Sabtu, 05 Oktober 2019

Harus Diubah

Banyak sebagian orang yang berubah karena telah mendapatkan pengalaman berharga dalam hidupnya. Bahagia, rasa sakit, sedih, dendam dan lainnya, semua menjadi pondasi terbentuknya sosok karakter yang berbeda-beda. Tapi ada juga yang murni bawaan dari lahir. Atau.. keduanya bawaan lahir dan kumpulan pengalaman, inilah kasusku. Ya~ enggak hanya aku juga sih sebab ini umum.
Dengan sudut pandang seperti ini kita bisa melihat bagaimana orang tua berusaha membantu anaknya menjadi orang besar. Dari kecil mendapatkan pendidikan hingga dewasa sampai lepas tangan. Anaknya bisa terbang sendiri, menjalani kehidupan seorang diri. Orang tua yang sukses.
Melihat pada diriku sendiri apakah orang tuaku atau ibuku gagal mendidikku?
Jawabannya..
Benar, juga, tidak..
Kompleknya tiap orang-orang pasti memiliki masalah berbeda-beda walaupun sedikit juga adanya kesamaan.
Pada kasusku, ibuku terpaksa harus bekerja atau mencari seseorang untuk menafkahi kami karena ayahku meninggal ketika aku masih kecil. Ahh kalau flashback pasti teringat si b*ngsat, penyihir s*nting. Singkatnya ibuku mendidikku dengan cara memberikanku ruang agar bisa belajar sendiri. Namun jika ada masalah yang pelik ibuku berusaha menghentikan ku. Tapi.. aku orangnya percaya diri karena aku bodoh dan polos. Hapis.
Percaya diri disaat yakin, bodoh saat mengabaikan perkataan orang-orang dan polos berusaha menjauh dari hal yang mustahil.
Naluri dan hati.
Aku bisa merasakan yang tak bisa aku lihat dan memiliki hati menjadi orang yang bijak. Tapi kadang menyimpang karena ingin belajar. Selama ada motivasi dan keyakinan sesulit apapun situasinya Hapis takkan pernah menyerah.

>>Sorot mata yang menjanjikan keberhasilan dan auranya mengundang rasa suka pada orang-orang yang ada di sekitarnya<<

_
Ibuku pulang ke rumah dan keluarga juga berdatangan. Suasana jadi rusuh, tentu saja aku tak terlalu suka. Supaya diri tetap tersadar aku lebih memilih berdiam dan tak banyak bicara. Sengaja diri terbawa suasana bisa menyebabkan diri lupa dan respon berusaha mengikuti arus agar tetap stabil. Kesenangan ibarat berenang ke dalam kolam, semakin ke tengah semakin jauh untuk kembali ke darat. Rasa lelahnya pada pikiran. Semakin lelah maka kesalahan semakin meningkat. Respon asal jawab pun terjadi. Ini yang aku takutkan.
Karna sering sekali aku mengalaminya aku pun berusaha meningkatkan kesadaranku. Kalau gak salah waktu bersekolah SMA dulu kayaknya aku sudah meningkatkan kesadaranku yang bersamaan melengkapi kemampuan Beater. Angin hanya jadi sumber tenaga api. Kekurangan Hapis dapat dilengkapi dengan kemampuan Beater.
Fungsi kesadaran hanya diri kita sendiri yang tahu.
Ibarat memakai topeng.

Mengenai topik pembicaraan ketika keluarga berkumpul gak terlalu pasti. Pertanyaannya apakah mereka akan membicarakan tentangku?
oh, kemungkinannya kecil sebab mungkin saja mereka sudah membahasnya lewat telpon.
Aku percaya dengan ibuku dan ku yakin ibuku juga percaya denganku jadi kenapa harus takut.

Cucian cukup banyak, ibuku prihatin denganku. Tapi aku bilang gak apa-apa kok soalnya aku tak ingin ibuku pusing. Kemudian adikku mengambil kesempatan menambahkan cucianku, yep aku juga mencucikan pakainnya. Namun cara dan ucapan yang adikku lakukan itu membuatku emosi. Selalu saja kelakuannya itu membuat orang emosi. Aku berkata tajam supaya menyerang sifatnya, sifat ayahnya itu hancur. Di dalam hatiku aku sadar kalau cara ini memang kelewatan tapi mau bagaimana lagi.

Merasa selalu tertekan akhirnya adikku mengadu pada ibu. Tentu saja ia mengharapkan diperlakukan baik dengan mengadu pada ibu.
Masa iya? perilaku buruk yang dimiliki adikku itu perlu didukung?
Dia tak pernah hormat denganku, menyalahkanku, apabila benda miliknya lecet saja sedikit gara-gara ku ia memarahiku.. penyayang harta, bikin enek. Di dalam dirinya itu, sifatnya itu yang ingin aku lenyapkan. Aku saja sewaktu kecil tak pernah sepertinya, yaa aku tahu itu. Sudah habis pikir bagaimana cara agar bisa merubahnya.

"fidz jangan begitu sama adik, kalau berantem terus nanti mama gelisah di sana.."
"habisnya, kelakuannya itu selalu bikin orang emosi, tak pernah hormat, tak pernah menghargai orang yang lebih tua"
Siapa juga yang mau bersikap kasar kalau bukan ada yang salah padanya. Sedari dulu selalu saja bikin aku sakit hati. Yaa wajar saja darahnya itu berbeda dengan aku dan kakak.
Ibu sedikit menasehatinya.
Benar juga. Selama ini aku selalu memaksa orang-orang agar menyadari sendiri kesalahan mereka karena aku tahu jika kita sendiri yang menyadari kesalahan maka peringatan itu akan membekas dan menjadi cahaya pengingat terbaik yang akan membantumu berkembang. Akan tetapi sebagian orang ada yang tak bisa menyadari sendiri kesalahan mereka. Kenapa begitu?
Syukurnya ada ibu yang menjadi perantara agar adikku menyadari kesalahannya. Sebuah tumpukan PR yang sangat sulit. Aku juga mendapatkannya.
"fidz kamukan sudah bisa berpikir sementara adik belum.."
Nah itu cocok banget.
"baik-baiklah, nanti mama gelisah di sana"
hmm.. aku hanya terdiam, ini sulit sekali, kemungkinan aku akan melanggarnya.

Ketika sedang berkumpul di luar kaka Rida, suaminya dan anaknya datang bersilaturahmi.
Singkat saja silahturahminya dan langsung hendak ke rumah. Saat bersalam-salaman kaka Rida memegang tanganku, seharusnya bukan muhrim, aku tak sempat mengelak. Lalu kaka Rida berbicara pelan padaku.
"tunggu ya fidz nanti kaka akan usahakan supaya bisa diterima kerja"
Aduh golok golok. Ada aja orang kek gini. Sumpah emosiku naik lagi.

Healing

Aku tahu, mengabaikan keluarga itu adalah tindakan yang salah. Bagaimana pun juga mereka pernah membantuku ketika aku masih kecil. Seperti kata orang tua kebanyakan "ingatlah usaha mereka hingga kamu bisa jadi orang sekarang ini" dikekang oleh kalimat bodoh itu seorang anak takkan pernah bisa menjadi dirinya sendiri.
Tetapi..
Aku berbeda..
Aku bisa melepaskan diriku sendiri dan mengikuti naluriku sendiri. Aku memilih mana yang baik dan tidak semuanya akan jadi pelajaran untukku.
Seberapa banyak uang, jasa, dan segala macam bantuan yang diberikan untukku takkan bisa menundukkan diriku. Bersembunyi di balik kata-kata balasan sebagai senjata untuk mengekang.

Abaikan yang kamu lihat dan ungkapkan kebenarannya..

Ibuku saja tak pernah mengekangku..
..
Jadi apa aku harus mengikuti ego bodoh kalian?
Tubuhku menjadi trauma mengingat tindakan kalian yang pernah menyakitiku. Berbeda dengan serangan fisik, serangan mental jauh lebih menyakitkan. Syukurnya aku punya karakter Hapis yang lekas pulih dari kondisi terpuruk. Jika seandainya aku terlalu larut dalam kegelapan mungkin saja aku akan bertindak jauh lebih bodoh.
Repotnya ada para pengganggu yang sengaja masuk dalam kehidupanmu.

_
Masalahnya, to do point saja.
Bagaimana cara agar aku bisa memaafkan mereka?
Berhubungan sebentar lagi adalah hari raya. Jujur jika bukan karena perintahNya, Yang Maha Memaafkan, aku takkan pernah memaafkan mereka.
Ya~
Aku juga berharap agar bisa mendapatkan kemenangan dibulan Ramadhan ini dengan memperbaiki semuanya.
Memang ya..
Kalau ingin menjadi orang yang lebih baik lagi ujiannya pasti selalu sulit. Kadang emosi menelan pikiran sadar. Menjadi buta akan hal yang seharusnya dilakukan. Dan anehnya lagi, selalu saja kita yang berjuang, yang harus melakukan semuanya, untuk sekitar kita.
Tidak mudah..
...

Waktu semakin mepet, hingga habis. Kesempatan yang aku cari telah hilang seperti sebelumnya.
Aku sadar, kekurangan diriku banyak sekali.
Sebulan ini aku hanya berputar-putar gak jelas melakukan aktivitas biasa tanpa usaha yang nyata. Persiapan yang sedikit dan ilmu yang kurang.
Apakah ada kesempatan lagi nanti?
Jika ada, maka aku akan lebih cermat lagi, lebih teliti lagi, lebih siap, lebih cepat dan tanpa celah.
Jangan sampai yang tersisa hanya penyesalan.

Hari raya tiba..
Kemenangan sesungguhnya adalah ketika kita bisa memaafkan orang-orang yang pernah menyakiti kita.
Aku sedikit menangis karna tak mampu melakukannya..


>>>> Hapis si Pencinta Kedamaian <<<<

Malam hari raya adalah reuni aku dan teman group Tahu Bulat ku. Aku masih ingat, seharusnya aku tidur lebih sih supaya bisa berharap dapat bermimpi Guru. Tapi.. uhh aku rasa, aku ingin mementingkan teman-temanku soalnya lama gak ketemu.
Sudah menjadi tradisi kami, jalan-jalan ke taman kota di malam hari raya. Yep, kami jalan kaki saja.
Sepanjang jalan kami membahas hal-hal yang gak penting sebagai bahan candaan. Mulai dari membahas game, anime, bocah empire sampai khayalan perang antar sekolah bocah empire menguasai daerah kami.
Kocak! sumpah kocak banget!
Ah, kalian ingin tahu arti dari bocah empire?
kami menyebut mereka bocah empire karena anak sekolahan yang bar-bar bikin senjata tajam dari seng, gir motor bahkan membeli katana.
Hahaha! konyol banget kan!?
Bahkan ada juga ahli besi yang bikinin senjata aneh gituan.
Wkwkwk!
Kami tertawa terbahak-bahak, sudah lama aku gak tertawa lepas.
Yep, hanya ada satu tempat dimana aku bisa tertawa lepas menjadi diriku yang damai. Melepas rasa lelah dari semua masalah dunia dan orang-orang. Rasanya melegakan. Namun aku tetap menjaga imanku agar hati tidak mati. Ingat siapa yang memberi nikmat agar diri terjaga.

Sebelum pulang ke rumah, kami masih belum puas, rasanya masih ingin ngumpul bareng. Akhirnya kami bersantai di depan toki Abdi berbincang-bincang apa saja yang asik.
Lama bercerita jadinya pembahasannya ke masalah penciptaan dunia dan terus berlanjut tentang agama. Aku jadi semakin semangat membahasnya, ku lihat Aldi juga antusias. Semakin seru dan berujung ke pembahasan akhir zaman. Tentang kiamat dan agar selamat ke akhirat. Amalan-amalan yang bagus untuk diamalkan. Seperti sholat tahujjud, dhuha dan bacaan surah. Aku rasa tidak baik jika hanya memendamnya sendirian. Ilmukan harus dibagi apalagi dengan teman baikmu. Jika temanmu alim dan kuat imannya siapa tahu nanti diakhirat bisa memberi syafaat, menolong agar masuk surga.
Tidak ada yang tahu dengan masa depan orang-orang yang kita hina, siapa tahu mereka nanti bisa jadi lebih baik lagi yang tingkatnya jauh di atas kita. Tapi bukan berarti jika mereka sudah sukses kita seenaknya mengungkit yang kita sebut "kebaikan" menolong mereka.
"kalau enggak aku yang beritahu/menolongmu mana mungkin kamu bisa sukses"
Itu salah. Seolah-olah mengakui kalau kita yang bisa memberi petunjuk. Sombong kuadrat.
Aku selalu berusaha agar menutup mata pikiranku agar tak melihat kejelekan orang-orang sebab aku juga tak ingin dilihat demikian.

Huftt...