Waktu terasa
cepat tak sadar sudah hampir satu tahun aku menganggur itu artinya sisa waktu
ku tinggal satu tahun lagi, aku hanya ingin memastikan saja. Sudah beberapa
bulan aku mencoba menjadi orang yang dibelakang artinya kurang lebih menjadi
orang yang tak disukai, tapi tanpa ku sadari aku masih melangkah maju bersama
orang-orang yang berjuang melawan kerasnya kehidupan namun di jalan yang
berbeda. Selama hidup aku juga belajar dari diriku sendiri setiap detiknya
setiap peristiwanya aku mencoba memahami semuanya, kalimat mutiara biasanya
bilang “pahami diri sendiri baru memahami orang lain” yah kurang lebih begitu
kalimatnya namun artinya sama saja. Memahami diri sendiri itu susah karena mata
kita hanya bisa melihat yang ada di hadapannya saja tapi sebaliknya kita lebih
mudah memahami orang lain, kadang kita bisa bilang dia nakal, jelek, bodoh dan
sebagainya, kata-kata yang lagi ngetrend-nya “teman makan teman” atau “temanmu
musuh yang sebenarnya”.
Ada satu hal
yang perlu aku camkan ke dalam pembelajarankau yaitu manusia yang berjuang akan
selalu mengalami perubahan sama sepertiku dan yang lainnya, jangan sampai terkejut
kalau melihat temanmu bisa sukses duluan atau unggul dalam hal lainnya mungkin
bisa disebut penyesuaian, yah itu tergantung masalah yang kita hadapi.
Ketika kami
sedang latihan fisik di halaman BLK sesuai kejuruannya, yang mengejutkannya ku
kami hanya ada delapan orang saja anggota kejuruan Las Listrik kira-kira gimana
nanti belajarnya. Lalu setiap kejuruan disuruh latihan PBB salah satu diantara
kami disuruh menjadi pemimpin oleh penyelenggara kegiatan, dilihat dari bentuk
fisiknya aku berpikir dia lebih tua dari aku dan rupanya dia gak tau gimana
caranya mengatur barisan, kalau aku ya masih teringat sedikitlah itupun
samar-samar namun yang jadi masalah adalah penyakit gugupku. Sudah beberapa
orang yang tidak bisa atau malu dihadapan orang yang baru kita kenal, tibalah
giliranku tapi ya sama saja aku dengan mereka kurang bisa bahkan saat SMA aku
kurang minat dengan latihan PBB soalnya penyakit gugup ini adalah masalah
terbesar walapun bagaimana pun aku berjuang rasanya akan sulit jika rasa gugup
ini tak disingkirkan.
“siap
gerak!” aku mencoba menyiapkan barisan dengan suara agak keras, aku merasa
kalau aku sedang sangat gugup sekali tapi saat yang lain mentertawakan ku aku
merasa agak terbiasa sedikit, tapi tetap saja rasanya sulit, mereka tertawa dan
aku pun juga tertawa sampai aku mendengar “lubang hidungnya gede” yah
begitulah. Kemudian diadakan game, anggota kami bergabung dengan kejuruan
Akutansi yang cowonya hanya ada 3 orang, gamenya tentang rasa kepercayaan
terhadap kawan-kawannya salah satu lagi ditunjuk dan berdiri di atas meja yang
sudah disiapkan dan berdiri membelakangi kami, yang berdiri diperintahkan jatuh
kehadapan kami dengan jatuh seperti tongkat kemudian kami menyambutnya dengan
strategi dari pemimpin, aku dipilih lagi menjadi pemimpin asem sekali.
Aku
memulainya dengan menyusun anggota jika jatuhnya seperti tongkat berarti kami
memusatkan berat badannya pada orang yang lebih besar maksudku yang
menyambutnya “tolong jam tangan dilepas” kata ku ada yang melepas ada juga yang
enggak soalnya kalau orang yang jatuh tadi kena jam tangannya dan juga lengan
saat menyambut telapak tangannya harus ada diatas supaya saat jatuh lengan bisa
mengendur, tapi pendapat ku ditolak dari salah satu anggota di kejuruan
Akutansi, yah aku bisa menerima pendapatnya jika itu menurutnya lebih bagus,
apakah sudah siap? Kata pak polisi “belum kata ku” yah mau bagaimana lagi aku
belum menganggap mereka teman rasa percaya terlalu sulit, biasanya aku juga
begini merasa tak terlalu yakin sampai hasilnya bisa aku lihat maka aku akan
bilang yakin. Kemudian apa adanya pak polisi nyuruh kami mulai jujur saja agak
menjengkelkan, satu kali lagi sekarang yang memimpin dari kejuruan Akutansi, dia
mencoba menjelaskan posisi lengan dengan kedua tangannya supaya tidak cidera
pendapat itu malah seperti pendapatku yang pertama tadi, yah gua juga gak
peduli.
Kami
beristirahat di halaman BLK duduk dan minum tiba-tiba ada seseorang yang
mendekati ku yah cuman duduk saja sih, aku mencoba berbicara dengan beberapa
orang yang ada disamping ku yah termasuk dangan orang yang ada dihadapan ku
tadi, tiba-tiba kelompok disamping kiri ku heboh “saipul saipul” jer beberapa
orang mengolok, oh dia mulai terkenal maksudku orang yang debat dengan ku tadi,
ceritanya panjang kenapa dia digelar saipul. Terakhir kami masuk ke aula dan
diberi sedikit motivasi, kemudian ada yang mengeraskan suaranya “saipul” dari
belakang, aku tertawa kecil “ops aku kelepasan” astaga apa yang aku ku lakukan
kenapa aku tertawa ucap ku dalam hati, di sana dia diejek seharusnya aku
membela keadilan, huhh. “absen dari las listrik” wah itu dari kejuruan ku, kami
ditanyai alamat rumah dan pendidikan terakhir dan giliranku tiba, “… di
Jangkung pak”, dibalas lagi ”Jangkung mana?” eh emang tempat tinggal gua punya
Distrik lain, gua gugup dan tak tau harus bilang apa lalu ditertawai oleh
peserta lain dalam hati ku bilang “ini akibatnya kalau menertawai orang lain hehehe..” lain kali gua mesti tingkatkan
kewaspadaanku.
Jam berlalu
sangat lambat aku mulai ngantuk dan lelah begitu juga peserta lain, ada yang
tidur. Aku melihat Ibu eh gimana ya bilangnya Ibu atau Instruktur ah panggil
Ibu aja dah sudah 4 hari ini terpaksa mengisi acara pembukaan peserta baru,
kadang ia marah gara-gara peserta cowo menggodanya tiap kali mengisi acara,
kasihanlah ketika kita bicara serius malah dijadikan bahan bercandaan. Selang
beberapa menit teman sebangku ku mengirim selembar kertas dari depan asalnya
“eh apaan ini ucapku!!!” setelah aku membukanya dan bertulisan I love u , “dari
siapa ucapku?!” nada yang sedikit tinggi, tapi aku terkejut teman sebangku ku
langsung mengambilnya dan mengirim kedepan, “oh baguslah” ucapku tenang dalam
hati, soalnya aku gak ingin berurusan soal cinta-cintaan untuk saat ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar