Jumat, 31 Mei 2019

Masalah

Semakin dalam rasa haus akan pengetahuan ku tentang agama dan dunia. Aku yang sekarang ini sudah sangat berbeda dari yang dulu, yang pemalas ingin belajar. Berbekal semangat yang tinggi aku tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada.
Hampir setiap hari aku selalu menonton ceramah di tv. Acara "Islam itu Indah" tiap pagi aku dan nenekku bersama-sama menontonnya. Ilmu agama itu penyeimbang dalam segala aspek kehidupan. Ada banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari belajar agama apalagi dengan ustadz ataupun guru yang ilmunya tinggi. Bisa atau enggaknya pelajaran yang bisa kita ambil itu tergantung hidayah-Nya. Tapi jangan juga beranggapan "ah nanti juga paham sendiri". Tak ada niat untuk mencoba memikirkannya dan mempelajarinya pasti lah bakal sulit. Sulit karena tak tahu bagaimana cara untuk mengatasi masalah yang akan datang.

Tema tentang pekerjaan. Aku ingin sekali menghindari mendengarkan ceramahnya bersama nenek. Kenapa? Entah kenapa aku merasa triggered atau tertekan seperti merasa bersalah gitu. Ya iyalah. Seharusnya aku sebagai lelaki bekerja bukannya nganggur. Tapi kenapa harus kerja dulu sementara niat gak ada dan kepribadian yang masih labil. Sama saja salah. Jalan sebenarnya yang harus diambil adalah jalan menuju kehidupan yang lebih baik. Ya kan?
Keinginan jiwa dan insting tak pernah bohong. Karnanya aku memilih jalan dari pilihanku sendiri. Tapi kenapa baru sekarang aku yakin?
Ya itulah masalahnya..
Ceramah kali ini aku tak mau kabur soalnya ustadznya berceramah tentang tujuan mencari nafkah.
Yep! Baru sekarang aku menyadari tujuan dari mencari nafkah itu apa?
Kenapa? Karena aku sedang tak ingin memikirkannya.
Singkatnya dalam ceramah tadi aku mendapatkan pelajaran penting untuk nanti bila ingin kerja. Pertama yang penting niatnya. Jika aku gabungkan dengan banyak ilmu dari berbagai sumber. Aku mengurutkan niat dari pilihan terbaik yang pernah ada. Pertama niat untuk menaik hajikan orangtua tapi dalam hal ini perlunya pekerjaan yang tetap dan waktu yang lama untuk menabung uang. Semoga aja gak keduluan mama ku sendiri yang berniat naik haji. Kedua niat mencari nafkah untuk ibadah. Makanan, pakaian, harta benda apapun yang akan dihasilkan tujuannya hanya untuk ibadah. Kata Guru Danau coba modal sendiri untuk mencari ilmu(pergi ke pengajian) pasti enak. Gak ada beban dan berasa lebih berkah. Kalau kita beribadah dari orang yang memodali kita, kata ustadz, yang alimnya ialah yang memodali bukan kita(gua) yang beribadah. Akupun ingat dengan ibuku. Bagus dong. Tapi tentu saja tak selamanya aku akan terus seperti ini. Jelas tindakan ku masih kurang tepat.
*gehhh!
Lagi. Aku ingin ilmu yang lebih banyak lagi.

Hal yang paling terpenting bagiku adalah agama. Aku tak mau pekerjaan menghalangi ku beribadah dan mencari ilmu.
Kemudian, tenaga ku sedikit dan mudah lelah. Sedari kecil kegiatan ku tak pernah menentu. Makan hanya ketika aku lapar atau lagi ingin. Bermain tak kenal waktu dan istirahat hanya pada saat aku merasakannya. Akibatnya tubuhku berkembang dan tumbuh mengikuti apa yang harus ditingkatkan. Beda dengan keluarga anak dari keluarga lain aku punya kebebasan.
Aku harus memberi syarat untuk pekerjaan bukan pekerjaan yang membelenggu. Mungkin aku perlu kursus mengemudi. Mengikuti perkembangan zaman, pekerjaan yang mungkin bakal tetap bertahan di masa yang akan datang. Emm.. akhir zaman kan sebentar lagi pasti bakalan perang. Musim kemarau selamanya dan- ahh kalau ingat masa depan pasti jadi teringat akhir zaman. Dunia tempatnya manusia untuk diuji. Dengan pengetahuan yang ku dapat ujian bertujuan untuk meningkatkan iman dan taqwa manusia. Ada atau tidaknya merasakan akhir zaman tergantung pencapaian. Jangan sampai merasakan. Kalau bisa lebih dulu meninggal daripada harus merasakan akhir zaman. Duh malah membahas ini.
Ya intinya aku hanya buang-buang waktu memikirkan masalah yang mungkin atau tidaknya bakalan ku alami.
Bersama kesulitan pasti ada kemudahan..
Sip. Aku dapat motivasi buat keluar dari zona aman dengan penyelesaian yang tepat. Secercah harapan tanpa ada keraguan. Sama pada saat aku ingin  menggambar ide-ide berlian membanjiri pikiranku. Aku hanya perlu percaya diri. Aku masih masih punya peluang besar untuk berkembang.

Ya itulah kehidupanku..
Aku punya kehidupanku sendiri..
Masalah akan selalu datang merusak, menjadi kanker dalam kehidupanku..

Kakakku datang padaku membawa berita yang bagiku saat ini adalah berita buruk. Kaka Rida menyuruhku untuk membuat surat lamaran kerja untuk pekerjaan yang aku sendiri gak mengharapkannya.
Segera! Mumpung kaka Rida sudah membujuknya. Kata kakakku.
Gak ah!
Aku berpaling darinya. Selanjutnya bisa dibayangkan sendiri bagaimana ngeselinya seseorang.
Jawabanku sudah tetap. Tak ada lagi niatan. Jika aku niatku setengah-setengah lagi hasilnya hanya akan sama seperti aku magang dulu.
Sepekan hampir tiap hari kakakku datang memaksakan diriku. Bukannya aku tak ingin keluar dari zona aman tapi kenapa harus disaat seperti ini, saat aku punya kemauan sendiri untuk membuat kehidupanku lebih baik.

Aku sendiri..
Punya kehidupanku sendiri..

Puncak masalahnya pada hari minggu ketika kaka Rida, kaka ibuku dan anaknya datang.
Kasar.. aku sudah kasar memanggil keluarga seperti memanggil orang asing.

Sehabis Dzuhur aku mencoba untuk istirahat memulihkan tenaga tapi konflik mulai terjadi. Setelah kaka Rida bertanya pada pada anak kaka ibuku, di dapur langsung heboh. Ahh sebagian sudah tak ku ingat.
Rasanya sangat mengerikan. Lebih mendingan di pukul-pukul atau di cakar-cakar di seluruh tubuh. Mental yang lemah seperti diriku sangat sulit bisa bertahan. Jadi inikah pembullyan.
Nenekku jadi ikut-ikutan namun suaranya pelan. Tipe orang munafik yang suka berbicara dari belakang.
Aku tak mau jadi seperti itu. Aku dapat pelajaran bahwa aku memang solo player yang tak boleh membangun hubungan dengan orang lain.
Jadi ketahuan sifat asli semuanya. Hanya memperjelas karena pada dasar aku sudah tahu kalau sifat itu sudah ada. Sedikit curiga untuk kaka ibuku tak seperti anaknya. Hmm.. mungkin karena kejadian dulu waktu kakakku nikah aku sempat memperlihatkan karakter amarah Beater ku padanya dan itu membekas.
"Kenapa gak kaka Hakim aja yang melamar" kata anaknya
*Pfft
Sekejap aku langsung ketawa sedikit. Aku sudah bisa membaca langkah selanjutnya.
Entahlah rasanya aku ingin keluar dari situasi ini dengan cara mengalihkan perhatian.
Kondisi ku kali ini sangat buruk sekali. Badanku panas dingin. Tanganku gemetar. Bernapas pun susah.
Gawat.. kalau seperti ini terus aku bisa sakit. Aku harus mengaktifkan efek Enchanter. Kalau lagi down imun tubuh juga ikut menurun.
Aku mencoba mengepal tinju. Lagi alirkan tenaga. Sekilas dari penglihatan lebarku aku melihat horden bergerak. Seseorang akan masuk tapi refleks ku menurun.
Rupanya kakakku perlahan dia menjengukku.
Oh coba lihat dia dengan ekspresi suramnya. Tubuh tak pernah bohong merasakan kesalahan.
Ingin sekali aku berkata kasar. Sudah lancang masuk dan juga menyalahkan sumbu api konflik apa sebaiknya caraku untuk memperlakukannya. Aku kehabisan cara. Memukul mereka semua adalah tindakan konyol tak berdasar. Sifat mereka semua yang perlu dihajar.
Jangan tanyakan kondisiku. Selalu saja bergerak tanpa berpikir bikin kezel.
Ah ya! Aku ingin muntah melihat dan dekat kalian. Sudahlah sebaiknya kalian pergi. Inginnya aku berteriak.

Hampir jam setengah empat. Aku mendengar adikku dari balik dinding kayu. Tak sengaja aku memanggil adikku.
Kenapa?
Ah iya.. pada saat seseorang terpuruk pasti orang itu ingin mencari harapan lewat ahh sepertinya aku salah jalan. Kalau sudah terlanjur mau bagaimana lagi aku teruskan saja meminta tolong padanya. Aku minta agar adikku menanyakan apa-apa saja yang harus aku lengkapi untuk surat lamaranku.
Ekspresinya seolah-olah tak ingin bergabung denganku. Ya begitulah.
Aku tak mau seperti itu. Seandainya ada seseorang terpuruk dan sendirian aku pasti akan menemaninya dan menolongnya. Ini sifat Beater. Walaupun seluruh dunia jadi musuh. Tenaga yang bersumber dari amarah dan dendam jadi senjata.
Sebagai gantinya jika adikku mau membantuku aku akan memaafkannya. Tapi jawabannya hanya setengah. Malah menyuruh kakakku yang memberitahukan. Kesel.
Aku bangkit dan turun dari kasur.
Uhh.. lemes..
Ah! Aku teringat. Mungkinkah kondisiku saat ini sedang di dzolimi. Kalau gitu aku minta harapan bedoa minta sesuatu.
Aku ingin laptop gaming!!
*ah konyol ngehabisin waktu
Istri soleh? Kerja dulu..
Ah! Benar pekerjaan. Duh pekerjaan apa coba yang bagus. Em.. emm.. emm.. ah pokoknya pekerjaan yang gak menghalangi beribadah dan belajar mungkin itu aja. Oh oh! Mudahan nanti hafal Al-Quran dan artinya serta mendalami maknanya.
Pengen sih aku mengutuk mereka tapi apa gua tega mendoakan agar orang lain merasakan akibat. Aku masih punya hati. Misalnya aku sukses terus menginjak-injak mereka? Salah juga. Niatan sukses untuk menginjak gak bakalan bernilai ibadah dan lagi kenapa harus berlaku kasar? Mereka pernah membantuku. Jadi teringat kata-kata mutiara
Setitik hitam di kertas yang putih. 
Ngahhh!! Kenapa aku harus berbuat baik..
Rasa sakit ini menginginkan balasan. Dan aku tahu kalau melakukannya itu sulit.

Sebentar lagi adzan. Aku mempersiapkan diri untuk keluar melangkahkan kaki di bara api yang menyala.
Akhirnya tiba akupun keluar dan harus melangkah ke arah mereka untuk mengambil peci. Euhh..
"Nah hendak sembahyang kah?" Kata anaknya
Muka dua.
Ekspresiku sulit sekali keluar. Pengennya marah. Tubuhku bergerak untuk mecampakkan mereka. Tak tahu lagi cara seperti apa yang harus kulakukan. Aura samar-samar dari mereka rasa khawatir akan di dengar ucapannya di telingaku. Lah? Emangnya koar-koar gunanya buat apa kalo gak didengar. Ihh.. gua dengar semuanya tak usah khawatir.
Singkat cerita. Mereka semua pulanggg. Aku bisa leluasa bikin surat lamaran kamvret. Ke sana kemari mencari bahan seperti memfoto copy dan lainnya.
Selesai. Aku memanggil tetanggaku.
"Ah Fidz, kaka Ridanya lagi istirahat" kata ibunya.
Kayaknya bohong dah. Paling sakit kepala karena mendengar keributan. Tapi aku gak ikut ribut atau membalas langsung. Eh?
Nah kan jadi merasa bersalah. Makanya hati-hati dalam bertindak.
Aku tak ingin seperti itu.
"Wah fidz tulisan tanganmu bagus" ibunya memujiku.
Buat apa? Oh ingin menenangkanku ya. Gak papa kok. Asalkan jauh dari mereka aku sudah tenang.

Apanya yang tenang. Setelah istanaku dibombardir apa yang bikin tenang. Tak tahu, pikiranku di kelilingi kegelapan. Kenapa selalu saja ketika aku mulai bangkit ingin melangkah pasti dibuat jatuh lagi. Dulu juga setelah aku berjualan baju bekas malah ditertawakan.
Apakah aku salah?..
Aku punya caraku sendiri..
Aku punya kehidupanku sendiri..
Bahkan ibuku sendiri tak pernah mengekangku. Dari dulu aku diberikan kebebasan dari ibuku tak pernah aku gunakan untuk hal yang buruk. Aku tak merokok. Aku tak berjudi. Aku tak memakai narkoba walaupun sekelilingku pernah seperti itu.
Aku belajar sendiri. Aku membangun karakterku sendiri. Aku berjuang sendiri.
Bukan untuk dibanggakan. Bukan sebagai alat. Bukan sebagai pion untuk merusak hubungan tetangga.
Dan aku takkan pernah mau mempererat hubungan dengan orang yang akan terus-terusan membuatku sakit.
Ingin sekali ku ucapkan
"Kita deal saja sampai sini, saling memaafkan dan tidak boleh berhubungan lagi"
Ingin sekali!
Supaya aku bisa leluasa bergerak melangkah.
Kesal. Aku tahu itu salah. Agama mengharuskan hubungan keluarga yang baik dan saling menjaga dari api nereka.

Ahh..
Untuk sekarang aku hanya ingin pulih supaya beribadah lancar.

Sabtu, 25 Mei 2019

Langkah

Selain tertarik tentang pseudo sains aku juga tertarik pada apa yang tersembunyi di dalam tubuh manusia yaitu tenaga dalam atau chakra. Aku ingin mengetahuinya dan mempelajarinya. Memang harus begitu kan.. bagiku yang punya bakat bertarung. Aku berpikir demikian karena karakter baru yang muncul ini, Beater mengharuskan ku untuk tak boleh lemah. Aku harus kuat untuk bisa melawan monster.

Sering sudah ku mendengar tentang penggunaan tenaga dalam namun belum tahu bagaimana cara untuk membangkitkannya. Lewat Internet aku mulai mencari informasinya. Cara membangkitkan tenaga dalam lewat meditasi, olah pernapasan dan wirid khusus. Banyak ku dapati cara membangkitkan tenaga dalam yang berdalih islami. Tak tahu apakah cara seperti itu diperbolehkan. Aku meragukannya. Sempat mencobanya dan kurasakan kalau memang cara islami seperti itu kurang benar. Rasa-rasanya kurang pas, belum terjawab keraguan ini makanya aku tinggalkan dan beralih dengan cara olah pernapasan dan meditasi.

Letak titik chakra dalam tubuh manusia ada tujuh. Di ubun kepala berwarna ungu, di antara dua alis mata berwarna biru, tulang leher berwarna biru langit, di tengah dada berwarna hijau, di ulu hati berwarna kuning, di bawah perut berwarna orange dan di ujung tulang belakang atau diantara anus dan alat kelamin berwarna merah.
Wahh.. aku sempat kagum. Aku memang menyukai hal yang logis. Bagi orang awam hal seperti ini mungkin hanya mengada-ngada tapi aku punya perasaan untuk bisa merasakan kebenaran.
Buktinya banyak sudah ku temukan  pengguna chakra dalam ilmu bela diri tingkat atas atau yang lainnya yang hanya ingin mempelajarinya.
Banyak informasi terkait rahasia chakra dalam kehidupan seseorang.
Aku semakin semangat. Inilah yang aku cari.

Di sekolah aku mulai menceritakan hal ini ke teman sebangku ku si Diba, di cewe. Dia antusias mendengarkan ceritaku.
Aku memejamkan mata dan mulai bermeditasi. Di dalam gelapnya aku memejamkan mata perlahan mulai muncul titik-titik kecil cahaya. Ada yang berwarna merah, hijau, putih dan hitam. Ahh biru juga ada. Maksudnya apa ya itu? Ujarku dalam hati.
"Diba coba deh kamu juga pejamkan mata, ada gak titik cahaya yang berwarna?" Aku membujuknya. Dia pun melakukannya.
"Ah ada juga kulihat" katanya
Entahlah apa gunanya titik cahaya warna warni tersebut. Kadang menghilang jika dilihat terus menerus dan jarang muncul. Informasi terkaitnya belum aku temukan diinternet. Uhh susah banget mencarinya latihanku pun belum membuahkan hasil. Di tiap situs banyak yang menyarankan harus belajar dengan guru. Ya, supaya, inginnya gak ke jalan yang sesat gitu. Hahaha.. eww.. tapikan membangkitkan tanaga dalam juga melangkah ke jalan yang lain.
Entahlah.. apa yang inginku cari. Aku pusing memikirkan sekolah.
"Fidz kenapa dudukmu kayak cewek gitu(kakiku rapat) haha, coba lihat si Diba malah sebaliknya" ujar si Abi.
Heehh belum pernah lihat gua masang kuda-kuda siap tempur ya? Kalau lagi santai-santainya kan emang gak perlu harus terlihat buas.

Hampir seminggu aku mempelajarinya. Setiap sore aku duduk bermeditasi di atas tempat tidur. Keringat bercucuran karena mengolah napas. 10 detik membuang napas sampai perut kempis kemudian menarik napas secara perlahan 10 detik dan terakhir menahannya 10 detik pada titik yang diinginkan. Berulang seperti itu terus menerus. Napasku masih pendek. Seharusnya menurut info diinternet harus 15 kali tahan,tarik dan buang. Sampai ya sampai aku sanggup sekitar 15 menitan. Banyak keringat yang keluar kujadikan cara ini sebagai olahraga saja karena simple.
Tenaga dalam yang harus dibangkitkan ialah yang terletak pada ulu hati berwarna kuning katanya sumbernya tenaga dalam. Iya itu targetku saat ini. Aku ingin bisa melakukan pukulan tenaga dalam dan tendangannya. Pertama kan emang harus punya senjata untuk bertahan. Melihat rekaman diinternet. Ada beberapa yang membuatku sangat tertarik jika sudah bisa menggunakan tenaga dalam. Seperti melihat makhluk lain, bisa mengetahui lokasi dengan melepaskan energi ke benda, bisa digunakan untuk menyerang seperti memecahkan gelas dan batu. Pertahanan yang kuat misalnya tahan ditebas dan banyak lagi.
Dalam video yang ku lihat seorang bapak-bapak yang perutnya buncit make baju biasa dan sarung tengah sparing dengan muridnya. Si bapak hanya menggoyangkan kaki kanannya saja, maju mundur sedikit tapi sudah bisa bikin beberapa muridnya kesulitan melangkah menuju si bapak. Semuanya sempat terjatuh dan bangkit lagi. Ada yang mencoba menahannya dengan gerakan bertahan namun tetap jatuh juga.
Masalahnya, kok bisa? Aku masih pemula belum bisa menangkap maksud dari inti latihannya. Kok bisa cuman menggoyangkan kaki aja sudah bisa bikin orang tumbang.
Anak IPA abal-abal sepertiku mencoba mengartikannya, proses, sebab akibat dan yahh pokoknya sampai mengerti apa yang sudah terjadi.
Emm.... em... emm... emm..
Ah! Mungkinkah begini!
Jika dilihat dari cara si bapak menggulingkan muridnya dengan menggerakkan kaki bisa dipastikan ada energi yang lepas lewat sana. Menendang ke depan ke belakang sedikit seperti kita berkipas dengan kipas tangan. Tapi karena gerakannya sedikit seperti gak bertenaga sekali itu artinya jumlah energi si bapak sangatlah besar. Dengan gerakkan kecil saja sudah bisa begitu apalagi tendangan. Bisa modar tuh murid. Jelasnya bukan hasil dari mantra tapi murni fisik energi.
Ya mungkin saja begitu :v gua juga gak tahu.
Tapi yang bikin aku heran kok bisa bapak-bapak yang penampilan sederhana gitu bisa punya tenaga dalam yang luar biasa. Aku kira syarat wajib belajar tenaga dalam harus bisa bela diri.

Ada juga video yang memperlihatkan 2 orang sedang sparing. Dari mancan negara ahli bela diri di atas ring saling adu kekuatan. Entah wajahnya mirip orang korea atau jepang. Di baju putih bela dirinya banyak terdapat atribut. Keduanya mulai melakukan pertarungan sampe berdarah-darah cuman hanya ingin beradu kekuatan. Gak enak dilihat udah tua gitu kayak gak sayang umur. Bingungnya kalau kerusakan yang diakibatkan dari tenaga dalam itu cara menyembuhkannya bagaimana?
Apakah ada seorang healer layaknya seperti di sebuah game?

Lainnya lagi. Seorang murid ngamuk ngamuk di tengah lapang. Oh! Bukan sedang mengamuk. Gerakannya terlihat  berpola. Layaknya kera, memang itulah jurusnya yang sedang dilakukannya. Tapi kesadarannya hilang, tak terkendali atau bisa dibilang kesurupan.
Kok mau ya jadi begitu?

Banyaknya dampak buruk yang mungkin bakalan terjadi.

Yang terpenting ialah aku ingin menghindari adanya campur tangan jin apalagi setan dalam belajar tenaga dalam. Ku sadari mungkin itu mustahil. Ujung-ujungnya belajar tenaga dalam cuman buat menyerang lawan kan?.. pasti terselubung adanya energi amarah.
Satu hal yang sedikit mengganggu ketika melakukan olah napas.
Apa yang sedang aku hirup?
Oksigen? Benarkah oksigen?
Informasi pendukung yang aku dapatkan bahwa setan maupun jin bisa berubah wujud menjadi kumpulan asap. Nah misalnya mereka masuk ke dalam tubuhku bagaimana dan bersarang. Sedikit bikin aku merinding.
Pada saat aku latihan di belakang rumah. Melakukan meditasi sambil berdiri. Memejamkan mata lalu mencoba merasakan energi diri tapi malah lihat bayangan melesat di depan mata. Jelas kaget. Langsung saja aku membuka mataku. Begini saja aku sudah takut apalagi kalau mata batin terbuka dan sudah bisa lihat setan. Njirrr.. gak kebayang. Pas bangun tidur buka mata eh malah ngeliat genderuwo. Faakkk!!
Masuk wc kesenggol mba kunti. Fakk!!!
Keluar rumah malam-malam eh liat pocong terbang. Mukanya ancur pula. Kan Fakkkk!!!
Hedehh.. 😑
Aku pun berhenti main-main mempelajari  tenaga dalam.

Ah beberapa minggu latihan ada sedikit hasil yang ku dapat. Aku bisa membuat dan merasakan bola psi dengan kedua telapak tangan. Oyey!!
Indra perasa meningkat. Oyey!!

Kamis, 23 Mei 2019

Pergi Menjauh

"Nih, kamu mau gak menghadiri undangan sebagai masyarakat di acara penyuluhan pemilu nanti?"
"Eh kenapa aku?"
"Sisa satu aja lagi undangannya nih, nanti bakal dapat bayaran kok"
Njirr ngotot banget. Aku gak peduli sama bayarannya, emangnya aku mudah dibeli dengan uang, dasar..
"Ngapain aja di sana?"
"Duduk aja kok mendengarkan penjelasan"
"Sampai jam?"
"Gak lama paling"
Hoohh malah dianya gak tahu.
Aku punya firasat gak enak sih tapi sepertinya ini acara yang bagus untuk dihadiri. Tujuanku ingin mencari pengalaman dan informasi.
Di undangannya tertulis hari Rabu nanti. Kurasa hari itu aku senggang, mungkin.
"Okelah, aku mau"
Aku ingin belajar siapa tahu dapat pengalaman berguna.
"Nah gitu dong, daripada nganggur di rumah"
Wahhh sok kenal yaa.
Aku sudah sering lihat nih orang karena tinggal sekampung tapi belum pernah terbesit untuk menerka kepribadiannya soalnya tampilan luarnya memang ramah. Tapi sekarang aku sudah tahu kepribadiannya dengan sekali cerna ucapannya.
Tukang kepo.
Aku tak bisa marah karena aku dalam kondisi baik, kalau enggak? Yaa kemungkinan besar aku tarik lagi kata-kataku untuk menerima tawarannya. Dasar..

Hari Rabunya.

Euhh.. badan ku gak enak ditambah suhunya dingin dan kurang tidur.
Batalkan? Kah?
Kayaknya jangan deh. Kalau gak hadir sama aja kayak ingkar janji. Paksa sedikit mungkin gak papa.
Aku telah sampai di tujuan. Ku lihat ada seseorang menunggu dekat parkiraan. Wajahnya agak familiar. Aku ingin bertanya dengannya apakah ia juga mendapatkan undangan. Aku sedikit khawatir kalau saja aku salah tempat tuju hehehe..
"Ah jadi gitu.."
ok telah dipastikan ini tempatnya.

Lumayan lama menuggu sampai sekitar jam 8 an akhirnya kami disuruh masuk untuk mengisi absen.
Wah pakai absen dan dapat tas juga.
Di dalam tas ada kertas berisi susunan acara. Berusaha aku melihatnya dengan mata sayup. Ku lihat acara akan berlangsung sampai sore hari.
Aaah.. ku kira sampai setengah hari aja.
Duh gimana nih pekerjaan rumah belum selesai pula.
Ngisi absen yang kedua ku lihat ada nominal bayaran yang akan di dapat setelah acara selesai. Seharian dapat 75.000 Rp saja? ucapku dalam hati. Aku merasa tak puas. Tapi teringat bagaimana jika nasi bungkus 10 ribu untuk 3 kali makan sehari sisanya 45 rb bisa untuk ditabung, masih banyak untung ini mah. Apalagi kalo cuman makan mie hah!
Emm masalah sebenarnya bukan pada bayarannya tapi apakah aku bisa bertahan sampai acara selesai?
Gak yakin 😑

Masuk lagi aku memilih tempat duduk di tengah barisan.
Di sebelah kanan ada laki-laki seumuran kakak ku mungkin yang masih lajang. Aku tahu dia tinggal di RT sebelah namun tak tahu namanya dan aku tak akrab.
Di samping kiri sama laki-laki agak lebih tua dari yang disamping kanan tadi. Identitas sama sekali tak ku tahui.
Ah pokoknya gua di kelilingi laki-laki yang lebih tua dariku lah. Om ya? Atau paman? Entahlah 😑
Setelah menyanyikan lagu Indonesia Raya aku langsung siap-siap mau menggambar. Tapi sebelum itu.. orang-orang yang duduk di kursi atas sana sedikit membuatku terganggu. Sama kayak orang-orang yang duduk di kursi DPR. Apa tampang orang-orang politik memang seperti itu ya??
Sedikit ku menelaah karakter mereka untuk mencari informasi terkait kepribadian. Cara mereka menelepon, berinteraksi dengan sesama, tatapan mereka, emm.. ahh aku mengantuk 😑 dan juga ruangannya ber-ac, harinya udah dingin tambah udara ac pula. Pengen pulang.. uhh..

"Wah eyy lihat gambarnya keren" seseorang dari belakang menanggapi gambaran ku.
Aku tetap menggambar. Pujian kek gini udah biasa ku dapat.
"Lu lagi nge-gambar apa bro?"
"Ah ini robot" aku pengen bilang lagi gambar Genos sih tapi mereka gak mungkin tau apa yang ku bahas.
"Kenapa kepalanya belum di gambar?"
"Uhh aku gak gak bisa gambar wajah :>"
Benar! Gambar wajah itu susah. Dibanding dengan menggambar full detail badan robot nge-gambar wajah sangat sulit.
Ada satu hal yang menggangguku dari tadi. Tentang orang yang disamping kanan ku sedari tadi gak bisa diam sama sekali. Kadang menulis gak jelas. Kadang kakinya gerak-gerak, bersila dan turun lagi. Kadang ngibas poni. Sok angguk mengerti. Beruntun hampir tak ada jeda. Kami yang berada di dekatnya juga merasa kejanggalan terkecuali orang yang telah kenal dengannya.
Aku membaca begitu banyak niatan dari dalam dirinya. Ingin dilihat dan merasa lebih. Baru kali ini aku ketemu orang yang sepertinya. Kenapa bisa begitu?
Hyper aktif? Kurasa bukan.
Ah!
Mungkinkah ilmu kejiwaannya!!!
Aku teringat dengan ucapan Guru Danau tentang sholat, kita harus diam tak boleh gerak di luar gerakkan sholat. Supaya tubuh bisa seirama dengan jiwa pastinya harus mengenal kedua-keduanya. Cara mendapatkannya? Aku tak tahu karena aku hanya mengikuti apa yang mestinya aku lakukan. Tiap orang punya cara tersendiri untuk menyelesaikannya atau mendapatkannya. Sadar maupun tak sadar. Jati diri juga salah satu cara untuk mengenal diri. Ya iyalah..
Dampaknya kelihatan sekali. Di umur segitu bakalan sulit kembali menuruni tangga kehidupan untuk mendapatkan kemampuan dasar mengenali diri yang sangat wajib buatnya. Aku tak bersedia membantu karena sangat merepotkan. Lagian aku bukan kenalannya juga.

Sekitar jam 10an tiba-tiba saja listriknya padam. Kok bisa?
Jeda beberapa menit. Rupanya di dekat gedung Serabakawa terjadi konslet dan terbakar. Rumah? Aku tak tahu, sedikit ku dengar saja apa inti permasalahannya. Kami keluar gedung untuk istirahat.
Uhh.. sinar matahari menyilaukan..
Dalam kesempatan seperti ini sebagian ada yang menggunakannya untuk kabur. Gak bisa dipaksa tiap orang punya kegiatannya  masing-masing. Bukan hanya aku yang tak mendunga kalau acaranya sampai sore tapi semuanya yang diundang. Hmm..

Listriknya kembali menyala.
Acara dimulai lagi.
Orang-orangnya hilang hampir sebagian termasuk kaum di mesjid kami. Aku ingin sih pulang tapi aku ingin berjuang sedikit. Aku tahu kelemahanku yang mudah menyerah makanya aku harus berjuang owawawa. Nyeh! Menggambar saja gak bikin mata melek. Ngapain coba biar gak ngantuk. Gak ada ide. Lagian dari tadi seolah-olah aku tak menghargai acara ini. Mau bagaimana lagi soalnya aku capek plus ngantuk. Akhir-akhir ini banyak kerjaan.
Huaahh..

Jam 12 lewat.
Anjirr udah adzan eyy..
Masih ada aja yang mau bertanya bapak-bapak pula.
Beberapa tokoh masyarakat/yang diundang bersorak menghinanya karena mungkin aneh diumur segitu masih aktif. Sama kek di sekolah ada anak yang rajin dan enggak.
Woi! Udah adzan!
Aku melihat kesamping kiri di barisan pojok kan ada guru Ilmi tapi ku lihat sudah tak ada. Benar! Kabur aja kan sudah waktunya sholat. Ta-tapi kalau sekarang aku kabur sama aja gak ngehormati. Erggghhh..
Haruskah nunggu seseorang.
Ada!
Aku langsung mengikutinya. Setidaknya dia yang mulai duluan. Di dekat pintu keluar seseorang bertanya padaku ingin sholat kah?
"Ah iya" sedikit pelan.
"Tuh tempat kalau mau sholat" menunjukkan sebuah ruangan kecil.
Kacanya tembus bisa dilihat dari luar. Payah, siapa yang mendesain tempat sholatnya?
Ogah mau sholat di situ. Mending aku lari menuju mesjid.
Lari jogging.
Dan sampai. Syukurlah masih sempat sholat berjamaah.
Singkat cerita aku balik lagi ke gedung.
Aku melihat semua orang dapat nasi kotak. Buatku? Apakah juga dapat?
Aku mencari ke tempat duduk. Tidak ada. Mungkin kira mereka aku sudah kabur. Duhh gimana ya aku juga lapar nih.
"Coba tanya ke pengurusnya bro?"
"Dimana?" Sebenarnya aku tahu cuman mencari kesempatan kalau dia mau membantuku.
"Di depan tuh"
😑 kurasa dia gak bakal mau.
Bakal repot nih.. aku tak terlalu suka.
"Anu masih ada gak lagi nasi kotaknya" uhh rasanya gak sopan sekali bertanya begitu.
"Eum.. coba kamu tanyaiin sama orang yang di dalam sana" penglihatannya sedikit sulit.
Di sana? Di dalam ruangan yang orang-orang lagi pada makan dan bersenda gurau. Aku seperti pengganggu saja. Ogah ah..
Hendak memasuki ke ruangan seorang wanita mengkritik ku.
Tak terlalu jelas apa yang diucapkannya karena aku menerima niatan merendahkan.
Aku menghiraukannya sambil terus melangkah ke tempat duduk. Malah dia semakin bertingkah dengan orang yang ku tanyai tadi. Alasan kenapa semenjak aku kenal dunia luar aku membenci orang yang punya harta lebih.
Sombong sekali!
Gaya hidup mewah dan gerak tingkah yang membedakan kasta. Idih! Aku gak mau menjadi seperti mereka.

Siapa yang salah?

Hedehh.. apa kerja nanti bakalan terus-terusan menghadapi hal yang kek begini. Aku down. Rasa lelah makin berasa dan emosi naik gara-gara orang tadi. Coba seandainya petugas memberi nasi kotaknya nungguin dekat pintu kan lebih enak. Terserahlah aku sakit kepala mendingan pulang aja.
Setelah memutuskan pilihan ku. Aku sadari kalau aku memang tak telalu suka dekat dengan orang lain apalagi dengan orang yang merepotkan..
Dan alasan kenapa aku mudah menyerah..

Di halaman mesjid aku bertemu orang yang mengundangku.
"Eyy kamu gak marahkan sama aku" katanya
Aku? Yang lain juga?
"Iya aku marah" sedikit kesal sih
"Nah kalau jawaban begitu berarti enggak"
Hah? Serius? Kalau gitu aku marah jadinya karena sok tau.

Ahh...

Sabtu, 04 Mei 2019

Ujian

Sejauh ini aku sedikit memahami pola keberuntunganku dalam memperoleh ikan, hasil dari pendapatan memancing. Dalam waktu seminggu aku bisa mendapati ikan dibawah dari 10 ikan, minimnya gak dapat sama sekali.
Segalanya ku perhatikan seperti kondisi sungai, permukaan tanah dasar sungai, umpan ikan, tekhnik memancing dan lokasi dengan tebakan naluri. Akan tetapi pendapatanku sama saja dan tak pernah bisa mengalahkan mereka para pro pemancing yang punya lanting sendiri. Pernah si Tagul mendapatkan ikan lebih dari 20 dalam sehari. Njirr.. beda jauh denganku.
Hmm.. aku tak punya banyak waktu seperti mereka, paling lama aku bisa memancing sekitar 3 jam lebih sedikit. Itupun berkorban jam tidurku.. ewww.
Keadaan yang cukup sulit ketika di rumah gak ada lauk buat kucing-kucingku, sementara satu ikan pun aku tak mendapatkannya.
Ketika aku berharap agar dapat ikan maka kenyataan akan berbalik.
Apa yang kurang dariku ya?
Tentu aku saja tak bisa ku biarkan begini terus. Aku harus meningkatkan kemampuanku.

Memperhatikan mereka para pro pemancing supaya mendapatkan ilmunya.

Pengamatan ku lakukan saat memancing dekat dengan mereka. Si Tagul temen kaka gua juga punya lanting sendiri. Memudahkannya memancing di tengah muara sungai.
Mungkin karena lanting yang dipakainya meningkatkan peluang pendapatan.
Buff dari memakai jamban ialah..
-enak/santai memancing
-lokasi yang sulit bisa dijaungkau
-menarik perhatian ikan karena ada naungan di bawah jamban
Karena buff tersebut peluang pendapatan jadi meningkat. Beda denganku yang memancing di pinggiran sungai. Seharusnya aku bisa menyamai mereka para pengguna lanting dengan instingku untuk menebak lokasi ikan, seharusnya  sama saja.

Hal lainnya, si Tagul gak tanggung-tanggung memasang 4 alat pancing. Aku? Ah paling banyak 3 aja dan itupun sudah sangat kerepotan. Takutnya jika memasang 4 alat pancing bisa tersilangnya tali pancing karena berdekatan apalagi saat bertarung dengan ikannya.
Untungnya jika memasang banyak alat pancing peluangnya juga meningkat!
Misalnya 1 alat pancing dalam 5 menit peluangnya sebesar 25% maka dengan 4 alat pancing dalam 5 menit peluang adalah 100% dapat. Artinya bisa langsung dapat ikan!
Owowowo.. nice info.
Memang merepotkan sih membayangkan sulitnya mengurus banyak alat pancing. Tapi jika aku sangat ingin dapat ikan terpaksa harus melakukannya.

Terpaksa? Repot?

Emm.. benar juga.
Selama ini aku memancing karena hewan peliharaan dan kadang hanya ingin menikmati alam. Tujuanku tak benar-benar kuat.
Tujuan, informasi dan modal kah?.. hmm
Ada fakta lainnya penyebab pendapatan hasil pancingku tak banyak. Aku terlalu percaya diri karena punya kemampuan berbeda dari mereka. Aku berpikiran wahh hebat dong kalau aku bisa mendapatkan banyak ikan dengan modal sedikit. Satu alat pancing, umpan biasa, pakaian sederhana dengan jaket dan untuk melengkapi kekurangan aku punya insting untuk menebak di mana ikan-ikannya berada. Sudah sering terjadi. Karena itu insting takkan berpengaruh jika aku ingin berjuang untuk menggapai sesuatu. Insting bekerja pada saat yang tepat sementara perjuangan adalah berjuang melawan arus. Memang aku bisa mendapatkan ikan besar dan unik dengan naluri semata sebagai senjata namun hal itu tak selalu pasti tepat sasaran.
Makanya aku ingin memperbarui karakter ku.
Menutupi kekurangan dengan ilmu baru.
Yeah level ancamanku naik.

Efektif!!! Lebih efektif!!!

Niat harus benar-benar ingin dapat ikan.
Alat pancing maksimal 3 saja karena ku sisakan sedikit fokus untuk berdzikir.
Mengambil kemampuan tertentu dari tiap karakter.
Dan minjam lanting pak Kisaragi wkwkwk.. ya katanya gak papa asalkan tidak mengotori lantingnya.
Lets go!!!

Paginya sekitar jam 6 lewat.
Harinya masih agak gelap, sedikit menyulitkan pandanganku menuju sungai. Semak belukar yang tiap kali ku lewati sangat menggangguku.
*Kaget jeda sebentar
Di kejauhan aku melihat ular kobra atau mura lewat menyeberang jalan. Dalam hati aku bilang "tu pasti setan". Tapi kayanya cuman kebetulan aja, artinya gak sengaja menggangguku. Kalau mengganggu siap-siap aja. Setelah jeda sebentar akupun melanjutkan langkahku.
Aku menarik tali lanting agar mendekatkan ke pinggir sungai.
*hup! aku naik
Oke, waktunya menguji kemampuan baru.
Padahal hanya meningkatkan keefektifan.

Aku memakai 2 alat pancing saja soalnya yang satunya reel pancingnya rusak.
Umpan masih sama seperti biasa yang sering kami pakai yaitu umpan dari makanan ringan, Crispy.
Aku mengarahkan lanting ke tengah muara sungai. Kemudian aku menancapkan kayu ke dasar sungai supaya lanting tak bergerak.
Sip dah.
Lalu putar musik.
Emang sih pertemuan antara sungai kecil dan sungai besar tempatnya ikan-ikan lewat. Sungai besar airnya keruh karena ada kapal yang beroperasi mengeruk atau menghisap pasir. Menurut informasi kapal pengisap pasir akan datang sekitar jam 8 nan nanti. Suaranya berisik aku tak suka.

Nunggu lama menanti ikan memakan umpan..

*Aku melihat pancingku yang dikiri bergerak sedikit
Belum pasti. Soalnya arus sungai besar cukup deras.
Aku perhatiin cukup lama, rupanya emang bukan.
Menurut informasi yang aku alami kalau udah lama gak dapat ikan biasanya nanti aku akan dapat ikan yang besar. Tapi nunggunya emang lama sih. Sabar aja sambil nyanyi-nyanyi.

Yeah..
Lets hear my heartbeat song!!!
Du dud du dud
All i need is you..
All i need is youuu..
All i need is you..
All i need is youuu...
huwaaaa....
Take me when the music-
*ujung alat pancing kiriku bergerak
Secepatnya aku bergerak dan menarik ke atas supaya kail pancing sangkut di mulut ikan.

Strike!!!

Jantung berdebar hebat soalnya udah lama gak merasakan strike ikan. Huhuhu~ akhirnya dapat jug-
*alat pancingku meresot ke bawah
Eh!
Sigap aku membalas tarikan ikan dengan perlahan namun tetap kuat supaya talinya tak putus dan- njirr.. kalo gak salah pancingku ini kailnya nomor lima!! Sementara ikan yang sedang aku perjuangkan ini sangat besar.

Peluang ikan akan kabur 95%

Tekanan insting aktif!
Mencari solusi tepat diantara kumpulan pengalaman.
Solusinya adalah buat ikannya lelah!
Aku putar reel pancingku perlahan sambil mempertahankan kehendak posisi dan tujuan ikan. Jika ikan menarik dengan kuat aku akan mengalah dengan mengurangi kekuatanku tapi tetap mempertahankannya. Bila ikan sudah mengerahkan tenaga setelahnya ikan akan kelelahan.
Jebakan!
Dengan kail yang kecil begitu dan masih terlalu dini untuk menariknya ke permukaan maka usahaku akan gagal untuk mendapatkannya. Tak boleh gegabah. Fokus pada mode bertaha-
*ikannya berenang dengan kuat sampai alat pancingku masuk ke air
Wanjirr!!!
Hampir aja lepas, genggamanku tak kuat karena terlalu fokus memikirkan solusi.
Uhh syukurnya ikannya gak ikut lepas.
Tarik..
Ulur..
Tarik..
Ulur..
Perlahan dan pasti aku merasa kalau ikannya sudah hampir ke permukaan.
*uhh
Masih punya tenaga ya..
Seandainya kail pancingnya nomor 7 pasti akan lebih mudah menariknya karena tak takut lepas.
Ikannya mengapung-ngapung di dalam air. Nah sudah K.O ya..
Ku percepat memutar reel pancing dan muncullah sosok ikannya.
Gila! Gede banget! 2 kilo? 1.5 kilo? Entahlah yang pastinya rajut ikanku gak bakalan muat.
Berapa lama tadi aku bertarungnya? 3 menitan? Ini rekor.
Dalam hati aku bilang "yesss" kesabaran yang membuahkan hasil besar. Ini lebih dari cukup. Mungkin setengah badannya akan aku bagikan ke tetangga.
Yey yey!!
Aku menarik sedikit ikannya ke permukaan dan lepas-
Kailnya copot!!! Ehhhhhhhhhh!!!!???

Saat itu juga aku berpikir sangat keras ○_●;

GravitasiDiDalamAirDanDiDaratItuBerbedaSeharusnyaAkuMemperhitungkannyaDenganKailYangKecilSepertiItuGakMungkinMenancapDalamPadaMulutIkanYangBesar

...

...

...

Bahahahaha!!!

Aku tertawa terbahak-bahak. Aku terlalu yakin udah dapat ikannya tapi malah lepas karena tak memperhitungkan masalah selanjutnya.
Uwahh.. konyol sekali..
Aku belum pernah dapat situasi seperti itu makanya aku lengah. Ah nanti aku akan melakukan pengamatan lagi.
Lucu sih pengalaman ini tapi kasihan sama ikannya karena sudah ku buat lelah. Di luar perkiraan pengalaman hari ini.
Aku kudu sabar lagi wkwkwk..