Sabtu, 14 September 2019

Kecelakaan

Sekarang aku tinggal bertiga saja di rumah. Aku, adikku dan nenek. Setiap ada sesuatu pastinya hanya aku yang bisa diandalkan, contohnya urusan belanja. Bulan puasa ini kami lebih sering belanja makanan karena nenekku gak bisa masak banyak dalam waktu singkat. Ah~ maaf aku gak bisa masak, tapi kalau aku mau belajar serius pasti bisa kok. Masalahnya hanya butuh ruang saja, aku tak butuh komentar orang, siapapun dia.

_
Sore hari setelah belanja di pasar ramadhan aku sempat singgah untuk beli es kelapa. Tiba-tiba terdengar suara keras di dekat kantor pos.
Kecelakaan? tanya ku sendiri.
"bu saya titip makanan saya di sini dulu ya? kayaknya di sana ada kecelakaan"
"oh iya iya, ya ampun"
Bergegas aku lari ke sana. Seperti yang di duga, dua pengendara sepeda motor telah tabrakan. Orang tua dan satunya lagi mungkin seumuran kakakku. Kok bisa sampai tabrakan padahal jalannya ini cukup lebar. Pastinya karena lengah.

Aku melihat orang tua itu merangkak perlahan ke tepi jalan. Sebelum aku menolongnya orang tua itu tiba-tiba saja muntah darah. Banyak sekali darah yang dimuntahkannya. Aku terdiam menganalisa kerusakan tubuhnya. Sedikit mual melihat pemandangan seperti ini pertama kalinya.
Sadarlah! tolong dia!
Tapi bagaimana?
Orang tua itu bergerak lagi perlahan dan duduk.
Ahhh.. Tak banyak orang yang datang menolong. Sementara yang satunya lagi duduk bersandar di pagar halaman kantor pos. Mengekspresikan rasa sakit. Pura-pura? kalau begitu lebih baik abaikan saja. Pokoknya orang tua itu yang harus ditolong lebih dulu.
Tapi bagaimana!? orang lain sibuk berdiskusi mencari kenalan atau adakah seseorang yang punya mobil agar bisa membawa korban ke rumah sakit.
Kenapa harus nunggu mobil!?
Aku pun lari mengambil kendaraan dan balik lagi ke tkp lalu menghampiri korban untuk membujuknya ke rumah sakit dengan naik kendaraan ku. Tapi dia menolaknya.
Aku tahu pasti rasanya sakit banget naik sepeda motor tapi keadaannya mengkhawatirkan. Tolong jangan mati.

Tak ada yang bisa aku lakukan. Bapak itu hanya duduk saja mempertahankan posisi duduk. Mungkin benturan keras pada perut yang membuatnya muntah darah. Tak ada yang bisa aku lakukan. Seandainya ada kemampuan penyembuhan seperti yang diharapkan.

Orang-orang mulai banyak berdatangan. Ada yang melihat korban langsung berpaling karena takut.
Mobil lewat!
Kami minta agar singgah dan membantu korban tapi sayangnya dia acuh. Gila, bulan puasa ada saja orang yang seperti itu. Bagaimana jika diri sendiri yang jadi korban, haruskah kami membantu?

Harapan datang..
Bus perusahaan lewat dan mau menyinggahi korban. Alhamdulillah.
Tapi aku gak berani mengangkat korban ke dalam bus karena dari sini saja aku sudah merasakan sakitnya dia. Hal itu membuatku lemas.
Para supir truk yang kebetulan lewat membantu mengangkat korban dan menemani ke rumah sakit. Supir truk yang lain bersama warga berkumpul menginterogasi korban yang satunya. Sudah bisa berdiri rupanya.
Aku dan beberapa orang membersihkan tempat kejadian. Kendaraan si bapak tadi rusak parah. Padahal katanya si bapak baru saja pulang dari pasar. Aku mengambil makanan batagor bapak tadi dan ku letakkan dekat kendaraannya. Sungguh berat sekali ujian si bapak.

Aku diminta untuk membersihkan darah korban di tepi jalan tadi oleh warga. Aku penuhi permintaan.
Darahnya sudah membeku aku perlu sikat untuk membersihkannya. Di seberang jalan ada warung yang buka, di situ aku minta air dan sikat. Tapi pemilik warung justru meminjamkan sapunya untukku. Dari pada pakai sikat mending pakai sapu saja katanya.
"gak papa nih kalau kotor?"
"iya gak papa"

Selesai membersihkannya aku rasa tidak ada lagi yang harus ku lakukan, sebaiknya aku pulang. Sudah senja. Tak lupa dengan belanjaanku aku kembali mengambilnya. Uhh.. perutku masih mual.
Aku pulang ke rumah dan mengganti celanaku kalau saja ada darah yang masih nempel dan luput dari ketelitianku.

Mendapatkan pelajaran dan pengalaman baru telah meningkatkan inspirasiku untuk bertindak lebih teliti lagi.

Pembaharuan karakter semakin meningkat..


Jumat, 13 September 2019

Mr. Misterius

Aku menyukai dia yang sekelas denganku..
Aku melihatnya begitu bersinar, kehidupan ceria yang dia jalani memberikan kesan dalam hatiku..
Aku pun ingin bertindak untuk melampiaskan rasa suka ku terhadapnya..
Karena aku suka dengannya..

Kisah lama ini agak memalukan untuk diingat. Dimana masa-masa sekolah ku yang paling terlabil parah yaaang pernah ada.
Namun aku ingin berbagi kisah ini agar semua tahu dengan detail fakta yang terjadi waktu itu.


Aku tergolong orang yang pemalu dan gak pede-an. Ditambah tidak romantis dan humoris.
Jadi.. bagaimanakah agar aku bisa mengungkapkan rasa suka ku terhadap dirinya.
Terlintas di benak tentang coklat, semua orang pasti suka coklat. Ku rasa dengan sebuah coklat bisa membuatnya senang. Hihi aku belikan coklat Silverqueen untuknya.
Besoknya tanpa rencana aku gak tahu bagaimana cara menyerahkan coklat ini padanya mengingat culunnya diriku ini.
... emmm.. bingung..
Sebuah kesempatan baru datang lagi. Ketika orang-orang di kelas tidak ada aku menghampiri tempat duduknya. Selanjutnya bisa ditebak. Aku taruh saja di dalam tasnya, tanpa izin. Maaf ya.

Kurasa aku sukses. Ku lihat esok harinya dia begitu semangat apalagi ketika berbicara dengan temannya. Cukup mengagetkan. Aku juga senang.
Selanjutnya aku tidak tahu harus berbuat apa lagi. Sumpah tiba-tiba jadi dungu. Jadinya aku melawati hari dengan biasa saja.

Sampai pada tahap masalah pertama ketika aku sekelompok dengannya. Waktu itu aku tidak bisa memberikan bantuan sama sekali sebagai anggota, kerjaannya hanya bercanda alhasil dia memarahiku. Seketika itu pun rasa suka ku terhadapnya berkurang drastis. Hari demi hari aku menjadi tak suka dengannya. Kekanakan sekali bukan? ya, itulah diriku pada masa sekolah. Pada tahapan labil yang paling parah ketika menyempurnakan karakter Beater. Semua yang dipandang ku hanya karna satu kesalahan saja sudah bisa berbalik tajam layaknya paku.
Bodohnya lagi aku bercerita keburukannya pada teman sekelas ku.
Hingga aku tahu ketika Amal bilang kalau dia sudah menulis apa yang dia alami di sebuah blogger-nya.
Aku.. merasa telah menjadi orang yang paling brengs*k di dunia ini. Pantes saja ketika aku bertanya padanya tentang blog-nya raut wajahnya berubah. Ku rasa dia ingin aku juga tahu apa yang telah ku perbuat karena post-nya yang beriisi tentang ku belum dihapusnya.
Kebodohan..

Mendapatkan pelajaran penting sebagai pencegahan dimasa depan kelak ketika aku menyukai seseorang.
Makanya aku sering minta maaf padanya. Kesalahanku yang kecil pun aku langsung minta maaf. Karena aku lemah tak bisa berbuat apa-apa, membuatku down dan ingin cepat lulus untuk menyelesaikan sesuatu yang ada dalam diriku. Kehidupan sosial hanya membuatku tidak fokus.
Tapi setelah kejadian itu entah kenapa aku jadi lebih menyukainya walaupun aku tahu aku tak mungkin bisa jadi kekasihnya. Aku tahu kekurangan ku tapi aku ingin dekat dengannya.
Masih jika satu kelompok dengannya aku jadi gembira. Kepribadian Hapis yang kekanakan pastilah menyukai suatu hal yang luar biasa terlihat di dalam dirinya.

Ketika dia berpidato. Menyelesaikan tugas. Menjadi peringkat pertama. Menjadi yang disuka oleh guru. Banyak alasan mengapa aku menyukainya.
Purple yang anggun..
Begitulah mungkin warna aura yang dapat membuatku terpikat. Bagiku, Hapis, bukan dari kepribadian yang lain.

Hapis menyukainya sementara Beater tak suka dengannya karena kesalahan.
Dua kepribadian yang berbeda dan satunya lagi tak bisa diperkirakan, Zheill.
Jalan cerita semakin jelas terlihat ada saat dimana aku menyukainya, tak suka dengannya dan ingin merelakannya. Makanya saat itu aku jauh lebih kebingungan terhadap diri sendiri dibandingkan dengan tugas sekolah.

Perkara yang menghalangi perasaan suka ku terhadapnya adalah inginnya hati mencari tempat untuk menyempurnakan karakter..
Tapi jangan salah sangka dulu. Bukan berarti tujuanku adalah dirinya karena jika alasanku adalah dirinya maka aku takkan pernah melangkah maju.

Hingga..
Telah lama terlupakan, rasa suka itu kian pudar dan akhirnya hilang. Sekarang yang ada dalam pikiranku hanyalah bagaimana mencari cara agar menjadi lebih baik lagi. Tak ada luang waktu untuk menyukai seseorang.

Jumat, 06 September 2019

Rintangan Lagi

Dua minggu sudah ku lewati dibulan puasa tapi tetap saja kesulitan mengatur waktu. Mengingat apa yang sering orang bilang disetiap keadaan sulit ialah "jalani aja dan nikmati" begitulah, terus melangkah maju. Perhatikan baik-baik dan pilihlah pilihan dengan bijak.
...

Ketika aku sedang membersihkan gelas-gelas minuman kemasan Nini anum berbicara padaku tentang ibuku. Awalnya bertanya padaku apakah ibuku akan pulang dibulan puasa ini. Sepertinya suasana hati Nini anum lagi ceria jadi aku balas saja dengan santai kalau ibuku rasanya mungkin tak bisa pulang dibulan ini karna sibuk.
Nini anum tetangga terbaikku, ia selalu memberi makan kucingku bila kami tak ada lauk ikan. Aku sudah pastikan ia orang baik yang tak mungkin menjerumuskan atau membicarakan buruk tentang keluargaku makanya aku lebih terbuka. Walaupun aku sudah terbuka mengenai informasi pribadi tapi ia tetap sopan dan gak seenaknya bertanya mengenaiku.
Pasti ada alasan lain kenapa tiba-tiba bertanya padaku tentang ibuku.
Membalas jawabanku, Nini anum bilang kalau tetangga-tetangga kita ingin sekali kehadiran ibuku dan Pak Iin kembali kemudian seperti tahun yang lalu orang tuaku bagi-bagi uang. Tambahnya lumayan kata mereka buat nambah modal berdagang. Nini anum pun sedikit tertawa. Yaa suasana hati lagi bagus.
Mengingat dari pengalaman, aku juga pernah melakukannya, parahnya terkadang aku menyinggung hati.
Dengan cermat karena sudah paham situasi Nini anum aku melakukan simulasi percakapan mereka dalam benakku.
Posisi Nini anum sebagai pendengar di antara mereka yang ahh bisa dibilang berbincang-bincang, mungkin.
Kemudian ada yang bertanya ke Nini anum mengenai ibuku. Nini anum agak berat menjawab karna mungkin mereka akan berbicara buruk. Jadi Nini anum menjawab "nahh aku tidak tahu"
Langkah selanjutnya dari dia yang bertanya tadi lalu ditambah alasan peluang Nini anum berani bertanya padaku mengenai ibuku adalah keadaan yang tak biasa yaitu mereka berbicara baik, tidak bersangka buruk.
"waahh mudah aja Ibunya Hafidz pulang dan bagi-bagi uang lagi, kan lumayan buat modal dagangan"
Begitu mungkin..
Hmm.. yaa ini hanya perkiraan saja.
Btw aku tahu siapa yang suka bertanya keberadaan ibuku, spesifiknya dia adalah pedagang.
Heh! mulai dari SMP pun sudah sering menanyaiku. Aku kesal dan tak mau lagi belanja di warungnya.
Grrr...
Tapi tindakan pak Iin juga memang mengundang banyak perhatian.
Ahh.. aku maklumi saja.
Aku sedikit tertawa menanggapi Nini anum.

_
Aku punya firasat kalau keluargaku akan datang untuk buka bersama di rumah. Tubuhku masih sulit menerima mereka. Butuh waktu lama untuk bisa memaafkan.
Sedari kecil aku selalu pilih-pilih mencari teman. Aku lebih suka berteman dengan teman yang ramah. Banyak. Daripada pintar tapi nakal.
Sudah jadi darah daging tubuh ini akan selalu menghindari terhadap orang-orang yang yaa.. bisa dibilang kalau bergaul bakalan ketularan dengan sifat mereka. Apalagi aku yang jadi korban -_-
Aku menyelimuti tubuhku dengan aura penolakan agar aura mereka tak bisa menyentuhku. Jijik tau. hahaha..
Kemudian hari itu datang juga, mereka beneran datang.
Waktunya beralasan.
Sok baiknya mereka menanyakan keinginanku yang ingin pergi.
"Sholat" ucapku
Yaa~ setelah berbuka aku tak langsung makan-makan tapi mau sholat dulu. Sore tadi aku sudah beli minumanku sendiri, tak mau aku mencicipi makan dan minuman mereka. Hahaha..
Di tengah perjalanan aku teringat kalau niatku salah. Seharusnya berniat untuk beribadah bukan alasan untuk kabur.
Uahh..
Aku ulangi niatku.

Setelah sholat ba'da maghrib hari masih hujan, aku bersyukur banget bisa berdiam sedikit lama di sini.
Sebetulnya aku tahu, yang aku lakukan ini salah. Tapi mau bagaimana lagi, aku tak sekuat orang-orang hebat yang mampu menerima rasa sakit demi menjaga hubungan.
Hanya tekad tertentu saja yang mampu membuat mereka bertahan. Tekad itu masih belum bisa aku gapai. Terlalu tinggi..
Hujan sedikit mereda. Sebaiknya aku pulang dan menikmati minumanku.

Sesampainya di rumah. Aku menikmati minumanku saja. Tak mau makan bareng mereka.
Aku sedikit terkejut dengan kakak Yudhi yang berbeda dari biasanya, seolah-olah merendahkanku.
Kok bisa ya?
Apa yang telah terjadi?
Hahh~
Ku kira Kakak berbeda, rupanya sama saja seperti mereka.
Tak ada alasan untuk terus berhubungan, kalau aku teruskan, hanya akan ada konflik dan perasaan tak suka, saling hina.

Aku akan menjauh.

Kemana?

Oh jelas, aku ingin ke tempat ibadah.
Di sana lebih adem.
Uang untuk imam sewaan sudah aku bawa.

Masalahku dengan mereka sangat susah terselesaikan, butuh waktu lama sampai benar-benar hancur sifat buruk mereka. Sebelum itu tiba tubuhku akan sulit menerima kehadiran mereka.
Berpura-pura akrab padahal sebenarnya menusuk. Orang-orang seperti mereka ingin menundukkan ku?
Bertapa naifnya..
...

Kekeliruan terbesar ketika kita melupakan hal yang penting untuk dijaga...

Rabu, 04 September 2019

Fans Gelap

Aku tak tahu. Aku bingung kenapa kakak-kakak kelas itu malah marah padaku karena aku tak sengaja bilang mereka "gila"..
Serius?..
Bagaimana tidak tiap kali aku lewat samping gedung dekat gerbang sekolah mereka selalu menungguku. Dan apabila aku lewat di depan mereka bersorak gembira. Fans? Entahlah..
Wajah salah satu dari mereka agak familiar. Rasanya aku pernah bertemu dengan salah satunya di ruang UKS. Saat itu aku kelelahan sekali dan pusing setelah berlari sekuat tenaga.
Ada 2 orang kakak kelas cewek yang menjaga ruangan. Mungkin bermula dari situ mereka mencari tahu tentang diriku.
Sebutannya untuk orang-orang yang suka denganmu mungkin penggemar karna bukan sebagai teman.
Rasanya aneh, diteriaki oleh mereka. Pertama kali kurasakan ketika aku dan teman cowok kelas X-1 di perjalan ingin ke mesjid. Tak terlalu jauh dari kelas kami tepat seperti yang aku bilang di atas tadi mereka menungguku siap untuk bersorak. Aneh tau gak..
Tampang biasa saja begini malah ada kelompok penyuka seperti mereka.
Aku mempercepat langkahku karena ku rasa dan yakin bukanlah aku yang mereka maksud.
Kenapa? di kelasku ada Raga dan Rama loh yang tampangnya jauh lebih dariku yang biasa saja.
Aku tak terlalu suka situasi yang berisik makanya aku mempercepat langkahku.
"nah itu yang di depan, yang langkahnya cepat" salah satu dari mereka.
Jelas aku kaget dan seperti magic aku ingin lupakan mereka dan tentang mereka. Dipercakapan temanku, aku mendengar Ikhsan memujiku.
hmm..
Tapi ya aku orangnya simpel dan bergerak sendiri. Aku punya duniaku jadi aku anggap mereka bukanlah suatu hal yang perlu dipikirkan.

Ucapan terlontar yang tak sengaja menjadi petaka buatku. Aku gak nyangka juga mereka mendengarnya. Mulai hari itu reaksi mereka berbalik menjadi sorakan kegaduhan. Mereka kakak kelas 3 aku tak berani menghadapinya. Berpura-pura tak mendengar adalah tindakan terbaik yang aku tahu. Tapi yang namanya mengacuhkan tak selamanya bisa aku lakukan. Baik jam sekolah maupun pramuka mereka selalu menghantuiku.
Aku sempat ketakutan bila ketemu mereka. Tapi aku harus hadapi dengan cara berbeda.
Mereka menungguku di jembatan mesjid. Aku harus melewatinya. Kali ini sorakan mereka tak begitu keras tapi tetep men-trigger ku.
Aku tersenyum santai dan melihat mereka walaupun sebenarnya aku takut.
"wahh dia tersenyum" kata salah satu dari mereka.
Uhhh.. tenagaku terkuras habis.

Walaupun mereka terus menyerangku tapi aku tak boleh menyerang balik.
Walaupun salah seorang dari mereka ada yang tubuhnya(maaf) tak seperti orang normal aku tak boleh memanfaatkan itu untuk menyerang balik.
Mereka tetap kakak kelas dan aku harus menghormati mereka.

singkat cerita..
Lama sudah aku tak mendengar ejekan karena musim ujian. Sebentar lagi mereka lulus begitu juga denganku yang lulus dari ejekan mereka!
Horayyy!!

Tepat akhir dari cerita tentangku dan mereka adalah ketika aku berjumpa dengan ketua mereka di depan koprasi, juga yang paling cantik dari mereka yang selalu mengejekku.
"hayy" katanya dengan nada rendah yang mengundang simpati.
Yaa, ayahnya meninggal setelah ujian akhir.

Aku..
Mungkin merasa, dialah yang suka denganku. Hanya firasat.
Tatapannya yang hangat karena takkan melihatku lagi.
Inginku bilang "bodoh amat tentang perasaanmu yang campur aduk itu"
Tapi aku tak mau menyakiti dan juga tak mau bicara padanya.
Jadi..
Ini adalah untuk yang terakhir kalinya..
Akupun berbalik meninggalkannya..

Selamat tinggal..