Rabu, 16 November 2016

Belajar belajar dan belajar

Terlahir di keluarga sederhana membuat karakter ku terbentuk dilengkapi dengan sifat turunan dari kedua orang tua. Kadang saat kecil aku memang menginginkan menjadi orang yang kaya. Bukan itu   hal yang wajar, cita-cita dari kebanyakan orang. Iri melihat orang lain memiliki sesuatu yang tak kita miliki, namun jika kau sudah memilikinya apa kau sudah puas?"Lalu terlintas dibenak mu "jika kau miskin" kata itu seperti magic  ketakutan yang menghantui.

Aku pun pernah berharap kalau tidak ingin jatuh miskin. Agar tidak miskin tentu saja kita harus kerja dan belajar menuntut ilmu banyak-banyak. "Ilmu itu bagaikan udara" kata dari seseorang aku lupa namanya. Benar.. aku tau itu bahkan teori Big Bang sudah ku tambahi dengan jalur umumnya, seperti halnya ikan Nun ataupun tentang UFO. Hal itu membuatku perlunya berpikir luas, seluas alam semesta. Manusia adalah hal yang paling kompleks menurutku. Mereka berpikir, mereka memiliki hati, nafsu, takdir dan lain-lain. Aku pernah mencoba berpikir apakah diluar sana maksudku di galaksi lain makhluknya memiliki agama.

Aku terpukau dan itu membuatku bersalah karena pernah menyalahkan dunia. "Kenapa aku ini bodoh?" "Kenapa aku hidup di keluarga ini?" Padahal disana jauh lebih banyak yang menderita. Mereka berperang! Anak mereka di bunuh, wanitanya diperkosa, kelaparan, haus.. seandainya hidup seperti game mungkin kita bisa memilih yang mana kekurangan kita dan kelebihan kita. "Aku ingin memiliki wajah seperti Raisa serta kehidupan mewah tetapi tak memiliki orang tua" dan semua orang pasti memilih wajah tampan dan cantik. Itu nafsu.

Tujuan manusia hidup memang beragam, aku tak ingin menjelaskannya karena itu memasuki pemikiran ulama, seperti halnya ilmu Tuhan. Percayalah memahami hal yang mustahil bisa membuat kepala sakit. Hidup memang indah jika kalian menikmatinya bersyukur, jika dalam masalah bersabar dan cari solusi terbaik dengan cermat tanpa menyakiti siapapun. Belajar belajar dan belajar tak semua  masalah terletak di manusia.

Presentasi kelas giliran kami, aku paling benci kalau ada presentasi karena itu membuatku gugup dan menjadi perhatian. Aku tau kalau belajar presentasi bisa membantu di masa depan, untuk memamerkan ide kita. Walaupun begitu tetap saja memalukan. Di sesi pertanyaan aku sama sekali tak bisa berpikir ditambah menjadi sorotan dari teman kelas. Bu Leni mencoba membuat ku bicara berani, tapi aku menolaknya dan memilih untuk diam. Aku tau kalau Intan pasrah dengan kelakuan ku, bukan hanya Intan saja. "Bu ngapain memberi pelajaran seperti ini, mereka gak bakalan mengamalkan nya" aku protes dalam hati dan itu membuatku diam.

Saat itu kelakuan ku begitu keterlaluan, Bu leni mungkin berpikir kalau aku marah karena dipisahkan duduksama Shevira atau karena pernah debat tentang UN ditunda menguntungkan atau tidak.. ya itu hanya dugaan saja yang penting tidak membuat Bu leni berpikiran kalau aku sedang ngambek. Aku sangat tak terbiasa soal presentasi. Aku lebih memilih belajar sendiri karena sedari sekolah dasar memang begitu memang begitu.

Aku masih ingat saat pertama test masuk sekolah dasar mencoba menulis angka satu sampai sembilan, tetapi aku menulis angka 7 terbalik hehe.. yah aku jadi teringat dengan kejadian lainnya he.. he.. he.. ah bertapa cengeng nya aku dulu.

Selasa, 11 Oktober 2016

Judge

Gerimis hari aku berjalan menuju tempat kerjaku. Berupaya menutupi kepalaku dengan tudung jaket yang sedang, tak muat. Ini bulan kedua aku magang dan memasuki hari terakhir. Serasa begitu lambat. Di simpangan jalan menuju tempat kerja aku melihat Pam-pam, sebenarnya dia orang tua, sudah punya anak. Tubuhnya rendah dari aku, gendut tapi gak terlalu gendut. Dia berhenti dan melihat ke arahku. Oh ayolah jangan membuatku menyusul mu. Akhirnya aku berjalan bersamanya. Karakter aku di tempat kerja ini adalah polos, rajin kerja aja bukan hadirnya dan agak pendiam.

"Ampih kah garing mu dah?" Tanya dia tentang kesehatan ku
"
Ah lumayan sudah" jawab ku agak maksa

Setelah percakapan tadi kami terdiam. Terdiam menunggu siapa yang akan bicara berikutnya. Aku paling tak suka akan hal ini apalagi sama orang tua. Mungkin aku menjadi introvert.

"Uhh dingin" mencoba bicara
Tetap tak ada yang bicara hingga akhirnya sampai ke workshop. Dalam hati ku lega sekali keluar dari keadaan menjepit seperti tadi.
Di pekerjaan aku memang sering di bully yah memang karena tingkah ku yang aneh. Aku mencoba untuk menahannya dengan karakter polos. Misalnya kalau mereka membodohi ku aku diam saja dan tak perlu terlalu menanggapinya.

Pengalaman pernah aku di kerjai oleh pak Rahimi dia menyuruh ku untuk membangunkan Pam-pam apabila jam istirahat selesai, aku pun membangunkannya. Kata Pam-pam "ihh.." setengah sadar tapi dia tau kalau aku yang sedang membangunkannya. Memasuki jam setengah dua om Pam-pam menasehatiku dengan baik layaknya percakapan biasa kalau jangan membangunkan ku lagi. Aku pun meng-iyakan saja, aku masih belum tau kalau aku ini sedang dikerjai dan aku sadar ketika pak Rahimi berbicara ke om Pam kalau ..ya begitulah. Aku tidak sedang melihat
mereka, aku berpura-pura tak mendengar.

Mengenai pak Rahimi sebetulnya dia agak marah dengan ku, saat magang pertama beberapa minggu aku dan karyawan lain ingin mengangkat mesin pemotong karet mentah, sayangnya tangan ku yang kecil kesulitan sekali. Jika perbandingannya dengan lengan karyawan yang membantu ku power nya 1 : 3 ,aku bagian satu. Mirip lengan cewe pokoknya. Kami kesulitan dan minta bantuan dengan pak Rahimi yang sedang bekerja, kesal sekali dia, dan bilang kepada ku "*******" hahaha aku lupa, yang pasti dia kesal. Dan pertengahan bulan puasa juga, pengalaman yang ini butuh kesabaran extra. Waktu itu kami mau rapat di kantor workshop,kami masuk namun masih ada yang nyatai di penyimpan barang yang sering kami pakai buat sholat. Aku pun ikut juga santai sambil memutar kursi kantor, lalu kesal lah pak Rahimi dan dia bilang "mandiri dikit bisa gak" katanya. Nancep sekali aku berusaha tidak memikirkannya saat ini. Aku langsung memasuki mode super was was.

Pulangnya aku berusaha menjauh dari orang orang dan berpikir keras. Di jalan, saatberkendara, saat main game, mandi.. apa salah ku coba. Aku berpikir kenapa dia bisa bilang begitu umur tua kok pemikiran sempit, judge orang situ punya anak sendiri.. aku memang sedang memainkan peran polos.. hmm dirumah kalau masak sih gak bisa.. hmm ... hmm.. judge.. judge.. situ lagi M ..
hmm...
berpikir hal seperti ini sudah kebiasaan ku... jangan marah..
jangan dendam.. judge
"Oh aku tau!!!"
Kenapa dia sikap begitu ini menyangkut karma kata orang biasanya. Dulu aku memang sering men-judge orang seperti ngambek dan gak mau bicara sampai orang tersebut mengakui kesalahannya. Betul.. aku memang sering melakukannya dulu. Sebagai seseorang pemikir keras sepertiku. Kalau tebak kan ku salah berarti karena dia peduli? .. gak mungkin.. mana ada orang yang peduli denganku.. yah yang tadi jawaban paling masuk akal.. oke aku akan sedikit memodifikasi karakter ku. Seminggu kemudian arghh karakter polos ku terlalu melekat, yaudah aja terserah. Tapi dia datang saat aku sedang membersihkan mesin forklift, paling mau judge gua lagi yaudah deh. Tetapi dia justru baik padaku. Oh aku tau .. aku tau maksud lu.. mumpung mau lebarankan. Pikiran ku bentrok dengan hati.

"Bro bersihkan yang di celahnya sudah gak?" auranya cmiww penuh maksud

"Oh sudah.." ekspresi datar namun bentrok di hati

"Nah disini belum" agak kaget

Aku pun ke sebelah sisi mesin yang ia hadap.
"Wah iya.. emm" ucap ku agak bersalah


Dia pun masuk ke workshop. Aku tertawa hahaha mau minta maaf eh kagak jadi karena lihat kesalahan gua hahahaha.. tertawa aku dalam hati, dan aku lupa kalau aku sedang puasa.
"Uhh masa aku bersihin lagi sih hari sudah sore pula.. uhh"

Jumat, 01 Juli 2016

Dunia Paralel


Jumat ini aku hanya bisa berbaring terlelap di kasur tidurku, hari ini aku tidak bisa magang karena sakit jantung ku kumat lagi, akibatnya aku hanya bisa istirahat dirumah. Keluarga ku tak ada yang tau tentang hal ini, wajar saja mereka hanya mengira kalau aku sedang kelelahan. Sebelumnya aku meminta maaf kepada Fahmi teman magang ku karena tidak dapat membantunya jumat ini beralasan sakit. Sayang sekali aku tidak bisa membantunya, rasa cemas dan kesal yang hanya bisa ku bawa kedalam tidur ku ini "aku berharap bulan depan bisa full kehadiran" ucap tekad ku didalam tidur.

Gelap aku merasakan diri ku sudah 2 kali bermimpi, dan sekarang ini adalah mimpi yang ke tiga kalinya.. aku bangun dari tempat tidur ku dengan setengah sadar dan tak bisa mendengar apa-apa, berjalan menuju ruang tamu, aku kaget ketika tubuhku berpaling dan melihat sosok kepala melirik ku dari bawah asal kamar ku, sosoknya seperti manusia yang sedang mengintip saja. Pandangan yang masih buram tau-taunya aku sudah melempar buku kearah sosok itu, dia pun menghindarinya. Dan aku terkejut saat sosok itu menunjukkan dirinya "mama" ucap ku lembut, aku pun menghampirinya dan bertanya-tanya sejak kapan dan mengapa dia sudah pulang kerumah. Aku hanya bisa senang karena ibuku sudah pulang, lalu aku bertanya mengapa ibu bisa berada di kamar ku, ibuku mengajakku kebawah ranjang tidur ku yang tinggi dan melihatkan alasan mengapa ibuku bisa berada disana.
Setelah kejadian tadi aku menuju ke kamar mandi, ketika di ruang dapur aku melihat nenek ku, adik ku dan loh? Kakak ku dimana? Oh iya dia sedang kerja aku pun melanjutkan langkah ku ke kamar mandi untuk mandi. Selesai mandi nenek ku menyuruh ku membuang sesuatu, aku pun menyetujuinya kemudian nenek ku membawa ku ke kamar ku. Nenek ku menunjukkan sesuatu di luar jendela sana tepat berseberangan dengan rumah Abdi, aku melihat lewat jendela apa yang dimaksud nenek dan aku bingung benda apa itu, sebuah kayu bercat merah danbentuknya aneh seperti huruf M kecil terbalik dan ditengah bagian bawahnya terdapat satu garis lagi, mirip bentuk kaktus. Benda apa itu ujar ku dalam hati dan sejak kapan benda itu ada. Nenek ku kembali ke ruang dapur menyusul aku, dan aku berpas- pasan dengan ibuku, aku terkejut rupanya ibuku habis mandi, di balut handuk putih dari atas dada hingga tengah paha, rambutnya pendek hitam dan wajah yang masih cantik, aku mulaimembuka topik pembicaraan, kapan mama mau pulang ucap ku tenang dan berpikir di dalam benak menyimpan jawaban pertanyaan yang sudah pasti jawaban itu adalah besok atau malam ini, namun aku terkejut ketika jawaban itu di patahkan oleh suara lembutnya "masih lama kok" ujarnya dengan senyum kecilnya mengingatkan ku kembali dengan perasaan sayang ku kepada ibuku yang telah lama ku kurung. Akugembira tiada tara lewat ekspresi kecil ku seperti seseorang yang telah menyelesaikan satu soal ulangan, aku menuju ke kamar ibuku dan membuka lemari baju, aku memilih baju yang bagus dan dapat, sebuah baju yang hitam bergambar merk volcom, setelah ku raih baju tadi.. aku terdiam.. tersadar.. kenapa tubuhku rendah??

Rupanya itu adalah sebuah mimpi..
Aku terbangun kenapa aku sampaimemimpikan ibuku, terlihat cahaya dari ventilasi jendela ku, cahaya hijau, coklat dan putih.. hijau dari daun salak, coklat dari beberapa daunnya yang mati dan putih dari langit, suasananya yang beda setelah memimpikan ibuku. Oh? Rupanya aku masih hidup, aku pikir aku sudah mati dan berada di dunia paralel ucap ku tersenyum kecut, benar ini adalah diriku yang sebenarnya, dirumah ini hanya ada nenek, kakak, adik dan aku. Ibukuberada disana bersama suami barunya demi kami, aku tak merasa keberatan, begitu banyak rasa kasih sayang dari ibuku itulah alasan yang tepat atas diriku, aku tidak boleh cengeng, aku tidak boleh goyah, aku tidak boleh bergantung terlalu banyak, menjadi kuat pilihan satu-satunya, tetapi setelah bermimpi tadi aku sadar telah melalui banyak rintangan tanpa kedua orang tua, tidak ada yang bisa menenangkanku ketikaaku bersedih, aku hanya bisa terus melangkah, mata ku membendung air mata, aku tak boleh nangis.. aku berbaring lagi dan mencoba menafsirkan mimpi yang barusan ku alami. Bakat untuk mengartikan sesuatu muncul ketika aku beranjak dewasa ya tetapi aku tidak boleh terus-terusan bergantung dengan itu. Sekitar lima belas menitan aku hanya bisa mengartikan 1 dari dua pertayaan, yaitu kasih sayang orangtua, kaliantau selama ini aku selalu memendam rasa itu supaya bisa melangkah maju dan sampai sekarang aku bisa berjuang sendirian akan tetapi aku melupakan kerja keras orangtua dan kasih sayang, aku bersyukur Allah telah memberikan mimpi tadi kepada ku, dengan kondisi ku yang sekarang ini mungkin aku bisa meningkatkan karakter ku yang baru..
Jumat ini penuh berkah..

Minggu, 19 Juni 2016

Sahabat Semut



Dulu waktu aku masih kecil, aku sering sekali bermain di belakang rumah kebetulan juga nenek ku memelihara ayam di sana. Setiap jam 3 sore saat-saat mendungnya pada tahun tersebut aku kembali bermain bersama semut. Aku mencoba mengahamburkan snack-snack di dekat para semut yang lagi mencari nafkah buat sang ratu, melihat mereka sangat membuatku terpesona, sebagai laki-laki aku ini tidak takut serangga kecoa atau pun hewan aneh lainnya. Semut yang pertama menemukan makanannya akan kembali ke markas memanggil para koloninya, sebagai penggambaran semut ini berwarna hitam, kecilnya seperti pasir 0,5 mm ukurannya😂, semut ini tak terlalu suka dengan makanan yang manis. Sarang kesukaan mereka diselah-selah tumpukan kayu. Ketika mereka mulai mengerombongi snack yang ku tabur tadi kadang hadir semut yang lebih besar dari biasanya, yang besar bukan seluruh anggota badannya melainkan hanya kepalanya, terlihat jelas besar gigi capitannya untuk menangkap lawan. Kedatangannya membuatku semakin girang.

Kemampuan imajinasi ku diuji, ku mencoba merancang bangunan kecil buat semut itu. Aku membuat bangunan seperti gedung dengan besar. Walaupun sudah sukses si semut merasa belum terlindungi dari rumah makannya itu, beberapa semut yang lain mencoba mengumpulkan kerikil-kerikil dan menempelkannya di celah-celah lubang rumah makan semut baru itu, ya mungkin saja semut itu adalah jenis semut pekerja. Aku mencoba memperbaiki posisi jongkok ku kalau-kalau saja aku menginjak semut lain.

Aku teringat kembali cerita Nabi Sulaiman as tentang Nabi Sulaiman yang memelihara 2 semut di dalam toples kaca. Di cerita tersebut benar-benar menginspirasi kalau rezeki itu bertebaran luas di dunia ini. Benar, kalian bakalan tau nanti, jika kita menyadarinya.

Nah episode ini hampir menuju inti cerita, setelah bertahun-tahun memperhatikan semut aku mulai tertarik dengan semut yang lain, beberapa moment yang berharga seperti semut yang mengorbankandiri sebagai kapal agar sang ratu tak tenggelam saat banjir, bukan hanya satu melainkan lebih dari 50 semut demi kelangsungan ras mereka, moment ini aku dapatkan saat banjir tahun 2000 berapa ya aku lupa yang penting itu saat aku masih sekolah dasar. Moment kedua semut kerarangga sebutku dari bahasa Banjar, semut ini lebih besar 2 kali lipat dari semut pertama yang ku sebutkan di awal cerita, momennya ialah ketika  ranting pohon yang tak sampai menjulang ke seberang, ini karena aku tak sengaja membuat ranting pohonnya bergeser, beberapa semut mulai mencoba menghubungkan kembali dengan tubuh mereka sebagai jembatan. Ada pula ketika aku iseng dengan semut jenis itu, aku mengambil jaring laba-laba dan mengikat salah satu koloninya kemudian meletakkannya di dekat gerombolan semut lain lalu reaksi semut lain sangat membuat ku terpana layaknya manusia mereka mencoba membantu temannya yang dalam kesulitan *wah* ucap ku
Akhir cerita karena sering sekali bermain dengan semut aku menjadi takut kalau membunuhnya, ketika aku ingin menjemur pakaian dan melihat beberapa semut yang lalu lalang di tali jemuran membuat ku bingung gimana aku menunggu kesempatan mencari celah ruang yang besar, terlebih juga saat perjalanan berkendara maupun jalan kaki, penglihatan yang tajam adalah hal yang penting, jika diluar kemampuan aku hanya bisa baca bismillah.

Selasa, 14 Juni 2016

Aku Mengerti

Tinggal 6 bulan kah lagi??..

Serasa begitu lambat..

Sebuah perkiraan yang belum pasti..

“oi stop dah waktunya istirahat” seru kak Yadi sambil berjalan, aku menengok ke arah jam dinding, baru jam 11:31 “sebentar, lagi asyik-asyiknya nih me-las” ucap ku dengan nada senang. Semakin bertambah umur ku, semakin banyak pula pengalaman ku, akhir-akhir ini aku mulai mengerti banyak hal, tak semua bisa di ungkapakan dengan tulisan, tak semua bisa di ungkapkan dengan perkataan maupun perbuatan. Akibatnya aku hanya menyimpan pemikiranku di dalam benak ini, semua yang telah 
ku lalui begitu berarti..

Bekerja sampai lelah begini memang mengasyikkan, aku menjadi tau bagaimana para orang tua bekerja keras tiap hari demi keluarga, benar aku akan bekerja lebih baik supaya bisa menjadi pekerja yang hnadal, jika aku sudah mempunyai pekerjaan mungkin aku akan melamar seseorang. Aku membuka line dan ikut bergabung dengan group Semangka, beberapa waktu yang lalu aku membuat Nisa kebingungan, aku menolaknya secara halus tanggapannya dan keesokannya saat aku menceritakan kalau aku pernah dibully, kata Fidya “mana fidz biar aku hajar orangnya” aku pun tertawa, kami terus chatting hingga aku lelah dan ingin tidur. Subuhnya aku kembali membuka line dan sedikit kaget dengan chat balasan Nisa dari group Semangka juga, aku tetap tenang dan menanggapinya biasa saja, gaya rambut yang acakan dan bercorak merah ketika di simburkan cahaya matahari itulah gaya rambut ku yang baru yah memang gak ada hubungannya sih, aku letakan lagi ponsel ku dan pergi ke kamar mandi untuk segera berwudhu, sedikit berbicar dalam hati dan merasa lega “yah wajarlah soalnya aku berharap berada paling belakang” *hoam*

Sudah lama sekali aku tidak mencuci piring kali ini aku akan membantu nenek ku, walaupun begitu nenek ku jarang sekali kecapekkan, ibarat seorang ibu nenek ku bakal tambah semangat kalau aku menjadi lebih baik lagi, yah cuman ada beberapa hal yang tidak ku suka dari nenek, pengamatan ku akan sangat baik jika seseorang serig muncul di kehidupan ku, aku bisa menganalisanya dengan baik maksudku sifat dan jalan pikiran. Aku juga menggunakan cara ini untuk terhubung dengan kakak workshop ketika bekerja terlihat saat mereka membutuhkan sesuatu aku langsung tau. Namun untuk Aulia, aku sama sekali tak bisa membaca jalan pikiraannya, dia sedang apa atau bagaimana, sama sekalai membingungkan, mungkin karena inilah aku masih menyimpan rasa padanya. Saat Helda mengundang ku di group Sepuluh Satu dan IPA 3 aku menerimanya tapi jarang sekali ada obrolan. Pertama kali saat masuk di group IPA 3 banyak yang bertanya siapakah akun yang bernama Zheill lah ini, kata Amal itu Hafizh, anak IPS kah?? , maaf aku salah tulis tapi Hafidz kata Amal sekali lagi. Lalu mereka mengenali ku dan tiba-tiba saja dia keluar yap Aulia kata dia benerkah itu Hafidz?? Kemudian di balas Amal katanya iya.Sebenarnya aku tak terlalu berharap kalau Aulia memiliki rasa terhadapa ku terlebih lagi Amal dulu suka sama Aulia.. yah canggung deh.

Aku terheran dengan Aulia, ia sering sekali share tentang anime di line, sampai-sampai kalimat di postingnya itu mengandung efekan maksudku seperti bikin laki-laki baper tapi ada juga yang lain yang tak berhubungan. Seperti biasa ia sulit di tebak, aku mencoba mencerna maksud dari pesannya itu dan memberanikan mengambil kesimpulan, aku mencoba membuat obrolan pertama dengannya di line, aku mengirim pesan “Au ada anime yang seru gak ?” pesan yang seolah-olah sudah sering bertemu dan menyimpan rasa di balik pesan tersebut, obrolan kami lancar sampai jam 9an aku mengirim pesan minta maaf karena awal dari bulan ramadhan, akan tetapi tak dibalas namun sudah dibaca, tak mengerti apa ia sibuk, lalu aku mencoba mengirim sticker yah hasilnya nihil, besoknya pun sama, itu berarti ada yang salah mungkin aku terlalu percaya diri. Kalau minta maaf saja tak dibalas berarti berharap sesuatu pun mustahil, setelah semua itu ku relakan aku pun menyadari akan hal, seseorang yang diharapkannya, aku pun tertwa kecil diselah-selah waktu senggang “aneh kenapa aku tak menyadarinya dari awal” tentu saja aku merasakan sesak walaupun labil aku tetap bisa merasakan sakitnya, dengan begini aku kembali memperkuat pendirian ku “sekali lagi jangan mudah percaya diri”, supaya memudahkan komunikasi sama Abdi dan teman sekampung makanya aku mendownload line, jika engga yah gak mungkin lah.

Kehilangan seseorang sudah wajar, move on pun hal biasa bagiku, mungkin suatu kelebihanku bisa mencintai seseorang dengan kehendak sendiri dan menganggap seorang yang dicintai menjadi orang yang biasa seperti semula ketika bertemu, kadang ada batasnya juga tapi sekarang tak apa karena aku punya Beater dan Zheill haha..

Menjadi manusia yang terbelakang bukan hal yang mudah sama seperti halnya belajar, tampak dari luar aku ini sering sekali kena bully karena tingkah konyol dan lain-lain dan kadang aku menunjukan aksi ku tanpa ku sadari, itu karena takdir kehidupan ku masih berjalan, takdir seseorang bisa di usik dengan usaha kerja keras, aku percaya akan hal itu karena itu hal yang wajar di alami manusia, hmm membingungkan jelas sekali teori ku belum cukup aku perlu pengalaman lagi dan juga sekarang ini aku tak tau tujuan lagi, “apa aku perlu menjadi yang terdepan??” hah mustahil dan juga aku tidak suka..


End, kurasa tidak..

Kalian yang Terbaik



Semua manusia adalah tokoh utamanya aku maupun kalian, kita juga saling berbagi peran, peran antagonis, protagonist dan juga tokoh pemabantu atau tokoh baru bermunculan. Ada pun tokoh pahlawan menurut saya yaitu seorang sahabat, ya aku berharap tokoh itu ada dalam cerita hidupku.
Sahabat .. aku melihatnya dalam hidupku..
Ketika SMP kelas satu aku bertemu dengannya, ya dia adalah Yahya, keluarga mereka pindah rumah. Kami bertemu di musim kelereng. Pada saat itu aku juga merasa kalau ia adalah orang dari cara bicarany. Kami mulai berteman akrab dari sebuah permainan tak hanya Abdi tapi juga Aldy dan Herry kami sering tertawa terbahak-bahak bila di suguhi sebuah lelucon, kadag pula kami seperti anak kecil bila jaringan warnet lelet “nih me yutube pasti” sorak diantara kami ya faktanya begitu apalagi orang tua yang menjudi togel. Umur Aldy beda 3 tahun dengan ku dan Yahya Herry 2 tahun yup mereka masih muda perjalanan mereka masih panjang. Mereka memang memiliki sifat anak kecil karena perbedaan sebuah pengalaman walaupun begitu aku tetap berteman dengan mereka.
Di kasus Abdi aku sudah dari dulu menganggapnya seorang teman, jika dibandingkan dengan teman yang lain hanya Abdi lah yang paling terbaik. Memang, dulu kami sering bertengkar tapi sekarang pikiran kami mulai matang dan aku melihat aura berbeda-beda dari mereka. Di kasus Herry kami sulit berkomunikasi dengannya, soalnya ia harus menghadapi rintangan dunia di usia menginjak 15 tahun, tak semua orang memiliki harta melimpah, mencari kerja sebuah harapan lain. Aku berharap jika aku seukses nanti bisa membantunya bukan tapi kami.
Sekarang aku mulai mencari pengalaman baru kerja di Bumi Jaya yup sebagai anak magang. Aku senang sekali mereka menyambut kami dengan cara biasa. Di tempat magang aku bertemu lagi dengan tokoh-tokoh baru, yup aku akan selalu belajar. Aku magang bersama teman BLK, aku panggil Fahmi, aku tak terlalu akrab dengannya seoalnya aura yag ia tunjukkan lain dari yang ku harapkan, ia tak menyukai ku, entahlah kenapa bisa begitu. Jujur saja aku mulai tak menyukainya kenapa? ia pernah mengentuti tepat di hadapanku, sebagai sapaan?? Bahkan saat aku mencoba berkomunikasi ia malah menuli. Kelopak mata kanan ku menutup perlahan dan hanya tersisa setengah pandangan, ya itu saat dimana aku bertemu dengannya, aku tak berharap dengannya lagi. Hanya sebagai teman magang, kedudukan lebih rendah dari pada seorang teman.
Pada minggu kedua aku mulai kelelahan, aku merasa kalau tubuh ku belum bisa mengimbangi mereka, mereka yang ku maksud anggota workshop, aku kelelahan memaksa tubuhku mempercepat perkembangan agar sebanding. Pemakaian Beater pun hanya berlangsung 3 hari dimulai saat aku kehabisan tenaga, berat rasanya. Aku tersadar seseorang memanggil ku dari belakang, katanya dia ingin aku bersama kak Albert membeli gallon, kami pun pergi dan kembali membawa 4 galon, “kak biar aku saja yang bawa” pinta ku, kak Albert pun mengizinkannya karena hari ini ia tampak kelelahan. Sesampainya di workshop aku pun memarkirkan kargo yang tinggi ini di dekat dispenser, aku angkat satu gallon dan meletakkannya di bawah disamping dispenser jua, namun saat aku mengangkat gallon yang kedua tiba-tiba saja kargonya terjungkal ke depan dan memecahkan satu gallon yang satunya lagi tutupnya terlepas membanjiri lantai. Mungkin wajah ku tak berbentuk lagi, dengan langkah kilat aku membujurkan kedua gallon tersebut supaya menghentikan alairan air yang keluar, tentu saja aku malu, terlintas aku mengingat pesan kak Almino kalau anak magang yang dulu bandel dan mencoreng nama baik BLK, padahal aku ingin memperbaikinya dangan lulusan kami ini, serasa aku pingin minggat dari sini. Jam 12 kami istirahat, kami makan bareng di tempat istirahat yang sudah disiapkan, sekarang tidak lagi, aku pergi ke kantin saja, siapa yang tahan setelah memecahkan gallon terus makan bersama meraka, mendekat pun aku enggan.
Setengah harinya aku hanya duduk me-las gerobak tanpa istirahat sedikit pun, sakitkan fidz.. aku mulai berfikir keras untuk menjadi lebih baik, memang aku dulu berharap menjadi yang terbelakang tapi sekarang beda ini bukan panggung ku ini panggung BLK !!!! sekarang aku tak membutuhkan mu fidz kini yang kau perlukan hanya aku dan Zheill, aku benci sifat polos dan kecerobohan yang membuat semua berantakan.
Sepulangnya di rumah aku berhenti memakai tenaga dan otakku, aku lelah fisik maupun mental. Aku merbahkan tubuhku yang tiap hari bertambah beratnya di kasur, apa yang telah kulakukan dasar bodoh..
*ting tong*
Suara notifikas dari line dari group “Agen Tahu Bulat nyoi” aku meraih ponsel ku dan membukanya, aku tertawa kenapa?? kenapa masih ada kau, Hafidz?? Jangan tertawa. Mungkin ini yang di maksud sahabat, sahabat yang selalu aku idamkan dari dulu, mereka selalu saja bisa membuatku tertawa. Ya mereka adalah teman ku..


Kalialah yang terbaik..

Minggu, 10 April 2016

Beater

Hari ini kami setiap juruan akan memasuki ruangannya, aku orang yang mudah termotivasi dan mudah menyerah dan juga labil, kadang banyak temanku yang menyerah dengan sikapku haha mungkin tanpa sadar aku membuat penghalang. Aku selalu kagum bila ada tokoh yang selalu berjuang sendiri, bisa menyelesaikan masalah sendiri, tak merugikan orang lain,sikap baik dan banyak lagi tapi itu semua mustahil ku karna takdir ku yah begitulah itu sih menurut pengamatanku. Sesampai di parkiran aku melihat Ramlan, tumben cepat ucapku kami berbincang tak terlalu banyak karena aku tak pandai bicara. Semakin banyak orang-orang berdatangan dan akhirnya tiba aku melangkah mencari ruangannya, bertanya dan dapat, gile lumayan luas yah wajar sih.

Kami duduk dan perkenalan “ini yang paling tak kusuka” ujar ku.. Nama Hafidz Rachmadana, tinggal di Jangkung, lulusan SMA tahun kamarin kemudian aku ditanyai kenapa tak melanjutkan kuliah, eh! Gua terkejut yah itu gak punya uang, selesai perkenalan aku mencoba duduk tapi tersandung tiba-tiba aku mendengar “nah mabuk kawan” eh oh orang yang ada di pojok, aku sedikit meningkatkan kepekaan ku. Jam istirahat aku membuka buku yang diberikan dari instruktur kami, membacanya sedikit, “bro kenapa lu masuk BLK ??” seseorang dari belakangku bertanya “aku disuruh masuk BLK yah padahal aku gak mau sih” jawabku “nah bro lu ngabisin beras sama uang negara aja hahaha!!!” sontak membuat beberapa yang lain tertawa juga “gile orang-orang di kelas gua preman semua ngeselin” ucapku dalam hati. Hari berikutnya malah tambah parah seperti bahan ejekan saja, aku mulai marah dan berniat menghancurkan mereka.

Aku mulai mengenal beberapa saja diantara mereka yang paling mencolok maksudku yang suka ngejek aku dua orang nama mereka sama-sama Agus awalannya, aku berpikir tak apa juga kalau aku mengembangkan bakat ku toh mereka dengan sendirinya juga akan berkembang walaupun mencoba untuk menghentikannya, pertama hancurkan lewat teori kemudian, lewat praktek dan mengambil perhatian dari instruktur, liat aja gua serius. Hari ke-3 kami belajar tentang alat-alat kerja sampai hampir jam 12 kami istirahat dan sholat yah kami itu hanya aku dan Ahmad saja sih kalau yang lainnya aku tak tau. Menurut ku hanya Ahmad lah satu-satunya orang yang baik di kelas, Ahmad pun sering diejek sama yang lain, “ada aja orang yang jahat” aku menghela nafas, di jalan menuju mushola aku dan Ahmad berbincang-bincang soal jangka sorong, aku bertanya-tanya tentang jangka sorong itu apa, tapi Ahmad tak bisa mejelaskannya katanya sulit.

Sebelumnya kami membahas jangka sorong Bapak atau instruktur bertanya kepada ku “apa saat SMA pernah mengguakannya?” gua bingung apa itu jangka sorong karena tak pernah melihatnya, jadi begitulah kenapa gua bertanya-tanya. Pelajaran dilanjutkan dan kali test membaca jangka sorong, ketika melihat bendanya dari layar gua jadi ingat “oh ini kenapa gua bisa lupa heh” ucapku dalam hati, pertama kami mencoba membacanya diulang bila lambat merespon tapi syukurlah aku bisa dengan dua kali percobaan tanpa salah, bisa, ya iyalah soal nomor pertama di UN Fisika, sekarang mencoba dengan benda yang asli “wah” gua mulai gugup dimulai dari Agus, orang yang duduk dibelakang ku, eh tapi dia malah kacau lebih 3 kali mengulang, kemudian giliranku, panas amat aku memegang jangka sorongnya, eto dan gua berhasil tanpa salah “ya iyalah”. Hari ke-4 kami mencoba memotong plat besi dengan bahan bakar asitelin, mengejutkan sekali alatnya bising banget vrohh mengatur muncung alat supaya api keluar tipis dan pendek bisinglah pokoknya plus bahaya.

Praktek kali ini mendadak dilakukan karena alasan tertentu, dan mendadak hasil praktek sedang yah itu menurut pengamatan gua, aku berbicara dengan Ahmad tiba-tiba Agus yang berdiri dibelakang gua masuk percakapan kami dalam hati “oh kami sudah sederajat lebih tinggi ya? jadi cuman itu kemamupuan lu, 6 tahun lebih tua dariku belajar apa aja sih elu semasa itu” ujarku dalam hati, hari demi hari berlalu gua mulai terbiasa dengan yang lain dan aku mengalami peningkatan, tiba-tiba instruktur menawarkan magang di tambang, gua kaget plus bingung “iya pak” menjawab dengan pelan, kelepasan!, gua mulai tak percaya diri, tapi baru pertama kali aku berbicara dengan bapak instruktur rasanya canggung banget, biasanya pun begitu saat satu ruangan hening, mah nanti juga bakal terbiasa. Hari berlalu dengan lambat aku mulai sering memaksakan diri tapi tenang aja ada Beater haha, aku berpikir males ah menghacurkan mereka soalnya cara itu emang gak baik, kata Hafidz mending berteman dengan semua aja *Huhh* terserahlah…

Yup setelah melihat hasil dari berminggu-minggu kami lumayan akrab sebenarnya lelah banget tiap hari makai otak, fokus berjam-jam namun aku sadar apa tiap harinya anak kuliahan begini ya atau lebih berat lagi? “nyesal fidz bila lu gak kuliah” ucap Anto teman kelas Las Listrik, sambil berpikir aku keluar dari ruangan dan tiba-tiba aku berpas-pasan dengan 2 orang cewe yang masuk ruangan kami, seperti aku kenal salah satunya namun belum pasti. Aku kembali masuk keruangan setelah membasuh kedua telapak tangan ku yang kotor, leh ni cewe-cewe ngapain sih ngeliatin kami, mereka berdua duduk dikursi di dekat pintu masuk dan ada beberapa diantara kami yang mengobrol dengan mereka, dengan nada yang cukup tinggi para cewe itu ngobrol, wah mereka pasti pengen cari pacar sesuai pengamatan sederhana ku, gua gak peduli “wah hafidz sudah dewasa” ucap Agus, entah darimana pemikirannya sampai bilang aku begitu, abaikan gua gak tertarik, aku duduk di bangku dan mulai mencoret-coreti buku kemudian Anto memulai pembicaraan denganku “fidz kenapa elu gak pacaran?” aku terdiam sebentar dan menjawab “males” balas Anto “kenapa malas” reflex bro sorry yah ada banyak hal bro tapi masa gua mau curhat ke elu kan aneh, jadi jawaban gua “males bro hehe” untuk yang ke tiga kalinya.


*i

Seperti Seseorang

Waktu terasa cepat tak sadar sudah hampir satu tahun aku menganggur itu artinya sisa waktu ku tinggal satu tahun lagi, aku hanya ingin memastikan saja. Sudah beberapa bulan aku mencoba menjadi orang yang dibelakang artinya kurang lebih menjadi orang yang tak disukai, tapi tanpa ku sadari aku masih melangkah maju bersama orang-orang yang berjuang melawan kerasnya kehidupan namun di jalan yang berbeda. Selama hidup aku juga belajar dari diriku sendiri setiap detiknya setiap peristiwanya aku mencoba memahami semuanya, kalimat mutiara biasanya bilang “pahami diri sendiri baru memahami orang lain” yah kurang lebih begitu kalimatnya namun artinya sama saja. Memahami diri sendiri itu susah karena mata kita hanya bisa melihat yang ada di hadapannya saja tapi sebaliknya kita lebih mudah memahami orang lain, kadang kita bisa bilang dia nakal, jelek, bodoh dan sebagainya, kata-kata yang lagi ngetrend-nya “teman makan teman” atau “temanmu musuh yang sebenarnya”.
Ada satu hal yang perlu aku camkan ke dalam pembelajarankau yaitu manusia yang berjuang akan selalu mengalami perubahan sama sepertiku dan yang lainnya, jangan sampai terkejut kalau melihat temanmu bisa sukses duluan atau unggul dalam hal lainnya mungkin bisa disebut penyesuaian, yah itu tergantung masalah yang kita hadapi.

Ketika kami sedang latihan fisik di halaman BLK sesuai kejuruannya, yang mengejutkannya ku kami hanya ada delapan orang saja anggota kejuruan Las Listrik kira-kira gimana nanti belajarnya. Lalu setiap kejuruan disuruh latihan PBB salah satu diantara kami disuruh menjadi pemimpin oleh penyelenggara kegiatan, dilihat dari bentuk fisiknya aku berpikir dia lebih tua dari aku dan rupanya dia gak tau gimana caranya mengatur barisan, kalau aku ya masih teringat sedikitlah itupun samar-samar namun yang jadi masalah adalah penyakit gugupku. Sudah beberapa orang yang tidak bisa atau malu dihadapan orang yang baru kita kenal, tibalah giliranku tapi ya sama saja aku dengan mereka kurang bisa bahkan saat SMA aku kurang minat dengan latihan PBB soalnya penyakit gugup ini adalah masalah terbesar walapun bagaimana pun aku berjuang rasanya akan sulit jika rasa gugup ini tak disingkirkan.
“siap gerak!” aku mencoba menyiapkan barisan dengan suara agak keras, aku merasa kalau aku sedang sangat gugup sekali tapi saat yang lain mentertawakan ku aku merasa agak terbiasa sedikit, tapi tetap saja rasanya sulit, mereka tertawa dan aku pun juga tertawa sampai aku mendengar “lubang hidungnya gede” yah begitulah. Kemudian diadakan game, anggota kami bergabung dengan kejuruan Akutansi yang cowonya hanya ada 3 orang, gamenya tentang rasa kepercayaan terhadap kawan-kawannya salah satu lagi ditunjuk dan berdiri di atas meja yang sudah disiapkan dan berdiri membelakangi kami, yang berdiri diperintahkan jatuh kehadapan kami dengan jatuh seperti tongkat kemudian kami menyambutnya dengan strategi dari pemimpin, aku dipilih lagi menjadi pemimpin asem sekali.

Aku memulainya dengan menyusun anggota jika jatuhnya seperti tongkat berarti kami memusatkan berat badannya pada orang yang lebih besar maksudku yang menyambutnya “tolong jam tangan dilepas” kata ku ada yang melepas ada juga yang enggak soalnya kalau orang yang jatuh tadi kena jam tangannya dan juga lengan saat menyambut telapak tangannya harus ada diatas supaya saat jatuh lengan bisa mengendur, tapi pendapat ku ditolak dari salah satu anggota di kejuruan Akutansi, yah aku bisa menerima pendapatnya jika itu menurutnya lebih bagus, apakah sudah siap? Kata pak polisi “belum kata ku” yah mau bagaimana lagi aku belum menganggap mereka teman rasa percaya terlalu sulit, biasanya aku juga begini merasa tak terlalu yakin sampai hasilnya bisa aku lihat maka aku akan bilang yakin. Kemudian apa adanya pak polisi nyuruh kami mulai jujur saja agak menjengkelkan, satu kali lagi sekarang yang memimpin dari kejuruan Akutansi, dia mencoba menjelaskan posisi lengan dengan kedua tangannya supaya tidak cidera pendapat itu malah seperti pendapatku yang pertama tadi, yah gua juga gak peduli.

Kami beristirahat di halaman BLK duduk dan minum tiba-tiba ada seseorang yang mendekati ku yah cuman duduk saja sih, aku mencoba berbicara dengan beberapa orang yang ada disamping ku yah termasuk dangan orang yang ada dihadapan ku tadi, tiba-tiba kelompok disamping kiri ku heboh “saipul saipul” jer beberapa orang mengolok, oh dia mulai terkenal maksudku orang yang debat dengan ku tadi, ceritanya panjang kenapa dia digelar saipul. Terakhir kami masuk ke aula dan diberi sedikit motivasi, kemudian ada yang mengeraskan suaranya “saipul” dari belakang, aku tertawa kecil “ops aku kelepasan” astaga apa yang aku ku lakukan kenapa aku tertawa ucap ku dalam hati, di sana dia diejek seharusnya aku membela keadilan, huhh. “absen dari las listrik” wah itu dari kejuruan ku, kami ditanyai alamat rumah dan pendidikan terakhir dan giliranku tiba, “… di Jangkung pak”, dibalas lagi ”Jangkung mana?” eh emang tempat tinggal gua punya Distrik lain, gua gugup dan tak tau harus bilang apa lalu ditertawai oleh peserta lain dalam hati ku bilang “ini akibatnya kalau menertawai orang lain hehehe..” lain kali gua mesti tingkatkan kewaspadaanku.

Jam berlalu sangat lambat aku mulai ngantuk dan lelah begitu juga peserta lain, ada yang tidur. Aku melihat Ibu eh gimana ya bilangnya Ibu atau Instruktur ah panggil Ibu aja dah sudah 4 hari ini terpaksa mengisi acara pembukaan peserta baru, kadang ia marah gara-gara peserta cowo menggodanya tiap kali mengisi acara, kasihanlah ketika kita bicara serius malah dijadikan bahan bercandaan. Selang beberapa menit teman sebangku ku mengirim selembar kertas dari depan asalnya “eh apaan ini ucapku!!!” setelah aku membukanya dan bertulisan I love u , “dari siapa ucapku?!” nada yang sedikit tinggi, tapi aku terkejut teman sebangku ku langsung mengambilnya dan mengirim kedepan, “oh baguslah” ucapku tenang dalam hati, soalnya aku gak ingin berurusan soal cinta-cintaan untuk saat ini.

Awal yang Aneh

Kali ini aku mencoba daftar ke BLK atau balai latihan kerja, soalnya ada beberapa factor yang membuatku terdesak yah bisa dibayangkan kalau kamu pengangguran dan cuman diam di rumah ya umpamanya begitu sih. Sesampainya di BLK aku memparkirkan kendaraan ku di dekat mobil dan meletakan helm, aku berpikir disini gak bakalan ada malingkan??.. di depan ruang pendaftaran aku kaget yang jaga cewe semua “gile gua gugup vrohh” tetapi kok sepi sekali, apa mungkin aku terlalu cepat mendaftar. Setelah selesai gua bener-bener lega soalnya tadi gua membuat kesalahan masa mau nulis tahun kemaren sih kan konyol, aku pikir 1 tahun gua bertapa di rumah demi mendapatkan kekuatan dari cakrawala hilang begitu saja setelah duduk berhadapan ama cewek-cewek, oh.

Sekarang hanya menunggu hari tes saja itu artinya aku bisa bermain game, “oh sayang aku kembali” ngelus laptop, eh? Handphone ku bunyi oh ada sms dari Helda, dia nanya sudah masuk BLK belum?, aku menjawab sudah daftar tinggal tes saja lagi lalu dia membalas yang isinya menyuruhku untuk belajar, dalam hatiku emang lu ibu gua bahkan ibu ku saja dulu jarang menyuruh ku belajar sampai kelas 1 sma ibu ku tak di sini lagi, bukan berarti aku tak suka karena ada seseorang yang perhatian tapi aku pikir diriku bukanlah tempatmu untuk berharap, aku tak membalas sms-nya lagi. Di hari test seperti biasa aku gugup dan banyaknya orang yang tak ku kenal, ya itu wajarlah, tiba-tiba saja aku terkejut “weh Takim” teman sekampungku nama lengkapnya Luthful Hakim yah lebih tepatnya teman semasa kecilku, sifatnya yang jarang bergaul membuatku bingung, “pake sifat yang mana ya buat nanggapinnya?” tapi itu tak terlalu  penting juga soalnya kami tak terlalu akrab.

Di ruangan tes aku terkejut soal tesnya hanya 30 dan juga tak ada tes lainnya lagi, tahun kemarin padahal ada, soal umum ya hemm disebabkan aku tak belajar aku hanya bisa menggunakan instingku untuk menjawabnya dan juga ke jujuran, “fidz elu daftar kejuruan computer ya?” Tanya Takim, “iya emang kenapa” balas ku sambil hadap kesamping, “saingannya berat” what kalau sampai Takim bilang begitu mah gua gak bisa apa-apa lagi ya karena Takim itu orangnya pintar kalau di ukur sama aku mah gile. Di hari pengumuman kelulusan gua berpikir kalau tingkat kelulusan ku tipis bukan rendah lagi, kalau berpikir soal takdir aku memang percaya apalagi soal roda kehidupan, ya aku pun percaya kalau di masa depan nanti aku tak aka bisa bersantai seperti ini lagi, hanya sebuah firasat. Melihat yang lain berkumpul aku juga ikut, pastinya itu adalah pengumuman hasil tes dan melihat nama ku tidak ada dihasil tes kejuruan computer aku tak terkejut, kalau dilihat-lihat dari kejuruan yang lain masih ada yang kosong anggotanya, dalam satu kejuruan ada 16 orang mah aku pindah aja ke Instalasi Listrik.

Kalau memang takdir ku di BLK ini kira-kira apa yang terjadi nantinya ya, yang lebih penting aku gak ingin terlalu menonjol disini, kalau sampai ada cerita cinta juga gua gak mau, jangan terlalu mudah menganggap seseorang sebagai teman, dan juga dan juga .. hmm ... oh iya gua nulis pindah ke kejuruan apa tadi ?? heh kan gua maunya Installasi Listrik kok malahhhh…. LAS LISTRIK .. gile… aaa…


*fight…