Sabtu, 29 Juni 2019

Terbutakan

Hujan gerimis..

Aku memancing di sungai seperti biasa. Ditemani musik dari hp seperti biasa. Dan karena terlalu seperti biasa tibalah giliran masalah datang untuk mengujiku. Kehadiran seseorang yang rupanya menjadi masalah atau mungkin menjadi kaca kehidupan untuk mengenali diri sendiri.

Ah.. tak perlu basa-basi langsung ke konfliknya saja haha.

Permasalahan bermula ketika seorang pemancing di pinggiran sungai meminta bantuanku untuk mengambil ikannya yang tersangkut di antara reranting pohon di tengah sungai.
Aku pikir itu mustahil..
Kenapa mustahil?
Coba pikirkan perasaanmu ketika orang tak dikenal menyuruhmu untuk berenang ke tengah sungai demi ikannya?
Tak sopan. Tak punya perasaan. Dan tak berpikir.
Permintaan konyol macam apa itu, menyuruh orang lain demi kepentingan diri sendiri. Memang aku bisa berenang tapi aku mana mungkin mau mengabulkan permintaannya.
Jawaban pasti. Aku abaikan saja permintaannya. Itu permasalahannya sendiri. Harusnya juga berjuang sendiri.
Ya, aku bukan orang yang sangat baik untuk menerima permintaan seperti itu.

Namun dia memintaku lagi.
Keras kepala juga.
Segitu berharganya kah satu ikan kecil itu? Dan harus membuat orang lain repot? Kalau aku jadi dia mending aku lepaskan saja. Relakan daripada merepotkan orang lain.
Pengalaman dan ilmu yang sedikit. Melihat dari tindakannya saja aku sudah tahu seberapa jauh perbedaanku dengannya.
Iya, aku tahu posisiku. Tapi tetap saja permintaannya konyol, aku tak mau berkorban segitu jauhnya demi ikan yang sangkut di sana. Apa imbalannya?

Tampang wajahnya seperti orang luar daerah. Jawa kah?
Cihh aku mulai menerka kepribadiannya.

Sampai ke tiga kalinya dia meminta, aku mulai termakan emosi.

Aku mendayung lanting punya pak Kisaragi ini ke arah rerantingan, ke ujung tali pancingnya yang sangkut. Tetapi rerantingan seperti batang bambu susah sekali aku singkirkan dengan tongkat kayu. Hilang konsentrasi, aku salah dorong membuatku jatuh ke dalam sungai. Lumayan dalam. Refleks, aku langsung naik ke lanting. Teringat handphone-ku yang ada di dalam tas juga ikut masuk ke dalam air.
Kesal sekali..
Pada akhirnya aku juga harus masuk ke air. Apakah ini balasan atas tindakanku?
Tapi tetap saja ini salahnya.
Sudah lebih setengah jalan usaha menolong mending aku teruskan saja daripada gak ada hasil sama sekali.
Aku lempar tas dan alat pancing ke darat lalu melanjutkan usaha untuk diriku sendiri.
"Kalau aku gak bawa ikan pulang nanti bakalan masalah" katanya.
Apa-apaan coba. Yang punya masalah diri sendiri seharusnya selesaikan sendiri juga.
Aku marah dan ku lampiaskan ke tenaga untuk mendorong batang bambunya.
Melihat aku berusaha sendiri, dia memberanikan diri masuk ke dalam air secara perlahan. Seharusnya dari tadi dia melakukannya lagian kalau tenggelam aku bisa saja menolongnya tak perlu harus orang lain yang lebih dulu direpotkan. Sedikit lega soalnya ikannya masih tersangkut dikail pancing. Lega karena usahaku yang sedikit ini ada hasilnya tapi aku masih emosi.
Setelah berhasil, bergegas aku mengembalikan posisi lanting seperti semula kemudian naik ke darat ingin langsung pulang. Jeda beberapa detik yang ingin aku harapkan dan bisa jadi penentu penilaian dirinya.

Bilang "terima kasih"..

Sayangnya aku semakin jauh melangkah dan meninggalkan orang itu.
Hebat sekali, sudah bikin orang repot dan ingin menyalahkanku. Tiba-tiba terlintas bayangan apa yang akan terjadi nantinya. Dia akan bilang kalau orang sini gak ramah.
Konyol sekali.. membohongi diri sendiri.
Yaa itu hanya bayanganku saja sih bukan kenyataan.

Sampai ke rumah aku langsung menyalahkan handphone-ku. Memastikan apakah rusak atau tidak. Hasilnya? Jelas rusak. Layar sentuhnya bergeser.
Uhh.. padahal ini handphone kesukaanku karena bentuknya kecil.
Kesukaan? Ahh jadi begitu..
Inilah akibat jika kita terlalu mencintai dunia melebihi cinta kepada Sang Pencipta. Ya begitulah, jadi tindakan selanjutnya yang harusku lakukan adalah mengikhlaskan handphone-ku.
Ya udah deh.
Tapi.. aku masih kesal dengan orang tadi. Sumpah ngezeeliiiin. Aku berharap agar dijauhkan oleh orang-orang yang seperti itu. Masalah banget. Habis mikir gimana kacaunya.

Setelah hari itu sebisa mungkin aku mempelajari pola rusaknya handphone-ku. Memang masih bisa nyala tapi layarnya bergeser membuat bagian tertentu tertekan terus menerus. Aku pelajari. Sayang banget nih handphone kira-kira belum satu tahun aku memakainya. Syukurnya handphone ini adalah handphone bekas dan dijual seharga 380 ribu. Kalau mahal yaa.. cinta duniaku makin membuatku susah mengikhlaskan. Tak boleh, tak boleh haha.
Emm? Di ujung bawah handphone-ku terdapat lecet.
Simulasi kejadian sebenarnya langsung muncul dalam benakku.
Uahhh 😧😧😧
Salahku sendiri eyyy!!!!!

Olah TKP!!!
Sebelum si monster labil melempar tasnya ke darat rupanya ia lupa menutup tasnya!!!
*Uohh!!!
Ia berpikiran mungkin handphone-nya sudah rusak karena terkena air. Padahal.. tidak!!!
*Uohhhh!!!
Penyebab sesungguhnya mengapa handphone-nya rusak adalah.. kuatnya benturan dengan tanah. Tanpa pelindung masuk akal saja kalau handphone-nya bisa lecet.
*Whathe--!!!
...
...
...

Yaa.. dari awal salah aku sendiri sih yang menolak permintaan orang itu makanya bisa kejadian seperti ini.
Ah pusing.. tak perlu dibahas lagi.

Kamis, 27 Juni 2019

Apa benar?

Sebagai pembelajaran apa yang akan dan selalu aku sampaikan didalam cerita hidupku ini bertujuan mengenali diriku.


Sepenuhnya aku tak terlalu paham dengan caraku membaca kepribadian orang. Secara otomatisnya aku mempelajari ritme kebiasaan orang-orang kemudian mengambil langkah tindakan untuk menanggapi sikap mereka. Tidak berlaku untuk yang baru ku jumpai. Makanya aku bertanya apa benar aku bisa membaca kepribadian seseorang? Jawabannya tentu saja tidak.

Aku pernah menonton film Sherlock Holmes, si detektif sosiopat. Kejeniusannya membuatnya pandai melakukan deduksi terhadap sikap seseorang yang dilihatnya. Teliti dan wawasannya yang luas memudahkannya untuk mengenali siapa, apa yang telah dilakukan dan emm.. apalagi yaa.. yaa pokoknya begitulah, detektif banget, bisa menghubungkan semua poin-poin lewat bukti yang didapat.
Aku ingin mengetahui perbedaanku.
Merasa bangganya aku bilang bisa membaca kepribadian seseorang padahal aku sendiri belum tahu pasti. Aku hanya menebaknya saja. Ah, aku juga terlalu bangga dengan kemampuan insting padahal belum tentu benar-benar memiliki.
Ada hubungannya dengan masalah kali ini yang akan aku ceritakan.


Biasanya sholat kami di langgar tidak terganggu, maksudku rame seperti biasa, penuh kegembiraan. Nah kemudian muncul satu tokoh baru, ia adalah bapaknya si Gafur, ikut sholat di langgar. Aku belum terlalu kenal dengannya jadi aku tak mencoba untuk menebak kepribadiannya.
"Ingat ya, menebak kepribadian orang lain adalah ilegal di planet lain" Patrick Star.
Saat hendak memilih seorang imam sholat berjamaah Magrib, bapaknya Gafur disuruh untuk mengimami kami dengan cara mempersilakannya. Kemudian aku menangkap reaksi darinya menanggapi kami. Kurang lebih seperti ingin dipuji lewat tindakan yang meminta belas kasihan. Sebelum maju menjadi imam ia sempat bilang "wahh aku yaa tapi aku biasanya bisa kentut ditengah sholat" tapi tetap ingin jadi imam. Spontan saja dahiku langsung mengerut. Aku kenal sikap seperti itu, sumbernya adalah diriku sendiri makanya aku langsung mengalihkan pikiran untuk tidak membahasnya karena ingin sholat.
Pertama kali aku biarkan saja itu adalah  tanggungannya sendiri.

Kedua, suaranya pelan sekali. Kalau ini bagiku memang tak masalah karena umur, susah bernapas.
Nah ketiga kali ini yang membuatku tak suka.
Setelah sholatkan biasanya berwirid nah entah kenapa suara kami tak bisa seirama dengan si imam, ia selalu mendahului suara dan bacaan kami yang ujung-ujungnya membuat kami terhenti ditengah bacaan lalu kebingungan termasuk aku, yang mulai termakan emosi.
Kenapa emosi?..
Karena aku menangkap sikap tersirat darinya yang ingin selalu menang.
Jangan tanya bagaimana bisa aku melakukannya. Aku bisa melihat keburukan orang lain dan merasakannya. Gini-gini aku juga monster.

Tak ingin memperpanjang masalah aku berwirid sendiri saja kemudian mengisi waktu tersisa dengan amalan sedikit sampai bagian doa.
Puncak parahnya sikapnya ketika hendak berdoa si imam langsung menghadap kiblat. Iya langsung begitu saja, berbeda dengan cara bapaknya Parid dan bapaknya Jannah yang biasa mengisi imam di langgar sini.
Bagiku tata krama jangan mengalihkan sisi hadapan dari makmum yang berada di belakang. Yaa kalau melakukannya aku merasa kalau kami ditinggalkan dan berasa berdoa sendiri.
Lagi.
Imam yang biasanya akan selalu lempar giliran doa. Supaya? Yaa siapa tahu kalau yang lain jauh lebih mulia dan lekas terkabul. Imam kali ini yang langsung menghadap membelakangi kami berdoa dua kali sendiri. Sendiri? Iya itu yang aku tangkap.
Huhhh.. pemecah kegembiraan.


Pelajaran yang sudah benar-benar terpelajari, bagi kita ialah pengulangan berulang kali untuk mengenali dan memahaminya sehingga kita bisa melakukan tindakan yang terbaik.


Uh.. ketagihan atau apa? Ucapku dalam hati karena dia datang lagi. Kemudian salahnya pak RT malah menyuruhnya jadi imam lagi bahkan bapaknya Jannah. Pliss jangan gitu dong, aku resah tak terkira. Sikap yang sama seperti sebelumnya beralasan menarik perhatian tapi tetap mau maju jadi imam. Grrr....
Yahh pokoknya kejadiannya akan selalu seperti yang aku ceritakan.

Makanya aku takkan membiarkannya..

Pas sholat aku tak mempersalahkannya toh umur tapi wirid, aku akan melakukannya sendiri dan berdoa sekali setelah itu kabur.
Aku keluar bersamaan dengan Ardi. Anehnya.. tiba-tiba saja aku bicara pada Ardi "ihhh tuh huh!" sambil nunjuk ke dalam langgar 😂 
Luapan emosi untuk menanggapi tebakan pikiran Ardi kenapa aku lekas keluar langgar.
Bagiku aneh, spontan saja aku bilang begitu.
Sikap awal yang menjadi penyesalanku.


Hari berlanjut.
Lagi-lagi imamnya.
Ujian yang sangat bagus untukku. Akupun mulai mengingat dan menghitung kesalahanku.
Aku mulai menertawakan karena dia hendak maju jadi imam lagi.
Bahkan yang lain pun seperti bapaknya Parid juga merasa gak enak, kami mulai mencelanya. Bukan merasa jauh lebih baik.
Aku membenarkan diriku sendiri.
Tapi, karena kesombongannya membuat kami mulai meninggalkan.
Aku yang merasa tahu dimana letak kesalahan dia mulai menceritakannya pada Pandi, tetanggaku.
Aku bilang padanya "bukan karena suaranya pelan, yang jadi masalahnya dia sombong, berdoa sendiri dan gak mempersilakannya yang lain dulu untuk menjadi imam". Jawaban Pandi mengejutkanku dan membuatku tersadar. Aku sudah memfitnah. Respon Pandi jadi buruk padahal aku hanya ingin mengajarinya. Aku tahu kalau Pandi masih pemula mengenal agama makanya ia tak menangkap maksudku.
Tapi yang sebenarnya salah adalah diriku.
Bagus, aku telah mengibah. Serasa apa yang telah aku perjuangkan selama ini sudah hancur lebur.
Otomatis aku ingin minta maaf. Bagaimana cara meminta maaf pada orang yang telah aku fitnah?

Jika aku bisa melihat kesalahan orang lain itu artinya aku bisa melihat kebaikannya juga.

Benar.
Mengubah pola pikir karena kesalahanku kali ini cukup membuatku terpukul keras.
Ilmu yang bermanfaat sekali dan aku tak ingin mengulangi kesalahan karena ketidaktahuan.

Apa benar aku bisa melihat?
Jawabannya jelas tidak.


Semakin sulit mendapatkannya, semakin besar orang-orang membuat kesimpulannya sendiri..

Jumat, 21 Juni 2019

Kebenaran dan Palsu

Oke.
Membuat lubang kuburnya sudah selesai. Gak ada lagi kan yang harus dikerjakan? Kalau begitu sebaiknya aku pulang saja.
Uhh.. celanaku kotor sekali.


Istirahat sebentar dan membersihkan badan. Sekitar jam 11an aku pergi ke rumah almarhum untuk ikut memandikan.
Sesampainya, rupanya aku telat. Tapi syukurnya banyak yang membantu memandikan almarhum, aku lega. Ada ustadz Thaberani juga. Menyewa kah? Itu yang terlintas ku pikirkan
.
Aku langsung mengambil buku Yasin dan membacanya di samping orang lain. Sembari membaca aku melihat mereka memandikannya. Teringat tentang kematian yang pasti akan terjadi bagi kita semua.

Aku berdiri setelah selesai membaca surah Yasin. Melihat dan mempelajarinya proses pemandian.
Tercium bau tak sedap. Ya, itu adalah bau tinja. Jika manusia mati, semua sistem organ dan lainnya berhenti bekerja. Isi pencernaan harus dikeluarkan dengan menggosok-gosok perut kata guru Ilmi yang pernah diajarkan lewat ceramahnya. Aku melihat pipa panjang pembuangan dari wadah khusus memandikan mayat sampai ke tempat limbah, dekat wc. Hmm..
Melihat yang dari segi yang lain.
Sarung tangan. Cara mengguyurkannya. Jumlahnya. Bagian-bagian yang dibersihkan. Ah, ini sudah pertengahan prosesnya. Hal yang cukup penting bagiku tentang ustadz Thaberani. Aku penasaran dengan sosoknya. Sedikit yang aku tahu darinya hanyalah sifatnya yang murah senyum. Uh.. aku jadi teringat pernah melihatnya ngebut di jalan karena terburu-buru. Sumpah ngebut banget 😑  mungkin meteran kecepatan kendaraannya sampai 70an ke atas. Gak bawa helm lagi. Uhh.. makanya aku penasaran, siapa tahu aku bisa dapat pelajaran bagus.

Ada yang langsung memanggilnya guru karena memang beliau sudah terkenal luas bahkan rekan kerja magangku dulu menyarankanku untuk ikut pengajiannya. Ah kalian pikir aku memandang salah tentangnya? Sedikit keraguan sih.. tapi kalau sudah bisa menjadi orang yang ramah senyum pencapaian wibawanya pasti bagus. Ya! Murah senyum itulah pelajaran bagus hari ini tentang beliau.
Kembali melihat jenazah yang sudah hampir selesai dimandikan. Aku tiba-tiba termenung dan hati berucap "enaknya bisa meninggal" sambil menatap wajah jenazah.

Eh? Aku sendiri juga heran.

Aku coba mencari penyebab mengapa hatiku bisa bilang begitu.
Mungkin saja, karena yang memandikannya adalah seorang guru. Bagaimana tidak, pasti kita mengharapkan kematian yang indah.
Kemudian karena ini bulan Rajab, bulannya istigfar. Aku dengar almarhum meninggal terbaring dekat pintu. Sempat teman yang melihatnya mengira almarhum sedang istirahat berbaring. Kematiannya pun tak disangka di sore hari. Hal paling pertama yang terlintas oleh ku apa yang dikerjakan almarhum terakhir kalinya adalah amalan istigfar.

Tak ada yang tahu..

Tapi ada tanda-tandanya yang terlihat jika seseorang meninggal diridhoi oleh Allah.
Mungkin itu alasannya. Bukan alasan karena ingin kabur dari masalah.
Selesai memandikan, kami harus mengangkat almarhum ke tempat yang sudah disiapkan untuk mengkafani.

Uhh berat banget.. wajar aja sih.
Di ruang tamu tujuannya. Tiba-tiba terdengar suara yang sangat ku kenal. Ya, suara dari keluarga ku yang suka protes terhadap kelakuanku. Mereka mencari aku.
Untuk apa?
Apa mereka tak sadar diri dengan perbuatan yang telah dilakukannya?
Aneh, bisa-bisanya sok akrab.
"Nah itu Hafidznya" katanya setelah kami meletakkan almarhum.
Aku abaikan. Penghargaan dan pujian hanyalah racun untuk kesehatan hati.

Ignoring the Truth

Kemampuan baru dari Beaster untuk menolak muslihat sekaligus mengungkapkan kebenaran. Tingkatan dari melihat sikap kepribadian menyimpan yang merujuk padaku dalam bentuk tipu daya agar aku lengah.

Takkan pernah lagi..
Aku yang sekarang jauh lebih kuat dari yang sebelumnya.



Pemakaman langsung dilakukan setelah sholat kifayah.
Saat proses pemakaman hujan turun. Tak terlalu deras.
Aku melihat dari kejauhan sendiri sementara si Hakim bergaul dengan teman dari almuni sekolah dasar. Entah apa yang mereka bicarakan. Tapi aku merasa kalau yang mereka bicarakan adalah aku.
Tak apa. Aku memang orang yang sombong, yang pelit untuk membicarakan hal yang aku pikir tak berguna.

Entahlah apa tujuanku..
Aku hanya ingin menjaga diri.



Rabu, 19 Juni 2019

Musik

Sejak kecil aku sudah suka mendengarkan musik tepatnya setelah aku bisa memainkan komputer.
Bukan aku yang mencari semua lagu-lagunya tapi kakakku lah yang mengumpulkannya dengan membeli maupun meminta sama temannya. Hampir keseluruhannya aku suka dengan lagu-lagu yang kakakku kumpulkan. Seperti lagu-lagu dari band..
Naff, Chrisye, Vegetoz, Dan Band, Element, Ada Band, ST 12, Nano, Five Minutes, J-Rocks, Tahta dan banyak lagi.
Tahun-tahun musimnya lagu Indonesia sangat disukai oleh masyarakat. Sedikit ku dapati lagu dari band luar negeri di komputer seperti lagu dari M2M, Avril Livigne, dan lainnya. Asalkan asik aku suka walaupun liriknya gak hafal 😂 

Tiap lagu kesukaanku ada masanya membuat hariku berwarna. Terutama pada momen yang sangattt bawa perasaan.. baper baper, momen romantis cuy! 
Nostalgia.

*Tahta - Biarakan Orang Berkata*
Semua kisah cinta..
Dari yang pernah ada..
Cinta yang kita punya, jelas sekali berbeda..
Katakan ini cinta!
Saat kau bersamaku..
untuk semua cerita..
lupakan masa lalumu.. huoo!

Yey!

Ketika dengan Linda, cinta pertamaku lagu yang mewarnai kisahku dengannya adalah dari band..

Nano - Sebatas Mimpi

Bawalah aku ke dalam mimpimu..
Aku takkan kecewakan kamu..
Walaupun itu semua, hanyalah sebatas mimpi..
Jadikan aku kekasih hatimu..
Aku.. menginginkan kamu..
Sungguh sungguh merasa ku jatuh cinta...

Ea 😂 mimpi sekali ntuk bisa terus bersamanya wkwk..

Next..
Setelah lulus SMP dan masuk SMA aku ketemu dia. Siapa dia? Oh ya dia si Pupuput 😁 si cewek langka.
Kenapa disebut langka? 😞  emm.. mungkin karena dia beda dari yang lain. Semacam unik begitu.
Nah! Lagu yang menghiasi hariku dengannya adalah..

Kehadiranmu - Vegetoz
Jantung pun bergetar..
Saat engkau ada di dekatku..
Mungkinkah diriku telah jatuh cinta..
Pada dirimu..
Sebisa diriku..
Mencoba untuk melupakanmu..
Namun 'ku tak bisa..
Kau pun selalu ada dalam hatiku...

Asikk 😂 hebatkan aku nyanyi.
Tapi kenapa judul episode ku dengannya malah Enchanted, judul lagu dari Owl City?
Hmm.. aku mengambilnya karena emang dia bisa bikin aku terpesona oleh tingkahnya, juga alasan kenapa aku bisa suka dengannya.

Terbuai aku terlena..
Oleh dirimu..
Oleh dirimu...

Yey! 😂
Next..

Tentang aku dengan Aulia yang menurutku paling berkesan. Karena aku bisa sekelas dengannya 2 tahun kisahnya pun banyak. Tapi ada satu lagu yang mendominasi yaitu..
Owl City - Saltwater Room
Gudang garam?😂
Kenapa aku milih lagu ini?
Karena Aulia sempat mendengarkannya langsung dari Hp jadulku. Tempat, di rumahnya ketika kerja kelompok.

Time together isn't never quite enough..
When we're apart whatever are you thinking of?..
What will it take to make or break this hint of love?..
So tell me darling do you wish we'd fall in love?..
All the time..
All the time..

Jangan coba terjemahin liriknya! bikin baper! Wkwk


Minggu, 09 Juni 2019

Perubahan

Semua perubahan butuh proses..
Pada tahapan tertentu, terdapat pemahaman yang mendalam..
Baik untuk sendiri maupun sekitarnya..

Kabar duka datang dari anggota keluarga lagi.
Suaminya neneknya Irfan yang pernah aku ceritakan diEpisode Pengganggu telah dipanggil Sang Ilahi.
Tepat di hari libur, banyak orang-orang membantu proses pemakaman. Almarhum juga suka bergaul dan tergolong orang yang menyenangkan. Bisa dipastikan karena aku sendiri yang berjumpa dengannya sebulan sebelum hari ini. Aku yang telah membatasi diri untuk tidak berhubungan dengan banyak orang, mungkin, sudah menjadi orang yang sombong dimata orang banyak. Akan tetapi almarhum mau dengan senangnya menyapa orang yang sepertiku. Sungguh tak disangka kalau pertemuan itu adalah yang terakhir kalinya.

Awalnya aku merasa jengkel karena kakakku yang menyuruhku membantu pemakaman. Kenapa harus aku? Situ sendiri kenapa gak membantu? Ahh alesannya pasti kerja kerja dan kerja. Sementara ushuku sendiri yang punya toko ikut membantu pemakaman. Kenapa dengan keluarga sendiri tak memberi keringanan untuk berbuat baik?
Popularitas!!!
Orang kaya memang memiliki banyak kenalan. Punya banyak teman. Ucapannya sangat diperhatikan oleh khalayak.
Bukannya aku iri.. aku justru tak ingin seperti itu. Jika aku punya kuasa dan materi, aku ingin berbuat lebih baik lagi. Hal pertama yang ingin aku perbaiki pada suatu wilayah adalah sampah dan pendidikan. Menggunakan apa yang dimiliki untuk membuat kehidupan sekitar lebih baik.
Aku tahu. Tak semua orang punya kepingan puzzle ilmu sepertiku, dia ataupun orang lain. Berbeda-beda tapi harus kita pilih sendiri ilmu yang bermanfaat yang bisa kita amalkan.
Hanya untuk lebih baik lagi.

>>> Beaster <<<

Setelah minum kopi dan sholat langsung saja aku pergi ke rumah almarhum.
Berbaur dengan orang-orang dan mengikuti arus cerita. Dari introver menjadi ekstrover. Berani mengambil langkah sendiri walaupun orang-orang di kampung sini pernah melakukan sesuatu yang aku benci.
"Om sini biar aku sendiri yang bawa peralatannya"
"Oh! Iya betul juga body kendaraan maticmu bisa meletakkan peralatannya(tempat meletakkan kaki)"
"Eh? Ah ahaha betul juga" Njirr aku juga baru sadar.
Kami pun pergi ke pemakaman yang sama, dekat dengan istrinya. Tapi sebagian orang yang telah berpengalaman menolak untuk menguburnya dekat dengan istrinya. Alasannya karna istrinya juga baru meninggal, lebih 100 hari beberapa minggu. Takutnya (maaf aku ambil kata-kata ini) pembusukan tubuh masih terjadi apalagi di daerah ini beberapa meter ke bawah sangat berair. Bisa dibayangkan sendiri kan kalau menggalinya dekat kuburan yang baru meninggal.

Setelah menentukan arah kiblat dan panjang lebarnya kuburan kami langsung menggalinya. Tentu saja aku ikut membantu. Ayahnya adik sepupuku si Rezeki juga membantu menggali kubur.
Aktifkan tenaga Beater. Meningkatkan Strenght.
Sambil bekerja sebagian dari kami banyak bercanda. Hanya beberapa saja yang punya bakat humor bisa membuat seluruh orang tertawa. Aku juga ikut merasakan asyiknya candaan namun dalam hati aku fokus berhati-hati supaya tidak salah langkah.
Sudah aku pelajari dari sekian banyak pengalaman dalam berhubungan dengan orang sekitar maupun teman.
Misalnya aku terlalu terbawa suasana bisa membuat kesalahan langkah meningkat.
Berhati-hati jika terdapat candaan yang bisa menyakiti hati/ berlebihan dengan cara melihat ekspresi dan gerakan atau mendengarkan nada ucapannya.
Yang paling terpenting jauhi gibah.
Bicara lebih sedikit jauh lebih bagus.
Jika terjadi pertikaian harus berusaha netral.
Hanya sampai itu yang bisa aku pelajari dalam bersosialisasi. Semuanya bertujuan untuk mencegah berbuat kesalahan.
Banyaknya pengalaman kesalahan yang telah kulakukan dalam bergaul membuatku harus tetap berhati-hati agar tak menyakiti. Sadar ataupun tak sadar. Sebelum terjadi aku harus tetap sadar. Tergantung kuat atau tidaknya cahaya pengingat. Jangan mengandalkan suara hati yang rawan terprovokasi oleh hasutan.
Mudah saja melihatnya. Tapi yang namanya ujian akan selalu selangkah berada di depan. Semakin memikirkannya semakin rumit. Hebat sekali otak ini bisa bekerja secara otomatis belajar beradaptasi mencari solusi sendiri.

Uhh.. tenagaku habis. Sebaiknya aku beristirahat dulu. Yang penting jangan memaksakan diri.
Aku duduk dekat makanan dan minuman yang telah disediakan untuk kami. Entah kenapa rasanya laper banget. Banyak sudah goreng yang aku makan. Dan minumannya jus buah sirsak kesukaanku. Mantap tenaga terisi.
Anak perempuan kecil mendatangiku yang sedang minum lalu duduk di pangkuanku. Aneh. Biasanya anak kecil pada takut denganku yang tampang preman ini.
Duhh..
Jujur, aku gak tahu gimana caranya menangani anak kecil seperti ini. Tak punya pengalaman sama sekali.
Uhh bilang apa ya? Tapi tujuannya apa? Biasanya yang bikin anak kecil ketawa itu apa?
Ahh! Gak tahu.. pliss dek menjauh sudah. Aku hanya bisa terdiam sampai ni anak kecil bosan dan akhirnya dia pergi sendiri. Kalau aku memaksanya sendiri nanti dia nangis kan? Jadi ku buat aja dia bosan sendiri lalu pergi dengan kemauan sendiri.
Aku tak terlalu suka anak kecil karena mengingatkanku dengan adikku. Bertapa ngeselinya bikin naik darah.
Dulunya sih..
Aku telah belajar dari pengalaman beberapa tahun yang lalu. Si Melinda, eh apa bener itu namanya? Ah panggil aja Meli. Ia tetangganya Hakim. Anak kecil masih SD yang punya sifat centil banget. Ngeselin.. gak suka banget, sumpah. Sudah ku pelajari kalau cewek yang centil itu biasanya mudah berganti pasangan. Cewek yang berani menggoda itu tak tahu malu. Makanya aku tak pernah suka dengan orang yang suka denganku. Tapi tentu saja pengertian centil dan suka itu beda. Beda tindakan dan perasaan. Umm.. gimana bilangannya ya karna aku sendiri tanpa sadar melihat jauh ke dalam dirinya. Memang dulu aku pernah suka dengan adik kelas yang centil. Kemudian aku bilang "aku terkena perangkap" wajah cantik dan mirip sedikit ada kemiripan dengan orang yang pernah ku suka.
Njirr!! Malah bahas gebetan.
Nah!
Jadi pelajaran yang aku dapat, kenapa aku membandingkan anak kecil dengan cewek dewasa yang centil.. benarkan??
Yang menariknya setelah lama berlalu, si Meli menjadi anak yang kalem.
Kok bisa? Mengingat dulu gimana ngeselinnya. Emezing!
Dia menjadi bersinar. Ketika aku menerima uang kembalian darinya setelah membeli bahan bakar kendaraan, dia bilang "jual" senyum dan sedikit tertawa.
Wow!
Biasanya bocah susah dijinakkan untuk membantu orang tuanya. Tapi si Meli berbeda. Ia ikhlas. Nilai plus plus banget. Aku jadi suka. Pengen sekali aku mengajarinya tentang banyak hal yang ku tahu supaya membentuk karakter yang jauh lebih hebat. Asalkan tetap ada keinginan untuk belajar.
Melihat potensi tak terduga dari anak kecil menambah pengetahuanku dan membuka pintu ilmu untuk mempelajarinya lebih mendalam. Yaa.. kalau nanti aku juga akan punya anak yang hebat, mulai sekarang persiapkan banyak ilmu pengetahuan.

Selama ada keinginan untuk berjuang...

Kamis, 06 Juni 2019

Harapan Perjuangan

Aku sedikit khawatir jam segini adikku belum pulang memancing. Pagi tadi sebelum aku ke pasar ia sudah pergi ke sungai untuk memancing ikan Patan/Hadungan. Kini aku sudah pulang dan masih belum pulang. Aku takut kalau terjadi hal yang buruk padanya. Jangan salah sangka. Aku peduli demi diriku sendiri. Aku masih belum mengakuinya sebagai adikku. Aku hanya ingin bertanggung jawab pada diriku yang punya jangkaun luas.
Ya! Benar begitu kan?
Misalnya telah terjadi hal yang buruk pada orang-orang di sekitarku apalagi pada orang-orang yang ada sangkut pautnya dengan hubungan ibuku aku akan sangat merasa bersalah bila tak sempat bertindak.
Aku harap ia baik-baik saja.
Teringat dengan cerita mistis yang terjadi pada Atah tetangga seberang yang sedang mandi di sungai sendirian. Si Atah kaget karena ada yang berusaha menariknya ke dalam sungai. Ya! itu setan. Tapi syukurnya Si Atah masih bisa menyelamatkan diri. Di sungai lokasi yang paling tidak ku suka yaa di belakang rumah Atah, di lokasi adikku mancing.
Kalau sampai terjadi hal buruk pada adikku yang disebabkan oleh setan.. aku akan membalasnya lebih dari yang mereka perbuat. Awas aja..
*tap
*tap
Perlahan dan tepat aku melangkah menuruni tangga yang terbuat dari bebatuan dan kayu yang licin.
Syukurnya tak terjadi apa-apa pada adikku. Tapi kenapa lama sekali.
"Hey lamanya mancing"
"Tunggu bentar ni lagi rame"
Bikin khawatir aja apalagi ia sedang memancing di pinggiran sungai yang dalamnya sampe pinggang. Tindakan yang cukup ceroboh karna memberikan peluang buat setan untuk mengganggu. Iseng yang kelewatan sampai nyawa melayang. Tak tahukah sungai dan hutan itu tempat yang berbahaya. Jika tak punya insting untuk merasakan bahaya jangan coba-coba pergi ke hutan ataupun mandi ke sungai yang airnya dalam. Apalagi sendirian.
Aku menyuruhnya supaya lekas naik. Adikku pun naik ke darat. Badannya gemetar karena kedinginan. Ya ampun, bagaimana kalau kaki kram terus terpeleset ke dalam air. Bagi yang belum mahir berenang pasti panik. Pernah kejadian orang meninggal tenggelam akibat badannya kram saat menjaring ikan malam hari sendirian. Sampai jasadnya ditemukan masih dalam posisi memegang jaring ikan. Sedikitpun jangan sampai lengah dengan tindakan yang ceroboh.

Kami pulang dan sebagian ikan tangkapannya diberikan kepada tetangga yang berniat ingin membeli.
"Gak usah nek, ikannya kami berikan aja" aku berusaha menolak bayaran.
Kau tahu kenapa aku yang bicara seolah-olah tu ikan adalah hasil tangkapanku?
Bagi adikku memancing hanyalah hobi. Ikan hasil tangkapannya kalau gak nenek yang memakannya atau aku sendiri. Adikku? Whohaha seperti kucing kalau nangkap tikus. Cuman dimainkan doang. Ngeselinkan? Apalah gunanya memancing kalau hasil tangkapannya gak dimakan sendiri atau dijual. Makanya aku berusaha memberikannya saja. Membaca gerakkan adikku sepertinya ia ikhlas saja. Daripada gak dimakan mending diberi ke yang membutuhkannya.

Hubunganku dengan adikku tak sebagus seperti kebanyakan orang. Alasannya, sepenuhnya sudah terjelaskan di episode Kelemahan dan Aku Tak Bisa. Bagai air dan minyak yang takkan pernah menyatu. Berbanding terbalik dengan kepribadianku. Kami tak pernah selaras makanya aku sering berkelahi dengannya. Bukan berkelahi fisik.
Yaa.. sesuatu yang mustahil untuk dihancurkan ataupun diubah dari dalam dirinya.
Kehadirannya benar-benar mengganggu. Aku pernah berpikir jika seandainya hanya ada aku dan kakakku sebagai anak ibuku mungkin keluarga kami akan damai. Ketika aku masih kecil, aku sudah berusaha menjauhinya.
Dia kesepian..
Bertemanpun sulit..
Kemudian menginginkanku karena dia tahu aku bisa menjadi tempat yang akan membuatnya senang dan mengenal apa yang namanya pertemanan. Tapi akunya yang tak suka. Aku akan sakit jika terus-terusan berurusan dengannya. Aku menghindar. Dia harus bisa melakukan seperti apa yang aku lakukan.
Tapi ku sadari.. adikku tak memiliki apa yang aku miliki. Bertapa payahnya. Dan menyebalkan jika dia tak kunjung menemukan tempat untuk bisa mengekspresikan diri. Tempat untuk berkembang.

Keadaan makin parah setelah ibuku nikah dengan Pak Iin. Setahun sekali kami sekeluarga baru bisa melihat ibuku. Aku kira ibuku benar-benar meninggalkan kami. Aku sempat pasrah saja karena itu keputusan ibuku. Apa yang ibuku inginkan aku hanya bisa menurut.
Tapi teringat awal mula masalah ini terjadi karena ayahnya adikku. Kini ayahnya juga meninggalkan anaknya sendiri, kenapa harus kami yang mengurusnya? Sungguh ingin ku patahkan lehernya kalau sampai berani muncul di hadapanku.
Merepotkan..
Sekarang di rumah hanya ada aku seorang yang bisa. Tapi aku aku tak suka melakukannya karena di dalam dirinya mengalir darah si bangsat.
Kenapa harus aku?
Kami takkan pernah selaras. Hobi, kesukaan, pemikiran dan segala macamnya. Gimanapun caranya tetap saja salah. Selalu bertengkar.
Ketika adikku minta aku untuk isikan formulir data dirinya aku langsung menolak. Masa mengisi formulir saja tidak bisa? Si bangsat itu memang bodoh sekali ya..
Data nama ayahnya belum terisi membuatku makin yakin untuk tidak berurusan dengan adikku. Jangan sampai aku yang harus mencari tahu nama ayahnya. Menjengkelkan.
Dia tak bisa sendirian..
Tak punya kegiatan yang bisa membuatnya berkembang..
Prestasi payah..
Kakakku hanya peduli dengan dirinya sendiri. Selalu aku yang dicari.

Bagai dua keping koin yang memiliki 2 sisi.
Di satu sisi aku punya hati. Di sisi lain aku tak suka dengan adikku.

Aku harus bagaimana?
Sedari kecil hanya satu ini saja permasalahannya. Tak pernah habis-habisnya.

Aku sadar perlakukanku terhadap adikku juga keterlaluan. Mungkin sebagian kesalahan pada dirinya itu ulah dariku. Bagaimana juga mau bersikap baik, bila aku berbuat baik padanya dia selalu meremehkanku. Aku ingin mengajarinya banyak hal dia malah bersikap sok tahu dan menolakku. Kami tak pernah selaras. Kepribadian kami saling berlawanan. Aku yang masih bocah mana tahu cara mengajari anak kecil. Memperlakukannya. Kenapa harus aku lagi? Sangat menjengkelkan.
Uahhh.. aku tak punya pilihan solusi yang bagus.
Aku tak bodoh. Makanya aku tak ingin sakit lagi gara-gara berkorban demi seseorang yang aku sendiri tak menyukainya.
Ini ujian yang paling merepotkan.

Sekarang mungkin masih belum bisa. Tapi suatu saat nanti pasti ada harapan. Saat dimana aku bisa menjadi lebih baik lagi. Atau adikku sendiri yang bisa berubah jauh lebih baik dariku.
Bukan hanya adikku tapi semua orang..

Selama ada perjuang pasti akan selalu ada harapan...

Senin, 03 Juni 2019

Kekacauan

Huhh..
Semuanya jadi kacau.
Tenggelam dalam kegelapan, aku mencampakkan semuanya. Tak ada yang perlu diharapkan dari mereka semua. Aku menjadi penyendiri.
Ketika kita terluka, setelahnya pasti akan mencari tempat untuk bisa menyembuhkan luka. Begitu pula bagiku. Teringat siapa saja yang bisa aku hubungi. Tapi.. sedikit dan meragukan. Aku hanya bisa mengirim pesan sedang bad mood.
Teman yang sedikit adalah pilihan dari keputusanku untuk menangani dampak labil. Memilih pilihan yang terbaik tentunya aku harus bisa bertahan pada keputusan itu agar tidak labil lagi, agar tidak mudah merubah pikiran.
Sekarang siapa yang bisa menolong?
Ya siapa lagi kalau gak Yang Maha Menciptakan.

Awalnya aku sadar kalau cobaan ini hanyalah sandiwara untuk menjadi lebih baik lagi. Tapi emosi begitu sulit terkontrol saat dekat dengan mereka. Tubuhku gemetar karena serang mental sementara emosi ingin menjauhkanku dari mereka. Mengabaikan. Menjadi orang yang tak peduli.
Pikiran menjadi kacau membandingkan-bandingkan antara baik dan buruknya pilihan yang akan aku putuskan. Pusing sekali.
Mengapa mereka selalu mempersalahkan tentang diriku? Apakah benar kalau jalan yang aku pilih ini salah?
Ingin juga ku salahkan kesalahan mereka dan menuntut seperti cara yang mereka lakukan.
Salah.. langkah ini juga salah.
Tak sanggup tubuhku berbuat baik lagi walaupun hati enggan melakukannya. Aku tahu jika aku memutuskan hubungan lagi hanya akan menambah dosa.
Salah siapa? Mereka sendiri yang meminta ku untuk menjauh lewat tindakan yang telah mereka lakukan.

Tak sadarkah?

Aku menyadari situasinya. Aku bisa melihat seluruh skema peristiwa yang terjadi dan kemungkinan yang akan datang dengan membaca kepribadian mereka kemudian mengambil langkah. Hanya untuk sebuah solusi untuk mempertahankan pilihan dan berdamai. Sayangnya.. langkah satu-satunya untuk bisa berdamai ialah membangun hubungan dengan mereka. Caranya mengungkapkan isi hati lalu dicaci, kemudian menjadi yang hina dengan mengikuti saran mereka. Dan akhirnya jatuh lagi karena kesalahan.
Damai? Ahaha.. tidak. Ujungnya akan tetap sama.


Setelah minggu kemarin dan seterusnya aku bersikap dingin pada mereka kecuali adikku. Makanan yang biasanya mereka bawakan buat orang di rumah ini tidak aku makan. Tak sudi diriku mendapat tenaga dari orang yang membenciku. Kakakku sedikit tahu tentang ekspresi ku saat sedang marah jadi ia menjaga jarak. Imel, istri kakakku juga kena dampaknya. Bukan karena benci namun aku ingin dia tak terlibat dengan masalah kami. Imel tak salah apa-apa, dia punya etika, pada saat keributan pun dia hanya diam saja.
Ini pelajaran terakhir dari pengalaman berhubungan dengan keluarga.

Aku ingin mereka sendiri yang meminta maaf langsung padaku.

Sampai itu terjadi aku akan terus bertindak jauh dari yang pernah mereka kenal.
Sebelum minggu terburuk itu terjadi nenekku ingin menghauli keluarga terdahulu. Awalnya aku senang membantu dan menyarankan banyak hal. Tapi salahnya langkah yang diambil membuatku harus bersikap dingin. Kurang lebih satu dua kata aku bisa berucap seperti bilang "iya" dan "tak tahu". Bila bertanya meminta saran, aku akan bilang terserah. Merujuk pada makna aku tak peduli lagi bukan hak ku lagi ingin ikut campur.
Pengalaman yang juga sudah sering terjadi karena selalu meremehkan dan menolak ide-ideku. Pelajaran terakhir kalau dari mereka jika ingin sukses aku perlu lepas dari mereka semua.
Kalau dia bukan nenekku sedari dulu sudah pasti telah aku jauhi.
Ini balasan atas tindakan. Aku juga tak mengharapkannya. Hati serasa sakit berbuat kasar namun disisi lain hati juga sakit dengan perlakuan mereka. Menengahi keinginan hati. Aku tak mau menghilangkan perasaan hati sampai habis total. Aku masih menyisakan sedikit perasaan karena aku tak mau ditinggalkan oleh Yang Maha Pencipta lewat tindakan yang tak beperasaan. Aku masih bisa berpikir. Aku punya akal.


Kesulitan.
Aku bersikap acuh saja untuk sementara sampai benar-benar tak ada jalan lagi.
Tak lama juga aku menginginkan balasan sampai hatiku bisa mengikhlaskan sikap nenekku. Kembali menjadi diri sendiri lagi. Tapi hanya untuk nenekku. Buat mereka yang tersisa masih belum bisa.
Minggu selanjutnya mereka datang. Siang sebelum sorenya mereka datang aku sudah punya firasat kalau mereka bakal datang. Tubuhku jadi dingin dan sedikit gemetar. Wahaha sudah trauma ya? Aku menertawakan diriku sendiri.
Pengen kabur sih tapi jemuranku belum aku rapikan. Yah mau bagaimana lagi. Siangnya aku istirahat. Setelah sholat Ashar barulah aku merapikan jemuran.
Sorenya mereka datang juga.
Ucapan salam tak ku balas.
Mereka lewat dan memuji aku yang merapikan baju.
Kutil onta..
Pelajaran terakhir dari ucapan pujian dari orang-orang seperti itu hanyalah tipuan belaka. Jika kamu membalasnya justru mereka akan makin jijik denganmu. Di abaikan pun makin salah. Jadi jawabannya biarlah kita abaikan, karna mereka takkan pernah puas mengejek. Berpikirlah kalau Tuhan lebih dekat dengan kita, lebih mengerti, lebih pemaaf dan lebih penyayang. Janganlah ragu bergantung pada Tuhan Yang Menciptakan alam semesta ini. Dengan cara itu kau akan jadi seseorang yang takkan pernah takut dengan makhluk Ciptaan-Nya.
Karakter baru terbentuk lagi dari campuran karakter asli dan Beater. Namun Beater lebih dominan.

Beaster

Warna oren.
Ekspresi wajah ganas. Aura menekan. Fisik meningkat yang seimbang dengan kecepatan.
Karakter buas yang tak kenal takut telah selesai, menyelesaikan penyempurnaannya.
Tapi aku masih ingat banyak pesan hidup dan pelajaran dari guru-guru kalau aku tak boleh sombong. Tak kenal takut aku niatkan untuk mengalahkan serangan mental. Agak sulit sih😑 kadang aku melangkah seperti menggetarkan sekitar, melebarkan tekanan.
Tiap karakter juga punya ciri khas tersendiri begitu pula dengan cara melangkahkan kaki. Aku lebih sering menggunakan cara Zheill karena lebih tenang.
Uhh.. saat ini rasanya sangat sulit menenangkan diri😑 aku on fire! Terbakar semangat tekad merasa lebih kuat. Ahh itu juga sombong. Aku terlalu mendalami tokoh Genos di anime One Punch Man pas melawan Garou.