Selasa, 07 April 2020

Angkuh

Entah kenapa aku rasa hari ini sangat menyenangkan. Sebelum pulang aku membeli es krim untukku dan adikku. Cuaca agak dingin sejak habis ashar tadi karna awan-awan menutupi langit.
Sedikit lagi sampai rumah aku lihat banyak orang berkumpul di depan rumah bu Helda.
Apa yang terjadi? apakah telah terjadi tabrakan?
Setelah memarkirkan kendaraan bergegas aku menghampiri lokasi.
Tak disangka jika adikku terlibat kecelakaan. Tapi syukurnya adikku tidak terluka, hanya lecet sedikit. Akan tetapi kendaraanku yang dipakainya lumayan rusak pada bagian sholder belakang. Oh iya, aku pergi bekerja menggunakan kendaraan kakakku sementara kendaraanku dipakai adikku.
Bagaimana hal ini bisa terjadi?
Mendengar langsung dari adikku tidak cukup memuaskan. Lalu aku mencari korban lain, seorang siswi, banyak lecet pada tubuhnya dan jari kelingkingnya bengkak. Dia tidak membalas pertanyaanku. Aku pun bertanya pada bapaknya bu Helda yang sedang mengobati siswi ini. Katanya dia menabrak adikku karena adikku tiba-tiba belok menyeberang. Kok bisa? Berarti jaraknya cukup dekat sampai tak menyadari dan tak ada waktu untuk nge-rem.
"Nah sekarang siapa yang salah" Ucapku dalam hati.
Mengejutkannya lagi, bukan hanya adikku dan siswi itu saja, satu orang dari belakang menabrak adikku dan siswi itu. Kok bisa?

Masalahnya cukup rumit, tidak ada pihak yang berani untuk mendamaikan semua korban hingga akhirnya polisi datang. Kami harus menyelesaikan semua permasalahan ini di kantor polisi. Terpaksa aku ikut dengan mereka.
Tepat diwaktu sholat maghrib kami berdiskusi bagaimana cara terbaiknya untuk menyelesaikan masalah ini. Orang tua siswi itu telah datang dan orang tua yang ikut menabrak dari belakang membawa keluarganya juga sementara kami, aku dan hanya kakak ku saja.
Aku sempat berjongkok kelelahan dan ingin minta minum tapi di kantor ini kagak ada minuman sama sekali.
Pihak menengah dari kepolisian membuka pembicaraan, menanyakan bagaimana kronologi kejadiannya. Kakakku buka bicara seperti yang aku ulas diatas tadi. Adikku tiba-tiba berbelok sementara siswi itu melaju cepat dibelakang adikku. Tidak sempat mengambil tindakan akhirnya tabrakan. Tapi anehnya orang tua yang satu itu malah menabrak adikku dan siswi itu. Konyol sekali.
Semenjak aku membeli kendaraan itu tak pernah separah adikku bila terjadi kecelakaan. Satu kali jatuh sendiri, sekali ditabrak Yahya dan 2 kali lecet sedikit menyentil belakang mobil pengendara lain. Hanya itu saja. Sebetulnya aku cukup senang.
Kenapa?
Adikku pernah, bukan pernah lagi tapi selalu menyombongkan diri denganku. Akibatnya, beginilah.. Semoga bisa menjadi pelajaran untuknya.

Tentang diskusi kami, pihak siswi dari orang tuanya menyatakan kalau mereka ikhlas saja dengan apa yang terjadi dengan anaknya dan juga kendaraannya. Ayah dan ibunya sangat pandai dalam ilmu agama. Tentang takdir kata mereka sudah tertulis jauh sebelum adanya alam semesta. Lauhul Mahfudz. Tapi tetap saja anaknya pasti akan sulit menerimanya. Jelas saja.
Segeranya siswi tersebut diantarkan ke tukang urut dekat sini. Mereka tahu karena tinggalnya dekat sini.
Bapaknya minta ridho dengan kami semua. Ya ampun.. Padahal anaknya jelas jadi korban. Kendaraannya rusak parah.

Di satu sisi lain, orang luar yang aneh, menabrak dari belakang adikku dan siswi itu.. Jelas aneh bagaimana bisa?
Polisi pun mengorek informasi dari pengendara itu. Sampai dia bilang "Tidak sempat menghindari lagi" Begitulah alasannya. Cukup unik ya kan?

Anehnya kami harus berurusan dengan mereka. Sampai kakakku dan salah satu keluarga mereka saling lempar pendapat bertentangan. Suasana sedikit memanas. Kalau aku melihat dari sudut pandangku jelaslah kalau adikku lah yang salah. Adikku yang memulai.
Orang itu tak terima pendapat kakakku akhirnya mendatangiku.
"Kita berdua saja katanya" Ingin bicara denganku.

Inti pembicaraanku dengannya hanya masalah kerusakan kendaraan keluarga pribadinya saja. Tak mau sedikit pun melihat ke sisi adikku. Kendaraanku juga pecah sholder belakangnya. Namun malah aku ambil hati, aku cukup kasihan dengannya. Katanya kerjaan kami cuman begini dan begini terus kendaraan itu pun sebetulnya pinjaman. Makanya kakakku tidak percaya dengan perkataan orang ini.
"cup cup.." Kasihan juga.

Terus masalah semakin berbelit-belit. Aku ikuti saja saran orang itu. Pengen ketemu yang punya kendaraan ini lah. Alasan orangnya tidak dapat dihubungi lah. Alasannya terserah mau diberi berapa lah.
Lah? kok jadi mengemis?
"Cup cup.."
Sayangnya aku terlalu baik!
Aku kasih lah uang 500 ribu. Padahal itu uang nenekku. Tapi biarlah karena keputusannya ada ditanganku. Aku ingin cepat-cepat mandi dan meng-qodho sholat maghrib. Hanya itu saja yang aku pikirkan sekarang. Secepatnya aku ingin selesaikan masalah ini secepatnya.

Sampai ke rumah kakakku dan anehnya adikku malah protes denganku.
Inginku berkata kasar.. Tapi aku tak peduli lagi dengan mereka. Aku ingin mandi.

Yap, beginilah kalau mengajari anak dibawah umur yang angkuh berkendaraan. Makanya dengan kejadian ini cukup membuatku lega. Balasannya akan selalu ada...

Minggu, 08 Maret 2020

Asyura

Pada hari rabu tanggal 11 Sepetember yayasan ingin mengadakan acara membuat bubur asyura bersama seluruh staf guru SD sampai SMA. Khusus SMA guru-gurunya bagian memasak bubur termasuk juga diriku.
Awalnya banyak informasi yang simpang siur mengenai tempat pelaksanaan memasaknya. Ada yang bilang di kantin dan ada yang bilang di SMP. Bahkan alat dapurnya pun kami belum dapat kabar, apakah kami yang menyiapkan sendiri ataukah pihak yayasan. Hingga kedua jarum jam dinding menunjukkan angka delapan lewat sedikit barulah kami dapat lokasi pasti. Di antara bangunan SD dan SMP, di sana ada lahan yang cukup luas dan strategis untuk memasang 3 kawah. Segeralah kami menuju lokasi karna memasak bubur butuh waktu yang lama. Misalnya saja dari jam 9 memulainya mungkin selesainya akan sampai tengah hari.
Hmm..

Sesampainya kami di lokasi terlihat beberapa orang sudah menyiapkan peralatan memasaknya. Bertegur sapa dengan kenalan kemudian berkerja. Emm.. kalau aku sih yang ku kenal dari kampungku hanya pa Iban dan bu Helda saja, selebihnya adalah tokoh baru. Ada si Wahyu yang sepertinya seumuran denganku. Entah, rasanya sangat familiar, satu SMA dulu, entahlah aku lupa. Ada paman Hadi yang "maaf jika kurang sopan" tubunya kerdil, terlihat beliau orang yang baik. Ada paman SMP yang aku belum tahu namanya dan lainnya seperti sekuriti. Mereka termasuk aku yang tidak bisa memasak membantu bagian dapur. Sementara ibu-ibu guru SMA membersihkan beras dan membuat bumbu masakan.
"ohh sabun colek berguna melapisi bagian bawah kawah agar nanti tidak meninggalkan bekas" yang hitam-hitam ituloh. Nah dapat informasi penting nih.
Kenapa harus dilapisi? soalnya kawah yang dipakai bukanlah milik yayasan ataupun sekolahan tapi milik pribadi salah seorang bu kantin. Makanya yang meminjam harus tahu cara menjaganya.
Cukup lama untuk menyalakan apinya selain itu kami kekurangan kaki penyangga kawahnya. Jadinya kami harus mencari dan memakai yang batu besar. Aku harus ambil insiatif sendiri. Aku tak boleh berdiam diri saja jika terdapat masalah aku hanya perlu bertanya dan arahan.
Meletakkan kayu bakarnya tak bisa sembarangan. Harus ada celah diantara kayu-kayu agar api bisa bernapas dan memakan kayu dengan cepat. Hingga cukup besar apinya barulah kami meletakkan kawahnya kemudian diisi air. Sekitar 80% kawah diisi dengan air kata pa Riza. Aku mengangguk mengerti. Tapi karna selangnya cuman satu yang aku pegang ini jadi harus ada yang mengambil airnya dari kawah yang aku isi ke kawah yang lain. Memang mereka punya banyak sekali pengalaman. Terkadang aku selalu mengambil pekerjaan yang simpel saja karna biasanya pekerjaan itu hanya perlu keteguhan dan suka rela. Misalnya pada bagian dapur seperti mencuci piring di tiap pesta pernikahan. Karna pekerjaan yang berulang mungkin semua orang akan bosan. Tapi aku punya banyak cara dan solusi yang selalu membuatku bisa menanganinya. Pertanyaan apakah harus terus seperti itu?
...
Makanya aku ingin belajar, suatu saat pasti akan ada situasi yang dimana semua orang tidak bisa melakukannya. Dimana orang-orang tidak mau berkembang dan hanya terperangkap pada satu kebiasaan bodoh. Sebelum itu terjadi aku ataupun kita harus membekalinya mulai dari sekarang.

Aku memakai pelepah kelapa yang sudah bersih untuk mengaduk berasnya.
Aku bertanya pada pa Riza apakah harus diaduk terus?
Pa Riza menjawab iya terus katanya sementara yang lain tertawa.
Ah, sepertinya bercanda. Aku bertanya karna ingin memastikan. Yaa, aku memang tidak pandai memasak.

Berjam-jam sudah kami memasaknya. Aku terus mengaduk buburnya agar tidak lengket terutama pada bagian paling dasar. Rempah-rempah secara bertahap dimasukan. Ada perbedaan pendapat antara guru SMA dengan mereka yang membuat rempah tersebut. Melihat potongan sayur yang besar-besar dan hal lainnya mungkin jadi masalah bagi yang tahu cara memasak yang benar.
Cukup panas jika terlalu dekat dengan api tapi aku masih bisa menahannya. Tapi berbeda dengan asapnya yang bikin perih mata. Kalau sudah sangat perih terpaksa aku menjauh sebentar untuk memulihkan. Aku coba cara lain. Misalnya anginnya mengarah ke diriku berarti aku harus kesamping sisi lain yang tidak mengenai asap. Seterusnya aku lakukan.
Beberapa guru perempuan entah SD atau SMP begitu heboh sambil mengambil video dan gambar. Mungkin mereka menyukai sekuriti itu. Aku tak tahu siapa namanya dan asalnya dari mana, yang jelas ia lebih tua dariku dan porsi tubuhnya bisa dibilang selera mereka makanya jadinya begini.
Datang beberapa orang termasuk pak/ust Rifki sambil membawa spanduk kemudian memasangnya di dinding bangunan.
Uhh.. apakah mereka tak sadar jika bulannya salah seharusnya bulan sepetember bukan oktober. Oh! mungkin saja itu spanduk tahun kemarin. Daripada gak terpakai mungkin.
Namun ketika hendak mengambil foto rupanya memang kesalahan artinya itu spanduk baru dibuat. Kok bisa?

Cuaca mulai terik. Beberapa kenalan menyuruhku agar istirahat.
Tenang saja, aku masih kuat. Sampai buburnya telah matang barulah aku istirahat. Aku bergabung dengan guru yang lain dan ikut mencicipi sisa ayam. Ust Ma'mun, bu Helda dan bu Putri begitu lahap makan.
"ayok fidz dimakan nih" ust Ma'mun.
"yap yap.." kelaparan nih.
Selang berapa lama obrolan mereka yang sempat terhenti dilanjutkan lagi. Mereka sedang menggosipkan bu Aya. Uhh.. lagi-lagi bu Aya. Aku tak tahu kenapa.. apa yang bu Aya lakukan sampai bisa jadi buah bibir setiap saat.
Aku hanya diam. Bukanlah urusanku ataupun bagaimanapun. Aku tidak berada dipihak manapun. Maka dari itu tidak ada musuh bagiku ataupun teman dalam selimut.

Ngomong-ngomong.. ini bubur enak juga.

Senin, 02 Maret 2020

Perfeksionis

Siang ini aku dapat panggilan dari pihak atas untuk mengadakan briefing di kantor yayasan. Aku sempat bertanya-tanya dengan bu Fatim, apa maksud dari briefing?
Bu Fatim menjawab semacam pertemuan begitulah dan mungkin juga membahas tentang gajiku. Agak membuatku gugup misalnya ditanya-tanya berbagai macam pertanyaan sementara aku tak bisa menjawabnya uhhh bisa gawat.
Sekitar jam 2an aku datang ke kantor.
Aku mengetuk pintu dan mengucapkan salam.
"em anu- "
"oh Hafidz.. silahkan masuk, lalu duduk di ruang sana ya.." kata bu Saudah
Aku mengerti dan langsung ke ruangan yang dimaksud. Ada satu orang laki-laki brewok yang juga sudah menunggu. Kalau tak salah dia adalah guru olahraga di SMP.
Belum lama aku duduk, briefing pun akan dimulai karna pak Tri-nya sudah datang. Ketua Yayasan. Kedatangannya diikuti oleh rombongan ibu-ibu dan guru wanita lainnya. Semua tempat duduk terpenuhi dan briefing pun dimulai.
Pertama-tama perkenalan tiap orang pastinya lalu dilanjutkan mengenai sejarah tempat ini. Pak Tri cukup panjang lebar menjelaskannya, kisah-kisah tentangnya, guru-guru yang telah bertahan lama dan tentang Guru Jaro yang bagi beliau adalah guru mursyidnya. Aku cukup menikmati cerita beliau karna aku bisa mendapatkan cukup banyak informasi dari sudut pandangnya sampai tak terasa waktu hampir masuk adzan ashar.
Kabur? duhh tapi tidak sopan. Sebaiknya jika hampir iqomat saja aku harus mengambil tindakan terbaik, kalau sholat sunnah tak apalah aku lewatkan asal jangan sholat wajib berjamaah. Beberapa orang ada yang asik dengan handphone-nya karna mungkin bagi mereka cerita pak Tri membosankan. Mengenai pakaian, seorang guru ditegur karna pakaiannya begitu ketat sehingga kelihatan bentuk tubuhnya.
Bertepatan dengan adzan syukurnya briefing hampir selesai dengan menandatangani kontrak. Aku melihat gaji pokokku rupanya hanya 1jt saja. Agak kecewa sih berbeda dengan apa yang aku dengar. Tapi jauh lebih aneh kenapa aku mempermasalahkannya? haha emangnya aku bekerja di sini buat cari uang??
Sedikit lama menunggu yang lain kemudian bu Saudah memperbolehkan aku duluan pulang. Aku senang karna masih sempat sholat berjamaah.
Mengantar kertas kontrak ini dulu ke sekolah untuk disimpan kemudian pergi lagi ke mesjid. Asalkan enak bekerja dan beribadah itulah yang paling penting.
...

Tiap hari begitu terasa kesibukan dan keasyikan bekerja. Baru pertama kalinya aku bisa merasakannya. Jika dibandingkan dengan kerjaan yang dulu, sekarang jauh lebih baik. Aku belajar banyak hal. Belajar memakai mesin rumput, belajar dengan melihat sudut pandang orang dewasa, belajar mengatur waktu dan berbagai macam pelajaran yang aku dapatkan.
"cepat banget kamu mengantar laporannya" Mila memujiku
"hehehe.." lebih cepat lebih bagus biar kerjaan tidak menumpuk.
Aku juga menerima tiap nasehat yang diberikan oleh guru-guru.
Rekor banget!
Pencapaian tertinggi yang selama ini aku lakukan.
Sore harinya jika aku masih sempat, aku akan pergi ke langgar untuk adzan seperti biasanya. Subuhnya pun juga begitu. Lelah memang, tapi mau bagiamana lagi, hanya aku yang bisa diandalkan dan selalu aku.
Setitik kesombongan mulai menunjukkan dirinya, memutar balikan pikiran. Beranggapan bahwa hanya aku yang bisa.
Coba lihat sekarang siapa yang rendahan. Agama sudah aku kuatkan. Pekerjaan sudah aku dapatkan. Punya segalanya. Jika aku ingin sesuatu bisa saja langsung terkabulkan.
Inilah hasilnya..
Aku tetaplah diriku. Aku berjuang sendiri. Aku punya tujuan sendiri. Dan selalu aku. Mana mungkin mereka bisa mengalahkanku.
...

Hahaha.. bodoh ya..
...

Aku tak bisa mengakui semua itu. Semuanya adalah milik Allah swt. Karna aku sudah belajar ilmu Tasawuf dan akalku masih waras, ilmu yang sudah diingat harus dipakai.
Rasa kesal dengan orang-orang yang pernah menyakitiku memang masih ada. Namanya juga luka hati takkan mudah untuk sembuh.
Lupakan saja mereka.
Bukanlah urusanku untuk membalas perbuatan mereka.

Sabtu, 29 Februari 2020

Bermain Kasti

Tepatnya hari senin tanggal 19 Agustus kami merayakan 17an dengan bermain permainan kasti bersama murid-murid di belakang sekolah. Muridnya memang sedikit makanya guru-guru ikut bermain untuk meramaikan suasana, yap aku juga diajak ikut bermain.
Bicara sedikit mengenai sekolah ini awalnya aku juga tidak menyangka kalau di sini ada SMA, aku kira hanya ada SD dan SMP saja. Tak ingin berpikiran dangkal, mungkin saja ada alasan kenapa sekolah ini belum terkenal atau ada semacam hambatan lainnya. Aku tak perlu memikirkan alasannya karna bukanlah tugasku.

Pagi hari sekitar jam setengah sembilanan kami berangkat ke belakang sekolah.
Di belakang sekolah SMA ini terdapat lapangan yang luas, yang juga termasuk bagian dari tanah yayasan. Tanahnya putih halus seperti pasir, sangat luas, memang pas jika dijadikan lapangan olahraga. Tiap sore juga kadang aku melihat anak-anak pesantren latihan silat dan bermain bola, enak banget.

Sebelum sampai ke tujuan, kami melihat bekas gayung tukang bangunan dan batang besi buat pondasi bangunan di atas tempat penampungan air milik sekolah. Ada seseorang yang berusaha memakai besi dan gayung itu buat mengambil air milik sekolah. Aku tak berani menegur, kalau saja mereka sudah disetujui oleh pihak atas, aku tak punya banyak informasi. Tetapi kata bu Fatim dan bu Yanti hal semacam itu tak mungkin terjadi. Jadinya aku harus mengambil tindakan agar jangan ada lagi yang mengambil air di penampungan. Apalagi dengan sampah-sampah yang di dalamnya.
Aku sempat menduga pelaku yang mengambil air adalah orang tua/pengangguran yang sering datang ke sini. Rambutnya sedikit panjang dan sudah berhuban. Jangan tanya apa aku berani menegur atau tidak. Kerjaku masih belum ekspansif, aku masih berfokus dengan pengaturan waktu, menempatkan pekerjaan agar efektif. Setelah sholat subuh aku pergi pulangnya senja. Syukurnya sabtu minggu libur jadi bisa istirahat. Masih belum tahu bagian mana saja yang perlu diperbaiki, aku belum melihat polanya.

Pikiranku terhenti setelah melihat Gina berjalan di depan. Ia adalah siswi kelas tiga. Jika ditanya kenapa aku bisa kenal dirinya? ohoho sudah jelas.. karna namanya sering aku dengar, jadinya tahu deh orangnya yang mana haha.
Oh iya, ia memang cantik, mungkin yang paling cantik di sini dari SD sampai SMA bahkan sampai dari alumni terdahulu sampai sekarang haha. Jadi kenapa aku membahasnya? yaa hanya sekedar kenalin aja -_-

Kemudian!! kita bahas permain kasti yang akan kami mainkan!!
Sudah lama gak main jadi rindu masa-masa kecil. Sebelum bermain.. terjadi lagi..
Pak Wahyu tidak kenal dengan permainan kasti.
Aku, ust Ma'mun dan pak Riza pun mulai heran.
Anak rumahan? masa iya? aku aja yang lahiran 97 masih kenal permainan ini bahkan saking seringnya dulu aku main sama teman-teman masih ingat caranya mainnya gimana.
Lalu pak Wahyu menjelaskan kenapa dirinya jadi tidak kenal dengan permainan ini. Cukup aneh juga alasannya.
Permainannya sama seperti main bisbol hanya saja lowbudge dan disederhanakan cara bermainnya. Pelemparnya adalah teman se-tim melemparkan bola ke arah si pemukul. Bila bola kena alat pemukul jauh atau tidak mantulnya bola si pemukul harus berlari ke tanda/tempat yang aman sesuai urutan. Ada 3 urutan, dari kanan sampai kiri sama halnya bisbol. Jika berhasil kembali ke Base, satu orang dihitung satu poin. Nah jika gagal atau pemain terkena bola kasti maka tim lawan yang akan bermain memukul bola untuk mencari poin. Misal pemain biru kena bola sementara tim merah yang berjaga ada yang masih belum kembali ke Base maka pemain biru masih ada kesempatan untuk membalasnya dengan melemparkan bola lagi ke pemain merah. Simpel saja kan cara mainnya, asiknya jika main permainan ini paling enggak ada 5 orang lebih dalam satu tim, biasanya di sekolahan mainnya.

Pak Wahyu cukup mengerti dengan penjelasan kami. Yaa asik-asikan aja tak perlu serius.

45 menit kemudian~

Guru-gurunya kalah gara-gara diriku huhu..
Efek ngantuk terus minum kopi. Pikiran berat pengen mukul bolanya selalu salah timing *hiks.. tambahan karna efek gerogi.

Ah agak kelepasan senangnya. Sudah lama gak bermain ramai seperti ini haha.
Aku hendak berangkat mengambil makanan di kantin tiba-tiba saja ustadz Zul berbicara mengenai diriku dihadapan siswi-siswi yang sedang belajar di teras depan ruang guru.
"nih seperti Hafidz kalau mau cari calon suami.."
Uuuwaatttt!!!!
Ekspresi jelekku pun keluar.
Salah seorang siswi yang kulihat juga terheran-heran.
Why!? mengapa?? apa? kenapa tiba-tiba??
Aku tak ingin melanjutkan perbincangan ah maksudku ungkapan ustadz Zul, tanpa membalas apa-apa hanya sekedar ekspresi heran saja akupun lanjut ke kantin.
Ahhh.. tadi.. jadi melihat wajah siswi-siswi dah. Padahal sudah berusaha menundukkan pandangan ehh malah situasi tak terduga tadi menjadi celah deh.
Heran juga kenapa ustadz Zul bilang begitu dihadapan siswi-siswi. Memangnya landasan apa yang membuat ustadz Zul mampu mengungkapkan hal seperti itu. Padahal aku ini jauh lebih rendahan dari pada yang lain.

Sabtu, 22 Februari 2020

Konsekuensi

Rasa yang seperti ini pernah aku alami ketika bersama teman-teman sewaktu sekolah dulu. Bercanda tawa dan saling berbagi kisah agar mengenal satu sama lain.
Bedanya, sekarang ini aku bergaul dengan orang-orang dewasa yang sudah berkeluarga. Tetap menyenangkan. Tidak ada perbedaan walaupun beda usia.
"tak apa nih kalau dilanjutkan bisa terjerumus loh??" suara hatiku.
Hal yang sering dialami ketika aku bergaul sampai lupa diri karna terlalu senang yaitu menyakiti orang lain dan ketergantungan.
"tenang saja, sudah ada cahaya pengingat"

Aku melihat ke papan daftar nama guru dan pegawai di sekolah ini. Ada yang sampai 8 tahunan seperti pak Iban dan bu Helda. Lama juga, tak disangka.
Melihat sampai ke bawah untuk mencari yang siapa saja belum sampai setahun. Banyak juga seperti pak Wahyu yang duduk di sampingku, baru masuk 2 bulan. Sebelumnya ketika aku baru masuk pak Wahyu bercerita kalau dirinya lah yang baru menikah sekitar sebulan lalu di rt sebelah. Wah! aku kaget sekaligus merasa bersalah soalnya aku paling males ikut ke acara pernikahan apalagi melihat pasangannya. Terkhusus untuk orang lain "masalah siapa kalian apapun tentang hidup kalian bukanlah urusanku" aku hanya akan mengenal jika itu dapat membantu kehidupan kalian.
Kalian tak tahu beratapa bahayanya jika bisa merasakan sekaligus membaca keperibadian seseorang jika pikiran negatif yang mengambil alih tindakan. Kau menginginkan dirinya tersesat, jatuh bahkan sekalian saja menghancurkan kehidupannya.. semua bisa dilakukan. Makanya aku lebih memilih menyendiri dan jangan sampai pikiran kacau. Semua akibat akan kembali padaku diriku sendiri.

Suatu kejadian yang sungguh merubah suasana ruangan ketika pak Wahyu berbicara dengan logat daerahnya. Bukan, tapi ulah dari ust Ma'mun dan pak Riza yang selalu mengungkit sebagai bahan candaan. Awal-awalnya memang biasa saja tapi jika terus terusan bercanda seperti itu bisa saja masuk ke dalam hati, menjadi benci.
"berarti jika pak Wahyu marah nadanya juga sama yaa lemah gemulai.." katanya
Dan terus berlanjut sampai lewat seminggu.
Sampai aku merasa hawa marah dari pak Wahyu.
Duh..
Aku tidak bisa berbuat apa-apa, salah-salah aku juga bakal kena.
Suara dari luar hati berucap "kok seorang ustadz kelakuannya begitu.."
Informasi tersimpan kemudian membandingkan dengan ilmu tentang berbicara.
Aku tepis pikiran negatif untuk melihat lebih dalam tentang ust Ma'mun. Jangan sampai anggapan sendiri menjadi acuan menilai orang lain walaupun itu benar. Tak boleh ada keperibadian labil.

Ada satu cara ampuh yang setiap kali aku lakukan ketika ada orang lain yang tersakiti.
Yaitu..
Aku akan lebih dekat dengan korban dibandingkan dengan yang lain.
Hehehe.. apalagi jika status tinggi, cara itu bisa jadi sangat ampuh merubah pandangan orang-orang. Karna kebanyakan orang menilai dari luarnya saja sama halnya denganku sendiri. Maka dari itu pikiran atau anggapan orang-orang bisa kita kontrol sesuai yang diharapkan lewat tindakan yang mampu terbaca. Cara berpakaian, tindakan, ucapan, ekspresi dan hal lainnya.
Aku ingin yang menguntungkan untuk semua pihak. Pelan tapi pasti, juga tidak menguras tenaga.

Hasilnya tidak ada yang tahu pasti karna hidayah hanya untuk orang-orang yang dikehendaki-Nya.
Kalau lagi kondisi bagus begini memang enak pikiran, gak ada niat yang jahat atau semacamnya.

Senin, 17 Februari 2020

Meningkatkan Lagi

Ada satu hal yang aku ketahui tentang diriku..

Satu hal yang harus aku waspadai bila dekat dengan orang banyak terutama dengan perempuan. Bukannya terlalu percaya diri sih, aku sendiri pun tidak percaya jika aku bisa populer karna aura Hapis ku. Alasam itu berdasarkan dari banyaknya pengalaman makanya aku tahu seluk beluknya bahkan apa yang akan terjadi setelahnya. Ku pastikan itu. Jadi itulah alasan kenapa aku harus waspada atau jangan sampai dekat dengan siswi di sekolah ini. Sekali lagi bukannya terlalu percaya diri tapi memang begitu. Mau seperti apapun menepis alasannya 😒😒
Pasti akan ada yang suka denganku..

Aku terbangun karna dipanggil oleh seseorang. Seorang siswa membangunkanku lalu memberiku uang.
Uang apa ini? Ucapku
Rupanya seorang kaya raya sedang berbagi rezeki untuk murid dan lainnya. Tapi kenapa harus aku? Padahal aku baru masuk. Simpelnya apa yang kita pikirkan itulah jawabannya.

"Makasih banyak ya.."
Sudah diantarkan tapi akunya malah gak mau mencari tahu siapa orang yang memberi, ya itulah sifatku, bersangkutan dengan uang sikapku selalu biasa saja. Mungkin karna kehidupanku yang serba berkecukupan.

Tak boleh, seharusnya aku pandai bersyukur.

Dan hasil dari bersyukur adalah mendapatkan rezeki lagi.
Benar saja. Aku dapat kupon daging lagi.
Dari pondok pesantren kupon daging untuk semua guru dan karyawan SMA. Baru masuk kerja sudah dapat rezeki nomplok. Ustadz Ma'mun berkata "nikmat mana lagi yang ingin kamu dustakan.." arti dari ayat yang sering terulang disurah Ar-Rahman. Sumpah jika aku sendirian gak ada orang pengen sekali menangis sejadi-jadinya.
Aku dapat pelajaran berharga lagi..

_
Tempat untuk latihan diri..
Benar..
Aku bekerja di sini untuk melatih diri, untuk lebih cepat berkembang dan ingin menguatkan iman.
Ibaratnya sebuah teko itu adalah seorang guru dan cangkir yang siap tuang adalah murid. Guru harus hormat dan cerdas supaya ilmunya tepat sasaran. Dan seorang murid harus melapangkan diri juga pikiran, beradab dengan guru.
Akupun meningkatkan kemampuan belajarku agar dari satu pengalaman bisa menghasilkan lebih dari satu pelajaran bahkan sampai puluhan pelajaran.
Kemampuan baru Zheill "Multiply"
Yaa dengan kata lain mulai dari episode kali ini karakter Zheill lah yang akan jadi tokoh utamanya.. hmm.. hanya firasat sih..

Dekat dengan orang banyak akan sangat menyulitkanku. Aku harus dalam keadaan sadar agar tidak melakukan kesalahan fatal. Menjaga diri solusi terbaiknya. Jangan menganggap yang lain sebagai teman karna karakter labilku bisa keluar saat lengah. Jangan sampai yang lain terkena dampak karakter labilku atau aku sendiri yang akan kesusahan.
Tapi.. tidak setiap waktu juga aku bisa mempertahankan fokusku.
Menyelipkan kesadaran ketika diriku terbawa suasana. Kata sandinya adalah..
"fokus fidz.."
Setelah terucap di hati akan langsung tersambung ke ingatan-ingatan yang dipilih seperti mengaktifkan pertahanan, menenangkan diri dan menjaga tingkah atau bisa juga mengingat Allah swt.

Ada kalanya situasi yang berbeda datang.

"itu gajinya saja lebih besar dariku.." kata Bu Enny.
Entah apakah kerjaku yang masih belum bagus ataukah hal lainnya yang membuatnya bisa berucap seperti itu. Tutup pandangan pada orang yang baru kita kenal berfokuslah pada diri sendiri.

Maka dari itu kemampuan pengingat kali ini sangatlah bagus.

_
Seluruh murid berkumpul di kelas 12 IPS untuk melakukan sosialisasi termasuk para guru. Aku ingin menghindari tapi tidak bisa. Terpaksalah aku ikut bergabung. Sebelumnya aku memang terlambat makanya aku duduk dekat pintu masuk. Di samping kiriku ada Bu Aya.
Emm 😐 rasanya gak enak sekali.. aku merasa sedang diperhatikan oleh murid-murid.
Sosialisasi kali ini tentang penyakit TBC. Salah seorang guru ngaji di sini terkena penyakit tersebut dan sedang dirawat. Maka dari itu sosialisasi dari puskesmas kali ini bertujuan untuk mengenal penyakit tersebut dan pastinya untuk antisipasi penularan.
Aku terinspirasi lagi tentang hebatnya tubuh untuk berkembang.
Mengingat kembali apa yang pernah nenekku alami. Dulu nenekku pernah digigit ular kobra.

...

yap! ular kobra. Mana mungkin ada orang yang bakal hidup setelah digigit ular tersebut maksudku kena racunnya masuk dalam tubuh. Ajaibnya nenekku hidup.
Kata nenekku rasanya setelah digigit ular kobra pandangan langsung buram di perjalanan pulang ke rumah dan sakit beberapa hari. Rasa sakitnya luar biasa kata nenekku pas dihari sakit. Semacam reaksi perlawanan dalam tubuh.
Perbedaan manusia zaman sekarang dan dulu terletak pada makanan, kondisi bumi dan juga aktivitasnya. Supaya bisa mengejar perbedaan tersebut hanya satu cara saja.
Yaitu..

Tekad atau keinginan yang kuat..
Melampaui batasan..

Sabtu, 18 Januari 2020

Tempat yang Jauh

Bagian 2. Ketakutan

Selanjutnya setelah turun dan sholat kami sudah berencana untuk melanjutkan perjalanan ke tempat wisata air terjun.
Ah konyol, ketika di atas tadi aku malah menghabiskan tenaga bermain lompat-lompatan layaknya parkour. Sepatuku juga jadi menganga karna pelekat lemnya gak kuat. Syukurnya adikku bawa sandal dan sepatu, kalau enggak bisa-bisa ngeker dah.

Aku antusias. Aku ingin sekali mandi karna badanku sudah gerah dan kotor. Kami pun berangkat melanjutkan perjalanan.
Cuaca mendung lagi. Bisa kulihat butiran-butiran air kecil jatuh lambat. Turun naik kami lewati tiap perjalanan yang kian jauh. Aku mulai berharap agar lokasinya dekat. Akan tetapi.. tujuan kami seperti tak berujung.

Entah apa perasaanku saja ataukah memang terasa sangat jauh. Bahan bakar kendaraan seolah-olah tak pernah habisnya.

Satu desa telah terlewati dengan hasil kurang dari 40% aku pahami dan teliti secara luarnya saja.
Desa berikutnya aku berusaha apa adanya.
Selanjutnya lagi aku fokuskan saja pada tenagaku yang semakin lemah. Pinggangku mulai sakit.
Bagiku yang anak rumahan merasakan perjalanan yang jauh untuk pertama kalinya pastilah sangat melelahkan. Bagaimana rasanya ketika pertama kali berada di tempat yang antah-berantah. Perasaan takut jika perbekalan habis dan tak bisa pulang ke rumah. Ah konyol sekali. Seandainya aku tahu bakalan sejauh dan melelahkan seperti ini pastilah diawal ajakan aku akan langsung menolak. Karena aku bodoh tak punya pengetahuan tentang tempat orang makanya jadi begini.
"Sebaiknya kita balik saja" pikirku begitu. Tak ada gunannya melanjutkan perjalanan yang tak berujung ini. Yaa, memang aku orangnya gampang menyerah makanya aku diam saja kerena yang lain bukanlah aku, tak seperti diriku.
Ahh tanganku mulai mati rasa apalagi pertahananku..

0%..

Habis harapan aku mulai pasrah yang rupanya jadi pemberhentian pertama untuk kali ini. Setelah jauh melewati banyak tempat akhirnya kami sampai. Tepat diujung jalan di hadapan kami terlihat sebuah air terjun cukup besar.
Terlihat sungai kecil yang airnya sangat jernih. Bebatuan besar dan jalan yang sangat licin. Begitu pula dengan suhu di sini sangatlah dingin, sangat dingin. Walaupun sudah memakai jaket tetap saja tembus ke kulit.

Menulusuri area baru tujuan kami sekarang ini adalah sarapan. Aku juga sangat lapar dan lelah. Mampir di warung yang jualannya seadanya saja. Uangku sisa sedikit. Kayaknya perlu menghemat supaya bisa pulang.
Teringat selepas sholat subuh tadi aku juga makan mie. Mungkin itulah penyebabnya mengapa aku mudah lelah pada hari ini.

Topik lain pembicaraan, rupanya yang lain juga merasa kalau perjalanan kami sangatlah jauh. Tak bisa mengelak jika di tiap tugu atau tanda memasuki sebuah desa di perjalanan tadi kami berharap di sinilah lokasinya. Rupanya teramat jauh.
"yang sudah terjadi biarlah terjadi" begitulah.
Sekarang waktunya menikmati hasil perjalan yang jauh.
Untuk yang lain saja..
Aku tak mau mandi karena dari sini saja sudah ke dingin apalagi harus mendekat ke air terjun yang terus menerus menghempaskan air sampai membuat embun dan angin kencang. Kalau aku mandi bisa-bisa mati kedingan terus tenggelam deh. Yeahh gak mungkin aku sampai sekonyol itu.
Sebaiknya aku menjaga barang-barang kami karena yang lain pada mau merasakan mandi dekat air terjun.
Aku mengaktifkan lagi pertahananku.
Ada banyak para wisatawan yang membuatku harus berhati-hati. Maaf deh yaa, bukannya mau suuzan tapi aku hanya ingin berhati-hati. Alam sekitar pun juga aku perhatikan. Semuanya aku perhatikan.

Anjirr ada turis mengambil fotoku.
Asemm.. gak sempat menghindar gara-gara fokus melihat kawanan menaiki tebing dan kena tegur.

Sekitar puluhan menit akhirnya yang lain ke darat untuk membujukku sekaligus ingin mengambil camera. Aku masih menolak mandi karna sumpah masih kedinginan. Jadinya aku yang berperan mengambil foto mereka.
Hahaha pada kedinginan.

Sebentar aku ingin berkeliling sekaligus mencari sinar matahari.

Tempatnya sangat bagus menurut penilaianku sendiri.
Sampah-sampah sedikit. Penataan tempatnya juga bagus. Pohon rindang yang khas. Tapi sayang sih.. aku tidak menemukan semacam perasaan misterius yang sering aku alami ketika berada di tempat baru.
Artinya?
Yaa aku juga tak tahu makanya aku penasaran.

Akhirnya aku memberanikan diri ikut mandi tapi di sungai kecil dulu. Jika tahan maka aku akan coba ke dekat air terjunnya.
Ihh.. menginjak batu-batunya saja sudah dingin.
Memasukan kaki terus badan seluruhnya.
*fuhhh
Dingin bingitz.. tapi seger. Aneh juga.

Cerita terus berlanjut, aku mandi dengan yang lain. Mengambil banyak foto. Sampai pulang.

Aku melihat jam handphone rupanya.. wait aku lupa ingatan 😂 skip skip..

_
Menjadi bagian yang penting dari cerita ini adalah ketika kami di perjalanan pulang pada waktu senja. Rasa ketakutanku semakin besar tentang kecelakaan. Berharap, sangat berharap agar tidak mati konyol akibat kecelakaan. Dengan kondisi tubuh yang sangat lemah ini sulit membayangkan aku bisa selamat sampai ke rumah. Kawanan lain sangat cepat berkendara susah untuk mengejar mereka. Tapi syukurnya si Aldi mau membantuku dengan berkendara tak terlalu cepat agar aku bisa mengikutinya dari belakang dan juga adikku membonceng padanya untuk meringankan bebanku.

Rasa takutku bertambah besar setelah melewati pengendara yang kecelakan tak sadarkan diri di jalan. Sumpah aku tak ingin mati karena kecelakan. Aku ingin mati dengan kebiasaan yang baik. Sepanjang perjalanan aku terus berharap agar umurku masih panjang dan bertekad untuk meningkatkan lagi ibadahku. Hari ini hanya sholat sunnah sebelum subuh dan sholat dhuha saja yang bisa aku kerjakan. Sekarang pun sholat isya belum aku kerjakan.
Bagaiman nasibku?
Seolah-olah langit ini bakal runtuh saja.

Semakin dekat dengan rumah ke khawatiranku sedikit berkurang. Tepat di Mabuun aku dan Aldi harus berpisah karna jalur rumah kami beda.
Adikku ingin yang menyetir. Aku izinkan agar pelan saja tapi ia malah melawanku.
Aku bilang padanya "belum lagi, kalau sudah kecelakaan baru tahu rasa.." parahnya lagi ia malah makin melawan. Aku tahan amarahku. Aku sudah lelah. Sudah cukup aku dengan adikku, aku biarkan saja ia mau apa lagi terserahnya bukan urusanku lagi.

Pulang ke rumah. Sholat terus bersiap hendak tidur mengalahkan rasa laparku.
"tadi hujan kah nek di sini?"
Yaa aku juga tak boleh memberatkan nenekku untuk menangani cucian sementara aku malah bersenang-senang. Aku mendapat pelajaran besar.



Sabtu, 11 Januari 2020

Peningkatan

Aku dan Pak Iban tidaklah akrab. Kami berdua baru membangun hubungan setelah aku bekerja di sini. Pak Iban sendiri jarang sekali terlihat di kampung makanya agak sulit untukku ketika ingin berkomunikasi dengannya.
Aku ingin menanyakan sesuatu yang sangat penting. Tapi sebaiknya aku harus menunggu saat-saat yang tepat saja.
"Fidz.. apa kamu gak malu bekerja di sini?.." Ustadz Ma'mun bertanya padaku.
Jujur aku malu..
Malu karena dilihat siswi-siswi bukan malu karena pekerjaannya.
Mungkin bisa disebut naluri para pria ingin terlihat keren di mata lawan jenisnya makanya agak gerogi gitu bila deket atau di dekati siswi-siswi.. emm
Tapi pertanyaan ustadz adalah tentang pekerjaan jadi aku bisa menjawab bahwa aku tidak malu kalau harus bekerja ini itu yang kurang lebih sama dengan pekerjaan rumah.
Hemph! yang penting pekerjaannya halal dan pengen beribadah enak karena di sini lingkungan agamis. Anak pesantren yang berada di samping sekolah SMA ini bisa aku rasakan aura semangat belajar mereka. Wahh! aku juga harus semangat belajar!!
ups.. jangan sampai melepaskan tenaga besar nanti terpakai tenaga Beater.

Setiap kali aku ingatkan diriku agar tidak boleh membangun hubungan terlalu dekat dengan guru-guru di sini, dengan kata lain mereka tak boleh tahu siapa aku sebenarnya. Aku juga harus menahan diriku supaya tidak labil. Tak boleh terlalu bersemangat, terlalu sedih dan apapun emosi yang berlebihan tak perlu ditunjukkan pada mereka. Kali ini benar-benar sulit. Harus benar-benar teliti.

_
Suatu ketika aku di ruangan, Ma'am Rose bilang padaku pernah melihatku tapi lupa di mana katanya. Aku jadi gugup. Mungkinkah.. ketika aku jadi buronan polisi?? ahaha, bukan-bukan..
Aku berpikir juga demikian tapi untuk ustadz Ma'mun dan Pak Riza, entah di mana aku juga pernah melihatnya. De javu kah? atau memang perasaan dari takdir yang sudah terasa sebelumnya. Kalau memang iya, kurasa itu akan jadi hal yang bagus.

_
Hari kurban.
Ustadz Zul mengajakku untuk ikut partisipasi memotong daging kurban pada hari minggu nanti tanggal 11 agustus. Sulit sebetulnya untuk menolak karena aku juga dapat kupon daging kurban di sini tapi mengingat tenagaku sedikit dan perlu istirahat jadi terpaksa sekali aku harus menolaknya dengan alasan aku juga ingin membantu memotong daging kurban di kampung. Padahal.. belum tentu aku ikut.
Apakah artinya aku berbohong?
Jika aku tidak melakukan berarti berbohong.
Gawat.. pasti, aku takkan melakukannya.

Ada satu alasan lagi kenapa aku ragu dengan bujukan ustadz Zul ini. Instingku berkata orang ini perlu aku jauhi. Matanya pun hampir sama denganku. Hanya wawas diri saja.
Setelah aku menolak terlihat raut wajahnya agak cemberut. Aku jadi gak enakkan.

Pada hari kurbannya terpaksa deh aku menerima bujukannya ustadz. Tak enak banget rasanya kalau dapat kupon tapi gak bantu-bantu apalagi gua baru kerja di sini.

Tempatnya di Mesjid ini yang juga termasuk wilayah Yayasan Hasbunallah. Dulu aku kira cuman ada sekolah SD saja rupanya ada SMP, SMA dan Ponpes. Luas banget. Teringat kata pak Tri yang sekarang menjabat sebagai ketua Yayasan, perjuang Guru Ahmad dan guru lainnya sangat luar biasa. Kalau di ceritakan yaa kurang lebih seperti pada umumnya ujian. Kadang turun naik. Asalkan niat lurus semua perjuangan pasti hasilnya bagus. Btw.. kok cuman ada sedikit kendaraan yang parkir di depan mesjid ini. Jangan-jangan gua salah hari? yang benar saja. Mungkin ada di belakang mesjid ini.

Aku menyusuri lewat samping kiri mesjid. Nah, terlihat dari kejauhan banyak sekali orang, lekas aku berjalan ke sana.
Wahh.. sibuk sekali.
"nah hafidz, ayok jangan berdiri saja cepat bantu.."
"ah, iya-iya.." segera setelah meletakkan tas dan jaketku aku langsung membantu.
Aku lihat bagian memotong kulit sapinya kekurangan orang, baiklah ayo lakukan seperti sewajarnya.
Ramai juga, ada beberapa anak-anak yang ikut membantu kami.
"itu ***** nya sapi masukan dalam kantong juga" 😂😂
Beberapa orang pasti ada juga yang suka bercanda haha.

Istirahat sebentar aku berbincang-bincang dengan ustadz Ma'mun dan salah satu temannya yang sekarang jadi guru mengaji atau guru Ummi. Temannya bercerita banyak tentang perjuangannya dari bawah sampai sekarang. Mulai dari menjadi OB di sebuah studio katanya, kalo gak salah. Jadi intinya dia pengen motivasi aku untuk tidak berkecil hati mendapatkan pekerjaan ini.
Dalam hati aku berkata "aku punya tujuan, bagiku pekerjaan ini adalah pelatihan diri jadi mana mungkin diriku terusik hanya karena pekerjaan ini"
Aku tidak gila harta ataupun jabatan, yang ku inginkan hanyalah menjadi lebih baik.
Jika aku tak berdoa untuk didorong, untuk berjuang kepada Allah swt. mungkin saja aku takkan sampai saat ini. Semuanya bukanlah hasil dariku seorang. Aku tak ada daya maupun kuasa.
...

Kesempatan datang untuk menanyakan tentang OB sebelumnya, maksudku
"Apakah kerja dia sangat bagus?.."
Perasaan memang tak enak membicarakan orang lain diam-diam tapi aku butuh kepastian. Misalnya kerjanya jauh lebih baik maka aku harus lebih berusaha dan jika tidak.. aku bisa perlahan-lahan berkembang tanpa memaksakan diri.
Jawabannya begitulah sebetulnya aku sudah menduga. Tapi karena dari saksinya aku bisa memastikan.
Aku jadi cheer up karena yakin bisa melampauinya.