Menceritakan tentang kehidupan labil saya yang memiliki 3 karakter berbeda yaitu Hapis(sifat asli), Beater dan Zheill.
Minggu, 22 Desember 2019
Minggu Pertama
Solusi.. aku harus mencari solusi yang tepat daripada menunggu berjalannya waktu.
Hari sabtu dan minggu libur karena sekolah yang dibawah naungan Yayasan Hasbunallah memiliki peraturan seperti itu.
Benar juga.. bekerja di sini sudah seperti yang ditakdirkan soalnya dulu aku pernah berharap agar dapat pekerjaan yang paling enggak ada hari liburnya supaya bisa istirahat dan kini telah terkabul.
Aku harus serius. Tidak boleh terlalu memaksakan diri dan pokoknya menjaga kepribadian, jangan sampai orang-orang di sini terkena imbas efek labilku. Murni sejernih air.
Setelah literasi, guru-gurunya apel pagi di depan ruang guru. Aku diajak pak Iban untuk ikut.
Pengen sih nolak tapi yaa..
"...kita kedatangan teman baru ya, kerjanya juga sudah mulai terlihat"
Aku rasa memang lantainya sudah terlihat seperti baru tapi pencapaianku sekarang hanya ini. Lantai di atas belum tersentuhku sama sekali huhu~
Aku sedikit kaget karena disuruh memperkenalkan diri. Emm baiklah seadanya saja.
"Assalamualaikum wr.wb. perkenalan nama ulun Hafidz Rachmadana, tinggal di Jangkung dekat rumah Pak Iban, hobi main game.. dan.. emm.. itu aja, apakah ada pertanyaan??"
Agak gugup jadi sulit menggerakkan bibir.
"panggilannya siapa?" salah seorang guru menanyakan.
"ah, bisa panggil Hafidz atau Dana"
"Hafidz aja ya?"
"iya boleh kok"
Guru-guru yang lain mulai bercanda karena sudah banyak yang kerja di sini berasal dari Jangkung, kampung kami haha.
Kembali memikirkan pekerjaan. Nampaknya ada beberapa tugas yang diluar dari tugas pokokku seperti mengantar surat, belanja, mencuci piring dan lainnya. Apa artinya aku perlu mengabaikannya? haha jangan bercanda. Soal mengabaikan sepertinya di ruang kantor ada masalah. Kemarin aku tidak sempat membersihkan ruangannya. Jadinya aku disuruh bu Yanti untuk membersihkannya. Sekarang juga.
Ingin mengutarakan alasan memangnya diperlukan?..
jika aku beralasan artinya aku hanya malas kan?.. maka dari itu sebaiknya aku diam saja.
Setelah selesai. Aku keluar dan kembali ke tempat duduk memainkan handphone. Selang beberapa menit bu Yanti mendatangiku. Membawa berita cukup heboh, katanya "lihat kalender yang bertempel di belakang lemari gak?"
Aku menjawab tidak ada. Terus bu Yanti bercerita cukup banyak kalau kalender itu susah dicari. Guru yang lain mulai membelaku. Situasi ini seperti sedang mencari tersangka. Aku tetap tenang. Aku tahu kalau bukan aku dan aku bodoh amat jika harus diberhentikan gara-gara sebuah kalender. Serius??
Tentu saja, aku takkan membiarkannya. Aku berdiri dan bertanya pada bu Yanti di mana letak kalendernya ditempel. Bu Yanti langsung antusias, segera keluar ruangan aku mengikutinya dari belakang. Tiba-tiba saja bajuku ditarik oleh ustadz Zul yang sedang duduk.
"Eh kenapa ust?" aku hampir jatuh
"tidak usah ke sana, biarkan saja dia.." ekspresi ustadz Zul sedang serius.
Aku mengerti kok. Tapi maaf. Aku harus bertanggung jawab.
"gak apa-apa juga.." aku memaksa diriku lepas dari tarikan ustadz. Agak kelewatan sih aku berontak dari tarikannya tapi aku juga harus bertanggung jawab.
Memang agak mencurigakan setelah disuruh bersih-bersih kemudian kehilangan barang. Bukan kebetulan kan? tapi yang anehnya.. siapa juga yang mau mencuri sebuah kalender?? kalau aku mau mencuri barang gak bakalan meninggalkan jejak sedikitpun.
Berpikir positif jangan menuduh kalau aku telah dijebak. Ingat fidz kamu kerja bukan untuk mendapatkan uang tapi untuk belajar. Misalnya aku dikeluarkan pun bukanlah sebuah masalah pelik untukku. Jika memang terjadi, di sini bukanlah tempat yang terbaik untukku. Maka dari itu aku melangkah tanpa membawa persiapan.
Masuk ruangan kantor lalu menuju tempat duduk bu Yanti.
"nah di sini, seharusnya di sini kalendernya ditempel.."
Perasaanku, tadi aku membersihkan ruangan sama sekali gak melihat ke atas, hanya fokus membersihkan sampah dan kerikil di lantai. Jadi aku tak tahu pasti. Apa aku telah menyapunya? tapi dengan ukuran kalender yang cukup besar seharusnya aku ingat telah menyapunya, ya kan?.. uhh
Jadinya aku hanya minta maaf dan lain kali akan berhati-hati.
Bu Yanti men-iyakan permintaan maafku.
Aku tahu dari raut wajah bu Yanti sulit untuk memaafkan dan mengikhlaskan. Tapi mau bagaimana lagi.
Aku kembali ke ruang guru. Reaksi umum jika yang lain ingin tahu apa yang terjadi. Aku jelaskan, kalau aku tidak dituduh ataupun dimarahi. Yahh pokoknya aku berusaha menenangkan dan merubah anggapan yang lain.
Kerja
Sebelum jam 10 aku harus sudah ada di SMA sana jadi aku persiapkan baik-baik semuanya. Pakaian rapi, sepatu dan tas. Biarlah apa yang akan terjadi nanti, tak usah terlalu dipikirkan.
Telah sampai di SMA, aku melihat dari luar sekolah ada beberapa siswa dan siswi yang melihatku. Aku terus melangkah menuju kantor sesuai arahan pak Rifki tadi di Yayasan.
"assalamualaikum.."
"waalaikumsalam silahkan masuk, kamu Hafidz ya?"
"iya bu.."
Beberapa detik setelah duduk bu Fatim langsung bilang kalau aku sudah diterima kerja di sini dan langsung kerja juga hari ini.
Eh?
"langsung diterima bu?"
"iya, langsung kerja ya.."
Ha.. ha.. haha..
Kayaknya pak Bani melakukan sesuatu dah.
Mendapat arahan dan tugas pokokku untuk kerja di sini. Hampir sama dengan pekerjaan rumah biasa seperti ngepel lantai, sapu-sapu, bersihin kaca yaa begitulah. Tak boleh bilang sanggup entar tahu-tahunya kejadian seperti dulu terulang lagi. Aku harus bisa sebaik-baik mungkin dan memperhatikan staminaku.
Benar!
Asalkan sehat, semua bisa aku urus. Tak boleh memaksakan diri.
"perkenalkan namanya Hafidz dan mulai sekarang bekerja di sini" kata bu Fatim
Ya ampun canggung banget. Aku tak berani melihat guru-guru di ruang ini.
"jadi tempat hafidz di sana ya" menunjukkan tempat dudukku.
Yey dapat tempat yang paling tengah dah. Dari belakang dan depan mereka mudah memandangku. Kursinya gampang berdecit pula, aaw kritikal canggung.
"nah kalau ada pertanyaan bisa bertanya dengan yang lain ya"
"oh iya bu, kalau masalah rumput ini gimana?"
"nah kalau itu bisa tanya dengan pak Riza"
Posisi pak Riza berada dekat dengan pintu.
"baik bu.."
Baiklah, kemudian suasana jadi senyap.
Masih butuh lama kalau ingin berbaur. Aku bukan tipe yang suka cari masalah. Aku tipe yang penyendiri dan memahami semuanya secara perlahan.
Soal tugas yang harus aku lakukan masih belum tahu waktu kapan saja yang tepat untuk melakukannya. Tadi aku sempat mengira kalau daerah pesantren yang di samping sekolah ini juga merupakan bagian SMA. Konyol dah, seolah-olah pengen nantangin untuk membersihkan semuanya.
Aku keluar sebentar untuk melihat sekitar tapi enggak jadi karena ada siswi. Introver njirr. Bukan, bukan, aku hanya malu saja karena ini suasana baru.
Sampai jam pulang tiba barulah aku bisa kerjakan tugasku. Mencuci piring, mengepel lantai kantor, mengunci kelas dan menutup gerbang. Tak cukup waktu untuk melakukan tugas pokoknya. Kata bu Fatim yang paling penting adalah lantai teras, kantor dan ruang guru. Pulang sekolah jam 03:30 waktu yang sangat sedikit sampai sekiranya aku sudah di rumah jam 6 kurang. Anggap saja aku bersihkan ruang guru sekitar 30 menit, nyuci piring juga terus yaa anggaplah semuanya 30 menitan. Masih agak malu bila harus jadi perhatian orang-orang apalagi murid jadinya sulit untuk kerja. Aku juga tipe orang yang melakukan semuanya sendiri.
Besok aku harus lekas datang untuk mengepel teras yang katanya dipakai untuk literasi. Entah buat apa.
Aku pulang ke rumah dan menceritakan semuanya pada nenekku.
Lagi aku mengingatkan pada diriku agar tidak memaksakan diri. Aku tidur lebih cepat agar seperti biasa bangun untuk melaksanakan sholat malam lalu membuka langgar. Sengaja aku bangun sejam paling enggak sebelum masuk waktu sholat subuh supaya tak ada niat lagi untuk tidur.
Anggaplah hari ini hari pertama aku kerja secara resmi. Sehabis sholat aku langsung pulang dan pergi kerja, gak berwirid seperti biasanya.
Haha sebelum jam 6 aku sudah tiba di sekolah.
Baiklah waktunya kerja.
Pertama aku menyapu sampai bersih debu dan kerikil. Ku temukan tiap sudut dinding terdapat banyak kotoran hitam-hitam. Tai kelelawar? sepertinya bukan karena kotoran kelelawar bisa berwarna warni sesuai yang dimakannya, buah-buahan. Aku melihat ke atas ada tali kabel panjang. Pasti, tai ini adalah tai burung. Aku coba untuk menghilangkannya dengan sandalku. Keras. Sudah lama rupanya tai ini. Aku mengambil air untuk melunakkannya kemudian ku bersihkan dengan sendal lalu ku siram.
Ah aku cukup banyak membuang waktu.
Sudahku sapu lantainya kemudianku pel.
Katanya pake sedikit air saja supaya cepat kering.
Tapi emang hari pertama ini aku masih belum bersih karna dalam proses menyesuaikan. Ruang kantor juga belum aku bersihkan. Tidak cukup waktu untuk mengerjakannya. Aku harus meningkatkan keefektifan kerjaku. Cepat dan bersih.
Jam pelajaran di mulai. Rupanya lantai teras digunakan buat mengaji tiap paginya. Begitu rupanya makanya jauh dilebih pentingkan. Aku harus teliti membersihkan tiap kotoran yang ada. Tak tahu apakah amalan diterima atau tidak jika lantai bekas kotoran dipakai buat mengaji. Paling enggak bau dan bekasnya hilang. Sip dah.
Seharian aku gunakan untuk mengamati dan mencari solusi tepat. Soal sholat aku tak perlu khawatir karena memang ini sekolah mengutamakan kewajiban agama.
Aku memperhatikan ekspresi salah satu siswi ketika berpas-pasan. Ekspresi seperti tak suka denganku. Kenapa ya?
Aku menuju wc dan ku dapati di dalam wc tumpukan tanah hitam yang bau. Jadi itu alasannya kenapa siswi tadi tak suka denganku, ya kan wajar saja aku baru ke wc untuk pertama kalinya. Baiklah aku akan membersihkannya.
Tawaran
Tapi manusia, ada saja yang lebih memilih menjadi bodoh daripada pintar.
Mereka tak sadar. Mereka hidup hanya bergantung pada insting belaka. Makan, kerja, nikah, punya anak, bersenang-senang dan terus diulang. Bagian penting yang hilang dari siklus seperti itu adalah keinginan untuk terus belajar. Apa untungnya? untungnya pastilah untuk mendapatkan hasil yang jauh lebih baik dari ujian baru yang akan menimpa. Hidup akan kacau jika kita tidak mendapatkan solusi dari ujian baru sebab akibat dari kita yang kurangnya ilmu.
Sementara ini aku ingin berusaha lebih mengontrol labilku dan banyak-banyak belajar. Jika memang aku sudah siap pastilah saat itu akan datang untuk terjun ke dalam dunia yang lebih luas.
Yaa aku percaya..
Sore ini aku sudah siap olahraga dengan bersepeda keliling kampung. Entah kenapa beberapa hari ini keadaan hatiku lebih tenang dari biasanya. Mungkinkah akan datang masalah baru haha.. ya ampun. Biasanya siklusnya begitu. Ada masa tenang maka akan datang masalah. Ah biarlah..
Tak jauh dari rumah sudah aku mengayuh sepeda tiba-tiba di depan tempat jualan bensin ibunya Meli atau acil Inyah menghentikanku. Aku bertanya ada apa.
Katanya "maukah kamu kerja fidz?.. nih ada lowongan kerja di Hasbunallah"
"emm.. apa pekerjaannya di sana atau jadi apa?.." ya ampun.
"jadi OB, menggantikan si Hendra yang berhenti.."
Siapa Hendra?
"mau gak? kalau mau nanti aku bilang sama Bani. Kerjaannya menyapu, ngepel lantai dan bantu-bantu urusan lainnya"
Hmm... gimana ya..
Coba pikirkan lagi fidz, mau sampai kapan menunggu kesempatan yang tepat.
"coba jalani aja dulu, kalau enggak sanggup bisa dibicarakan baik-baik.."
Benar juga. Aku memang berpikir hal semacam dunia ini tidaklah jauh penting seperti pandanganku terhadap uang. Pekerjaan bukan berarti menetapkan pilihan yang tak bisa digugat kembali. Jika tak sanggup bisa memilih lagi.
Di sisi lain, aku pikir sudah banyak punya pengalaman dalam mengatasi dampak labil ini ke orang di sekitar. Fokus saja pada kerjaan dan jadilah penyendiri namun bersikap netral yang siap membantu orang lain.
Badanku jadi gak enakkan. Terasa seperti ada yang ingin menghentikanku untuk terus melangkah.
Tolaklah!
Tapi aku ingin terus maju untuk menjadi lebih baik lagi. Niat kerja sebagai latihan.
"baiklah, aku mau"
Besok aku akan mengantar lamarannya.
Sayangnya, sore besok berita sudah adanya calon yang juga ingin melamar kata acil Inyah. Ahh aku terlambat. Ada rasa kecewa tapi ada juga rasa senang.
Memang aku masih terjebak di zona nyaman makanya senang. Hedehh.. kurasa emang kesempatanku masih belum datang.
"jalan-jalan dulu aja deh" Aku bersepeda lagi mengelilingi kampung.
Sampai di rumah. Adikku mengejutkanku.
Katanya tadi acil Inyah datang kemari.
"ngapain?.."
Aku pun keluar rumah dan pergi ke tempat acil Inyah.
Mungkin sebuah kabar gembira untuk segelintir pengangguran bahwa acil Inyah salah dengar dan aku masih punya harapan untuk dapat pekerjaan. Kemudian aku dan acil Inyah mendatangi tempat Bani. Oalah rupanya anaknya bapaknya Gafur. Si Gafur adalah kakaknya Bani.
"lumayan loh fidz gajihnya 1.25 juta"
Haha, bukan itu yang aku incar jika ingin menjadi lebih baik lagi..
Setelah mengantarku ke tempat Bani acil Inyah pergi meninggalkan kami berdua.
Aku berbincang banyak dengan Bani. Seperti kerjaannya ngapain dan lainnya.
"lebih baik besok saja, lebih cepat lebih baik dan aku saja yang ke sana, jika pian(sebutan kamu untuk orang yang lebih tua) yang mengantar lamaranku sama saja aku tidak ada niat dimata yang menerima lamaranku" ujarku. Wahh bisa-bisanya aku bilang begitu.
Kami bertukar nomor telpon.
"oke, besok sekitar jam 10an aku menunggu di SMA Hasbunallah ya?"
"oke sip, makasih banyak ya"
Malamnya aku tak sempat menulis lamaran malah besoknya aku kepepet nulis dan datang ke sana belum mandi. Kacau ehh.
Aku sempat kebingungan menuju lokasi SMA tapi akhirnya ketemu juga. Sebentar singgah Bani pun mengajakku langsung ke Yayasan. Langsung!
Langsung diwawancarai!
Aku menjawab sebisanya dan harus ketawa karir.
"terus selama pengangguran ini kamu melakukan apa saja?.." kata bu Raudah atau Saudah, uhh maaf pendengaranku agak buruk.
"bantu-bantu di rumah dan soal uang, ibuku mencari dengan berkerja dengan pak Iin sebagai sekertaris"
"terus kamu?.."
"yaa cuman di rumah bertiga.. ulun ikut bantu-bantu saja" kalau aku bilang sedang belajar mana mungkin orang biasa bisa paham yang aku maksud dengan belajar.
Aku meneruskan agar bisa lolos tes ini
"ahh ulun juga aktif di langgar, tiap subuh buka langgar dan adzan.."
"jadi kaum??.."
"emm bukan, hanya bagi tugas saja"
"gak dibayar??"
"sukarela aja bu.." ya ampun.
Akhirnya bu Saudah berhenti menanyakanku.
"hemm gitu ya.."
Terus datang pak Rifki sebagai tahap kedua wawancara ini.
*ugh
Sementara itu pak Bani hanya duduk di kursi di samping kiriku. Uahh seolah-olah seperti dibantu saja, padahal aku tak mengharapkannya. Pengen ngusir masa iya??
Selesai wawancara aku disuruh menulis beberapa formulir kemudian benar-benar selesai dan pulang untuk menunggu hasil.
Keesokan harinya.
Aku menunggu panas dingin. Masih berharap tidak lulus tapi juga berharap ingin maju, yepp ultimatum labil.
Seharian menunggu sampai sore tak kunjung ada panggilan atau kabar. Aku berharap pada Allah jika memang sudah takdirnya aku kerja di sana maka masukanlah namun jika memang bukan hal yang baik kerja di sana maka jangalah buat hamba diterima.
Lama menunggu. Tetap tidak ada panggilan atau kabar.
"kayaknya emang gak diterima deh"
*drett drett
Dari pak Bani.
"kenapa handphone mu gak dinyalakan"
Aku balas pesan pak Bani
"seharian aku aktifkan kok, kenapa? ada kabar ya?"
"tadi siang pak Rifki nelpon kamu tapi gak tersambung sambung"
"ehh, padahal handphone ku beneran aktif seharian, sumpah" sampai panas dingin nunggui kabar.
"haha, kata pak Rifki esok datang ke sekolah langsung jam 10an"
"oke baiklah"
Apa artinya aku diterima????
Minggu, 10 November 2019
Tempat yang Jauh
Sabtu, 05 Oktober 2019
Harus Diubah
Banyak sebagian orang yang berubah karena telah mendapatkan pengalaman berharga dalam hidupnya. Bahagia, rasa sakit, sedih, dendam dan lainnya, semua menjadi pondasi terbentuknya sosok karakter yang berbeda-beda. Tapi ada juga yang murni bawaan dari lahir. Atau.. keduanya bawaan lahir dan kumpulan pengalaman, inilah kasusku. Ya~ enggak hanya aku juga sih sebab ini umum.
Dengan sudut pandang seperti ini kita bisa melihat bagaimana orang tua berusaha membantu anaknya menjadi orang besar. Dari kecil mendapatkan pendidikan hingga dewasa sampai lepas tangan. Anaknya bisa terbang sendiri, menjalani kehidupan seorang diri. Orang tua yang sukses.
Melihat pada diriku sendiri apakah orang tuaku atau ibuku gagal mendidikku?
Jawabannya..
Benar, juga, tidak..
Kompleknya tiap orang-orang pasti memiliki masalah berbeda-beda walaupun sedikit juga adanya kesamaan.
Pada kasusku, ibuku terpaksa harus bekerja atau mencari seseorang untuk menafkahi kami karena ayahku meninggal ketika aku masih kecil. Ahh kalau flashback pasti teringat si b*ngsat, penyihir s*nting. Singkatnya ibuku mendidikku dengan cara memberikanku ruang agar bisa belajar sendiri. Namun jika ada masalah yang pelik ibuku berusaha menghentikan ku. Tapi.. aku orangnya percaya diri karena aku bodoh dan polos. Hapis.
Percaya diri disaat yakin, bodoh saat mengabaikan perkataan orang-orang dan polos berusaha menjauh dari hal yang mustahil.
Naluri dan hati.
Aku bisa merasakan yang tak bisa aku lihat dan memiliki hati menjadi orang yang bijak. Tapi kadang menyimpang karena ingin belajar. Selama ada motivasi dan keyakinan sesulit apapun situasinya Hapis takkan pernah menyerah.
>>Sorot mata yang menjanjikan keberhasilan dan auranya mengundang rasa suka pada orang-orang yang ada di sekitarnya<<
_
Ibuku pulang ke rumah dan keluarga juga berdatangan. Suasana jadi rusuh, tentu saja aku tak terlalu suka. Supaya diri tetap tersadar aku lebih memilih berdiam dan tak banyak bicara. Sengaja diri terbawa suasana bisa menyebabkan diri lupa dan respon berusaha mengikuti arus agar tetap stabil. Kesenangan ibarat berenang ke dalam kolam, semakin ke tengah semakin jauh untuk kembali ke darat. Rasa lelahnya pada pikiran. Semakin lelah maka kesalahan semakin meningkat. Respon asal jawab pun terjadi. Ini yang aku takutkan.
Karna sering sekali aku mengalaminya aku pun berusaha meningkatkan kesadaranku. Kalau gak salah waktu bersekolah SMA dulu kayaknya aku sudah meningkatkan kesadaranku yang bersamaan melengkapi kemampuan Beater. Angin hanya jadi sumber tenaga api. Kekurangan Hapis dapat dilengkapi dengan kemampuan Beater.
Fungsi kesadaran hanya diri kita sendiri yang tahu.
Ibarat memakai topeng.
Mengenai topik pembicaraan ketika keluarga berkumpul gak terlalu pasti. Pertanyaannya apakah mereka akan membicarakan tentangku?
oh, kemungkinannya kecil sebab mungkin saja mereka sudah membahasnya lewat telpon.
Aku percaya dengan ibuku dan ku yakin ibuku juga percaya denganku jadi kenapa harus takut.
Cucian cukup banyak, ibuku prihatin denganku. Tapi aku bilang gak apa-apa kok soalnya aku tak ingin ibuku pusing. Kemudian adikku mengambil kesempatan menambahkan cucianku, yep aku juga mencucikan pakainnya. Namun cara dan ucapan yang adikku lakukan itu membuatku emosi. Selalu saja kelakuannya itu membuat orang emosi. Aku berkata tajam supaya menyerang sifatnya, sifat ayahnya itu hancur. Di dalam hatiku aku sadar kalau cara ini memang kelewatan tapi mau bagaimana lagi.
Merasa selalu tertekan akhirnya adikku mengadu pada ibu. Tentu saja ia mengharapkan diperlakukan baik dengan mengadu pada ibu.
Masa iya? perilaku buruk yang dimiliki adikku itu perlu didukung?
Dia tak pernah hormat denganku, menyalahkanku, apabila benda miliknya lecet saja sedikit gara-gara ku ia memarahiku.. penyayang harta, bikin enek. Di dalam dirinya itu, sifatnya itu yang ingin aku lenyapkan. Aku saja sewaktu kecil tak pernah sepertinya, yaa aku tahu itu. Sudah habis pikir bagaimana cara agar bisa merubahnya.
"fidz jangan begitu sama adik, kalau berantem terus nanti mama gelisah di sana.."
"habisnya, kelakuannya itu selalu bikin orang emosi, tak pernah hormat, tak pernah menghargai orang yang lebih tua"
Siapa juga yang mau bersikap kasar kalau bukan ada yang salah padanya. Sedari dulu selalu saja bikin aku sakit hati. Yaa wajar saja darahnya itu berbeda dengan aku dan kakak.
Ibu sedikit menasehatinya.
Benar juga. Selama ini aku selalu memaksa orang-orang agar menyadari sendiri kesalahan mereka karena aku tahu jika kita sendiri yang menyadari kesalahan maka peringatan itu akan membekas dan menjadi cahaya pengingat terbaik yang akan membantumu berkembang. Akan tetapi sebagian orang ada yang tak bisa menyadari sendiri kesalahan mereka. Kenapa begitu?
Syukurnya ada ibu yang menjadi perantara agar adikku menyadari kesalahannya. Sebuah tumpukan PR yang sangat sulit. Aku juga mendapatkannya.
"fidz kamukan sudah bisa berpikir sementara adik belum.."
Nah itu cocok banget.
"baik-baiklah, nanti mama gelisah di sana"
hmm.. aku hanya terdiam, ini sulit sekali, kemungkinan aku akan melanggarnya.
Ketika sedang berkumpul di luar kaka Rida, suaminya dan anaknya datang bersilaturahmi.
Singkat saja silahturahminya dan langsung hendak ke rumah. Saat bersalam-salaman kaka Rida memegang tanganku, seharusnya bukan muhrim, aku tak sempat mengelak. Lalu kaka Rida berbicara pelan padaku.
"tunggu ya fidz nanti kaka akan usahakan supaya bisa diterima kerja"
Aduh golok golok. Ada aja orang kek gini. Sumpah emosiku naik lagi.
Healing
Tetapi..
Aku berbeda..
Aku bisa melepaskan diriku sendiri dan mengikuti naluriku sendiri. Aku memilih mana yang baik dan tidak semuanya akan jadi pelajaran untukku.
Seberapa banyak uang, jasa, dan segala macam bantuan yang diberikan untukku takkan bisa menundukkan diriku. Bersembunyi di balik kata-kata balasan sebagai senjata untuk mengekang.
Abaikan yang kamu lihat dan ungkapkan kebenarannya..
..
Jadi apa aku harus mengikuti ego bodoh kalian?
Tubuhku menjadi trauma mengingat tindakan kalian yang pernah menyakitiku. Berbeda dengan serangan fisik, serangan mental jauh lebih menyakitkan. Syukurnya aku punya karakter Hapis yang lekas pulih dari kondisi terpuruk. Jika seandainya aku terlalu larut dalam kegelapan mungkin saja aku akan bertindak jauh lebih bodoh.
Repotnya ada para pengganggu yang sengaja masuk dalam kehidupanmu.
Masalahnya, to do point saja.
Bagaimana cara agar aku bisa memaafkan mereka?
Berhubungan sebentar lagi adalah hari raya. Jujur jika bukan karena perintahNya, Yang Maha Memaafkan, aku takkan pernah memaafkan mereka.
Aku juga berharap agar bisa mendapatkan kemenangan dibulan Ramadhan ini dengan memperbaiki semuanya.
Memang ya..
Kalau ingin menjadi orang yang lebih baik lagi ujiannya pasti selalu sulit. Kadang emosi menelan pikiran sadar. Menjadi buta akan hal yang seharusnya dilakukan. Dan anehnya lagi, selalu saja kita yang berjuang, yang harus melakukan semuanya, untuk sekitar kita.
Tidak mudah..
...
Aku sadar, kekurangan diriku banyak sekali.
Sebulan ini aku hanya berputar-putar gak jelas melakukan aktivitas biasa tanpa usaha yang nyata. Persiapan yang sedikit dan ilmu yang kurang.
Apakah ada kesempatan lagi nanti?
Jika ada, maka aku akan lebih cermat lagi, lebih teliti lagi, lebih siap, lebih cepat dan tanpa celah.
Jangan sampai yang tersisa hanya penyesalan.
Kemenangan sesungguhnya adalah ketika kita bisa memaafkan orang-orang yang pernah menyakiti kita.
Sudah menjadi tradisi kami, jalan-jalan ke taman kota di malam hari raya. Yep, kami jalan kaki saja.
Sepanjang jalan kami membahas hal-hal yang gak penting sebagai bahan candaan. Mulai dari membahas game, anime, bocah empire sampai khayalan perang antar sekolah bocah empire menguasai daerah kami.
Kocak! sumpah kocak banget!
Ah, kalian ingin tahu arti dari bocah empire?
kami menyebut mereka bocah empire karena anak sekolahan yang bar-bar bikin senjata tajam dari seng, gir motor bahkan membeli katana.
Hahaha! konyol banget kan!?
Bahkan ada juga ahli besi yang bikinin senjata aneh gituan.
Wkwkwk!
Kami tertawa terbahak-bahak, sudah lama aku gak tertawa lepas.
Yep, hanya ada satu tempat dimana aku bisa tertawa lepas menjadi diriku yang damai. Melepas rasa lelah dari semua masalah dunia dan orang-orang. Rasanya melegakan. Namun aku tetap menjaga imanku agar hati tidak mati. Ingat siapa yang memberi nikmat agar diri terjaga.
Lama bercerita jadinya pembahasannya ke masalah penciptaan dunia dan terus berlanjut tentang agama. Aku jadi semakin semangat membahasnya, ku lihat Aldi juga antusias. Semakin seru dan berujung ke pembahasan akhir zaman. Tentang kiamat dan agar selamat ke akhirat. Amalan-amalan yang bagus untuk diamalkan. Seperti sholat tahujjud, dhuha dan bacaan surah. Aku rasa tidak baik jika hanya memendamnya sendirian. Ilmukan harus dibagi apalagi dengan teman baikmu. Jika temanmu alim dan kuat imannya siapa tahu nanti diakhirat bisa memberi syafaat, menolong agar masuk surga.
Tidak ada yang tahu dengan masa depan orang-orang yang kita hina, siapa tahu mereka nanti bisa jadi lebih baik lagi yang tingkatnya jauh di atas kita. Tapi bukan berarti jika mereka sudah sukses kita seenaknya mengungkit yang kita sebut "kebaikan" menolong mereka.
"kalau enggak aku yang beritahu/menolongmu mana mungkin kamu bisa sukses"
Itu salah. Seolah-olah mengakui kalau kita yang bisa memberi petunjuk. Sombong kuadrat.
Aku selalu berusaha agar menutup mata pikiranku agar tak melihat kejelekan orang-orang sebab aku juga tak ingin dilihat demikian.
Sabtu, 14 September 2019
Kecelakaan
Kecelakaan? tanya ku sendiri.
"bu saya titip makanan saya di sini dulu ya? kayaknya di sana ada kecelakaan"
"oh iya iya, ya ampun"
Bergegas aku lari ke sana. Seperti yang di duga, dua pengendara sepeda motor telah tabrakan. Orang tua dan satunya lagi mungkin seumuran kakakku. Kok bisa sampai tabrakan padahal jalannya ini cukup lebar. Pastinya karena lengah.
Aku melihat orang tua itu merangkak perlahan ke tepi jalan. Sebelum aku menolongnya orang tua itu tiba-tiba saja muntah darah. Banyak sekali darah yang dimuntahkannya. Aku terdiam menganalisa kerusakan tubuhnya. Sedikit mual melihat pemandangan seperti ini pertama kalinya.
Sadarlah! tolong dia!
Tapi bagaimana?
Orang tua itu bergerak lagi perlahan dan duduk.
Ahhh.. Tak banyak orang yang datang menolong. Sementara yang satunya lagi duduk bersandar di pagar halaman kantor pos. Mengekspresikan rasa sakit. Pura-pura? kalau begitu lebih baik abaikan saja. Pokoknya orang tua itu yang harus ditolong lebih dulu.
Tapi bagaimana!? orang lain sibuk berdiskusi mencari kenalan atau adakah seseorang yang punya mobil agar bisa membawa korban ke rumah sakit.
Kenapa harus nunggu mobil!?
Aku pun lari mengambil kendaraan dan balik lagi ke tkp lalu menghampiri korban untuk membujuknya ke rumah sakit dengan naik kendaraan ku. Tapi dia menolaknya.
Aku tahu pasti rasanya sakit banget naik sepeda motor tapi keadaannya mengkhawatirkan. Tolong jangan mati.
Orang-orang mulai banyak berdatangan. Ada yang melihat korban langsung berpaling karena takut.
Mobil lewat!
Kami minta agar singgah dan membantu korban tapi sayangnya dia acuh. Gila, bulan puasa ada saja orang yang seperti itu. Bagaimana jika diri sendiri yang jadi korban, haruskah kami membantu?
Harapan datang..
Tapi aku gak berani mengangkat korban ke dalam bus karena dari sini saja aku sudah merasakan sakitnya dia. Hal itu membuatku lemas.
Para supir truk yang kebetulan lewat membantu mengangkat korban dan menemani ke rumah sakit. Supir truk yang lain bersama warga berkumpul menginterogasi korban yang satunya. Sudah bisa berdiri rupanya.
Aku dan beberapa orang membersihkan tempat kejadian. Kendaraan si bapak tadi rusak parah. Padahal katanya si bapak baru saja pulang dari pasar. Aku mengambil makanan batagor bapak tadi dan ku letakkan dekat kendaraannya. Sungguh berat sekali ujian si bapak.
Aku diminta untuk membersihkan darah korban di tepi jalan tadi oleh warga. Aku penuhi permintaan.
"gak papa nih kalau kotor?"
"iya gak papa"
Selesai membersihkannya aku rasa tidak ada lagi yang harus ku lakukan, sebaiknya aku pulang. Sudah senja. Tak lupa dengan belanjaanku aku kembali mengambilnya. Uhh.. perutku masih mual.
Pembaharuan karakter semakin meningkat..
Jumat, 13 September 2019
Mr. Misterius
Aku melihatnya begitu bersinar, kehidupan ceria yang dia jalani memberikan kesan dalam hatiku..
Aku pun ingin bertindak untuk melampiaskan rasa suka ku terhadapnya..
Namun aku ingin berbagi kisah ini agar semua tahu dengan detail fakta yang terjadi waktu itu.
Jadi.. bagaimanakah agar aku bisa mengungkapkan rasa suka ku terhadap dirinya.
Terlintas di benak tentang coklat, semua orang pasti suka coklat. Ku rasa dengan sebuah coklat bisa membuatnya senang. Hihi aku belikan coklat Silverqueen untuknya.
Besoknya tanpa rencana aku gak tahu bagaimana cara menyerahkan coklat ini padanya mengingat culunnya diriku ini.
... emmm.. bingung..
Sebuah kesempatan baru datang lagi. Ketika orang-orang di kelas tidak ada aku menghampiri tempat duduknya. Selanjutnya bisa ditebak. Aku taruh saja di dalam tasnya, tanpa izin. Maaf ya.
Kurasa aku sukses. Ku lihat esok harinya dia begitu semangat apalagi ketika berbicara dengan temannya. Cukup mengagetkan. Aku juga senang.
Sampai pada tahap masalah pertama ketika aku sekelompok dengannya. Waktu itu aku tidak bisa memberikan bantuan sama sekali sebagai anggota, kerjaannya hanya bercanda alhasil dia memarahiku. Seketika itu pun rasa suka ku terhadapnya berkurang drastis. Hari demi hari aku menjadi tak suka dengannya. Kekanakan sekali bukan? ya, itulah diriku pada masa sekolah. Pada tahapan labil yang paling parah ketika menyempurnakan karakter Beater. Semua yang dipandang ku hanya karna satu kesalahan saja sudah bisa berbalik tajam layaknya paku.
Hingga aku tahu ketika Amal bilang kalau dia sudah menulis apa yang dia alami di sebuah blogger-nya.
Aku.. merasa telah menjadi orang yang paling brengs*k di dunia ini. Pantes saja ketika aku bertanya padanya tentang blog-nya raut wajahnya berubah. Ku rasa dia ingin aku juga tahu apa yang telah ku perbuat karena post-nya yang beriisi tentang ku belum dihapusnya.
Kebodohan..
Makanya aku sering minta maaf padanya. Kesalahanku yang kecil pun aku langsung minta maaf. Karena aku lemah tak bisa berbuat apa-apa, membuatku down dan ingin cepat lulus untuk menyelesaikan sesuatu yang ada dalam diriku. Kehidupan sosial hanya membuatku tidak fokus.
Masih jika satu kelompok dengannya aku jadi gembira. Kepribadian Hapis yang kekanakan pastilah menyukai suatu hal yang luar biasa terlihat di dalam dirinya.
Ketika dia berpidato. Menyelesaikan tugas. Menjadi peringkat pertama. Menjadi yang disuka oleh guru. Banyak alasan mengapa aku menyukainya.
Purple yang anggun..
Begitulah mungkin warna aura yang dapat membuatku terpikat. Bagiku, Hapis, bukan dari kepribadian yang lain.
Dua kepribadian yang berbeda dan satunya lagi tak bisa diperkirakan, Zheill.
Jalan cerita semakin jelas terlihat ada saat dimana aku menyukainya, tak suka dengannya dan ingin merelakannya. Makanya saat itu aku jauh lebih kebingungan terhadap diri sendiri dibandingkan dengan tugas sekolah.
Tapi jangan salah sangka dulu. Bukan berarti tujuanku adalah dirinya karena jika alasanku adalah dirinya maka aku takkan pernah melangkah maju.
Jumat, 06 September 2019
Rintangan Lagi
Dua minggu sudah ku lewati dibulan puasa tapi tetap saja kesulitan mengatur waktu. Mengingat apa yang sering orang bilang disetiap keadaan sulit ialah "jalani aja dan nikmati" begitulah, terus melangkah maju. Perhatikan baik-baik dan pilihlah pilihan dengan bijak.
...
Ketika aku sedang membersihkan gelas-gelas minuman kemasan Nini anum berbicara padaku tentang ibuku. Awalnya bertanya padaku apakah ibuku akan pulang dibulan puasa ini. Sepertinya suasana hati Nini anum lagi ceria jadi aku balas saja dengan santai kalau ibuku rasanya mungkin tak bisa pulang dibulan ini karna sibuk.
Nini anum tetangga terbaikku, ia selalu memberi makan kucingku bila kami tak ada lauk ikan. Aku sudah pastikan ia orang baik yang tak mungkin menjerumuskan atau membicarakan buruk tentang keluargaku makanya aku lebih terbuka. Walaupun aku sudah terbuka mengenai informasi pribadi tapi ia tetap sopan dan gak seenaknya bertanya mengenaiku.
Pasti ada alasan lain kenapa tiba-tiba bertanya padaku tentang ibuku.
Membalas jawabanku, Nini anum bilang kalau tetangga-tetangga kita ingin sekali kehadiran ibuku dan Pak Iin kembali kemudian seperti tahun yang lalu orang tuaku bagi-bagi uang. Tambahnya lumayan kata mereka buat nambah modal berdagang. Nini anum pun sedikit tertawa. Yaa suasana hati lagi bagus.
Mengingat dari pengalaman, aku juga pernah melakukannya, parahnya terkadang aku menyinggung hati.
Dengan cermat karena sudah paham situasi Nini anum aku melakukan simulasi percakapan mereka dalam benakku.
Posisi Nini anum sebagai pendengar di antara mereka yang ahh bisa dibilang berbincang-bincang, mungkin.
Kemudian ada yang bertanya ke Nini anum mengenai ibuku. Nini anum agak berat menjawab karna mungkin mereka akan berbicara buruk. Jadi Nini anum menjawab "nahh aku tidak tahu"
Langkah selanjutnya dari dia yang bertanya tadi lalu ditambah alasan peluang Nini anum berani bertanya padaku mengenai ibuku adalah keadaan yang tak biasa yaitu mereka berbicara baik, tidak bersangka buruk.
"waahh mudah aja Ibunya Hafidz pulang dan bagi-bagi uang lagi, kan lumayan buat modal dagangan"
Begitu mungkin..
Hmm.. yaa ini hanya perkiraan saja.
Btw aku tahu siapa yang suka bertanya keberadaan ibuku, spesifiknya dia adalah pedagang.
Heh! mulai dari SMP pun sudah sering menanyaiku. Aku kesal dan tak mau lagi belanja di warungnya.
Grrr...
Tapi tindakan pak Iin juga memang mengundang banyak perhatian.
Ahh.. aku maklumi saja.
Aku sedikit tertawa menanggapi Nini anum.
_
Aku punya firasat kalau keluargaku akan datang untuk buka bersama di rumah. Tubuhku masih sulit menerima mereka. Butuh waktu lama untuk bisa memaafkan.
Sedari kecil aku selalu pilih-pilih mencari teman. Aku lebih suka berteman dengan teman yang ramah. Banyak. Daripada pintar tapi nakal.
Sudah jadi darah daging tubuh ini akan selalu menghindari terhadap orang-orang yang yaa.. bisa dibilang kalau bergaul bakalan ketularan dengan sifat mereka. Apalagi aku yang jadi korban -_-
Aku menyelimuti tubuhku dengan aura penolakan agar aura mereka tak bisa menyentuhku. Jijik tau. hahaha..
Kemudian hari itu datang juga, mereka beneran datang.
Waktunya beralasan.
Sok baiknya mereka menanyakan keinginanku yang ingin pergi.
"Sholat" ucapku
Yaa~ setelah berbuka aku tak langsung makan-makan tapi mau sholat dulu. Sore tadi aku sudah beli minumanku sendiri, tak mau aku mencicipi makan dan minuman mereka. Hahaha..
Di tengah perjalanan aku teringat kalau niatku salah. Seharusnya berniat untuk beribadah bukan alasan untuk kabur.
Uahh..
Aku ulangi niatku.
Setelah sholat ba'da maghrib hari masih hujan, aku bersyukur banget bisa berdiam sedikit lama di sini.
Sebetulnya aku tahu, yang aku lakukan ini salah. Tapi mau bagaimana lagi, aku tak sekuat orang-orang hebat yang mampu menerima rasa sakit demi menjaga hubungan.
Hanya tekad tertentu saja yang mampu membuat mereka bertahan. Tekad itu masih belum bisa aku gapai. Terlalu tinggi..
Hujan sedikit mereda. Sebaiknya aku pulang dan menikmati minumanku.
Sesampainya di rumah. Aku menikmati minumanku saja. Tak mau makan bareng mereka.
Aku sedikit terkejut dengan kakak Yudhi yang berbeda dari biasanya, seolah-olah merendahkanku.
Kok bisa ya?
Apa yang telah terjadi?
Hahh~
Ku kira Kakak berbeda, rupanya sama saja seperti mereka.
Tak ada alasan untuk terus berhubungan, kalau aku teruskan, hanya akan ada konflik dan perasaan tak suka, saling hina.
Aku akan menjauh.
Kemana?
Oh jelas, aku ingin ke tempat ibadah.
Di sana lebih adem.
Uang untuk imam sewaan sudah aku bawa.
Masalahku dengan mereka sangat susah terselesaikan, butuh waktu lama sampai benar-benar hancur sifat buruk mereka. Sebelum itu tiba tubuhku akan sulit menerima kehadiran mereka.
Berpura-pura akrab padahal sebenarnya menusuk. Orang-orang seperti mereka ingin menundukkan ku?
Bertapa naifnya..
...
Kekeliruan terbesar ketika kita melupakan hal yang penting untuk dijaga...
Rabu, 04 September 2019
Fans Gelap
Aku tak tahu. Aku bingung kenapa kakak-kakak kelas itu malah marah padaku karena aku tak sengaja bilang mereka "gila"..
Serius?..
Bagaimana tidak tiap kali aku lewat samping gedung dekat gerbang sekolah mereka selalu menungguku. Dan apabila aku lewat di depan mereka bersorak gembira. Fans? Entahlah..
Wajah salah satu dari mereka agak familiar. Rasanya aku pernah bertemu dengan salah satunya di ruang UKS. Saat itu aku kelelahan sekali dan pusing setelah berlari sekuat tenaga.
Ada 2 orang kakak kelas cewek yang menjaga ruangan. Mungkin bermula dari situ mereka mencari tahu tentang diriku.
Sebutannya untuk orang-orang yang suka denganmu mungkin penggemar karna bukan sebagai teman.
Rasanya aneh, diteriaki oleh mereka. Pertama kali kurasakan ketika aku dan teman cowok kelas X-1 di perjalan ingin ke mesjid. Tak terlalu jauh dari kelas kami tepat seperti yang aku bilang di atas tadi mereka menungguku siap untuk bersorak. Aneh tau gak..
Tampang biasa saja begini malah ada kelompok penyuka seperti mereka.
Aku mempercepat langkahku karena ku rasa dan yakin bukanlah aku yang mereka maksud.
Kenapa? di kelasku ada Raga dan Rama loh yang tampangnya jauh lebih dariku yang biasa saja.
Aku tak terlalu suka situasi yang berisik makanya aku mempercepat langkahku.
"nah itu yang di depan, yang langkahnya cepat" salah satu dari mereka.
Jelas aku kaget dan seperti magic aku ingin lupakan mereka dan tentang mereka. Dipercakapan temanku, aku mendengar Ikhsan memujiku.
hmm..
Tapi ya aku orangnya simpel dan bergerak sendiri. Aku punya duniaku jadi aku anggap mereka bukanlah suatu hal yang perlu dipikirkan.
Ucapan terlontar yang tak sengaja menjadi petaka buatku. Aku gak nyangka juga mereka mendengarnya. Mulai hari itu reaksi mereka berbalik menjadi sorakan kegaduhan. Mereka kakak kelas 3 aku tak berani menghadapinya. Berpura-pura tak mendengar adalah tindakan terbaik yang aku tahu. Tapi yang namanya mengacuhkan tak selamanya bisa aku lakukan. Baik jam sekolah maupun pramuka mereka selalu menghantuiku.
Aku sempat ketakutan bila ketemu mereka. Tapi aku harus hadapi dengan cara berbeda.
Mereka menungguku di jembatan mesjid. Aku harus melewatinya. Kali ini sorakan mereka tak begitu keras tapi tetep men-trigger ku.
Aku tersenyum santai dan melihat mereka walaupun sebenarnya aku takut.
"wahh dia tersenyum" kata salah satu dari mereka.
Uhhh.. tenagaku terkuras habis.
Walaupun mereka terus menyerangku tapi aku tak boleh menyerang balik.
Walaupun salah seorang dari mereka ada yang tubuhnya(maaf) tak seperti orang normal aku tak boleh memanfaatkan itu untuk menyerang balik.
Mereka tetap kakak kelas dan aku harus menghormati mereka.
singkat cerita..
Lama sudah aku tak mendengar ejekan karena musim ujian. Sebentar lagi mereka lulus begitu juga denganku yang lulus dari ejekan mereka!
Horayyy!!
Tepat akhir dari cerita tentangku dan mereka adalah ketika aku berjumpa dengan ketua mereka di depan koprasi, juga yang paling cantik dari mereka yang selalu mengejekku.
"hayy" katanya dengan nada rendah yang mengundang simpati.
Yaa, ayahnya meninggal setelah ujian akhir.
Aku..
Mungkin merasa, dialah yang suka denganku. Hanya firasat.
Tatapannya yang hangat karena takkan melihatku lagi.
Inginku bilang "bodoh amat tentang perasaanmu yang campur aduk itu"
Tapi aku tak mau menyakiti dan juga tak mau bicara padanya.
Jadi..
Ini adalah untuk yang terakhir kalinya..
Akupun berbalik meninggalkannya..
Selamat tinggal..
Senin, 26 Agustus 2019
Rintangan
Ah, ada acara bukber tiap hari sementara aku berbuka hanya dengan minum. Takutnya kalau makan dulu baru sholat bisa-bisa hendak buang angin. Cukup mengganggu. Jadinya lama aku duduk menunggu di dalam mesjid, menunggu mereka selesai berbuka.
Untukku hal ini kurang bagus. Aku inginnya sholat dulu baru makan-makan.
Setelah minum aku langsung lari atau kadang pake sepeda ke sana.
Aku menyempurnakan wudhu di sana selagi adzan berkumandang. Rupanya yang adzan juga jadi imam. Pastinya aku gak kenal siapa dia apalagi namanya haha. Wahh beliau berbuka hanya dengan minum, sama denganku, pantesan cepet adzannya setelah suling.
Fix, aku bisa berjamaah di sini tiap maghrib.
Dan satu hal lagi..
Aku ingin lebih melangkah maju lagi.
Aku ingin tempat yang dapat membuat makin berkembang.
Berat hati sebetulnya tarawih di langgar kami. Tapi mungkin saja itu ujiannya, yaitu aku harus belajar teguh apapun kondisinya. Ibarat diterpa oleh badai. Apa harus berdiam saja tidak melakukan apa-apa atau memilih melangkah maju?
Ataukah malah terlempar dan kalah?
Makanya aku akan selesaikan misi ini untuk mendapatkan pelajaran berharga. Sampai ku dapatkan lalu melangkah ke tahap selanjutnya.
Aku terdiam sejenak memikirkan sekejap alasan kenapa agamaku lemah. Sudah menjadi takdirnya aku hidup di keluarga biasa saja, sederhana, yang bukan termasuk golongan keluarga agamis. Tak terpikirkan untuk menyalahkan Tuhan sebab aku yang sekarang paham betul posisi dan yaa banyaklah sudah ilmu pengetahuan yang di dapat. Semua banyak hal telah aku alami.
Percintaan, rasa sakit, pertemanan, terjerumus ke dalam maksiat, hampir mati, menjadi seseorang yang berarti, punya banyak uang, kekurangan uang, disukai banyak orang.. banyak pokoknya. Seharusnya aku dapat penghargaan ya ahaha.
Oleh karena itu yang aku cari sekarang ini adalah melengkapi diriku.
Dengan tenang, menghadapi anak kecil yang ingin tahu. Bersikap ramah dan baik supaya dapat dicontoh. Namanya juga anak kecil.
Aku akui kelemahanku tapi tak melupakan tujuan.
Rintangan baru pada bulan puasa yang cukup hot hot tambah musim kemarau jadi makin hot, bahwa bapaknya Gafur hendak jadi imam.
Setelah ba'da isya bapak Gafur tetap berdiam diri menunggu shalawat pembuka tarawih di tempat imam. Iya, fardhu isya tadi dia lah yang jadi imam dan sekarang sedang menunggu. Padahal hari ini kami sudah menyewa imam anak sekolahan yang kemarin. Oh, awalnya aku tak sadar kenapa bapak-bapak yang lain gak bersalawat. Malah, mereka berbincang-bincang seolah-olah ingin me-Trigger bapaknya Gafur.
*Aduhhhh hati ku berkecamuk
Cukup lama sekitar 2 menitan mungkin, yaa waktu yang cukup lama untuk dinanti.
Duar!
Bapaknya Gafur berkata "jadi gak nih tarawihnya?! kalau enggak aku pulang saja!" berdiri hendak pergi.
Ya, jelas yang di depan langsung mengiyakannya.
Sementara aku langsung pusing mengolah informasi semua pihak yang hadir. Sungguh gak enak banget situasi seperti ini. Aku ingin pergi. Ingin sekali pergi dari sini dan tarawih ke tempat lain. Aku berpikir dalam waktu singkat, kepepet.
Sebelum memutuskan, ku lihat bagaimana kondisi kakeknya Halim dan imam sewaan yang berada di depan. Mengolah informasi dari gerakan mereka yang diam sedikit tertunduk, mungkin memejamkan mata, berpikir menanggapi ataukah hal lainnya?..
ahh, tarawih pun dimulai kami semua berdiri.
Kepalaku tambah sakit mendengar imamnya bersuara keras. Kulit wajahnya memerah.
Why?!..
Apa boleh kita mengikuti imam yang marah?!
Kondisi ini baru pertama kali ku alami.
Mencari informan yang telah hidup lama dan menimbang pilihan. Masih kakeknya Halim. Tapi jawaban yang aku inginkan tidak ada. Hanya harus bersikap menengahi. Netral..
haha..
Ya, betul juga sih, siapa juga yang mau bermusuhan dengan banyak orang.
Jauh berbeda denganku. Aku bahkan tak tanggung-tanggung memusuhi orang-orang yang berusaha merusak kepribadian ku.
_
_
Beater meningkatkan 50% kekuatan fisik
Beaster meningkatkan 75% kekuatan fisik dan naluri bertarung.
Sabtu, 17 Agustus 2019
Puasa dan Kerepotan
Bulan puasa telah datang tapi entah kenapa hatiku sulit sekali bahagia menyambut kedatangannya. Tiap tahun rasa bahagia itu semakin memudar. Mengambil langkah pasti, aku takkan membiarkan pembelokan perasaan ini menjadi-jadi. Sebab jika mengabaikannya dan hilang tanpa ada rasa bersalah.. rasanya sama seperti kehilangan sesuatu yang sangat berharga tanpa mengetahui itu benar-benar ada. Sebuah firasat yang paling sering aku alami dari kecil hingga sekarang.
Aku takkan menyerah. Aku akan berusaha mencari penyebab dan solusinya. Pasti terdapat pelajaran yang dapat diambil. Lebih teliti mengoreksi diri. Lebih teliti.
Sembari beraktivitas pikiranku tetap bekerja mencari kesalahan diriku.
Kenapa aku mulai kurang suka dengan datangnya bulan Ramadhan?..
Waktu kecil aku begitu bahagia menyambutnya. Beda dengan sekarang.
Apakah karena waktu kecil aku bisa berlibur lalu bermain sepuasnya? mungkin saja itu alasannya. Karna sekarang aku sudah punya banyak waktu luang jadi... hmm tidak juga. Saat ini aku sedang mengatur waktu untuk beraktivitas soalnya jam tidurku selalu kurang. Makanya datangnya bulan r a madhan- oh! mungkin karena jadwalku terganggu. Ah maksudku aku harus mengatur ulang jadwal seperti tidur, makan, ibadah dan lainnya. Hedehh rupanya hanya karena hal sepele begini. Kalau gitu aku hanya perlu mengikhlaskannya.
Banyak orang-orang alim yang begitu antusias datangnya bulan penuh berkah ini.
Aku tak melihat ke sisi baiknya karna merasa bakal repot lagi mengatur jadwal. Beberapa hari ini atau seminggu ini aku susah sekali istirahat, stamina turun dan tentunya pikiran jadi kelelahan. Ingin berjuang tapi sudah lelah duluan jadinya bakal kerepotan.
Solusinya aku hanya perlu menanamkan kecintaan pada bulan ini dengan begitu karakterku akan jadi lebih baik.
_
>>> Ramadhan bulan penuh berkah <<<
Malam pertama tarawih kondisiku tidak dalam keadaan baik ditambah ruangan Langgar pengap karna jendela sedikit. Angin dari kipas-kipas gak ada gunanya. Malah memperparah. Aku pusing dan ngantuk. Tapi aku masih harus berjuang lagi. Setelah ini kami akan mengadakan tadarusan.
Uhuhu harus kuat lagi..
Setelah tarawih aku dan bapaknya Parid saja yang tadarus. Sebelum bulan puasa aku sudah berjanji bakal tadarusan di sini, kalau yang lain? aku tak tahu, aku tak memaksa hanya mengajak, mau atau tidak terserah mereka, semua punya haknya.
Aku belum lancar mengaji walaupun sudah bisa membaca dengan hukum tajwid. Tapi yang namanya sebatas pengetahuan sendiri dan mencari sendiri tanpa seorang guru pasti masih ada kesalahan. Yep, benar. Aku belajar hanya lewat internet. Mendengarkan langsung dari Hafidz Qur'an asal Arab. Aku suka dan telah belajar mulai dari kelas 2 SMA. Tapi masih disurah Al-Baqarah itupun gak sampai habis. Bayangkan susahnya melawan diri sendiri yang pemalas. Terjebak dalam zona nyaman. Ujungnya akan merasa direpotkan oleh suatu yang pikirku adalah masalah. Bahayanya lagi jika saat ini aku tadarus dengan niat terpaksa menepati janji apa yang akan aku dapat nantinya?
Lebih teliti..
Aku berniat untuk belajar bagaimanapun kondisinya. Sakit, senang, marah apapun itu.
Aku ditegur oleh bapaknya Parid karna banyak salah. Maaf.. aku gugup haha. Padahal aku sedikiiit lancar diawal juz tapi karna gugup.. yah begitulah.
Cahaya pengingat aktif.
Koreksi diri.
Ahh terselip di dalam hati aku pengen pamer. Sulit juga tadarus memakai mikrofon. Pusing. Pusing. Aku sangat kelelahan.
Besok subuhnya setelah sahur aku hendak pergi sholat. Ah sudah ada yang adzan. Tapi siapa ya? belum kenal aku dengan suaranya, orang baru kah?
Syukurlah.. paling tidak ada yang mau gantikan aku berwirid sebelum subuh soalnya aku masih kesulitan berniat bercampur rasa ingin berbangga diri.
Santai aku berjalan tanpa beban. Aku lihat dari luar sudah banyak orang yang duduk. Hihi rame nih. Pas aku masuk ke dalam ternyata belum ada yang mau berwirid, orang yang adzan tadi adalah temannya adikku, ahh ia belum hafal wiridnya. Setelah sholat sebelum subuh akupun menawarkannya tapi ya ia belum bisa. Uhh terpaksa nih, naitku tak boleh bercampur dengan perasaan bangga.
Suaraku agak bersemangat karna udah makan. Sedikit kurasakan gugup tapi masih bisa diatasi, mengantuk membuatku kurang peka dengan keadaan sekitar.
Bulan ini musuh kita hanyalah diri sendiri.
Aku harus lebih cermat mengatur jadwal dan harus penuh semangat menjalani hari.
...
Berbuka puasa.
Entah kenapa rasanya biasa saja 😑
Rabu, 31 Juli 2019
Lewati Batas
Aku suka sekali berolahraga bila kondisi lagi fit. Biasanya tiap sore aku berolahraga karena suhunya enak. Setelah lelah, beristirahat lalu menulis.
Aku berolahraga sekedar gerakan pemanasan karate saja, yang pernah diajarkan oleh guru saat aku bersekolah dulu. Yep, cuman itu saja tapi aku tingkatkan sampai sekarang. Beruntung kan guru punya murid seperti aku atau kita yang memakai ilmunya untuk kebaikan. Beginilah cara berterimakasih yang benar oleh kita untuk guru-guru kita dengan memakai ilmu yang diajarkan mereka.
Teringat dulu kenapa aku berhenti ikut karate padahal udah sabuk kuning. Alasan simpelnya hanya karena adik kelas cewek tahun baru yang ikut bergabung.
Apa?!! Aku punya hubungan dengan mereka ?!!
Tentu saja tidak ada hubungan atau semacamnya, hanya saja aku gak enak kalau kelihatan gerakan yang lucu oleh mereka. Bagaimana dengan Galuh? Yaa dia kan teman sekelas jadi gak papa. Intinya gak suka dilihat dan.. Aku gak suka memakai baju karate, kegedean sementara badanku kurus.
Alasan yang konyol kan?
Setelah aku berhenti Raga juga ikutan berhenti. Alasan kami berdua hampir sama.
Aku memang labil. Namun dibalik semua alasanku itu terdapat jawaban yang tersembunyi, yang aku sendiri tak pernah menyadarinya.
_
>>>Tekad<<<
Sehari sebelum memasuki bulan ramadhan aku mendapat rintangan yang lumayan berat. Dari pagi sampai malam aku berusaha sekuat tenaga memaksakan diri.
Ceritanya aku mulai setelah sholat ba'da dzuhur, aku terpaksa harus memenuhi permintaan pak RT untuk minta-minta ke tiap rumah di lingkungan RT kami. Sukarela, berapa saja asalkan ikhlas. Uangnya akan digunakan untuk menyewa imam tarawih nanti. Wajar di kampung kami kekurangan imam. Niatnya siang ini aku ingin tidur pulas tapi apa daya jika aku menolak permintaan sama saja seperti orang yang anti sosial. Tak apalah, hitung-hitung cari pahala.
*crak
Aku memakai sepeda adikku yang kecil. Mengayuhnya sampai di bibir jalan.
Aku memulai dari sebelah kiri soalnya perumahannya sedikit, sedikit karena di seberang jalan lahannya tak memungkinkan untuk membangun rumah, pinggir sungai dan curam.
Aktifkan mode ramah tamah. Sekali lagi aku terpaksa bersikap manis.
Rumah Abdi, Nisa, Erpan, tetangga, Meli, Hakim, Nayai dan terakhir bapaknya Gafur.
*tok tok
Assalamualaikum..
Terdengar langkah kaki dari lantai kayu rumahnya bertanda ada seseorang yang mendekati pintu. Aku mundur sedikit.
"ada apa ya?"
"ah ini ulun minta sumbangan buat menyewa imam tarawih, sukarela aja"
Tak terlalu jelas apa yang dikatakannya, pendengaranku memang agak buruk.
Aku rasa bapaknya Gafur tak ingin menyumbang. Aku menangkap kalau katanya kita gak perlu menyewa imam.
Ah yaa..
Kalau gitu sebaiknya aku lanjut saja.
_
Nah baru ke sebelah kanan. Aku akan memulainya dari seberang jadi aku bisa berputar dan finishnya langsung ke rumah. Sebelum nyebrang tetangga terdekat dulu.
Hari lumayan terik. Aku tak keberatan kepanasan, yang sulitnya itu ketika aku harus menghadapi tiap tetangga yang berbeda-beda. Solusi terbaiknya memang harus bersikap ramah murah senyum, selanjutnya menanggapi reaksi berbeda hanyalah dengan bersabar.
Ada yang reaksinya baik, pintunya gak dibukain padahal aku tahu orangnya ada di dalam, ada yang pelit tapi yaa sukarela juga siiih jadi gak bisa memaksa..
*psst! itu si Aisyah, si cewek cantik, ayo cari perhatiannya
Yaampun cari kesempatan melulu.
next!..
Assalamualaikum..
Nah yang keluar adik cantik..
*le gua -_____-
"Oiii, bro!" suara yang ku kenal dari belakangku.
Ohh pak Sabri, dia horang kaya lohh..
Aku langsung dapat firasat kalau pak Sabri ingin memberiku uang khusus untukku. Pengen nolak langsung kabur darinya masa iya? haha..
"kenapa ya?" pura-pura gak tahu
Pak Sabri mengeluarkan uang dari kantong Doraemonnya. Tebal, ijo, biru dan merah.
"nih buatmu" pak Sabri ngasih aku uang 10rb 🤣🤣
"duhh, gak usah deh-"
"gak papa buat kamu aja, lumayan buat beli minum" paksanya.
Minum! bener juga. Ya udah aku terima aja.
Next!..
Ada yang ngasih banyak uang. Gak ditanggapi padahal orangnya kelihatan dari luar huhu..
Ada yang pekerja keras, aku doakan supaya banyak rezeki. Ada yang susah. Ada yang berbelit-belit harus nebak siapa namanya, njirrr.
Ada yang kali ini ngasih uang banyak dan reaksinya lebih ramah daripada bulan kemarin, bulannya Isra' Mi'raj. Padahal kalian tahukan yang membawa ajaran islam dan menyempurnakannya adalah Nabi kita Nabi Muhammad saw. masa berat sebelah reaksinya. Sebagai pengingat saja untuk kita. Tapi yaa aku juga tak bisa memastikan apa isi hati seseorang, jadi berpikir positif saja, mungkin kali ini dia lebih rileks daripada yang dulu.
Terus sampai selesai, semua- ah anggap aja semua rumah di lingkungan kami sudah aku tagih.
Aku ingin menyerahkan uangnya ke pak RT tapi beliau sekeluarga tak ada di rumah. Sore nanti aja deh.
_
Aku beli minuman dingin setelah sholat ashar.
Tugas selanjutnya yang harus aku lakukan adalah membersihkan Langgar. Aku sendiri yang menginginkannya demi menyambut bulan ramadhan. Sebab aku tahu, kalau bukan diri sendiri yang memulainya, siapa lagi.
Kopi coklat manis yang luar biasa! membangkitkan semangat tempur!
Oke! waktunya bersih-bersih.
Pertama aku meletakkan tirai penghalang ke luar. Baru sejadah, semua sejadah.
Mikrofon dan segala macam yang kecil-kecil seperti tasbih aku letakkan di gudang.
Well, selanjutnya membersihkan dinding dan jendela dari debu dan sarang laba-laba. Pakai sapu aja.
Done. Selanjutnya menyapunya.
Bapaknya Parid datang. Katanya belum bisa bantu karena sibuk mengurus tempat gapuranya yang hampir roboh tadi.
Uah jadi suara keras tadi berasal dari tempat gapura itu ya.
Bapaknya Parid berkata padaku sebelum pergi, katanya nyalakan nyalakan pengeras suara supaya bisa didengar oleh yang lain. Yang dimaksudkan adalah lantunan Al-Quran dari ponselku supaya di dekatkan ke mik.
Rasa berat hati sih soalnya bakalan banyak orang kemudian membuat kerjaku tak efesien, ah maksudku mengacaukan ritmeku.
beberapa menit berlalu~
-___-
banyak orang apalagi anak-anak.
Ahh!! jadi bingung mau ngapain.
"kita bersihkan saja lantai yang di dalam" kata Parid
*byurr air dari ember membasahi lantai
Huaaa!! basah banget gak bakalan sempat kering, ini sudah jam 5 pula, gak bakalan sempat.
Tapi mereka yakin saja kalau nanti akan kering.
Duh, biarlah, aku sudah cukup kelelahan, sebaiknya istirahat saja.
Keringat badan terus keluar dari pori-pori kulit karena aku banyak minum air gelas kemasan. Ibaratnya air ini adalah oli dan tubuhku mesinnya.
Mode Overheat, yang hanya bisa tubuhku lakukan pada musim kemarau. Melewati batasan penggunaan kekuatan Beater. Kekuatan yang jauh lebih merusak penggunanya.
Tak salahnya kan aku berkorban banyak untuk hasil yang pasti? bener kan?
Tak masalah karena melakukannya, mode Overheat, adalah salah satu keahlianku. Asalkan tak terus menerus dipaksa aku akan baik-baik saja. Esok puasa jadi aku bisa tidur pulas seharian. Oh! tentu saja aku pasti bangun pada jam sholat, bahkan sebelum itu, soalnya biasanya pasti ingin buang angin haha.
_
Aku duduk sebentar di luar datanglah pak Sabri menanyakan keuangan hasil dari pendapatan sumbangan sukarela.
"kalau tak salah sekitar sejuta sekian" rada ingat, uangnya aku tinggal di rumah.
"ambil, biar pasti"
Akupun balik ke rumah untuk mengambilnya dan balik ke langgar.
"nih tambahan" pak Sabri menyerahkan uang yang cukup banyak.
Katanya ini juga buat sekeluarga, perwakilan.
Jadi begitu, tadi rumah yang orangnya ada di dalam namun tak menghiraukan keberadaanku adalah keluarga pak Sabri. Hmm..
Ah aku tak tahu mau bilang terimakasih atau apa, jadi aku simpan saja uangnya dan menulis di kertas laporan.
"kalau bukan kita-kita siapa lagi yang mau mengurus beginian" kata pak Sabri.
Ahh aku agak enek dengar kata-kata itu soalnya mengundang perasaan berbangga diri, sombong. Jikaa kita menangkapnya, terjerat oleh manisnya pujian. Merasa jauh lebih hebat dan benar. Aku sudah belajar dan telah kutancapkan cahaya pengingatnya.
"bro, kamu saja yang peggang uangnya"
"kenapa?" tanyaku.
"soalnya begini.."
Pak Sabri menjelaskan kalau ia kesusahan daftar yang dicatat untuk melihat siapa saja yang menyumbang, tujuannya melihat nilai sumbangan keluarga-keluarganya. Hmm tadi aku juga sempat menolaknya untuk melihatkan laporanku. Apa yang dilakukan pak RT sudah benar, akunya saja yang lembek.
Sekarang terikat oleh amanah, aku tak bisa lagi pindah-pindah sholat tarawih ke tempat lain.
Latihan baru untukku agar tak plinplan.
Senin, 22 Juli 2019
Hak Kepribadian
Datang seorang bapak yang juga ingin memancing. Aku sering melihatnya tapi aku tak tahu siapa dia. Nama, tempat tinggal, keluarga, teman, apapun itu. Cukup tahu dia siapapun dia, punya kepribadian baik aku akan suka dengannya.
Kau tahu? Alasan mengapa aku tak ingin mau tahu dengan identitas seseorang?
"Ibumu tinggal di kaltim ya?" bapak tadi bertanya.
Jawabannya ialah aku tak suka ahh mungkin benci dengan orang yang mencoba mengorek informasi tentang kehidupanku. Mulut ke mulut jijiknya mereka menggosipkan kehidupan seseorang dan saling memberi tanggapan satu sama lain. Begini dan begitu. Setelah dapat jawaban yang mereka pikir benar puaslah kebutuhan ucapannya lalu pulang ke rumah dengan percaya diri. Dalam lubuk hati mereka kami sudah melakukan yang benar.
Tak logis..
Langkah tindakan yang diambil untuk merespon cara mereka sesuai cara Beater adalah dengan pergi menjauh dari mereka, semua.
Aku tak mau peduli dengan urusan mereka karena aku juga tak ingin dikomentari mereka. Yang boleh tahu siapa aku ini hanyalah lewat blog ini.
Berbeda dengan meminta tolong. Jika mereka meminta tolong dan diizinkan untukku agar tahu privasi mereka maka aku akan melakukannya. Membantu memang lebih manusiawi daripada membicarkan dari belakang. Dalam artian bukan sok membantu lalu menghakimi ataupun merasa benar.
Susah dan ribetnya berurusan dengan orang-orang demi menjaga kedua sisi agar tidak meninggalkan kebencian. Harus sangat berhati-hati. Berapa kalipun aku ingat tapi tetap saja selalu salah langkah. Yaa aku akan selalu dianggap sombong oleh orang lain karena aku punya caraku sendiri.
Aku tak suka orang lain dekat denganku. Aku lebih suka menyendiri.
Aku tak ingin diketahui siapa aku maka untuk menjaga diriku aku harus berbuat yang sama terhadap orang lain. Demi diriku sendiri.
Sebuah wilayah yang tak boleh dimasuki. Jika ada yang mencoba memasuki, sebelum mengambil langkah aku sudah menghindarinya, menjauh darinya.
"Bagi yang tak punya kepentingan atau tak diizinkan kagak boleh masuk, titik"
Dengan pola pikir seperti ini gak akan ada yang betah dekat denganku. Yaa aku juga tak mengharapkannya.
_
Tiap orang punya haknya sendiri. Memahami seseorang berdasarkan pengalaman pribadi maupun orang lain.
Benar. Dulu aku juga sering ikut campur urusan orang. Akibatnya mereka menjauhiku dan juga teman yang inginku tolong. Mereka yang aku campuri urusannya merasa sangat terganggu. Sama halnya mencoba ingin memaksakan kehendak sendiri, cara yang kulakukan tak jauh berbeda dengan mereka yang pengganggu.
Bisa dipetik buah pelajaran dari pengalaman simpel ini. Kita tidak boleh seenaknya sendiri mencampuri urusan orang tanpa memperhitungkan semua pihak dan sebab akibatnya.
Tujuan dari menolong kan memang ingin hasil yang bagus. Bagus karena semua pihak merasa senang dan ikhlas.
Adanya campur tangan dari hati yang busuk membuat jalan pikir jadi menyimpang.
Tanda dari tindakan yang salah ialah tak sabaran, bawaannya selalu emosi, enggan menerima pendapat dan ingin merusak. Sebaiknya tenang dan berpikir terus menerus.
_
Punya kepribadian banyak ada gunannya juga, salah satunya berguna untuk berurusan dengan orang lain. Tentu saja aku berharap agar tidak membuat masalah.
Tapi.. Bagian yang merepotkannya ialah ketika masalah itu sendiri yang datang. Misal terpaksa harus menyapa kenalan atau harus berbicara dengan kenalan. Why? Mengapa aku harus menyapa? Adat mungkin, jauh dilubuk hatiku merasa sengat direpotlan. Ahh sekarang ini aku menjadi tipe orang yang pendiam. Jujur aku males ngomong jika topiknya bukan karena game dota atau soal agama. Nah di sini letaknya kepribadian dan kepribadian saling berlawanan atau memiliki daya tarik.
Umumnya kita lebih suka berbicara dengan doi, apapun itu pembahasannya, bahkan seharian penuhpun gak ada bosen-bosennya. Alasan terselubungnya ialah mengharapkan sesuatu yang diharapkan dari dirinya. Membalas perasaan suka.
Sebaliknya jika responnya adalah penolakaan, dari dirinya sedang tak mengharapkan untuk di.. Emm gak ingin diperlakukan? Duhh apa ya kata yang pas.. Ahh pokoknya gak ingin digituin. Jadinya rasa tak suka dan kecewa timbul dalam diri kedua pihak.
Penjelasan singkatnya tentang hak dan kepribadian adalah pada langkah pertama ketika ingin berkomunikasi dengan orang lain kita tidak boleh memaksa. Perhatikan baik-baik ekspresi, mood dan kepribadiannya. Sekali lagi yang diharapkan dari bergaul kan emang kedamaian. Jika bergaul denganku? Lebih baik jangan dah. Aku tipe pemilih, males bicara, gak asik yaahh banyak lah pokoknya. Aku punya pikiran dan jalan yang berbeda. Kalau orang lain suka berkumpul, aku lebih memilih sendiri. Kalau orang lain milih buah mangga, aku lebih suka buah sirsak deh. Kalau orang lain suka mobil, kendaraan dan rumah mewah.. aku, asalkan bisa mencapai tujuan itu saja sudah cukup. Kalau orang lain suka cewek yang cantik, aku.. Yaa i dont know haha..
*mOnStEr lAbIl uyuuyu!!
Minggu, 21 Juli 2019
Akan Mendapatkan
Ini rintangan yang cukup berat.
Bisikan setan mulai terdengar di dalam hati, membisikkan agar aku sholat di rumah saja.
Hampir terpengaruh.
Rasa sakit bila bergerak masih bisa aku tahan, tapi kalau mendadak ingin bab terpaksa harus ke wc. Masalahnya wc di mesjid sudah gak layak dipakai. Butuh waktu yang sangat banyak untuk teliti jika ingin keluar dalam keadaan bersih tanpa najis.
Mencoba sebisa mungkin tenang dan menerka dengan insting untuk memilih pilihan yang tepat.
Perasaanku lebih berpihak jika aku sholat di rumah saja tanpa perlu memperjelas alasan alay. Aku tahu kondisiku tak memungkinkan tapi bukan berarti aku memilih untuk menjadi lemah.
Sayang sekali, rugi besar, ini takdir..
Akupun sholat di rumah dan benarnya perasaan menebak yang akan terjadi, pada pertengahan sholat perut makin sakit karena ingin bab. Kalau tadi aku milih ke mesjid mungkin saja gak sempat lari keliling mesjid untuk pergi ke wc dan langsung mencret di tengah jalan ..
>>>Monster Labil<<<
Aku masih punya banyak masalah terhadap kepribadianku sendiri makanya lebih baik aku memperbaikinya sebelum bertambah parah.
Ketika seseorang kehilangan kendali dia tak jauh lebih dari binatang. Mengikuti hawa nafsu dan tujuan yang tak pernah berujung. Sampai lelah dan mati. Berharap mati itu hanyalah mati menghilang, padahal kenyataannya tidak. Itu salah satu kondisi yang paling ingin ku hindari.
Terus belajar dan teliti memperhatikan pelajaran hidup yang bisa diambil untuk melengkapi kepingan puzzle ilmu, untuk melengkapi bagian diriku.
Apakah ada?
Yep, jelas ada.
Agama islam tak hanya mengajarkan beribadah tetapi juga mengajarkan bagaimana setiap aktivitas menjadi bernilai ibadah. Mereka yang agamanya kuatlah yang bisa mengajarkanku agar lebih baik lagi.
Ada perasaan sedih yang muncul dan ada juga perasaan kagum yang muncul.
Aku menangkap pesan moral sesuai yang aku lihat dan sesuai pengalaman.
Keinginan hati ingin memuliakan seorang Guru terbesit dalam benak.
"Seandainya aku di sana melindungi Guru dengan payung dan menuntunnya sampai ketujuan" sedih karena diri tak bisa berbuat.
Aku mengulas apakah sama perlakuan kita terhadap seorang Guru dan misal dengan seorang pejabat?
Sesuai apa yang pernah aku lihat pastinya seorang pejabat atau petinggi jabatan kebanyakan mendahulukan atau ada di sampingnya seseorang pengawal. Berharap dapat perlindungan dan sebagainya.
Tapi berbeda dengan Guru.
Malah Guru lah yang sendiri yang berjalan duluan.
Kenapa bisa begitu?..
Yaa karena pengalaman dan rintangan yang sangat banyak.
Perasaan kagum muncul.
Pelajaran bahwa kita tak bisa berharap pada makhluk karena makhluk bisa roboh, berkhianat dan juga mati. Akan tetapi jika kita bersandar dan berpegang pada Allah swt. Yang Menguasai alam semesta ini akan mustahil takut pada dunia dan isinya. Di tambah dengan pelajaran diri untuk mandiri, tak harus bergantung pada orang lain atau berharap dapat pertolongan dari orang lain.
Minggu, 14 Juli 2019
Diri Sendiri
Aku melihat sesosok makhluk tinggi bersayap berjalan di dalam hutan tepat di belakang rumah-rumah. Tinggi banget, tinggi daripada rumah. Mengatasinya bakalan sulit. Sedikit takut dan gugup namun aku akan tetap berniat melawannya. Setengah efek dari Enchanter membuat merasa tertantang. Setengahnya lagi keinginan untuk menghancurkan.
"Dia mulai bergerak berjalan menjauh"
Tak boleh dibiarkan sampai ada korban. Sial aku tak punya senjata. Aku berlari mengikutinya sambil menjaga jarak.
Mulut terbuka lebar seperti monster di film Jumper Creeper atau hero Night Stalker di Dota 2.
Mode pemburu buas aktif.
Eh? Malah jadi Batman. 😑😑
Ya..
Tadi itu hanya mimpi.. 😂
Di dalam mimpi pun karakter labil tetap aktif. Tergantung bagaimana ceritanya apakah asik, bawa perasaa, emosi, seram dan lainnya. Pernah aku bermimpi menyaksikan ledakan bintang, UFO dan yang seru lainnya. Karakter asli lah yang aktif menanggapinya.
Seru, emosi, tenang dan sedih.
Tapi ku sadari aku masih punya kelemahan dalam karakter labil ku ini yaitu saat menghadapi ketakutan.
Memang sebelum kuatnya karakter Beater aku masih sangat lemah. Bisa ku pastikan pada pengalaman di dalam mimpi ketika dikejar setan, dihantui dan ketindahan.
Setan adalah musuh yang sebenarnya. Belajar dan bertambahnya pengalaman aku sadar apa yang harusku lakukan ketika menghadapi ketakutan.
Ya.. aku harus melawan baliknya.
Alam bawah sadar adalah bentuk visual dari pikiran sendiri. Jika kita berpikir takut mungkin akan semakin takut dan semakin berpikir untuk takut. Pengalaman pertama ketindahan aku takut dan serasa seperti akan mati.
Pengalaman kedua ketindahan aku berpikir semakin takut lalu muncul bayangan hitam seolah-olah ingin memenggal kepalaku.
Pengalaman ketiga aku bisa berpikir setengah tidur dan Beater aktif karena ingin lebih kuat lagi. Tubuh masih takut ketika melihat sosok hitam lagi. Tapi, kali ini berbeda. Aku takkan biarkan satupun yang boleh membelengguku.
Lawan!!!
Bergeraklah!!!
Aku harus jadi lebih kuat!!!
Tak sengaja aku menggerakkan jemariku. Tubuhku langsung merespon seluruhnya dan meluncurkan serangan jari rapat layaknya tombak ke arah bayangan hitam tadi.
Uh.. apa aku mengenainya?
Rasanya kayak nyerang angin aja. Ya itu memang halusinasi. Aku berbaring lagi lalu tertidur.
Perlu beberapa pengalaman saja sudah cukup untuk memberi inspirasi menghadapi pengalaman lainnya yang akan datang. Mengerti dengan memahaminya.
Sekarang kalau bermimpi setan aku yang akan mengejarnya, memukulnya, menendangnya, segala macam jurus untuk langsung melumpuhkan target aku pakai.. yep 😒 brutal banget, pokoknya kalau belum sampai hancur gak bakalan berhenti.
Kekuatan yang didasari oleh amarah, tekad dan dendam. Mereka adalah tempat yang paling cocok untuk menerimanya.
Hmm.. kurasa ada baiknya kalau aku melatih pikiran alam bawah sadarku ketika ketindahan. Supaya? Yaa berjaga-jaga kalau saja nanti ada yang berusaha menghipnotisku atau mengacaukan pikiranku.
Aku tak ingin menjadi orang yang diinginkan orang lain.
>>>The Monster<<<
Malam sabtu sehabis sholat sunnah sesudah magrib di langgar kami juga diadakan pengajian. Kalau malam selasa pengajian Guru Ilmi. Jadi dalam seminggu aku tak pernah bosen. Kalau pernah, iya, itu karena kurangnya ikut pengajian. Berasa kurang ini djiwa kalau gak ikut pengajian. Trust me! Kalau kalian sering ikut karena ingin belajar pasti bakalan ketagihan. Asik dan menyenangkan. Ilmu agama itu mencakupi seluruh pelajaran. Kebanyakan puzzle ilmu yang aku cari ialah ilmu agama.
Memahami diri sendiri. Kekurangan dan kelebihan. Sehingga menjadikan karakter jauh lebih baik lagi. Jika sudah bisa memahami diri sendiri pasti lingkungan sekitar bisa kita pahami. Dalam artian sudah pernah kita alami.
Si Pandi yang merupakan tetanggaku telah lulus sekolah tahun ini dan akan memasuki BLK setelah bulan puasa nanti. Karna punya waktu senggang ia menjadi lebih aktif dalam urusan beribadah. Meramaikan langgar.
Bagiku ia cukup berbeda karena punya pengalaman spiritual yang hebat yang belum pernah aku punya. Hmm.. pengalamannnya, kurasa adalah privasi jadi aku akan merahasiakannya, maaf ya.
Dia bisa jadi lebih baik lagi. Kekurangannya saat ini hanyalah pengalaman yang kurang. Kelebihannya adalah semangat belajar yang luar biasa. Beda denganku yang masih memahami diri sendiri sembari belajar agama. Fokus yang terbagi-bagi.
Sama halnya dengannya yang aku lakukan dahulu ketika masih sekolah yaitu berkeinginan untuk memiliki kemampuan metafisika😑 mm..
"Sebenarnya buat apa sih ingin belajar ilmu laduni?" Ucapku dalam hati. Benar, aku sadar, sekarang rasanya seperti melihat diriku yang dulu, dan tentu saja keinginannya itu hanya akan merusaknya jika terpenuhi.
Pernah guru di sekolahnya berbicara 4 mata dengannya. Membahas tentang dirinya kemudian menawarkan pelajaran tentang ilmu metafisika padanya.
"Ehh tolak saja!" Ucapku spontan. Sudah aku tolak kata Pandi. Hal yang berhubungan dengan dunia pasti datangnya dari setan.
Aku juga pernah belajar tenaga dalam, tujuannya berkeinginan untuk bisa melakukan hal yang luar biasa. Dan aku tahu itu salah makanya aku berhenti.
Tapi sedikit bisa bagaimana caranya melepaskan sedikit aura(sebut saja begitu) dari telapak tangan.
"Uahh panas" kata Rehan, anak kecil keluarganya Pandi.
Nah gimana kalau gini.
Aku memutar jari telunjukku di atas telapak tangan Rehan.
Sekejap setelah beberapa kali putaran ia menarik tangannya. Reaksi yang mengejutkan. Aku bertanya bagaimana rasanya?
"Seperti kesemutan.." katanya.
Wahh mungkinkah aku sudah diperbolehkan hahaha mana mungkin. Ea kalau saja aku bisa mengeluarkan listrik dari tangan, kan bisa charge Hp pas listrik padam haha 😂😂.. keinginan yang cukup aneh.
Sabtu, 06 Juli 2019
Menyingkirkan
Menjelaskan langsung apa saja yang telah aku lakukan pada bapaknya Gafur hanya akan membuat masalah lebih rumit. Usianya yang sudah lanjut mungkin saja respon terhadap sekitarnya berkurang. Masalah sekali kalau umur telah lewat 40 tahun tapi kebiasaan masih buruk, merubahnya gak bakalan mudah. Maka dari itu aku harus berpikir apa yang sebaiknya dilakukan untuk memperbaiki keadaan. Hanya untuk diriku dalu baru yang lain kalau pun itu bisa.
Menyingkirkan buruk sangka.
Coba lihat dari sisi lain kenapa bapaknya Gafur bisa bersikap seperti itu?
>Bersemangat..
Iya mungkin saja karena terlalu bersemangat. Aku juga pernah melakukannya dan menjadi kurang tanggap dengan keadaan sekitar karena terlalu berfokus pada diri sendiri. Termasuk dalam proses belajar.
Tak apa kalau udah tua tapi masih semangat belajar. Tidak ada kata terlambat.
Iya, iya, sekarang aku paham.
>Membantu imam lain
Kita bisa saja lelah dengan aktivitas yang berulang kali dilakukan. Nah dengan adanya pengganti yang melakukan semuanya sendiri akan memudahkan yang lain. Penonton selalu pengen yang enaknya saja tak pernah memikirkan posisi mereka. Salah dikit ngomel.
Uh nusuk banget..
Paham, paham sekali.
Kesempatan selanjutnya harus aku perbaiki.
Singkat cerita.
Datanglah kesempatan itu. Aku setuju dengan pola pikir baru ini namun tetap mempertahankan caraku sendiri. Melakukan wirid sendiri kemudian pada bagian Syahadat aku akan mengeraskan suaraku dan mengikuti ritme imam agar enak didengar. Auraku berubah menjadi lebih ceria. Tujuannya agar menunjukkan sikap setuju dengan si imam. Uhh.. ini salah satu contoh niatan cari muka. Bermaksud untuk mengubah pemikiran si imam dan yang lain.
Kenapa yang lain juga harusku perbaiki?..
Karena akulah yang lebih dulu bersikap sombong makanya aku akan memperbaikinya.
Tapi apakah semua ini untuk kebaikan dia?
Banyak yang sudah pulang lebih dulu sebelum melakukan sholat sunnah sesudah magrib untuk menghindari imam yang ingin bertahlil. Akupun juga sama.
Entahlah..
Rasa tak suka masih ada didalam hati namun bercampur dengan rasa bersalah.
Aku bicara pada hati "lebih baik aku melakukannya sendiri di rumah" dalam artian aku meragukan. Sesaat sebelum berpaling aku melihat si Hakim masih berada di tempat. Hmm..
Aku pusing karena permasalahan ini menyulitkan aku beribadah, ah mungkin saja kami. Aku paham jika aku menolak mentah-mentah orang lain itu berarti diriku adalah orang yang super sombong. Rasa bersalah akan selalu hadir setelah melaksanakan keputusan, keputusan yang aku anggap benar padahal aku sama sekali tak pernah tahu apa isi hati orang lain. Jadinya diri membuat alasan beribu alasan agar bisa lolos. Teringat kata Guru jikalau orang itu benar-benar beriman ia akan dibenci oleh 72 orang mungkin lebih.
Dibenci?
Yaa alasannya yang aneh membenci dia karena alasan yang aku anggap benar.
Pikiran selalu saja ingin menolak kenyataan.
Terima saja.. oke aku akan merubah pola pikir ini. Kemampuan untuk melihat keburukan orang lain. Kalau tak salah kemampuan ini muncul karena aku ingin mengantisipasi penyihir dan orang-orang yang ingin berniat buruk pada ibuku. Alasan Beater ada..
Tapi sekarang Update-an karakter baru jauh lebih bagus dari caraku yang dulu. Selalu ceria dan tidak berpikir negatif. Tetap santuy menyimpan kebuasan di dalam diri yang suatu hari akan aku aktifkan jika sangat-sangat membutuhkannya.
Waktu isya sudah tiba bergegas aku keluar rumah ingin adzan. Ettt- hampir lupa, berniat.
Kadang kalau emang kepepet aku suka lari 😑
Sampai depan Langgar aku melihat bapaknya Gafur dan pak Rt duduk di bangku sedang berbincang.
Otakku sekejap merespon informasi.
Masalah. Diskusi. Makmum. Keinginan. Yang harus diperbaiki.
Uhh.. aahh tak usah berpikiran macem-macem.
Pak Rt mengisyaratkan tangannya agar aku langsung adzan. Aku mengangguk mengerti.
Masalah ini masih belum terselesaikan. Meminta maaf setelah sholat aku niatkan untuk mengampuni diriku sendiri dan tak melakukan kesalahan yang sama.
Mengaplikasikan ilmu baru untuk semua orang yang dapat aku tangkap.
Ini masih kemenangan kecil...

