Minggu, 08 Maret 2020

Asyura

Pada hari rabu tanggal 11 Sepetember yayasan ingin mengadakan acara membuat bubur asyura bersama seluruh staf guru SD sampai SMA. Khusus SMA guru-gurunya bagian memasak bubur termasuk juga diriku.
Awalnya banyak informasi yang simpang siur mengenai tempat pelaksanaan memasaknya. Ada yang bilang di kantin dan ada yang bilang di SMP. Bahkan alat dapurnya pun kami belum dapat kabar, apakah kami yang menyiapkan sendiri ataukah pihak yayasan. Hingga kedua jarum jam dinding menunjukkan angka delapan lewat sedikit barulah kami dapat lokasi pasti. Di antara bangunan SD dan SMP, di sana ada lahan yang cukup luas dan strategis untuk memasang 3 kawah. Segeralah kami menuju lokasi karna memasak bubur butuh waktu yang lama. Misalnya saja dari jam 9 memulainya mungkin selesainya akan sampai tengah hari.
Hmm..

Sesampainya kami di lokasi terlihat beberapa orang sudah menyiapkan peralatan memasaknya. Bertegur sapa dengan kenalan kemudian berkerja. Emm.. kalau aku sih yang ku kenal dari kampungku hanya pa Iban dan bu Helda saja, selebihnya adalah tokoh baru. Ada si Wahyu yang sepertinya seumuran denganku. Entah, rasanya sangat familiar, satu SMA dulu, entahlah aku lupa. Ada paman Hadi yang "maaf jika kurang sopan" tubunya kerdil, terlihat beliau orang yang baik. Ada paman SMP yang aku belum tahu namanya dan lainnya seperti sekuriti. Mereka termasuk aku yang tidak bisa memasak membantu bagian dapur. Sementara ibu-ibu guru SMA membersihkan beras dan membuat bumbu masakan.
"ohh sabun colek berguna melapisi bagian bawah kawah agar nanti tidak meninggalkan bekas" yang hitam-hitam ituloh. Nah dapat informasi penting nih.
Kenapa harus dilapisi? soalnya kawah yang dipakai bukanlah milik yayasan ataupun sekolahan tapi milik pribadi salah seorang bu kantin. Makanya yang meminjam harus tahu cara menjaganya.
Cukup lama untuk menyalakan apinya selain itu kami kekurangan kaki penyangga kawahnya. Jadinya kami harus mencari dan memakai yang batu besar. Aku harus ambil insiatif sendiri. Aku tak boleh berdiam diri saja jika terdapat masalah aku hanya perlu bertanya dan arahan.
Meletakkan kayu bakarnya tak bisa sembarangan. Harus ada celah diantara kayu-kayu agar api bisa bernapas dan memakan kayu dengan cepat. Hingga cukup besar apinya barulah kami meletakkan kawahnya kemudian diisi air. Sekitar 80% kawah diisi dengan air kata pa Riza. Aku mengangguk mengerti. Tapi karna selangnya cuman satu yang aku pegang ini jadi harus ada yang mengambil airnya dari kawah yang aku isi ke kawah yang lain. Memang mereka punya banyak sekali pengalaman. Terkadang aku selalu mengambil pekerjaan yang simpel saja karna biasanya pekerjaan itu hanya perlu keteguhan dan suka rela. Misalnya pada bagian dapur seperti mencuci piring di tiap pesta pernikahan. Karna pekerjaan yang berulang mungkin semua orang akan bosan. Tapi aku punya banyak cara dan solusi yang selalu membuatku bisa menanganinya. Pertanyaan apakah harus terus seperti itu?
...
Makanya aku ingin belajar, suatu saat pasti akan ada situasi yang dimana semua orang tidak bisa melakukannya. Dimana orang-orang tidak mau berkembang dan hanya terperangkap pada satu kebiasaan bodoh. Sebelum itu terjadi aku ataupun kita harus membekalinya mulai dari sekarang.

Aku memakai pelepah kelapa yang sudah bersih untuk mengaduk berasnya.
Aku bertanya pada pa Riza apakah harus diaduk terus?
Pa Riza menjawab iya terus katanya sementara yang lain tertawa.
Ah, sepertinya bercanda. Aku bertanya karna ingin memastikan. Yaa, aku memang tidak pandai memasak.

Berjam-jam sudah kami memasaknya. Aku terus mengaduk buburnya agar tidak lengket terutama pada bagian paling dasar. Rempah-rempah secara bertahap dimasukan. Ada perbedaan pendapat antara guru SMA dengan mereka yang membuat rempah tersebut. Melihat potongan sayur yang besar-besar dan hal lainnya mungkin jadi masalah bagi yang tahu cara memasak yang benar.
Cukup panas jika terlalu dekat dengan api tapi aku masih bisa menahannya. Tapi berbeda dengan asapnya yang bikin perih mata. Kalau sudah sangat perih terpaksa aku menjauh sebentar untuk memulihkan. Aku coba cara lain. Misalnya anginnya mengarah ke diriku berarti aku harus kesamping sisi lain yang tidak mengenai asap. Seterusnya aku lakukan.
Beberapa guru perempuan entah SD atau SMP begitu heboh sambil mengambil video dan gambar. Mungkin mereka menyukai sekuriti itu. Aku tak tahu siapa namanya dan asalnya dari mana, yang jelas ia lebih tua dariku dan porsi tubuhnya bisa dibilang selera mereka makanya jadinya begini.
Datang beberapa orang termasuk pak/ust Rifki sambil membawa spanduk kemudian memasangnya di dinding bangunan.
Uhh.. apakah mereka tak sadar jika bulannya salah seharusnya bulan sepetember bukan oktober. Oh! mungkin saja itu spanduk tahun kemarin. Daripada gak terpakai mungkin.
Namun ketika hendak mengambil foto rupanya memang kesalahan artinya itu spanduk baru dibuat. Kok bisa?

Cuaca mulai terik. Beberapa kenalan menyuruhku agar istirahat.
Tenang saja, aku masih kuat. Sampai buburnya telah matang barulah aku istirahat. Aku bergabung dengan guru yang lain dan ikut mencicipi sisa ayam. Ust Ma'mun, bu Helda dan bu Putri begitu lahap makan.
"ayok fidz dimakan nih" ust Ma'mun.
"yap yap.." kelaparan nih.
Selang berapa lama obrolan mereka yang sempat terhenti dilanjutkan lagi. Mereka sedang menggosipkan bu Aya. Uhh.. lagi-lagi bu Aya. Aku tak tahu kenapa.. apa yang bu Aya lakukan sampai bisa jadi buah bibir setiap saat.
Aku hanya diam. Bukanlah urusanku ataupun bagaimanapun. Aku tidak berada dipihak manapun. Maka dari itu tidak ada musuh bagiku ataupun teman dalam selimut.

Ngomong-ngomong.. ini bubur enak juga.

Senin, 02 Maret 2020

Perfeksionis

Siang ini aku dapat panggilan dari pihak atas untuk mengadakan briefing di kantor yayasan. Aku sempat bertanya-tanya dengan bu Fatim, apa maksud dari briefing?
Bu Fatim menjawab semacam pertemuan begitulah dan mungkin juga membahas tentang gajiku. Agak membuatku gugup misalnya ditanya-tanya berbagai macam pertanyaan sementara aku tak bisa menjawabnya uhhh bisa gawat.
Sekitar jam 2an aku datang ke kantor.
Aku mengetuk pintu dan mengucapkan salam.
"em anu- "
"oh Hafidz.. silahkan masuk, lalu duduk di ruang sana ya.." kata bu Saudah
Aku mengerti dan langsung ke ruangan yang dimaksud. Ada satu orang laki-laki brewok yang juga sudah menunggu. Kalau tak salah dia adalah guru olahraga di SMP.
Belum lama aku duduk, briefing pun akan dimulai karna pak Tri-nya sudah datang. Ketua Yayasan. Kedatangannya diikuti oleh rombongan ibu-ibu dan guru wanita lainnya. Semua tempat duduk terpenuhi dan briefing pun dimulai.
Pertama-tama perkenalan tiap orang pastinya lalu dilanjutkan mengenai sejarah tempat ini. Pak Tri cukup panjang lebar menjelaskannya, kisah-kisah tentangnya, guru-guru yang telah bertahan lama dan tentang Guru Jaro yang bagi beliau adalah guru mursyidnya. Aku cukup menikmati cerita beliau karna aku bisa mendapatkan cukup banyak informasi dari sudut pandangnya sampai tak terasa waktu hampir masuk adzan ashar.
Kabur? duhh tapi tidak sopan. Sebaiknya jika hampir iqomat saja aku harus mengambil tindakan terbaik, kalau sholat sunnah tak apalah aku lewatkan asal jangan sholat wajib berjamaah. Beberapa orang ada yang asik dengan handphone-nya karna mungkin bagi mereka cerita pak Tri membosankan. Mengenai pakaian, seorang guru ditegur karna pakaiannya begitu ketat sehingga kelihatan bentuk tubuhnya.
Bertepatan dengan adzan syukurnya briefing hampir selesai dengan menandatangani kontrak. Aku melihat gaji pokokku rupanya hanya 1jt saja. Agak kecewa sih berbeda dengan apa yang aku dengar. Tapi jauh lebih aneh kenapa aku mempermasalahkannya? haha emangnya aku bekerja di sini buat cari uang??
Sedikit lama menunggu yang lain kemudian bu Saudah memperbolehkan aku duluan pulang. Aku senang karna masih sempat sholat berjamaah.
Mengantar kertas kontrak ini dulu ke sekolah untuk disimpan kemudian pergi lagi ke mesjid. Asalkan enak bekerja dan beribadah itulah yang paling penting.
...

Tiap hari begitu terasa kesibukan dan keasyikan bekerja. Baru pertama kalinya aku bisa merasakannya. Jika dibandingkan dengan kerjaan yang dulu, sekarang jauh lebih baik. Aku belajar banyak hal. Belajar memakai mesin rumput, belajar dengan melihat sudut pandang orang dewasa, belajar mengatur waktu dan berbagai macam pelajaran yang aku dapatkan.
"cepat banget kamu mengantar laporannya" Mila memujiku
"hehehe.." lebih cepat lebih bagus biar kerjaan tidak menumpuk.
Aku juga menerima tiap nasehat yang diberikan oleh guru-guru.
Rekor banget!
Pencapaian tertinggi yang selama ini aku lakukan.
Sore harinya jika aku masih sempat, aku akan pergi ke langgar untuk adzan seperti biasanya. Subuhnya pun juga begitu. Lelah memang, tapi mau bagiamana lagi, hanya aku yang bisa diandalkan dan selalu aku.
Setitik kesombongan mulai menunjukkan dirinya, memutar balikan pikiran. Beranggapan bahwa hanya aku yang bisa.
Coba lihat sekarang siapa yang rendahan. Agama sudah aku kuatkan. Pekerjaan sudah aku dapatkan. Punya segalanya. Jika aku ingin sesuatu bisa saja langsung terkabulkan.
Inilah hasilnya..
Aku tetaplah diriku. Aku berjuang sendiri. Aku punya tujuan sendiri. Dan selalu aku. Mana mungkin mereka bisa mengalahkanku.
...

Hahaha.. bodoh ya..
...

Aku tak bisa mengakui semua itu. Semuanya adalah milik Allah swt. Karna aku sudah belajar ilmu Tasawuf dan akalku masih waras, ilmu yang sudah diingat harus dipakai.
Rasa kesal dengan orang-orang yang pernah menyakitiku memang masih ada. Namanya juga luka hati takkan mudah untuk sembuh.
Lupakan saja mereka.
Bukanlah urusanku untuk membalas perbuatan mereka.