Minggu, 22 Desember 2019

Minggu Pertama

Aku membutuhkan banyak waktu supaya bisa menyelesaikan tugasku. Agak sebal juga tiap kali harus pulang hampir maghrib untuk menyempatkan waktu. Banyak hal-hal yang belum diketahui menjadi kendalaku saat ini.
Solusi.. aku harus mencari solusi yang tepat daripada menunggu berjalannya waktu.
Hari sabtu dan minggu libur karena sekolah yang dibawah naungan Yayasan Hasbunallah memiliki peraturan seperti itu.
Benar juga.. bekerja di sini sudah seperti yang ditakdirkan soalnya dulu aku pernah berharap agar dapat pekerjaan yang paling enggak ada hari liburnya supaya bisa istirahat dan kini telah terkabul.
Aku harus serius. Tidak boleh terlalu memaksakan diri dan pokoknya menjaga kepribadian, jangan sampai orang-orang di sini terkena imbas efek labilku. Murni sejernih air.

Setelah literasi, guru-gurunya apel pagi di depan ruang guru. Aku diajak pak Iban untuk ikut.
Pengen sih nolak tapi yaa..

"...kita kedatangan teman baru ya, kerjanya juga sudah mulai terlihat"
Aku rasa memang lantainya sudah terlihat seperti baru tapi pencapaianku sekarang hanya ini. Lantai di atas belum tersentuhku sama sekali huhu~
Aku sedikit kaget karena disuruh memperkenalkan diri. Emm baiklah seadanya saja.

"Assalamualaikum wr.wb. perkenalan nama ulun Hafidz Rachmadana, tinggal di Jangkung dekat rumah Pak Iban, hobi main game.. dan.. emm.. itu aja, apakah ada pertanyaan??"
Agak gugup jadi sulit menggerakkan bibir.
"panggilannya siapa?" salah seorang guru menanyakan.
"ah, bisa panggil Hafidz atau Dana"
"Hafidz aja ya?"
"iya boleh kok"
Guru-guru yang lain mulai bercanda karena sudah banyak yang kerja di sini berasal dari Jangkung, kampung kami haha.

Kembali memikirkan pekerjaan. Nampaknya ada beberapa tugas yang diluar dari tugas pokokku seperti mengantar surat, belanja, mencuci piring dan lainnya. Apa artinya aku perlu mengabaikannya? haha jangan bercanda. Soal mengabaikan sepertinya di ruang kantor ada masalah. Kemarin aku tidak sempat membersihkan ruangannya. Jadinya aku disuruh bu Yanti untuk membersihkannya. Sekarang juga.
Ingin mengutarakan alasan memangnya diperlukan?..
jika aku beralasan artinya aku hanya malas kan?.. maka dari itu sebaiknya aku diam saja.
Setelah selesai. Aku keluar dan kembali ke tempat duduk memainkan handphone. Selang beberapa menit bu Yanti mendatangiku. Membawa berita cukup heboh, katanya "lihat kalender yang bertempel di belakang lemari gak?"
Aku menjawab tidak ada. Terus bu Yanti bercerita cukup banyak kalau kalender itu susah dicari. Guru yang lain mulai membelaku. Situasi ini seperti sedang mencari tersangka. Aku tetap tenang. Aku tahu kalau bukan aku dan aku bodoh amat jika harus diberhentikan gara-gara sebuah kalender. Serius??
Tentu saja, aku takkan membiarkannya. Aku berdiri dan bertanya pada bu Yanti di mana letak kalendernya ditempel. Bu Yanti langsung antusias, segera keluar ruangan aku mengikutinya dari belakang. Tiba-tiba saja bajuku ditarik oleh ustadz Zul yang sedang duduk.
"Eh kenapa ust?" aku hampir jatuh
"tidak usah ke sana, biarkan saja dia.." ekspresi ustadz Zul sedang serius.
Aku mengerti kok. Tapi maaf. Aku harus bertanggung jawab.
"gak apa-apa juga.." aku memaksa diriku lepas dari tarikan ustadz. Agak kelewatan sih aku berontak dari tarikannya tapi aku juga harus bertanggung jawab.
Memang agak mencurigakan setelah disuruh bersih-bersih kemudian kehilangan barang. Bukan kebetulan kan? tapi yang anehnya.. siapa juga yang mau mencuri sebuah kalender?? kalau aku mau mencuri barang gak bakalan meninggalkan jejak sedikitpun.
Berpikir positif jangan menuduh kalau aku telah dijebak. Ingat fidz kamu kerja bukan untuk mendapatkan uang tapi untuk belajar. Misalnya aku dikeluarkan pun bukanlah sebuah masalah pelik untukku. Jika memang terjadi, di sini bukanlah tempat yang terbaik untukku. Maka dari itu aku melangkah tanpa membawa persiapan.

Masuk ruangan kantor lalu menuju tempat duduk bu Yanti.
"nah di sini, seharusnya di sini kalendernya ditempel.."
Perasaanku, tadi aku membersihkan ruangan sama sekali gak melihat ke atas, hanya fokus membersihkan sampah dan kerikil di lantai. Jadi aku tak tahu pasti. Apa aku telah menyapunya? tapi dengan ukuran kalender yang cukup besar seharusnya aku ingat telah menyapunya, ya kan?.. uhh
Jadinya aku hanya minta maaf dan lain kali akan berhati-hati.
Bu Yanti men-iyakan permintaan maafku.
Aku tahu dari raut wajah bu Yanti sulit untuk memaafkan dan mengikhlaskan. Tapi mau bagaimana lagi.

Aku kembali ke ruang guru. Reaksi umum jika yang lain ingin tahu apa yang terjadi. Aku jelaskan, kalau aku tidak dituduh ataupun dimarahi. Yahh pokoknya aku berusaha menenangkan dan merubah anggapan yang lain.

Kerja

Kali ini pun badanku masih gak enakkan.
Sebelum jam 10 aku harus sudah ada di SMA sana jadi aku persiapkan baik-baik semuanya. Pakaian rapi, sepatu dan tas. Biarlah apa yang akan terjadi nanti, tak usah terlalu dipikirkan.

Telah sampai di SMA, aku melihat dari luar sekolah ada beberapa siswa dan siswi yang melihatku. Aku terus melangkah menuju kantor sesuai arahan pak Rifki tadi di Yayasan.

"assalamualaikum.."
"waalaikumsalam silahkan masuk, kamu Hafidz ya?"
"iya bu.."

Beberapa detik setelah duduk bu Fatim langsung bilang kalau aku sudah diterima kerja di sini dan langsung kerja juga hari ini.
Eh?
"langsung diterima bu?"
"iya, langsung kerja ya.."
Ha.. ha.. haha..
Kayaknya pak Bani melakukan sesuatu dah.

Mendapat arahan dan tugas pokokku untuk kerja di sini. Hampir sama dengan pekerjaan rumah biasa seperti ngepel lantai, sapu-sapu, bersihin kaca yaa begitulah. Tak boleh bilang sanggup entar tahu-tahunya kejadian seperti dulu terulang lagi. Aku harus bisa sebaik-baik mungkin dan memperhatikan staminaku.
Benar!
Asalkan sehat, semua bisa aku urus. Tak boleh memaksakan diri.

"perkenalkan namanya Hafidz dan mulai sekarang bekerja di sini" kata bu Fatim
Ya ampun canggung banget. Aku tak berani melihat guru-guru di ruang ini.
"jadi tempat hafidz di sana ya" menunjukkan tempat dudukku.
Yey dapat tempat yang paling tengah dah. Dari belakang dan depan mereka mudah memandangku. Kursinya gampang berdecit pula, aaw kritikal canggung.
"nah kalau ada pertanyaan bisa bertanya dengan yang lain ya"
"oh iya bu, kalau masalah rumput ini gimana?"
"nah kalau itu bisa tanya dengan pak Riza"
Posisi pak Riza berada dekat dengan pintu.
"baik bu.."

Baiklah, kemudian suasana jadi senyap.
Masih butuh lama kalau ingin berbaur. Aku bukan tipe yang suka cari masalah. Aku tipe yang penyendiri dan memahami semuanya secara perlahan.
Soal tugas yang harus aku lakukan masih belum tahu waktu kapan saja yang tepat untuk melakukannya. Tadi aku sempat mengira kalau daerah pesantren yang di samping sekolah ini juga merupakan bagian SMA. Konyol dah, seolah-olah pengen nantangin untuk membersihkan semuanya.

Aku keluar sebentar untuk melihat sekitar tapi enggak jadi karena ada siswi. Introver njirr. Bukan, bukan, aku hanya malu saja karena ini suasana baru.
Sampai jam pulang tiba barulah aku bisa kerjakan tugasku. Mencuci piring, mengepel lantai kantor, mengunci kelas dan menutup gerbang. Tak cukup waktu untuk melakukan tugas pokoknya. Kata bu Fatim yang paling penting adalah lantai teras, kantor dan ruang guru. Pulang sekolah jam 03:30 waktu yang sangat sedikit sampai sekiranya aku sudah di rumah jam 6 kurang. Anggap saja aku bersihkan ruang guru sekitar 30 menit, nyuci piring juga terus yaa anggaplah semuanya 30 menitan. Masih agak malu bila harus jadi perhatian orang-orang apalagi murid jadinya sulit untuk kerja. Aku juga tipe orang yang melakukan semuanya sendiri.
Besok aku harus lekas datang untuk mengepel teras yang katanya dipakai untuk literasi. Entah buat apa.

Aku pulang ke rumah dan menceritakan semuanya pada nenekku.
Lagi aku mengingatkan pada diriku agar tidak memaksakan diri. Aku tidur lebih cepat agar seperti biasa bangun untuk melaksanakan sholat malam lalu membuka langgar. Sengaja aku bangun sejam paling enggak sebelum masuk waktu sholat subuh supaya tak ada niat lagi untuk tidur.
Anggaplah hari ini hari pertama aku kerja secara resmi. Sehabis sholat aku langsung pulang dan pergi kerja, gak berwirid seperti biasanya.
Haha sebelum jam 6 aku sudah tiba di sekolah.
Baiklah waktunya kerja.
Pertama aku menyapu sampai bersih debu dan kerikil. Ku temukan tiap sudut dinding terdapat banyak kotoran hitam-hitam. Tai kelelawar? sepertinya bukan karena kotoran kelelawar bisa berwarna warni sesuai yang dimakannya, buah-buahan. Aku melihat ke atas ada tali kabel panjang. Pasti, tai ini adalah tai burung. Aku coba untuk menghilangkannya dengan sandalku. Keras. Sudah lama rupanya tai ini. Aku mengambil air untuk melunakkannya kemudian ku bersihkan dengan sendal lalu ku siram.
Ah aku cukup banyak membuang waktu.
Sudahku sapu lantainya kemudianku pel.
Katanya pake sedikit air saja supaya cepat kering.
Tapi emang hari pertama ini aku masih belum bersih karna dalam proses menyesuaikan. Ruang kantor juga belum aku bersihkan. Tidak cukup waktu untuk mengerjakannya. Aku harus meningkatkan keefektifan kerjaku. Cepat dan bersih.

Jam pelajaran di mulai. Rupanya lantai teras digunakan buat mengaji tiap paginya. Begitu rupanya makanya jauh dilebih pentingkan. Aku harus teliti membersihkan tiap kotoran yang ada. Tak tahu apakah amalan diterima atau tidak jika lantai bekas kotoran dipakai buat mengaji. Paling enggak bau dan bekasnya hilang. Sip dah.

Seharian aku gunakan untuk mengamati dan mencari solusi tepat. Soal sholat aku tak perlu khawatir karena memang ini sekolah mengutamakan kewajiban agama.
Aku memperhatikan ekspresi salah satu siswi ketika berpas-pasan. Ekspresi seperti tak suka denganku. Kenapa ya?
Aku menuju wc dan ku dapati di dalam wc tumpukan tanah hitam yang bau. Jadi itu alasannya kenapa siswi tadi tak suka denganku, ya kan wajar saja aku baru ke wc untuk pertama kalinya. Baiklah aku akan membersihkannya.

Tawaran

Siklus hidupku sebagai pengangguran tidaklah berdiam diri saja tanpa melakukan peningkatan. Aku terus berusaha ingin menjadi lebih baik, bukan karena orang lain ataupun keluarga. Tulus hanya untuk pendekatan dengan Sang Pencipta. Tapi ujiannya selalu saja pada manusia. Makanya karakter labilku muncul untuk merubah orang-orang dan tentunya untuk merubah diri sendiri. Apa yang benar kami harapkan mungkin jawabannya hanya satu yaitu kedamaian.
Tapi manusia, ada saja yang lebih memilih menjadi bodoh daripada pintar.
Mereka tak sadar. Mereka hidup hanya bergantung pada insting belaka. Makan, kerja, nikah, punya anak, bersenang-senang dan terus diulang. Bagian penting yang hilang dari siklus seperti itu adalah keinginan untuk terus belajar. Apa untungnya? untungnya pastilah untuk mendapatkan hasil yang jauh lebih baik dari ujian baru yang akan menimpa. Hidup akan kacau jika kita tidak mendapatkan solusi dari ujian baru sebab akibat dari kita yang kurangnya ilmu.
Sementara ini aku ingin berusaha lebih mengontrol labilku dan banyak-banyak belajar. Jika memang aku sudah siap pastilah saat itu akan datang untuk terjun ke dalam dunia yang lebih luas.
Yaa aku percaya..

Sore ini aku sudah siap olahraga dengan bersepeda keliling kampung. Entah kenapa beberapa hari ini keadaan hatiku lebih tenang dari biasanya. Mungkinkah akan datang masalah baru haha.. ya ampun. Biasanya siklusnya begitu. Ada masa tenang maka akan datang masalah. Ah biarlah..

Tak jauh dari rumah sudah aku mengayuh sepeda tiba-tiba di depan tempat jualan bensin ibunya Meli atau acil Inyah menghentikanku. Aku bertanya ada apa.
Katanya "maukah kamu kerja fidz?.. nih ada lowongan kerja di Hasbunallah"
"emm.. apa pekerjaannya di sana atau jadi apa?.." ya ampun.
"jadi OB, menggantikan si Hendra yang berhenti.."
Siapa Hendra?
"mau gak? kalau mau nanti aku bilang sama Bani. Kerjaannya menyapu, ngepel lantai dan bantu-bantu urusan lainnya"
Hmm... gimana ya..
Coba pikirkan lagi fidz, mau sampai kapan menunggu kesempatan yang tepat.
"coba jalani aja dulu, kalau enggak sanggup bisa dibicarakan baik-baik.."
Benar juga. Aku memang berpikir hal semacam dunia ini tidaklah jauh penting seperti pandanganku terhadap uang. Pekerjaan bukan berarti menetapkan pilihan yang tak bisa digugat kembali. Jika tak sanggup bisa memilih lagi.
Di sisi lain, aku pikir sudah banyak punya pengalaman dalam mengatasi dampak labil ini ke orang di sekitar. Fokus saja pada kerjaan dan jadilah penyendiri namun bersikap netral yang siap membantu orang lain.
Badanku jadi gak enakkan. Terasa seperti ada yang ingin menghentikanku untuk terus melangkah.
Tolaklah!
Tapi aku ingin terus maju untuk menjadi lebih baik lagi. Niat kerja sebagai latihan.

"baiklah, aku mau"
Besok aku akan mengantar lamarannya.

Sayangnya, sore besok berita sudah adanya calon yang juga ingin melamar kata acil Inyah. Ahh aku terlambat. Ada rasa kecewa tapi ada juga rasa senang.
Memang aku masih terjebak di zona nyaman makanya senang. Hedehh.. kurasa emang kesempatanku masih belum datang.
"jalan-jalan dulu aja deh" Aku bersepeda lagi mengelilingi kampung.

Sampai di rumah. Adikku mengejutkanku.
Katanya tadi acil Inyah datang kemari.
"ngapain?.."
Aku pun keluar rumah dan pergi ke tempat acil Inyah.
Mungkin sebuah kabar gembira untuk segelintir pengangguran bahwa acil Inyah salah dengar dan aku masih punya harapan untuk dapat pekerjaan. Kemudian aku dan acil Inyah mendatangi tempat Bani. Oalah rupanya anaknya bapaknya Gafur. Si Gafur adalah kakaknya Bani.
"lumayan loh fidz gajihnya 1.25 juta"
Haha, bukan itu yang aku incar jika ingin menjadi lebih baik lagi..
Setelah mengantarku ke tempat Bani acil Inyah pergi meninggalkan kami berdua.
Aku berbincang banyak dengan Bani. Seperti kerjaannya ngapain dan lainnya.
"lebih baik besok saja, lebih cepat lebih baik dan aku saja yang ke sana, jika pian(sebutan kamu untuk orang yang lebih tua) yang mengantar lamaranku sama saja aku tidak ada niat dimata yang menerima lamaranku" ujarku. Wahh bisa-bisanya aku bilang begitu.

Kami bertukar nomor telpon.
"oke, besok sekitar jam 10an aku menunggu di SMA Hasbunallah ya?"
"oke sip, makasih banyak ya"

Malamnya aku tak sempat menulis lamaran malah besoknya aku kepepet nulis dan datang ke sana belum mandi. Kacau ehh.
Aku sempat kebingungan menuju lokasi SMA tapi akhirnya ketemu juga. Sebentar singgah Bani pun mengajakku langsung ke Yayasan. Langsung!
Langsung diwawancarai!
Aku menjawab sebisanya dan harus ketawa karir.
"terus selama pengangguran ini kamu melakukan apa saja?.." kata bu Raudah atau Saudah, uhh maaf pendengaranku agak buruk.
"bantu-bantu di rumah dan soal uang, ibuku mencari dengan berkerja dengan pak Iin sebagai sekertaris"
"terus kamu?.."
"yaa cuman di rumah bertiga.. ulun ikut bantu-bantu saja" kalau aku bilang sedang belajar mana mungkin orang biasa bisa paham yang aku maksud dengan belajar.
Aku meneruskan agar bisa lolos tes ini
"ahh ulun juga aktif di langgar, tiap subuh buka langgar dan adzan.."
"jadi kaum??.."
"emm bukan, hanya bagi tugas saja"
"gak dibayar??"
"sukarela aja bu.." ya ampun.
Akhirnya bu Saudah berhenti menanyakanku.
"hemm gitu ya.."
Terus datang pak Rifki sebagai tahap kedua wawancara ini.
*ugh

Sementara itu pak Bani hanya duduk di kursi di samping kiriku. Uahh seolah-olah seperti dibantu saja, padahal aku tak mengharapkannya. Pengen ngusir masa iya??

Selesai wawancara aku disuruh menulis beberapa formulir kemudian benar-benar selesai dan pulang untuk menunggu hasil.

Keesokan harinya.
Aku menunggu panas dingin. Masih berharap tidak lulus tapi juga berharap ingin maju, yepp ultimatum labil.
Seharian menunggu sampai sore tak kunjung ada panggilan atau kabar. Aku berharap pada Allah jika memang sudah takdirnya aku kerja di sana maka masukanlah namun jika memang bukan hal yang baik kerja di sana maka jangalah buat hamba diterima.

Lama menunggu. Tetap tidak ada panggilan atau kabar.
"kayaknya emang gak diterima deh"

*drett drett

Dari pak Bani.
"kenapa handphone mu gak dinyalakan"
Aku balas pesan pak Bani
"seharian aku aktifkan kok, kenapa? ada kabar ya?"
"tadi siang pak Rifki nelpon kamu tapi gak tersambung sambung"
"ehh, padahal handphone ku beneran aktif seharian, sumpah" sampai panas dingin nunggui kabar.
"haha, kata pak Rifki esok datang ke sekolah langsung jam 10an"
"oke baiklah"

Apa artinya aku diterima????