Selasa, 30 April 2019

Ayo Bertarung

Bila aku hendak bermain Dota dalam kondisi prima biasanya aku akan merasa gugup. Membayangkan bagaimanakah kemampuan lawanku nanti dan strategi apa yang harus pakai. Perasaan tertantang muncul. Adrenalin telah meningkatkan denyut jantung. Merespon tubuh untuk siap tempur dalam pertarungan Ancient Defend.
Ah.. terkadang ada perasaan tertindas karena bocah warnet permainannya jauh lebih bagus daripadaku -__-
Ew.. aku ingin bermain jauh dari mereka.
Permainanku atau kemampuanku bermain dota masih dibilang rendahan. Skalanya mungkin 8-6 dari 10 kedudukan. 1 yang paling top pemain.
Aku bermain Dota hanya untuk bersenang -senang namun tetap bermain maksimal. Aku paling suka dengan permainan yang bisa mengeluarkan seluruh kemampuanku dalam tanda kutip fair game. Sedikit demi sedikit aku meningkat sekaligus mempelajari dengan mengoreksi diri dari cara bermainku.
Sayangnya, aku sudah jarang ke warnet.
Entahlah rasanya lebih asyik beribadah dibanding bermain game yang hasilnya tak terlalu pasti. Ya kan aku main game cuman buat bersenang-senang namun tetap mengerahkan seluruh kemampuan.

Aku ingin melihat hasil dari peningkatan kemampuan diri lewat bermain. Permainan Dota itu tergantung pada kemampuan tiap player individu. Salah seorang dari team permainannya kurang bagus pasti akan memberatkan kawan lain.
Ada istilah "gank" menyerang lawan yang lagi lengah bersama-sama. Kadang rencana bisa gagal dan akan membuat kita berpikir cerdik mencari solusi. Menepatkan langkah dengan cepat dan teliti. Sigap dan tenang tanpa merusak keyboard warnet -__-. Mempelajari tiap pola pemain lawan maupun team.
Membahas kelebihan bermain Dota bukan bermaksud untuk membuat kalian bermain juga. Aku ingin menyampaikan di setiap aktivitas kita bisa mengambil pelajaran hidup.
Lewatilah limit kemampuan kita.

>>Monster Labil <<

Sesuai dengan kepribadian ku yang punya 3 karakter berbeda. Tanpa sadar kalau dalam game Dota para hero juga memiliki tipe berbeda layaknya karakter ku.
Agility, Intelligence dan Strenght.
Update-an terbaru ini ada penambahan stats, yaitu..
Agilty= kecepatan serangan(AttSpd), pertahanan(Ar) dan yang baru kecepatan langkah(MvSpd)
Intelligence= Mana poin(Mp), Mana Regen(Mr) dan yang baru spell ampilfity atau tambahan magic damage
Strenght= Health Poin(Hp), Health Regen(Hr) dan spell resist atau ketahanan dari serang magic damage.
Dulu aku sempat heran kenapa Agility gak ada kecepatan melangkah. Malah yang ada sebuah stats armor. Gak logis banget. Aku ragu karena jika kecepatan sebagai pertahanan maka bagaimana dengan item Armor zirah yang berat dipakai bergabung dengan kecepatan serangan. Susah kan?
Seharusnya armor tergolong dalam stats Strenght. Di semua item Armor pun gak pernah ada zirah yang menambahkan stats Agilty. Kalau benar ada pada Update-an terbaru yang akan datang berarti armor tersebut tergolong dalam jenis baju atau pakaian yang ringan. Kan Agility.. ya begitulah.
Eh bukannya Hapis sering ragu juga merupakan bentuk pertahanan diri? Ah..
Tapi sekarang Update-an yang terbaru ini gak lagi bikin gue pusing ekwkwk. Pokoknya fix dah karena ada tambahan stats Movement Speed.

Ya.. aku juga gak nyangka kalau karakterku pas dengan tipe Hero di Dota.
●Hapis itu Agility, warna hijau.
Sifat asliku yang bertumpu pada kecepatan harus bisa seimbang dengan pemikiran. Tapi berpikir bukanlah gaya dari sifatku, jadinya kemampuan insting hadir melengkapi karakter asliku.
●Intelligence itu Zheill
Pemikir sekaligus bisa mengendalikan emosi sesuai benget dengan tipe Hero Intelligence di Dota yang kebanyakan para pengguna magic/sihir. Semakin rumit dan banyaknya opsi serangan sangatlah bagus. Kau tahu Hero Invoker di Dota yang tingkat kesulitannya tinggi. Jika aku bisa atau berani pakai tuh hero di pertarungan berarti karakter Zheill sudah bagus. HA!
●Strenght itu Beater whohoho..
Kuat identik dengan power dan pertahanan yang tinggi. Semakin kuat semakin banyak Health Poin, semakin mudah pulih dan pastinya pemberani. Kebanyakan Hero Strenght adalah tanker sekaligus initiator.
Mengingat kejadian bangkitnya karakter Beater karena si tukang santet dan penyihir bangsat perusak hubungan keluarga, Update-an terbaru yaitu stats Spell Resist sangat cocok dengan pengguna Strenght begitu pula Beater.
Last Berserk!!!
Sampai tujuan benar-benar hancur Beater takkan goyah.

Nah jadinya hampir semua hero di Dota 2 bisa aku pakai dan ku kuasai terkecuali hero yang tingkat kerumitannya tinggi. Namun yang namanya sifat asli takkan pernah bisa dibuang. Cenderung diriku lebih menyukai hero tipe Agility. Yah begitulah apalagi dengan Hero Juggernaut owowowo!!! Hero andalan.
Alasannya? Karena pedang bisa jadi senjata  dan sebagai tameng. Logisnya gitu wkwkw.
Di dalam pertarungan.
Tergantung suasana hati akan memunculkan karakter lain. Jarang banget sepenuhnya sifat asliku tak ambil peran. Jika pernah~
*eng ing eng
Respon ku pasti selow!
Makai hero yang jalannya laaaaaaaaambaaaaaaaat bingitz.
Makai mouse lambat, farming ngumpulin uang lambat.. ahhh!!! Bukan gua bingitz!!
Item Situasi.
Aku yang dulu, yang lagi kacau-kacaunya suka memilih item yang tak sesuai dengan tipe hero atau tak mendukung dengan gaya hero yang dipilih.
Misalnya- ah bukan misalnya lagi tapi sudah pernah terjadi.
Tanker bikin item penyihir
Support bikin item penyerang
Dan seterusnya yang bertentangan dengan tipe hero maupun gaya hero yang seharusnya meningkatkan mutu hero dipilih.
Aku menyelidikinya..
Kenapa diriku bisa begitu?
Ku dapatkan jawabannya karena diriku masih bimbang dengan pendirian. Kadang bisa tak sengaja mencampur karakter karena terbawa suasana. Setelah melihat pola kebiasaan ketika di tengah permainan maupun hasil dari permainan dan juga ketika Aldy bingung dengan gaya permainanku akhirnya ku sadari bahwa aku salah melakukan perhitungan karena belum tahu.
Pola yang sama, yang aku buat ialah..

Kesempurnaan

Penyerang/damage dealer sudah jelas-jelas penyerang malah bikin item Armor.
Tanker tak lengkap tanpa serangan karena belum tentu rekan teamnya bisa membantu menolongnya ketika sendirian begitu pula dengan Support.
Aku berpikir itu cukup dan harus melengkapi yang lainnya. Jadinya permainan ku sangatlah payah dan mudah dibunuh.
Seharusnya Dota itu permainan team. Kalau sudah banyak yang milih penyerang maka kita butuh Support, tanker dan disabler.
Perbedaan mengambil peran itu penting untuk saling melengkapi.
Jika peranmu sudah ditentukan maka berfokuslah hanya pada itu saja.
Sekian hahaha..


Senin, 29 April 2019

Dunia

Mendengar kata dunia apa yang pertama kali terlintas di benak kalian?
Apakah tentang luasnya? Keindahannya? Ataukah tentang nasibnya?

Kalau aku, pertama kali yang ku pikiran merespon dari kata dunia adalah tentang luasnya. Walaupun terpikirkan demikian, sebenarnya, aku belum sepenuhnya paham arti dari kata luas itu jelasnya seperti apa. Mengangguk paham tanpa menyeledikinya.
Di perjalanan kali ini sedikit ku pahami bagaimana luasnya dunia dengan  membandingkan usaha untuk melakukan perjalanan jauh. Tiap tempat dan daerah kami lewati. Bagiku yang pertama kali menyadarinya masih merasa perjalanan itu jauh dan melelahkan. Otak masih mengunduh memori tentang tempat dan segala macam hal yang telah direkam lewat indra penglihatan.
Aku bukanlah orang yang sangat teliti. Namun ada beberapa alasan yang membuatku harus memperhatikan sedetail mungkin. Salah satunya untuk menemukan..
Jawaban atas keraguan.

Aku ingin menganalisis semua tempat yang ku lihat dalam perjalanan kali ini untuk memastikan apakah ada keraguan tentang dunia yang kita tinggali ini. Maksudku  cacat.

Peraturan mutlak.
Bahwa Tuhan itu Maha Segalanya.
Artinya tidak mungkin ada kecacatan pada dunia yang telah Tuhan ciptakan.
Aku perjelas lagi. Aku hanya ingin memastikannya untuk mengokohkan diri.
Mulai dari membahas manusia.

Aku pernah berpikir bagaimana cara kerja manusia yang jumlahnya berjuta-juta bahkan lebih dengan banyaknya perbedaan?
Pertanyaan tersebut datang saat pertama kali aku mengetahui kalau kita, tiap orang memiliki 7 kembaran.
Kelas 1 SMA, ketika guru matematika atau wali kelas kami menduga kalau aku mirip kaka kelas yang pernah dijumpainya. Aku jadi gugup karena jadi pusat perhatian setelahnya aku tenang, aku berpikir menanggapi pertanyaannya.
Masih sekolah kah?
Tujuh kembaran? Apakah berbeda tempat? Apakah dengan hitungan aku dan enam lainnya? Kembaran fisik sajakah? Ataukah sama, kembaran menyeluruh, fisik, kepribadian, materi dan lainnya?
Pertanyaan demi pertanyaan mulai  berdatangan. Otakku mulai mengolah informasi. Menghitungnya dengan informasi dari berbagai aspek kehidupan yang aku ketahui.
Memilih tiap kepingan puzzle yang saling berhubungan untuk disatukan.
Sembari menikmati hidup aku mengumpulkan informasi tiap informasi.
Dan pada waktunya saat dimana ku merasa akan mendapatkan jawabannya.

Aku melihat dari berbagai sisi. Wajah, pakaian, pasangan, rumah, tanaman, harta benda, cara mereka berjalan, tertawa, mandi, bab di jamban -_-, mengendarai kendaraan, dan aku sendiri.
Sangat beragam.
Segala macam hal aktivitas yang kian detik, menit dan jam akan terus berubah membuat cerita masing-masing.
Aku melihat pola.
Budaya dan Teknologi...
Dari cara kita berpikir akan membentuk suatu kebiasaan yang sama dari tiap orang. Apa yang dihasilkan dari pikiran untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal. Puncaknya pikiran.
Semakin luas.
Daerah, provinsi, negara dan seluruhnya yang ada di muka bumi.
Jika kesamaan tiap kembaran sama keseluruhannya? Maka ada pola tertentu yang akan meminimalkan pencarian keberadaan lainnya yaitu fisiknya. Asia, Barat, Timur...
Tapi apakah hanya tentang fisik saja?
Pernah ku dapati kejadian dimana seseorang menemukan kembarannya.
Ketika sekolah temen kelas si Intan dengan guru geografi. Fisiknya hampir sama bedanya adalah umurnya. Sama kayak kejadian Aulia.
Selanjutnya, anak sosmed yang mengabadikan momen dimana dia bertemu kembarannya. Wajah sama, baju sama, gaya rambut sama. Yang lain tak ku perhatiankan karena ya tak terlalu penting.
Jika ditanya apa yang seharusnya membuatku tertarik? Ya tentu saja menyeluruhnya termasuk kepribadian dan pengalaman hidup.

Mungkin arti dari kata kembaran hanya merujuk pada fisik seseorang. Misalnya terdapat banyak persamaan itupun tak seluruhnya. Sebagai contoh seseorang yang sama fisiknya juga sama memiliki kekayaan materi namun beda pengalaman.
1.1.2.3.3.4. Kembaran 1.1.3.2.3.4.
Melihat banyaknya manusia di muka bumi ini bukan tak mungkin sih adanya persamaan yang hampir menyeluruh.
Pertanyaan baru muncul.
Apakah ada limitnya? Batas dari perbedaan tiap manusia?
Penyakit, ras baru, cacat, anomali dan hal lainnya.
Mungkin takkan pernah ada ya.. dan itu sangat luar biasa. Sangat terancang.

Jumat, 12 April 2019

Perasaan Misterius

Sore ini cuacanya mendung..

Persiapan sudah lengkap. Aku membuka pintu rumah dan melangkahkan kakiku menuju rumah Hakim.
Di depan toko Abdi aku disapa oleh ibunya. Katanya hari ini gak ada pengajian di guru Ahmad. Aku membalasnya "emm.. ulun hendak ke Bitin, Guru Danau".
Ibunya Abdi langsung mengerti.
Beberapa minggu terakhir aku tiba-tiba berhenti ikut pengajian guru Ahmad. Alasannya ialah aku belum bisa meningkatkan ilmu Tasawuf ku. Kalau ilmu tentang Tauhidul Ap'al aku bisa paham dan sedikit demi sedikit mengamalkannya. Seterusnya bila ingin naik ke atas lagi aku harus bersungguh-sungguh membuang sisi burukku, penyakit hati yang ada dalam diriku.
Malas *ugh
Cepat bosan *ugh
Iri, ria, pendendam dan banyak lagi. Kalau aku MERASA berarti bener tuh. Alasan lainnya, entah kenapa aku seperti orang yang cari muka. Jadi sebaiknya aku tunda dulu pelajaran ilmu Tasawufnya. Masih banyak yang perlu aku cari selagi masih muda aku tak mau sia-siakan kesempatan itu.

Sampai di rumah Hakim. Kami menunggu si Gafur tetangganya si Hakim yang rajin ke pengajian Guru. Alasan kami menunggu Gafur karena kami ingin ikut transportasi orang lain. Si Gafur yang sudah sering menunggu di sini pasti sudah banyak yang kenal dengannya. Bertahun-tahun, pastinya pernah naik dari salah satu mobil yang bertujuan sama ikut pengajian Guru.
Yap.. baru kali ini aku ikut pengajian malam minggu Guru yang ada di Bitin. Soalnya tempatnya jauh banget. Aku yang tak terlalu suka jalan-jalan merasa sangat kelelahan berpergian jauh. Terlebih aku mabuk perjalanan. Nyium aroma pewangi yang sama dengan di mobil aja sudah bikin aku mual.
*hoek
Rintangan berat.
Tapi aku harus mengisi jadwal pengajian yang kosong. Kalau enggak, nanti hit combo bonus-nya hilang.
Berharap mobil pikap yang akan menyinggahi aku atau kami. Kalau naik mobil pikap aku gak mabuk. Mungkin karena udara segar yang bisa k hirup dengan leluasa. Jangan sampai lagi kalau dapat mobil kijang yang sempit kayak tahun kemarin. Lima orang berjejal dibagian belakang mobil. Permen pemberian Gafur habis dan ia malah ngelawak menyuruhku ngunyah uang koin.
Ampun dah.. gak mau terulang lagi kejadian kek gitu.
Kondisiku kali ini juga kurang sehat. Kalo dapat mobil yang tertutup aku gak jadi ikut. Konyol.

Jam 5an sudah. Aku dan Hakim duduk di ban mobil depan rumahnya. Lama juga nungguin pengendara yang mau memberikan tumpangan. Tiap kali mobil kijang yang lewat karena penuh gua bersyukur banget!
Aku melihat si Hakim menggerak-gerakan lengan kirinya seperti mengangkat barbel, pegel kah?
sementara di kakinya banyak luka dan kulitnya juga menghitam seperti habis berjemur seharian.
"habis menyawah ya?" spontan aku bertanya padanya.
"eh! kok bisa tahu?" Hakim terkejut.
Satu-satunya jawaban kenapa badannya bisa kek gitu pasti lah menyawah. Dulu dia sendiri pernah bilang menyawah jadi ku pikir itulah jawabannya.

*citttt!

Mobil pikap nge drift singgah di seberang jalan.
Yes!!! aku teriak dalam hati.
Haha.. untuk pertama kali ini mungkin bonus kemudahan untukku.

>>MONSTER LABIL<<

Sudah lumayan jauh perjalanan kami hingga bertemu jalan mulus sang supir langsung tancap gas!
Gila cepet banget. Berasa naik taksi bedanya anginnya bisa kerasa.
*brrr
Pengendara lain dibalap melulu. Pas tikungan aku pegang bagian samping mobil agar tidak terlempar -___-
Uhh.. gawat.. misalnya mau tabrakan aku gak bisa reflek menghindar. Misalnya aja ya ya ya.

Semakin jauh perjalanan, semakin banyak daerah yang telah dilewati.

*ughh

Lagi-lagi..
Cuaca yang mendung dan suhu yang dingin memicu perasaan aneh yang sering aku alami, sangat aneh dan sulit terjelaskan. Pemicunya hampir sama seperti memicu karakter Zheill.
Dingin, kesendirian, awan mendung yang gelap, gambaran tempat tertentu dan munculnya ingatan yang belum pernah ku ingat.
Sulit menjelaskannya. Tapi jika aku menebaknya karena aku juga tak tahu pasti, perasaan ini seperti kesendirian, rindu, kadang bisa terasa menyakitkan dihati layaknya patah hati.

Ingatan.
Jika semakin dalam, akan muncul ingatan yang belum pernah aku alami dan jumpai.
Ingatan tentang tempat yang sangat familiar.
Kasus de javu lainnya kah? aku tak tahu karena dari semuanya tempat yang muncul dalam kepalaku satupun belum pernah ku temui.
Di depan rumah biasa yang terbuat dari ulin.
Berada di tengah pepohonan bersuasana dingin.
Dahan pohon yang basah sehabis di guyur hujan. Banyak lagi.

Gambaran tempat tertentu.
Selain ingatan muncul melihat gambar tertentupun bisa memicu munculnya perasaan ini.
Wallpaper hp dari tema yang aku download di hp jadul zaman SD dulu.
Wallpaper hitam putih saat tengah malam, bulan sabit dan satu rumah.
Tema pemandangan Blue Moon Light di pantai bebatuan.
Wallpaper seseorang berdiri memandang langit mendung ke coklat-coklatan di tanah bumi yang tandus.
Taman indah yang diguyur hujan.

Semua pesan dari gambaran tempat tersebut mengarah ke perasaan

kesendirian..  rindu..  patah hati?..
Berantakan sekali seperti penggalan sebuah cerita yang berbeda.

Misterius sekali. Belum bisa aku pecahkan kasus ini.
Apakah perasaan ini yang akan terjadi di masa depan ataukah yang sudah pernah aku alami sewaktu kecil?
Apakah makan yang aku makan berasal dari seseorang yang mati sehingga membawa ingatan kepada ku?
Ataukah dari ingatan kedua orang tua ku? nenek dan kakekku?
Aku mencoba menggabungkan semuanya dan mencari pola yang akan menuntunku ke jawaban yang sebenarnya.
Akan tetapi usahaku masih sama seperti sebelumnya.
Sia-sia..

Riddle tingkat mustahil.

Jika benar perasaan ini akan terjadi padaku di masa depan nanti..
Situasi seperti apakah yang akan ku hadapi?
Hapis: diputusi pacar? terus turun hujan dan elo bernaung di bawah pohon dekat rumah yang terbuat dari ulin?
Zheill: penjelasan yang lumayan detail tapi gak masuk akal karena kita gak pacaran.
Hapis: emm.. berarti pas elu habis ditikung?
Ngaco dah..

Misteri tetaplah misteri..

Senin, 08 April 2019

Percaya Diri

Aku masuk ke dalam langgar dan ku dapati jejak telapak kaki yang kotor. Beberapa waktu yang dulu pun pernah bau amis  kencing di dalam ruang pojok dekat jendela depan. Penyebabnya tak lain tak bukan orang gila yang ada di kampung kami. Panggil dia Agus.
Ini sudah kelewatan kami harus mengambil langkah pencegahan.

Memang solidaritas kami, orang sekampung tak sekuat seperti dulu lagi. Zaman sekarang orang-orang pada sibuk pada urusan masing-masing. Banyak hal yang menyebabkannya. Salah satunya, pilihan aktivitas yang banyak. Dibandingkan dengan zaman dahulu yang belum modern orang-orang lebih memilih menghabiskan waktu bersama-sama karena hanya itulah pilihan yang paling mengasyikkan. Sekarang diam di rumah pun bisa sangat seru.
Zheill: kayak elu..
*nyeh!

Aku tidak suka melibatkan diri ke dalam hal yang merepotkan dengan sengaja. Mungkin sejauh ini aku sudah pastikan kalau sehari paling enggak batas ketenanganku bergaul sebanyak kurang dari sepuluh orang. Lebih dari itu mungkin pengambilan tindakan tak sebaik pada kondisi prima. Aku labil dan aku paham betul dampak yang akan aku timbulkan.

Setelah diskusi ringan dengan yang lainnya kami dapat solusi untuk mencegah si Agus. Biasanya langgar kami gak dikunci sebab tidak ada yang tahu siapa yang akan datang duluan. Kalau bapaknya Parid? yep kadang bisa kesiangan juga, terlihat jelas mata pandanya, hitam banget.
"bro, kalau datang duluan, nih aku letakkan kunci gemboknya di meteran air" kata Nanang atau bapaknya Puteri.
Bro? oh, iya, dia belum tahu namaku.
"ok" sambil mengangguk.
Mah gak papa juga sih kalau aku yang datang duluan soalnya aku bangun tiap subuh bila gak kelelahan.

Mematikan lampu pake tangan kanan. Keluar dari langgar kaki kiri. Make sendal dulukan kaki kanan. Nutup pintu pake tangan kanan.
Easy!

Aku melihat si Hakim masih berdiri gerak-gerak gak jelas di depan langgar.
Nungguin aku kah? ewww..
Duh.. jangan samakan aku dengan orang lain. Aku lebih senang menyendiri. Daripada nungguin aku mending cepat-cepat pulang dan beribadah.
Inginnya ku sampaikan. Tapi tindakannya itu, nungguin teman kan salah satu bentuk menghargai ikatan. Kalau dia ninggalin aku berarti sombong dong.
ewww.. tapi entah kenapa aku malah merasa gak senang.. atau mungkin terusik
Sabarkan aku Ya Allah
*sambil mengelus dada
Aku menghampirinya dan membuka obrolan. Pake kepribadian Hapis.
Jadi lancar.
*Bengong sejenak.
Uwwaah! beneran jadi tenang.

Sampai ke rumah. Alhamdulillah bisa lolos.

>>MONSTER LABIL<<

Aku pernah memperhatikan anak paskibraka lagi latihan di halaman sekolah. Memperhatikan bagaimana bisa mereka begitu percaya diri menampilkan kehebatan mereka. Bentuk latihan agar bisa fokus? ahh bukan itu yang ku perhatikan, bukan soal latihannya tapi..
Bagaimana mereka bisa percaya diri? darimanakah rasa percaya diri itu datang?
Kalian tahu aku ini orangnya penakut. Seandainya ada seekor singa muncul dihadapanku mungkin untuk aku yang dulu sudah pasrah akan datangnya kematian. Beda dengan yang sekarang.
Beater.

Percaya diri apakah bentuk dari suatu kesombongan ataukah kebanggaan?
Aku tak begitu yakin.
Tubuhku berontak, tak mau berlama-lama menyaksikan latihan paskibraka. Kenapa?
Apakah aku punya dendam? Apakah aku tidak suka melihat orang lain membanggakan kehebatannya?
Aku ingin tahu penyebabnya..

Langkah pertama yang aku lakukan untuk mengulas masalah ini  mencari tahu cara pandangku terhadap bentuk kesombongan, kebanggaan dan percaya diri.
Sombong.
Umumnya kesombongan akan selalu dipandang negatif karena merasa jauh lebih tinggi dari yang lain. Menghadirkan kebencian pada orang-orang yang merasa terinjak. Sadar maupun tak sadar.
Kebanggaan.
Menurut KBBI offline versi 2.0.1 yang aku download Bangga adalah besar hati, merasa gagah(karena punya keunggulan).
Jika kita melihat seseorang yang membanggakan diri bagaimana respon kita?
Misalnya aku yang berpikir negatif, pasti responku juga  akan negatif. Itu artinya tergantung orang-orangnya yang melihatnya dan menilainya. Namun dalam kasus yang berbeda misalnya seseorang membanggakan sesuatu dengan cara yang salah? sulit melihat ke lubuk hatinya. Tapi tetap saja jika kita berpikiran buruk yang salah kan adalah kita.
Hmm.. aku tak bisa memastikannya walaupun dulu aku pernah melakukannya.
Tak sepenuhnya tebakanku akurat tentang melihat ke dalam lubuk hati seseorang, yang kulakukan hanya merasakan aura mereka dan melihat gerak-geriknya, inilah caraku menilai seseorang.. bukan dari kata orang atau  kabar burung.
Lalu bagaimana dengan tubuh yang menolak keinginan?
Biasanya tubuh menolak keinginan sadar adalah bentuk dari trauma.
*Mengingat tiap kejadian yang pernahku alami
Hmm.. hmm.. hmm.. ( '_')

Aku.. ('_' )

emm.. (._. )

Juga gak terlalu ingat -___-
*gubrak!
Yaa~ pas waktu kecil aku tak terlalu paham soal hati dan niat jadinya aku tak bisa memastikannya, bagaimana rasanya dan reaksi orang lain.
Tapi tapi tapi ada satu hal yang mungkin sebagai penyebabnya.
Kau tahu kita pasti sering memandang ke bawah. Merasa hidup kita jauh lebih enak dibandingkan yang lain, aku pun berpikir seandainya aku diposisinya gimana?
betul juga..
Hatiku pun merasa, berkata sebaiknya jangan berada diatas.. aku ingin berada ditempat dimana semua orang bisa menggapaiku. Mungkin tanpa sadar aku telah menanamkan cahaya pengingat itu sejak menyadari kesombongan yang pernah aku buat. Bahagia sendiri itu gak asik. Kita harus membagikan kebahagian itu walaupun akan berkurang. Untuk diri sendiri memang kurang puas namun setidaknya untuk orang lain bisa merasakannya.
Kebahagiaan dari hasil percaya diri yang bisa dibagi akan memiliki nilai.
Sebagian kasus membanggakan diri memang bisa dibagi. Apakah membanggakan orang tua ataupun negara, aku tak bisa memastikannya dari tiap lubuk hati seseorang.
Jawaban atas keraguan yang aku rasakan tak sekuat dengan penolakan trauma yang sesungguhnya. Diantara rasa penolakan dan keinginan tahuan. Mungkin jawaban yang sebenarnya aku cari ialah sebuah tindakan. Butuh waktu lama jika aku berniat mengungkapkan tujuan hati tiap anak paskibraka. Banyak membuang waktu daripada hasil yang diperoleh menemukan jawaban dari tujuan mereka. Tubuh pun beranjak ingin pergi karena sudah tahu hasilnya.
Kira-kira begitulah.
Tapi beda lagi ketika anak paskibraka yang menjadi anggota upacara bendera pas 17 Agustusan, hari kemerdekaan. Tujuan hanya berfokus memberikan penampilan terbaik.
Huhu~ entah kenapa aku jadi terharu..

Di perjalanan pulang menuju rumah aku berpas-pasan dengan si Agus.
"haratnya mengunci, awak kakanak" sambil melangkah cepat.
Katanya "hebatnya(nakal) mengunci(langgar), kamu anak kecil" gitu translate nya.
Aku membalas.
"awas aja kalau lo masuk" nantangin
"awak kakanak woy!" pergi menjauh
Uhh.. ini dia, reaksi penolakan. Tubuhku gemetar. Tapi kenapa aku takut? oh bukan takut kalah adu jotos tapi takut menyalahkan penggunaan kekuatan. Lagian si Agus kan orang gila..
*oyy yang namanya sama bakalan kesinggung
-__-
Kurasa percuma juga sih aku mengancamnya.
Benarkan..
Sekarang aku jadi percaya diri. Merasa punya kekuatan membuatku lebih berani. Bukankah ini bentuk dari kebanggaan? jika lebih akan jadi sombong.
Tak boleh..
Aku harus tunduk dimanapun aku berada.

Di luar sana ada jauh lebih banyak monster.

Sabtu, 06 April 2019

Counter Attack

Sip aku sudah hafal wirid sebelum sholat subuh. Sengaja aku lebih cepat daripada imam di langgar agar aku sempat dan tepat waktu ke sana. Tepat sebelum iqomah. Jujur aku masih takut megang mic begitupun mau adzan dan iqomah. Melihat ke masa lalu.
Waktu di SMP kelas 7, aku yang konyol tak tau apa-apa begitu semangat pengen sholat di saf pertama. Ketika hendak waktunya aku disuruh iqomah. Padahal aku gak hafal. Dan lebih konyolnya aku mau melakukannya.
*Ajshsjakdvh
Semua menertawakanku.
Teman sekelas.
Sampai guru yang jadi imam mengumumkan pelajaran tambahan dipelajaran agama buat semua siswa harus hafal dan bisa adzan.
Sumvah aku mati rasa.
Sampai sekarang aku masih ingat guru agama itu.
Pengalaman kedua waktu di TK Al-Quran. Ahh ujung-ujung sama. Bikin nge-down.
Tapi syukurnya dulu aku konyol. Sekali main game sama teman aku bisa lupakan hal-hal buruk yang menimpaku.
Aku ceria lagi.
Aku ingin sekali menghindari hal yang bikin aku murung seharian. Ini bukan tantangan, aku trauma. Kata Daniel "masa elu gak hafal adzan?". Aku sudah hafal tapi pas mau mengucapkannya dan terbayang reaksi orang-orang kepalaku jadi pusing, jantung berdetak kencang, gemetar dan berkeringat dingin. Apa benar aku telah trauma?..
Aku tahu tak selamanya aku harus seperti ini. Kasian bapaknya Parid, sudah adzan, wirid an dan jadi imam. Kuat banget beda denganku yang cepat bosan.
Aku harus menemukan solusinya. Bagaimana caranya keluar dari trauma?..
Perlahan saja tak usah buru-buru.

Esoknya..

Sengaja aku datang lebih awal setelah imam adzan. Selesai sholat sunnah sebelum subuh yang pahalanya sangat besar jauh lebih besar dibandingkan dunia ini  aku bilang ke bapaknya Parid biar aku saja yang baca wiridnya.
Mu-mungkinkahh!! kau!!!
*Aku mengangguk
Yaa~ serahkan saja padaku..
Ahh alay..
*ehem cek sound, oyeah baby..
Serius eyy..
Yap aku berusaha menyesuaikan suaraku agar terdengar walaupun tubuh berasa ingin pergi dan menyerah. Ini langkah awal terbaik saat ini agar aku bisa menyesuaikan diri.
*bapaknya Parid meninggalkanku ke luar menuju rumahnya yang lima langkah saja dari sini.
Dalam hatiku senang.
Uwwahhh emang pengertian banget, ia tahu kalau aku perlu menyesuaikan keadaan sekitar makanya ia pergi. Tak ada orang di sini, nah dengan begini aku bisa fokus.
Baiklah akan aku coba cara itu!!!
Untuk menghilangkan gugup aku perlu mengendalikan tubuhku.
Zetsu!
*nahan napas, melemaskan diri dan-
*huft! huah!
Oy oy oy kalau gitu caranya aku akan kesulitan bernapas.
Suaraku jadi kacau karena kurang bernapas.
Catat dulu. Bagian tahan napasnya aku rework nanti.

Wirid selesai begitu juga doanya.
Ahh aku merasa lebih lega.
Aku mendapatkan pelajaran kalau bisa keluar dari trauma aku perlu langkah kecil untuk bisa memulainya, melawan rasa takut. Dan juga pelajaran berharga kalau aku tak perlu pengalaman bertubi-tubi untuk bisa melakukannya, aku hanya perlu mengetahui selak-beluknya, memahaminya, menyatukan diri dengan sekitar dan melakukannya sesuai cara terbaik yang aku tahu.
Setelah itu perlahan aku sudah terlepas dari traumaku.
Langsung saja ku jadikan kebiasaan. Setidaknya ini bisa meringankan beban bapaknya Parid.. -eh tunggu kalau gitu mah salah niat nanti, tujuan untuk beribadah bukan meringankan beban. Aku camkan itu dalam lubuk hati.

Senin, 01 April 2019

Satu Titik

>>Post kali ini akan membahas tentang diri sendiri dan Sang Pencipta<<

Aku mendalami ilmu agama dengan cara menghadiri pengajian dan menonton ceramah ditelevisi. Pengajian yang ku hadiri tentunya yang bisa aku jangkau ialah pengajian Guru Danau, Guru Ilmi, Guru Ahmad dan Guru Ahmad(Jaro). Kalau diTV penceramahnya bisa gonta-ganti namun selektif. Bebas dari SARA, politik dan ajaran lain. Jika instingku mendeteksi ada yang tidak beres pastinya sudah aku jauhi. Sampai sejauh ini belum ada dan seterusnya semoga aja. Yang aku maksudkan penceramah diTV.
Dalam satu minggu bisa lebih dari 3 kali pengajian dari guru yang berbeda.
Malam selasa Guru Ilmi mendalami ilmu fiqih. Malam rabu Guru Danau(2 minggu sekali) pelajaran bisa random. Malam sabtu Guru Ahmad pelajaran hanya beberapa menit saja(banyak melakukan amalan) dan Malam minggu Guru Ahmad(Jaro) belajar ilmu Tasawuf.

Hit Combo Bonus!

Entah kenapa aku bisa langsung masuk ke tahap ilmu Tasawuf padahal iman masih lemah.
Awal ceritanya aku diajak oleh imam yang rumahnya dekat langgar, ayahnya si Parid. Katanya pengajian yang sering aku hadiri kurang efektif makanya dia menyarankan kami ikut berguru lagi.
Pertama aku menolak ajakannya karena Hakim gak mau. Aku memastikan si Hakim saja sebenarnya aku juga belum mau.
Tasawuf ey! itu ilmu bagi orang yang punya pondasi kuat. Kalau roboh yaa bisa gila.
Aku menolak karena akan memasuki daerah baru dan mungkin akan menjalin hubungan baru lagi, hal seperti itu akan sangat merepotkan untukku. Aku ini orangnya simpel.. pel.. pel..
Firasatku tak mengatakan bahaya, sekali lagi aku hanya tak suka dengan hal merepotkan. Yep hanya itu.

Kesempatan lain datang ketika Guru tampil diacara TV. Aku menontonnya sampai puas. Puas dengan penjelasannya yang bisa diterima akal pikiranku. Wow.. aku terpana. Rangkaian kata yang indah menumbuhkan keinginanku untuk langsung mendengarkannya. Duduk di pengajiannya. Sampai akhirnya aku membuka kitab Ad-Durrunnafis.

Aku penasaran dengan diriku sendiri, bagaimana bisa aku menerima ilmu tasawuf diusia sekarang dengan level iman yang sekarang?..
Aku mulai teringat tentang UFO, konpirasi alien, pseudo sains, misteri alam semesta, misteri bumi, misteri kehidupan sebelum manusia dan yang lainnya.

Mungkinkah?..

Mungkinkah karena telah memikirkan hal semacam itu pikiranku jadi lebih fleksibel menerima tiap ilmu. Apalagi aku ini pernah jurusan IPA sehingga mata pelajaran dasar telah aku pahami.
Misalnya
Tentang alam..
Apa yang menyebabkan buah bisa jatuh?
Bagaimanakah awal mula lahirnya galaksi?
Bagaimana jadinya bumi jika tidak ada manusia?
Apa jadinya jika 5 detik saja bumi tidak ada oksigen?
Tentang kehidupan bermasyarakat..
Mengapa manusia harus menjadi khalifah di muka bumi?
Kenapa kita harus berbuat baik kepada orang lain?
Dan tentang pengetahuan lainnya, semuanya akan merujuk pada satu titik.
Tentang pengenalan terhadap Sang Pencipta. Adab kita terhadap Sang Pencipta.
Akupun menyadari bahwa dunia ini tercipta tanpa adanya kecacatan.
Pernah berpikir, ruang kosong di luar angkasa sana apakah benar-benar kosong?
Semuanya saling berhubungan dan membuat cerita masing-masing.
Dengan pemahaman yang aku dapatkan dari ilmu-ilmu yang telah dipelajari  aku harus tahu diri, siapakah aku ini.
Aku bingung bagaimana cara menjelaskannya.
Aku tak terlalu pandai merangkai kata-kata indah.
Sedikit yang bisa aku simpulkan, mempelajari ilmu tasawuf membuatku semakin bersyukur, semakin ingin meminta ampunan, semakin ingin memuji-Nya, memuji keindahan-Nya, memuji kekuasaan-Nya, ingin meminta harapan, keinginan, doa dan semakin semakin menginginkan keimanan meningkat.
Bertapa nikmatnya jiwa ini..
tanpa sadar air mata telah berderai..
Namun kenyataan yang sebenarnya aku baru mengetuk pintu luarnya saja (ilmu tasawuf) kata guru. Belum masuk ke pembelajaran yang sesungguhnya.
Uwahh.. pantesan orang yang kayak gua bisa paham haha..
Tapi ilmu yang kudapatkan sangatlah bermanfaat untuk keseharian maupun menangani berbagai permasalahan hidup.

Aku mengamalkannya?..

Jelaslah.. Itu yang disebut dengan belajar.

Jangan sampai ketidaktahuan diri menjerumuskanmu ke hal yang buruk..