencari yang lain, aku bertemu kakakku di depan mesjid. Kami memutuskan untuk sholat di luar karna aku ingin lihat layar yang langsung disiarkan dari sana.
Maghrib tiba..
Aku baru menyadari kalau kami hampir dikelilingi perempuan. Kakakku mengeluh ingin sholat ke dalam mesjid. Dalam hati, aku ketawa. Gak tahan rupanya haha.
*psst coba lihat di samping mu itu cewek cantik.. 3:>
Oh.. oh!
Gravitasi yang kuat! aku hampir memalingkan wajah.
-__-
Jika aku langsung berpaling penasaran melihat siapa seseorang yang dimaksud otomatis aku kalah sama nafsu karena tak berpikir 2 kali.
Ini ujian..
Cahaya pengingat aktif..
Aku berdiri ingin melaksanakan sholat. Cewek disamping ku juga berdiri.
*cie cie badan mu tinggi, sepertinya cocok dengannya yang setinggi bahu.. 3:>
-___-
asemm.. kamvret..
Fokus, fokus!! *hatiku berteriak
Masuk mode Zheill, hilangkan emosi, pandangan di sempitkan.
Sepanjang sholat maghrib aku terus berusaha mengabaikan sekitarku termasuk yang di sampaing ku. Aku juga tak menyangka bakal sesulit ini rasanya, sholat bercampur dengan lawan jenis.
Rasa penasaran muncul tentang mereka.
Aku yang sudah membiasakan diri belajar ditiap munculnya pengalaman baru menjadikan rasa penasaran ini sebagai jebakan dari bisikan setan. Repot juga namun aku masih bisa fokus.
Bagian terakhir sholat, "salam", sengaja aku melambatkan gerakan agar kami- eh bukan tapi untuk dia yang di sampingku tak menatapku pas salam.
Kedua, niatku harus benar-benar halus dan alami supaya penasarannya tidak muncul.
Bukanlah momen kisah cinta kayak di film. Aku tak mau dosa dan tak mau membuat orang berdosa. Aku harus teguh.
Walaupun begitu.. wanita tetap makhluk yang menarik. Jika aku melonggarkan pertahanan sedikit saja mungkin aku bakal terjebak lagi.
Dia berbicara dengan teman sebelahnya. Suaranya bisa kudengar dengan jelas.
Kebiasaan cewek selalu ingin diperhatikan lewat gerakan ataupun tingkah yang ia sendiri tak menyadarinya.
Untuk siapa?
Emm entah kenapa aku bisa menangkap niatan yang merujuk padaku.
T_T haha aku rindu dengan diriku yang dulu, yang sangat jago mengacuhkan keadaan sekitar.
Tapi lagi.. karena tak peduli dengan sekitar aku jadi leluasa beraksi dan membuat orang lain menyukai ku.
Serba salah ya.. haha
Habsyi dimulai..
Rupanya dia hafal syair habsyi. Suaranya yang bermaksud untuk didengar oleh yang lain ataukah memang tulus karena cinta, keduanya tetaplah membuatku terpukau. Mengesampingkan pikiran negatif. Dia bisa jadi contoh agar aku termotivasi menghafal.
Aku juga cinta dengan Rasulallah pasti bisa menghafalnya.
Pada bagian tasbih subhanallah sebelum asyraqal kami duet mengucapkannya. Ahh!!! cuman suara kami berdua yang keras seolah-olah kami ini couple!!! masa yang lain kagak ada yang hafal!!?..
*cie cie couple.. 3:>
runyam~
Apa aku yang salah langkah ya? but but.. ah ya sudahlah..
Hendak pulang. Sempat muncul niat mengenalnya. Sekali lagi aku anggap itu nafsu.
Aku berdiri. Kakakku mencari Imel kemudian tak sengaja aku menatap et- ke arah mesjid. Hampir aja!
Namun setelah berakhirnya acara aku melihatnya sekilas saja untukku sebagai bahan pembelajaran.
Eh!? dia juga melihatku. SEKILAS aja guys aku menangkap raut penasaran dari wajahnya.
Sudah kuduga..
Kami pun berangkat pulang..
Yang tadi, yang aku maksudkan sebagai bahan pembelajaran ialah melihat cermin diri dengannya apakah bakalan seperti itu sosok calon pasangan ku nanti?..
Yep selalu diawali dengan sebuah pertanyaan.
Jika dia, yang tadi disampingku merupakan gambaran calon pasangan ku itu artinya aku masih punya banyak kekurangan yang harus aku perbaiki.
Emang aku bisa nikah ya nanti? kerja aja belum..
Belum punya perkerjaan alasan bagus buat menyangkal tawaran seseorang.
Hehe.. dasar monster..


Kamis, 14 Maret 2019

Hati

3. Usaha

Malam ini aku merasa sangat tidak yakin dan tidak enak badan. Apakah besok aku akan baik-baik saja?
Mungkin saja perasaan khawatir ini ulah dari setan yang berusaha membuatku tetap berada di rumah besok hari. Jika aku mengikuti instingku jawabannya tidak ada. Serasa netral. Tidak rugi atau seimbang. Cucian dan badanku gak enak mungkin itu hambatannya sehingga aku berusaha tidak pergi besok.
Besok Acara Haul Guru Sekumpul.
Aku baru sekali pergi tahun kemarin. Misalnya esok aku membuang kesempatan itu- tapi aku ingin memperjelas.
Benarkah niatku memang ikhlas ingin menghadiri acara besar besok? atas dasar apa?
Nah aku mulai ragu.
Banyak tetangga sekampung yang sudah pergi ke sana bahkan imam di langgar juga sudah pergi menghadiri.
Uuhh.. gak ada imam nantinya.

Perasaan tidak suka muncul saat aku memikirkan niat tujuan orang lain.
Apakah hanya untuk mendapatkan gelar agar sama dengan yang lain?
Apalagi tahun kemarin presiden sudah bikin heboh.
Sangat membingungkan untukku yang menginginkan tujuan yang jelas.
Semakin ku pikirkan semakin terbayang hal negatif yang akan aku terima nantinya.
Baiklah.. aku tidak jadi pergi saja. Setelah ku putuskan niatku untuk esok entah kenapa hatiku langsung terasa hampa. Aku yang mabuk kendaraan bakal sulit nantinya.

Esoknya..
Kakakku dan terutama adikku berusaha membujuk ku ikut. Niat kalian apa sampai berusaha membujuk ku?
aku mengerutkan kening ku tanda kalau aku mendeteksi hal yang bertentangan.
Tapi sayang sekali sih kalau aku tidak hadir. Terlintas kenangan tahun kemarin begitu asik.
Asik? iya melihat relawan dengan ikhlas membagikan makanan serta minuman membuatku berubah pikiran ingin pergi. Niatku tidak sempurna karena aku masih belum kenal dengan sosok guru Sekumpul, gurunya Guru Danau. Aku belum pernah mendengarkan pengajian-pengajiannya makanya aku belum tahu seperti apakah sosok guru Sekumpul. Semoga saja setelah aku hadir malam nanti aku bisa mendapatkan kecintaan terhadap Beliau.

Beberapa bulan yang lalu..
Aku bermimpi guru Danau. Aku merasa sangat senang sekali. Di dalam mimpi tersebut aku berdiri melihat Beliau duduk bercanda dengan lainnya, mungkin guru bercanda dengan muridnya, tak tahu juga sih soalnya tak begitu jelas. Aku menatap dengan sangat hangat karena cinta. Tapi di akhir mimpi beliau menatapku seperti heran. Mungkin aku yang menyebabkannya, soal di akhir mimpi itu sempat terlintas dalam pikiran kalau aku yang hina ini apakah pantas mendapatkan kecintaan. Aku punya banyak kekurangan begitulah pikirku. Namun ketika aku terbangun, aku merasa begitu bahagia, mataku berkaca-kaca..
Mimpi guru saja sudah sangat membuatku bahagia apalagi kalau bermimpi Nabi. Tak terbayang bahagianya.
Namun ada sedikit keraguan mengganjal.

Sehabis sholat maghrib aku menghampiri Hakim untuk menanyakan beberapa pertanyaan tentang mimpiku.

"kim, dulu kan kamu pernah mimpi guru? nah itu latar mimpinya seperti apa? putih kah?"
yep aku ingin menanyakan hal ini soalnya latar mimpiku burem. Bayangan yang kudapatkan tiap kali mendengar kisah seseorang yang pernah bermimpi Para Aulia Allah pasti putih bercahaya. Imajinasiku begitu tiap kali mendengar kisah tentang mimpi yang baik. Satu hal lagi, malam, ketika aku bermimpi, sebelum tidur aku tidak berwudhu seperti biasanya.

"biasa aja tuh, kenapa bertanya begitu? wahh bermimpi guru kah?" katanya.
Emm yang biasa itu gimana sih? otakku tak bisa mencerna karena ini pengalaman pertama buatku jadinya aku tak tahu yang biasa itu seperti apa.

"iya minggu kemarin aku bermimpinya" tepatnya malam setelah haulan Wali Allah syekh Muhammad Nafis. Aku bertambah suka dengan guru Danau setelahnya. Mungkin memang benar seseorang yang berada di tahta hati akan mudah memimpikannya karena cinta.

Hakim melanjutkan cerita. Katanya aku bermimpi guru Sekumpul tapi itu sudah lama.

*uakh hebat! hati ku heboh

"sudah lama? kapan?" tanyaku lalu aku lanjutkan.
"Mungkin karna kamu sering dengar pengajiannya di internetkan" aku memperjelas sendiri.

"enggak, sebelumnya belum pernah dengar pengajiannya" jelasnya

"eh? kok bisa?" mempercepat berpikir.
Karena foto Beliau kah? tiap rumah pasti punya foto guru Sekumpul. Entah mungkin itu penyebab yang paling logisnya, hanya naluri saja sih.
Tapi itu benar-benar hebat bisa bermimpi sebelum kenal Beliau.

*uhh aku merasa sangat tertinggal jauh

Orang-orang yang telah diberikan keistimewaan akan sangat berbeda. Untukku yang biasa saja harus lebih berusaha. Aku tahu akan hal itu. Aku belum sepenuhnya berjuang, aku masih mengejar dunia dan sulit meninggalkannya. Tujuan utama untuk menyempurnakan karakter ku itulah dunia yang sedang ku kejar sehingga mengesampingkan tujuan akhirat. Tapi aku tidak sepenuhnya meninggal tujuan akhirat. Mungkin 6 banding 4 perbedaannya.
4 untuk belajar di pengajian dan melaksanakan amalan-amalan sisanya 6 adalah keduniaan. Aku masih kesulitan dalam meluruskan niat untuk beribadah di tiap aktivitas. Ya soalnya permasalahan beragam itu menjadi kendalaku. Perlahan namun tepat. Aku tak punya begitu banyak tenaga agar bisa selalu fokus. Kadang bisa lupa kalau terlalu cepat mengambil keputusan.
kata guru Bakhiet emang benar dalam pengajiannya ilmu Tasawuf, sebelum beribadah kita harus bertanya lebih dulu pada hati kita agar tak luput dalam menentukan niat.

Senin, 04 Maret 2019

Hati

2. Kekurangan Diri

Baru mau tidur eh malah dapat undangan selamatan dari tetangga. Dekat rumah terpaksa aku harus menghadirinya. Si Hakim tentu saja bakal hadir karena berkeluarga. Tapi sudah gak apa, emosiku mulai stabil jadi gak akan masuk ke karakter Beater. 
Aku lupa kalau tiap tahun emang sudah jadi rutinitas tetanggaku, berselamatan hari raya.
Singkat cerita, setelah makan aku dan yang lain duduk-duduk dulu di halaman bercerita sekaligus merencanakan liburan, kami ingin berwisata ke goa Liang Tapah. Kami sepakat akan pergi kecuali Hakim.

Yang lain sudah pergi, sisa aku dan Hakim saja lagi yang sedang nongkrong.
Kami berdua berbincang-bincang tentang agama.
Aura Hakim agak berbeda, aku lumayan kenal aura yang dipancarkannya. Sepertinya si Hakim ingin terus terusan berbicara denganku. Aku gak keberatan sih soalnya emosiku sudah stabil.
Sampai akhirnya si Hakim mulai bertanya, melepaskan keraguan yang sedari tadi menyelimutinya.
Apakah malam tadi kamu bermimpi guru Danau?, katanya.
Aku langsung saja membalas
"enggak, emangnya kenapa?"
Hakim bercerita kalau malam tadi ia bermimpi guru. Di dalam mimpinya si Hakim bersalaman dengan Guru Danau. Mungkin salam maaf-maafan.
Wahh! sumpah aku sangat kaget. Aku membombardir banyak pertanyaan kepadanya.
*gehh bikin iri aja
Jadi sedari pagi tadi masalah ini yang ingin ia ceritakan padaku. Kalau aku jadi ia bakal langsung lompat menceritakan apa yang terjadi, bukannya ragu-ragu, curi pandangan dan segala macam gerik yang bikin orang merinding.
Mahh akunya juga sih yang terlalu peka dengan orang di sekitar -__-;

Ini berita bagus dan bermanfaat sekali. Aku memang gak menyangka kalau hal seperti ini bisa terjadi.
Ini catatan penting.
Hakim bertanya padaku kenapa aku bisa gak bermimpi guru.
Aku mengoreksi diri sejenak.
Aku menjawab mungkin karena sebelum tidur tidak berwudhu dan uhh malam tadi aku jalan-jalan dengan Abdi, Yahya dan Aldi. Sekitar jam setengah dua belas mungkin aku pulang.
Nah kata Hakim aku bermimpinya di jam sekian.
*gehh bikin iri
Kenapa aku gak sampai kepikiran ke sana sebelumnya. Uhh apa yang kurang dariku yaa..

Mode Full Koreksi Diri!!!
\\\\\*__*/////

Jika aku melihat dari luar sih mungkin aku jauh lebih baik dari Hakim.
Zheill: nice overproud lagi..
Melihat banyak hal yang telah aku lakukan, jelas saja.
Tapi.. jika aku merasa jauh lebih baik dari orang lain itu artinya aku menyombongkan diri.
Satu terhitung.
Aku jarang sekali melihat si Hakim saat beribadah karena kami sama-sama sibuk dengan diri sendiri. Mungkin saat-saat seperti itu si Hakim jauh lebih khusyuk beribadah sementara aku yaa.. mungkin lalai. Dan hal lainnya seperti apa aktivitasnya di rumah aku tidak tahu. Aku cukup mengenalnya bagian luar.
Dua terhitung..
Niat hatiku, apa yang aku inginkan tiap kali pergi ke pengajian? karena guru lucu, atau ilmu atau hanya pengakuan belaka.
Benar. Terkadang pernah terlintas gak niat pergi ke pengajian karena malas.
Hakim selalu nebeng denganku soalnya ia gak punya kendaraan. Aku tak keberatan karena jauh lebih efesien kalau ikut nebeng denganku. Nah ketika aku lagi gak niat pergi ke pengajian aku apakan si Hakim? terpaksa dan kasihan. Berarti niatku hanya sekedar menemani teman saja.
Begitu rupanya.
Tiga telah terhitung..
Lagi?
iya masih ada.
Tentang kepribadianku yang kadang kambuh pastinya membuat sekitarku merasakan dampak. Contohnya si Hakim pas episode Peduli.
Lainnya..
Pernah gak sengaja mengotori celana orang karna kurang hati-hati.
Main lirik banyaknya perempuan diluar. Uhhh~ T_T wajar laki-laki, ampun.
Melangkahkan kaki penuh kesombongan karena merasa berbeda.
Suara keras ketika membaca surah, ria, ingin dilihat berbeda. Mungkin banyak lagi yang ku lupakan.
Semuanya.. semua kekurangan itu membuat nilai amalanku menjadi rendah.
Sulitnya menyempurnakan hati agar niatan beribadah bisa lebih baik.
Berapa banyak pengalaman yang aku butuhkan untuk menyempurnakannya? belum lagi jenis-jenis permasalahan yang belum aku ketahui.
Banyak sekali.
Termenung..
Aku merasa sangat kalah.
Ini membuktikan kalau temanku ini jauh lebih baik dariku.

"amalkan kim, pengajian terdahulu guru pernah bilang kalau mau jadi muridnya amalkan sholat sunnah Dhuha, Tahajjud dan Tasbih. Di dahi orang yang mengamalkannya akan terlihat cahaya, jadi bisa dikenali kata guru"
Hakim menunduk sedikit tanda ragu.
Hmm.. sudah ku duga.
Memang sih perbedaan kami sangat jauh, aku lebih unggul dalam hal pengalaman. Kemudian tiap pengalaman yang aku alami ku pelajari sampai sekarang. Bertahap menjadi lebih baik.
Tapi dalam perbedaan itu, jelas Hakim jauh lebih baik.
Kenapa?
Aku punya potensi lebih besar dibandingkan yang lain.. pemikiran yang bagus dan bisa menampung berbagai kemampuan. Dibandingkan dengan Hakim.. aku bisa apa saja.

Akan tetapi..

Apakah aku sudah berusaha dengan maksimal???...

Malah mempertanyakan hal yang sudah pasti.
Selanjutnya akan lebih lagi aku berusaha. Pengalaman ini sangat bermanfaat untuk mengenali apa saja yang kurang dari karakterku.

Dan juga malam hari raya tahun nanti aku pasti bakal tidur lebih cepat!!!
IYA tentu saja bambang, itu yang namanya belajar dari pengalaman.

*Hii :D