Selasa, 29 Januari 2019

Kecanduan

Biasanya kalau air sungai dalam pasti yang paling antusias mau memancing ialah bapaknya Ira. Yang paling hebat mancing juga dia. Sulit rasanya bisa menang jumlah melawannya. Ya~ soalnya aku ini pas-pasan aja dalam segala hal. Kecuali aku mau memakai kemampuan perfect ability untuk meningkatkan semua stats. Tapi.. Itu pun perlu syarat ha ha haa..
Ah ini bukan soal menang. Sekarang ini paknya Ira sedang kecanduan internet!
Serius! ini masalah!
Tiap kali datang ke jembatan cuman main hp doang. Tidak ada lagi semangat membara dalam dirinya mau memancing ikan rival yaitu ikan Sanggang.
Apakah sudah berakhir masa-masa semangat kita bertarung dengan ikan Sanggang!? *uhh..
Beater: Heboh banget..
Memang sih ikan-ikan yang besar belum banyak karena ini baru musim penghujan. Yap, masalahnya ikan-ikannya. Jika sudah banyak ikan besar mungkinkah paknya Ira mau memancing lagi dan melupakan internet?

Aku khawatir dia sudah tua seharusnya diumur segitu memperbanyak beribadah bukannya- Ah sial! lagi-lagi aku menilai dan melihat kepribadian orang lain. Tak boleh. Belum tentu tiap orang tidak memiliki kelebihan. Iyap, aku beda dengannya. Mungkin dengan menafkahi anak-anaknya atau apakah itu yang belum terlihat di mataku bisa jauh bernilai dibandingkan dengan perjuanganku selama ini.
Huftt.. fokus ke diri sendiri saja.

*ekhemm!
Batuk? kenapa pak Ira batuk-
"Kalau gak mengakui aku sebagai Allah.. maka aku  akan bilang pada air laut..-" dari hp pak Ira
Eh? Yo*tube kah yang sedang dibuka pak Ira???
Jadi batuk tadi sengaja sebagai kode untuk menarik perhatianku agar mendengarkan suara dari video yang dimainkan pak Ira.. Eh?!!! apa aku salah dengar?
Uhh.. masih ada aja yang mengaku Allah. Ya ampun geregetan pengen menyadarkan orang kek gitu dengan kekuatan. Misalnya dengan kekuatan gravitasi supaya dia berlutut lalu bilang
"gimana gak bisa bergerak kan?.. kalau kamu gak bisa bergerak dengan kekuatan yang secuil ini bagaimana bisa kamu jadi Tuhan?"
Dan dia pun ter- Ahh!..
Belum!.. itu sama saja menyombongkan diri. Hanya sekitar 30% saja peluang yang bisa membuatnya sadar diri. Lagian gak bakal mau seseorang yang memiliki sifat sombong diri mendengarkan kalimat dari si sombong juga. Ya~ soalnya kata-kata yang keluar dari mulutnya mengandung sifat tinggi diri. Aku ini hebat dan kuat.. gitu.
Menyadarkan seseorang karena ingin imbalan sangat sangat kurang tepat, tak bernilai sama sekali.

"-aku akan bilang pada air laut.." lagi dari hp pak Ira
Lol.. kenapa diulang-ulang?
Ahaha males aku menanggapinya. Mending diam. Aku gak perlu menanggapi hal kek begituan. Iya benar juga. Buang-buang tenaga. Mendingan belajar atau beribadah.

Jumat, 25 Januari 2019

Leveling

Sebagai seorang yang masih memiliki kepribadian labil aku menyukai banyak hal yang bersangkutan tentang pengenalan diri. Segala macam  hal, baik itu tentang materi, fisik dan kepribadian.
Ilmu itu luas dan bertaburan dimana-mana. Kita hanya perlu melihatnya dengan pandangan pelajar yang haus akan ilmu. Pertanyaan akan sering muncul bila kita ragu terhadap sesuatu. Bila terjadi sesuatu pasti ada sebabnya. Mulai dari hal yang besar tentang pengenalan diri. Bertahap sampai hal yang paling kecil. Kita hanya perlu menyadarinya.

Hampir saja aku menginjak seekor siput. Sekitar tiga ekor siput menyeberang di jalan halaman depan rumahku. Biasanya tidak pernah ada siput yang berada dekat ataupun di jalan ini.
Apakah masih ada siput lainnya ya di rerumputan samping jalan?
Bayangan dari pohon langsat menutupi sebagian cahaya lampu jalanan. Aku tak mau membunuhnya. Gerakan siput yang lambat membuatku harus hati-hati bila hendak pulang atau pergi tiap malam. Oh berarti siput adalah hewan nokturnal ya? soalnya jarang sekali lihat hewan ini pas terang atau ada cahaya matahari. Kadang aku menemukan mereka ada yang bersembunyi di bawah batu atau rerumputan.

Jumlah siputnya banyak juga. Mungkin rerumputan samping jalan ini jadi rumah baru buat mereka. Aku harus mengubah pola kebiasaanku bila lewat jalan sini dengan membuat cahaya pengingat.
Kegiatan yang kita kerjakan butuh 40 kali atau lebih melakukannya agar menjadi kebiasaan. Otak akan mengenali dan menghafalkan kondisinya. Permulaan mencoba memang sulit tapi lama kelamaan akan terbiasa dan kenal. Cepat atau lambatnya tergantung tekad kita yang kita punya.
Apa pesan sesungguhnya dari kejadian ini untukku?
Inti poinnya adalah kebiasaan.
Apakah ada kebiasaan yang harus aku perbaiki? jelas saja banyak.
Intropeksi diri.
Begitu rupanya. Sambil belajar dan memperbaiki diri aku juga harus meningkatkan kemampuan belajarku. Menjadi lebih baik tak hanya sekedar tekad saja. Tanpa diiringi kemampuan-kemampuan ampuh belajar akan sangat lambat meningkatkan kualitas diri.
Begitu ya. Ada banyak hal yang harus ditingkatkan.
Memaksimalkan penggunaan waktu untuk hal yang berguna saja. Sebelum belajar fokuskan niat untuk belajar saja. Membuang kegiatan yang tidak penting. Selalu ingat disetiap kegiatan pasti ada pesan pelajaran. Selalu ingat nilai pelajaran akan selalu bertambah walaupun pelajaran itu sudah kita kuasai.
Hmm apalagi ya?

Senin, 21 Januari 2019

Tujuan Saat Ini

Bukannya aku tidak mau bekerja. Tentu saja aku ingin bekerja. Namun untuk saat ini aku masih belum bisa. Ada beberapa alasan yang membuatku tertahan untuk melakukannya. Sebelum menjelaskan alasanku yang belum bisa bekerja aku ingin bertanya
Kenapa bekerja begitu dipermasalahkan sekali?
Sampai aku muak mendengar kalimat yang didalamnya ada kata bekerja. Aku menjadi sensitif dan berusaha menjauhi orang-orang yang mencoba untuk memaksaku. Sedikit saja gerak-geriknya terlihat akan langsungku jauhi.
Aku berniat menjelaskan alasanku bukan untuk mengubah pemikiran orang-orang tentangku, bukan juga untuk mengubah orang-orang berbuat sama sepertiku.
Termasuk dari bagian kisah si Monster Labil alasannya belum bisa bekerja merupakan gejala labil.
Memang kebutuhan keluargaku tercukupi, malah lebihan.
Apakah itu yang membuat pikiranku kaku kalau bekerja bukanlah hal yang penting untuk sekarang ini?
Bukan juga.
Jika aku menemukan suatu pertanyaan jati diri, pertama aku akan mencari jawaban sesuai pemikiranku. Kemudian mencari jawaban lain dari berbagai sudut pandang dan menyimpulkannya sesuai logika dan landasan ilmu.

Bekerja bagiku adalah suatu pekerjaan yang memiliki tanggung jawab yang besar. Walaupun pekerjaan itu hanya sebagai tukang pemecah batu aku tetap menganggap pekerjaan itu memiliki nilai yang besar.
Aku telah mendapatkan pandangan baru dari kemampuan Beater untuk
menilai kepribadian seseorang dari usahanya bekerja. Bukan melihat dari hasil melainkan seberapa ikhlasnya ia berusaha.
Seseorang menginspirasiku.
Pekerjaannya memang tak seberapa tapi melihatnya tetap tersenyum tulus ketika bercanda dengan temannya membuatku terpesona. Keringat dan baju kotornya sebagai tanda kalau ia telah bekerja keras.
Keren..
Iya, itu ungkapan kagum dari hatiku yang paling dalam.
Udah ganteng pekerja keras lagi. Keren abis dah.
Ingin sepertinya?
tentu saja aku mau tapi.. aku juga sudah pernah melakukan hal yang sama sepertinya. Bedanya aku dengannya mungkin hanya tujuan saja. Tujuan untuk bekerja.

Aku ingin tujuan yang lebih realistis. Bekerja hanya untuk mengumpulkan uang kurang tepat sasaran. Ini alasan kecil saja. Aku tahu suatu saat nanti aku akan sangat membutuhkan uang untuk segala macam keperluan. Seperti yang ku bilang tadi tujuan yang realistis. Masa depan itu tidak ada yang tahu.
Terdengar konyol sekali alasan kecilku ini. Ya memang seperti itu kelihatannya. Tapi pernah terbesit apa penyebabnya kalau alasan yang kecil saja sudah membuatku terlihat konyol. Bagi kebanyakan orang hal kecil seperti tujuan yang jelas nyata sering diabaikan. Secara acak menempatkan suatu tujuan merupakan tanda jati diri yang belum sempurna. Hal kecil saja aku permasalahkan apalagi hal yang besar.
Yang aku maksudkan adalah Labil..
Seseorang yang terbelenggu oleh kepribadian yang tidak stabil cenderung bingung dalam memilih pilihan. Memang aku sudah mendapatkan jati diriku dan tujuan utama ku saat ini ialah
"Menyempurnakan karakterku"
Mendapatkan jati diri belum tentu telah menyempurnakan karakter seseorang. Masih banyak bagian-bagian lainnya yang perlu ku cari dan disatukan.
Sub kepribadian belum sepenuhnya ku ketahui. Emosi yang kadang melonjak dan mudahnya tenggelam dalam kesedihan. Banyak hal yang ingin ku pelajari tentang diriku. Semua pasti ada penyebabnya.
Misalnya aku berkerja sambil melengkapi bagian diriku, mempelajarinya dan melakukan percobaan.
Apa yang akan terjadi pada sekitarku?
Labilnya seseorang dapat membuat sekitarnya merasakan dampak dari kelabilan tersebut.
Banyak sudah respon ekspresi dari berbagai orang yang telah ku temui.
Ada yang bingung. Marah. Tersadar. Ikut merasa sedih. Ceria ketika bersamaku. Jatuh cinta. Merendahkanku dan lainnya.
Tak banyak teman yang mau berlama-lama bersamaku.
Nah bagaimana jika dampak labilku membuat teman kerja ataupun sekitarku merasakannya.
Iya!..
Ini masalahku yang paling serius dan alasan sebenarnya mengapa aku tidak bisa bekerja untuk sekarang. Di tambah lagi tenagaku tak sekuat laki-laki pada umumnya. Kekuatan Beater itu ialah tenaga cadangan tubuh. Memaksimalkan itu artinya bisa menggunakannya secara baik. Misalnya aku berlebihan memakainya artinya gak ada lagi tenaga buat pertahanan tubuh. Imun tubuh menurun. Penyakit pun mudah masuk.
Makanya aku sering sakit-sakitan.
Aku tahu juga kalau ada banyak di luar sana pekerjaan yang sedikit memakai tenaga. Misalnya berjualan.
Lagi aku mencoba menggugurkan saran tersebut karena ingin belajar banyak hal. Mengaji saja masih banyak salah padahal nama ku Hafidz, seharusnya penghafal Al-Qur'an.
Beginilah.. alasan-alasan yang terus memutari otakku.
Pernah aku membaca jikalau seseorang sudah berumur lebih 25 tahun yang kesehariannya hanya diisi untuk bersenang-senang tua nanti bakalan banyak mengeluh. Umuran remaja seharusnya diisi buat belajar.
Itu benar sekali. Aku bisa merasakannya.
Meraih semuanya dalam waktu bersamaan gak mungkin bisa.

Apa yang akan disesali nanti gak bakalan terulang..

Banyak simulasi yang telah aku lakukan untuk mencari solusinya. Penghambatnya hanya dua saja yaitu gak ada dukungan dan banyaknya intimidasi yang bikin down. Aku memang diberi kebebasan untuk berbuat apa saja. Namun hati ini gak ingin membuat orang lain kecewa atas apa yang ku perbuat.
Apa yang ibuku berikan padaku akan ku balas nanti, sekarang dan sampai akhir hayat.
Poin penting hanya terletak pada ibuku. Bila ibuku telah menegurku untuk bekerja maka akan aku lakukan. Aku memang suka diberi perintah tapi secara baik dan benar. Bukan budak atau penyakit kepribadian. Diperintah oleh seseorang yang jelas bagus kepribadiannya atau diarahkan olehnya bisa saja aku lakukan.
Kedudukan.
Karakter yang bagus diatasku bisa jadi inspirasi dan motivasi untukku. Tapi yahh gak semua orang punya karakter yang sempurna.. haha..
Aku takut berbuat salah pada orang lain. Takut mengecewakan. Ini ungkapan dari Zheill.
Apa yang sebaiknya aku lakukan atas keputusanku adalah tanggunganku sendiri.
Untuk sekarang aku tetapkan keputusanku untuk menyempurnakan karakter dan mengkaji ilmu agama banyak-banyak.
Situasi penentu yang pasti akan menggerakkan tubuhku untuk banting tulang ketika nanti jika nenekku... hmm.. kematian itu pasti tapi masih tidak tau kapan. Intinya aku juga masih terikat dengan rumahku. Banyak hambatan yang muncul dari orang lain.
Eh bukannya itu artinya aku belum bebas. Benar juga sih alasan lainnya aku ada di rumah ini karena ingin merubah orang-orang di dalamnya.
Terlalu banyak alasan.
Ahhh!!
Si Hapis ingin belajar baca Al-Quran dan mengubah anggota keluarga, Zheill ingin menyempurnakan karakter dan Beater ingin sendirian tak ingin berbuat salah dengan orang lain.
Ahhhhh!!! labillll..
Jalan yang dipilih tak selalu sama dengan pikiran kita. Cobaan selalu datang disaat kita lengah. Gunanya agar kita selalu siap dan menjadi pribadi yang kuat.
Aku niatkan untuk saat ini berjuang menyempurnakan karakterku dan mempelajari dasar-dasar kemampuan mutasi agar bisa bertahan terhadap cobaan diri yang akan menerjangku.

Efek Enchanter!
Artinya bukan tentang penyihir.
Enchant artinya mempesona kan?
lalu "-er" kan orangnya haha
Jadi artinya yang sesungguhnya adalah seseorang yang mempesona wkwkwkw..
Mempesona selalu percaya diri dan bawaannya bersemangat.
Gabungan dari dua karakterku Hapis dan Beater menjadi Enchanter ululululu~

Senin, 07 Januari 2019

Harga Diri

Lelah banget..
Mata 5 watt..
Hari ini mesti mengambil uang pensiunan kakek ku pula. Terus setelahnya menghadiri tetangga yang meninggal dunia. Hmm.. Kayaknya cuman siang ini aja aku bisa tidur sebentar. Bahaya banget loh kalau aku sampai kurang tidur, nanti kepribadian labil ku bisa lepas lagi, ah maksudku yang titik-titik cahaya pengingat itu, yang gunanya untuk ya iyalah untuk mengingatkan.
zzz..
Memasuki mode hemat biaya. Mengecilkan pembagian fokus untuk hal yang lebih penting seperti pengendalian emosi, tetap ramah dengan orang lain dan kebiasaan penting lainnya. Ya harus diniatkan sejak awal supaya dipermudah.

Sampai di kantor pos. Aku melepaskan helm ku terus berjalan menuju ke pintu depan. Ah aku melihat sudah banyak orang tua berkumpul. Kebanyakan kakek-kakek  ya emang para pensiunan sih.
Berjalan, aku tak sengaja meninggikan diriku dengan menegakkan wajah, membusungkan dada dan auraku.
Ah aku kelupaan. Khilaf. Gak boleh sombong.. gak boleh.
Untuk menetralkan tindakan dan mengubah pikiran mereka tentang ku aku memberi senyum salam.
Good.. nice step
Masalah pertama bisa teratasi.
Masuk ke dalam ruangan. Setelah meletakkan kartu pensiunan di tempat antrian aku mencari tempat duduk. Ew banyak orang, tetap bertindak murah senyum. 3:)
Aku melihat ketua RT tetangga duduk di bangku dekat pintu. Ada ruang di sampingnya tanpa pikir panjang aku langsung milih duduk di sebelahnya. Ah pilihan yang bagus. Bagus artinya merujuk ke kondisi. Bukan karena ada yang bisa diajak ngobrol tapi karena bisa menutupi keberadaan. Aku suka keadaan dimana saat orang lain tidak menatapku. Di sudut ini, aku duduk membelakangi orang-orang.
Yaa.. aku sedang belajar menekan kemampuan penglihatan Beater ku. Memilih pilihan yang baik untuk bisa asyik sendiri agar mengabaikan orang di sekitar dengan mengalihkan pikiran, contoh main game. Mengabaikan kepribadian mereka.
Ew suasana hatiku sedang bagus nih walaupun mengantuk, makanya karakter diri lebih ke sisi sifat asli. Pengambilan tindakan akan sesuai yang disarankan, jawaban yang baik yang terlintas ketika muncul pertanyaan pilihan.

Aku berjabat tangan dengannya.
"mewakili nenek mu ya?" katanya
"inggih(iya), kasian nenek sudah tua malah disuruh ke sini melulu"
Tak terlalu banyak yang kami bicarakan karena aku berusaha untuk tidak banyak bicara. Pembicaraan yang tak terlalu bermanfaat akan aku respon dengan tertawa kecil(beda nada), gerak gerik dan balasan singkat yang kurasa cukup. Kurasa? yaa menyesuaikan apa yang kita anggap cukup, mungkin kalau ketemu sama orang yang suka bicara beda lagi. Yang suka bicara itu pasti tukang gosip, yang suka gosip pasti suka merendahkan orang lain. Naluriku mengatakan untuk harus selalu jaga jarak dengan penggosip. Sebab dalam peningkatan pergaulan ada kalanya membuat kebiasaan dengan tiap orang. Jika aku bisa terus mempertahankan diri untuk tetap terjaga dari penggosip sampai tua nanti maka akan jadi kebiasaan baik. Terlebih penting saat-saat dimana aku belajar dalam bergaul adalah bagaimana semua pihak merasa tenang atau tidak mengecewakan mereka. "Buatlah mereka senang ketika berjumpa dengan ku supaya silaturahmi bisa terjalin"
Niat dengan membesarkan Kemuliaan Nabi kita Baginda Muhammad s.a.w.
Ketegasan dalam pendirian sedikit menyulitkan juga. Misalnya aku terlalu mementingkan diri pribadi akan ada ketidakseimbangan keadilan. Yup! dulu aku sering banget ngelakukannya. Sok merasa sendirilah yang paling benar sehingga banyak yang terabaikan. Berandai pun percuma.
Semua menjadi penyesalan yang tak berguna
...
Sesekali aku melihat keadaan sekitar untuk memastikan. Memastikan apa? kalau ada teroris wkwkw ngaur. Gak lah. Hanya sekedar antisipasi saja.
*uhhh
Lelah banget, nunggu antriannya lama. Pak RT sudah mendapatkan gilirannya.
Setelah 3 antrian dari pak RT tetangga tadi akhirnya giliran ku tiba.

"neneknya sakit kah?" tanya kakaknya
eh? bukannya bulan kemarin aku sudah menjelaskannya.
"aa nenek ulun punggungnya mudah sakit bila kelamaan duduk" apalagi berkendaraan pas ngelewati jalan berlubang.
Kakanya menunjukkan ekspresi tidak puas dengan memonyongkan bibirnya. Emm aku gak mungkin bohong. Apa kakanya khawatir kalau aku menindas nenekku? lol, mana mungkin.
Kemudian kakaknya menanyakan lagi di mana rumahku. Aku menjawab. Jangkung RT 3. Dekat mana katanya lagi.
"tikungan kak sebelum jembatan pokoknya"
RT tempat ku tinggal gak memiliki jalan simpangan cuman lurus gitu aja jadi mana mungkin orang bakal kesasar.
Tapi kakanya malah kebingungan. Apa aku kurang penjelasanku kurang jelas? semakin bingung kami berdua jadi sama-sama bingung.
Au ah aku mulai pusing..
"nih ini uangnya 1 jt sekian"
Oke makasih kak. Aku menaruh uangnya ke dalam tas.
Terdengar suara dalam hatiku, bisikan jahat.
Lol!!! buat apa juga aku ngambil uang nenekku. Membisik malah terang-terangan, payah.

Setelah mengambil uang pensiunan selanjutnya menghadiri kematian. Buat perempuan termasuk nenekku ingin nyumbang semangkuk beras dan bantu-bantu. Kalau aku sih lihat situasinya dulu apakah bisa bantu atau tidak biasanya laki-laki cuman sholat fardhu kifayah dan berdzikir untuk si mayat/mayit.
Sampai di tujuan.
Aku bersalaman dengan orang yang mudah terjangkau aja. Karna masuk ke dalam area perkumpulan bukanlah pilihan yang bagus untukku. Aku memang suka menyendiri dan lebih memilih menyendiri.
Penyebabnya tau sendiri kan?
Aku melihat beberapa bapak-bapak sedang membuat sesuatu dari papan kayu. Mungkin peti untuk si mayit. Kalau makai peti berarti daerah pemakamannya berair. Aku mendekat agar bisa bantu-bantu.
"sini ulun bantu" ucapku meminta gantian dengan pak Upik
Pak Upik menyerahkan gergajinya padaku.
Oyey! dapat nilai partisipasi >_<
Sedikit aku menggergaji berasa sekali kalau tanganku gak bertenaga. Eww.. udah lama banget aku gak olahraga. Ya soalnya tiap hari masalahku cuman satu.. yaitu ngantuk.
Mau buang amalan berarti dosa dong. Menyalahkan fisik juga dosa. Entahlah.. emang gak semua hal bisa kita jangkau. Ikhlas menerimanya adalah tindakan terbaik.

*drrttt
Awww.. urat belakang leherku memintaku agar segera istirahat. Sayangnya belum saatnya. Tapi.. duduk sebentar gak papalah toh aku gak dapat lagi giliran buat bantu-bantu.
*hoamm
-__- uhh makin serem aja nih ekspresi wajahku karna mata panda.
Terdengar dari belakang suara kendaraan. Memarkir? Aku menoleh kebelakang rupanya orang tuanya Aldy. Aku mencoba tersenyum kecil sebagai sapaan namun ekspresi dan hawa-hawa udara di sekitar mereka seperti tidak senang. Bukan karena tetangga mereka.. tapi karna aku.
Kenapa bukan karna tetangga? karena dulu keluarga mereka pernah bertengkar. Sedikit ku pastikan itu. Tapi hadirnya mereka menghadiri tetangganya yang berduka bukankah itu artinya hubungannya memang baik.
Alasannya? baik apa ada tujuan ataukah murni ke ikhlasan diri?
Bukan tentu bukan itu masalahnya tapi aku. Ya aku.
Kenapa aku? karena aku sering mengajak anaknya pergi ke warnet sampai pernah kena tilang ha ha ha.. bahkan beberapa minggu kemarin si Aldy ketahuan orang tuanya pergi malam-malam lagi ke warnet. Tentu saja itu jadi salahku. Karena telah tertanam dalam pikiran orang tuanya kalau "pasti" aku yang mengajaknya.
Hmm..
Kemudian aku bisa membaca apa yang terjadi.
Jangan berteman lagi dengan si monster labil, sudah pengangguran pasti punya banyak masalah..
Dan wajah suram ku hari ini pas banget Critical Strike saat jumpa orang tuanya.
Gak juga orang tuanya Aldy. Tapi teman di group tahu bulat.
Aku melihat semua bayangan dari hubungan ortu teman ku dengan anaknya.. mengenai aku.. membicarakan tentangku.
Hmm..
Berteman dengan mereka gak semudah seperti dulu lagi. Makanya aku sering diam tak banyak bertingkah seperti dulu. Karena Hapis itu kekanakan. Tak akan pernah punya teman yang dewasa.
Harusnya aku punya perkerjaan yang tinggi agar bisa menyamai kedudukan mereka.
Fear..
Pikiranku mulai tenggelam dalam pikiran negatif.
Aku mendengar obrolan ibu-ibu yang tak sengaja ku dengar. Terdengar ada namaku dalam obrolan mereka.
Ahh..
Satu saja masalahnya yaitu apa yang sedang ku kerjakan. Apakah memang harus punya jabatan tinggi agar bisa berbicara dengan mereka dan tak dipandang sebelah mata.
Sayangnya aku tak seperti mereka. Itulah alasan mengapa aku berkhayal bisa bertemu kembaran ku.
Aneh juga ya.. manusia..
Ingin menunjukkan kehebatanku, ditepis dengan kalimat;
orang-orang yang membencimu tidak membutuhkan kelebihanmu..
Juga jika aku melakukannya termasuk orang yang sombong.
Jika aku emosi pasti yang terlintas dalam benak adalah bagaimana cara membungkam mereka.
Menghindar dari masyarakat juga mustahil.
Lalu kenapa aku tidak kerja saja? karena aku punya pendapat yang membuatku tertahan untuk melakukannya..