Minggu, 19 Juni 2016

Sahabat Semut



Dulu waktu aku masih kecil, aku sering sekali bermain di belakang rumah kebetulan juga nenek ku memelihara ayam di sana. Setiap jam 3 sore saat-saat mendungnya pada tahun tersebut aku kembali bermain bersama semut. Aku mencoba mengahamburkan snack-snack di dekat para semut yang lagi mencari nafkah buat sang ratu, melihat mereka sangat membuatku terpesona, sebagai laki-laki aku ini tidak takut serangga kecoa atau pun hewan aneh lainnya. Semut yang pertama menemukan makanannya akan kembali ke markas memanggil para koloninya, sebagai penggambaran semut ini berwarna hitam, kecilnya seperti pasir 0,5 mm ukurannya😂, semut ini tak terlalu suka dengan makanan yang manis. Sarang kesukaan mereka diselah-selah tumpukan kayu. Ketika mereka mulai mengerombongi snack yang ku tabur tadi kadang hadir semut yang lebih besar dari biasanya, yang besar bukan seluruh anggota badannya melainkan hanya kepalanya, terlihat jelas besar gigi capitannya untuk menangkap lawan. Kedatangannya membuatku semakin girang.

Kemampuan imajinasi ku diuji, ku mencoba merancang bangunan kecil buat semut itu. Aku membuat bangunan seperti gedung dengan besar. Walaupun sudah sukses si semut merasa belum terlindungi dari rumah makannya itu, beberapa semut yang lain mencoba mengumpulkan kerikil-kerikil dan menempelkannya di celah-celah lubang rumah makan semut baru itu, ya mungkin saja semut itu adalah jenis semut pekerja. Aku mencoba memperbaiki posisi jongkok ku kalau-kalau saja aku menginjak semut lain.

Aku teringat kembali cerita Nabi Sulaiman as tentang Nabi Sulaiman yang memelihara 2 semut di dalam toples kaca. Di cerita tersebut benar-benar menginspirasi kalau rezeki itu bertebaran luas di dunia ini. Benar, kalian bakalan tau nanti, jika kita menyadarinya.

Nah episode ini hampir menuju inti cerita, setelah bertahun-tahun memperhatikan semut aku mulai tertarik dengan semut yang lain, beberapa moment yang berharga seperti semut yang mengorbankandiri sebagai kapal agar sang ratu tak tenggelam saat banjir, bukan hanya satu melainkan lebih dari 50 semut demi kelangsungan ras mereka, moment ini aku dapatkan saat banjir tahun 2000 berapa ya aku lupa yang penting itu saat aku masih sekolah dasar. Moment kedua semut kerarangga sebutku dari bahasa Banjar, semut ini lebih besar 2 kali lipat dari semut pertama yang ku sebutkan di awal cerita, momennya ialah ketika  ranting pohon yang tak sampai menjulang ke seberang, ini karena aku tak sengaja membuat ranting pohonnya bergeser, beberapa semut mulai mencoba menghubungkan kembali dengan tubuh mereka sebagai jembatan. Ada pula ketika aku iseng dengan semut jenis itu, aku mengambil jaring laba-laba dan mengikat salah satu koloninya kemudian meletakkannya di dekat gerombolan semut lain lalu reaksi semut lain sangat membuat ku terpana layaknya manusia mereka mencoba membantu temannya yang dalam kesulitan *wah* ucap ku
Akhir cerita karena sering sekali bermain dengan semut aku menjadi takut kalau membunuhnya, ketika aku ingin menjemur pakaian dan melihat beberapa semut yang lalu lalang di tali jemuran membuat ku bingung gimana aku menunggu kesempatan mencari celah ruang yang besar, terlebih juga saat perjalanan berkendara maupun jalan kaki, penglihatan yang tajam adalah hal yang penting, jika diluar kemampuan aku hanya bisa baca bismillah.

Selasa, 14 Juni 2016

Aku Mengerti

Tinggal 6 bulan kah lagi??..

Serasa begitu lambat..

Sebuah perkiraan yang belum pasti..

“oi stop dah waktunya istirahat” seru kak Yadi sambil berjalan, aku menengok ke arah jam dinding, baru jam 11:31 “sebentar, lagi asyik-asyiknya nih me-las” ucap ku dengan nada senang. Semakin bertambah umur ku, semakin banyak pula pengalaman ku, akhir-akhir ini aku mulai mengerti banyak hal, tak semua bisa di ungkapakan dengan tulisan, tak semua bisa di ungkapkan dengan perkataan maupun perbuatan. Akibatnya aku hanya menyimpan pemikiranku di dalam benak ini, semua yang telah 
ku lalui begitu berarti..

Bekerja sampai lelah begini memang mengasyikkan, aku menjadi tau bagaimana para orang tua bekerja keras tiap hari demi keluarga, benar aku akan bekerja lebih baik supaya bisa menjadi pekerja yang hnadal, jika aku sudah mempunyai pekerjaan mungkin aku akan melamar seseorang. Aku membuka line dan ikut bergabung dengan group Semangka, beberapa waktu yang lalu aku membuat Nisa kebingungan, aku menolaknya secara halus tanggapannya dan keesokannya saat aku menceritakan kalau aku pernah dibully, kata Fidya “mana fidz biar aku hajar orangnya” aku pun tertawa, kami terus chatting hingga aku lelah dan ingin tidur. Subuhnya aku kembali membuka line dan sedikit kaget dengan chat balasan Nisa dari group Semangka juga, aku tetap tenang dan menanggapinya biasa saja, gaya rambut yang acakan dan bercorak merah ketika di simburkan cahaya matahari itulah gaya rambut ku yang baru yah memang gak ada hubungannya sih, aku letakan lagi ponsel ku dan pergi ke kamar mandi untuk segera berwudhu, sedikit berbicar dalam hati dan merasa lega “yah wajarlah soalnya aku berharap berada paling belakang” *hoam*

Sudah lama sekali aku tidak mencuci piring kali ini aku akan membantu nenek ku, walaupun begitu nenek ku jarang sekali kecapekkan, ibarat seorang ibu nenek ku bakal tambah semangat kalau aku menjadi lebih baik lagi, yah cuman ada beberapa hal yang tidak ku suka dari nenek, pengamatan ku akan sangat baik jika seseorang serig muncul di kehidupan ku, aku bisa menganalisanya dengan baik maksudku sifat dan jalan pikiran. Aku juga menggunakan cara ini untuk terhubung dengan kakak workshop ketika bekerja terlihat saat mereka membutuhkan sesuatu aku langsung tau. Namun untuk Aulia, aku sama sekali tak bisa membaca jalan pikiraannya, dia sedang apa atau bagaimana, sama sekalai membingungkan, mungkin karena inilah aku masih menyimpan rasa padanya. Saat Helda mengundang ku di group Sepuluh Satu dan IPA 3 aku menerimanya tapi jarang sekali ada obrolan. Pertama kali saat masuk di group IPA 3 banyak yang bertanya siapakah akun yang bernama Zheill lah ini, kata Amal itu Hafizh, anak IPS kah?? , maaf aku salah tulis tapi Hafidz kata Amal sekali lagi. Lalu mereka mengenali ku dan tiba-tiba saja dia keluar yap Aulia kata dia benerkah itu Hafidz?? Kemudian di balas Amal katanya iya.Sebenarnya aku tak terlalu berharap kalau Aulia memiliki rasa terhadapa ku terlebih lagi Amal dulu suka sama Aulia.. yah canggung deh.

Aku terheran dengan Aulia, ia sering sekali share tentang anime di line, sampai-sampai kalimat di postingnya itu mengandung efekan maksudku seperti bikin laki-laki baper tapi ada juga yang lain yang tak berhubungan. Seperti biasa ia sulit di tebak, aku mencoba mencerna maksud dari pesannya itu dan memberanikan mengambil kesimpulan, aku mencoba membuat obrolan pertama dengannya di line, aku mengirim pesan “Au ada anime yang seru gak ?” pesan yang seolah-olah sudah sering bertemu dan menyimpan rasa di balik pesan tersebut, obrolan kami lancar sampai jam 9an aku mengirim pesan minta maaf karena awal dari bulan ramadhan, akan tetapi tak dibalas namun sudah dibaca, tak mengerti apa ia sibuk, lalu aku mencoba mengirim sticker yah hasilnya nihil, besoknya pun sama, itu berarti ada yang salah mungkin aku terlalu percaya diri. Kalau minta maaf saja tak dibalas berarti berharap sesuatu pun mustahil, setelah semua itu ku relakan aku pun menyadari akan hal, seseorang yang diharapkannya, aku pun tertwa kecil diselah-selah waktu senggang “aneh kenapa aku tak menyadarinya dari awal” tentu saja aku merasakan sesak walaupun labil aku tetap bisa merasakan sakitnya, dengan begini aku kembali memperkuat pendirian ku “sekali lagi jangan mudah percaya diri”, supaya memudahkan komunikasi sama Abdi dan teman sekampung makanya aku mendownload line, jika engga yah gak mungkin lah.

Kehilangan seseorang sudah wajar, move on pun hal biasa bagiku, mungkin suatu kelebihanku bisa mencintai seseorang dengan kehendak sendiri dan menganggap seorang yang dicintai menjadi orang yang biasa seperti semula ketika bertemu, kadang ada batasnya juga tapi sekarang tak apa karena aku punya Beater dan Zheill haha..

Menjadi manusia yang terbelakang bukan hal yang mudah sama seperti halnya belajar, tampak dari luar aku ini sering sekali kena bully karena tingkah konyol dan lain-lain dan kadang aku menunjukan aksi ku tanpa ku sadari, itu karena takdir kehidupan ku masih berjalan, takdir seseorang bisa di usik dengan usaha kerja keras, aku percaya akan hal itu karena itu hal yang wajar di alami manusia, hmm membingungkan jelas sekali teori ku belum cukup aku perlu pengalaman lagi dan juga sekarang ini aku tak tau tujuan lagi, “apa aku perlu menjadi yang terdepan??” hah mustahil dan juga aku tidak suka..


End, kurasa tidak..

Kalian yang Terbaik



Semua manusia adalah tokoh utamanya aku maupun kalian, kita juga saling berbagi peran, peran antagonis, protagonist dan juga tokoh pemabantu atau tokoh baru bermunculan. Ada pun tokoh pahlawan menurut saya yaitu seorang sahabat, ya aku berharap tokoh itu ada dalam cerita hidupku.
Sahabat .. aku melihatnya dalam hidupku..
Ketika SMP kelas satu aku bertemu dengannya, ya dia adalah Yahya, keluarga mereka pindah rumah. Kami bertemu di musim kelereng. Pada saat itu aku juga merasa kalau ia adalah orang dari cara bicarany. Kami mulai berteman akrab dari sebuah permainan tak hanya Abdi tapi juga Aldy dan Herry kami sering tertawa terbahak-bahak bila di suguhi sebuah lelucon, kadag pula kami seperti anak kecil bila jaringan warnet lelet “nih me yutube pasti” sorak diantara kami ya faktanya begitu apalagi orang tua yang menjudi togel. Umur Aldy beda 3 tahun dengan ku dan Yahya Herry 2 tahun yup mereka masih muda perjalanan mereka masih panjang. Mereka memang memiliki sifat anak kecil karena perbedaan sebuah pengalaman walaupun begitu aku tetap berteman dengan mereka.
Di kasus Abdi aku sudah dari dulu menganggapnya seorang teman, jika dibandingkan dengan teman yang lain hanya Abdi lah yang paling terbaik. Memang, dulu kami sering bertengkar tapi sekarang pikiran kami mulai matang dan aku melihat aura berbeda-beda dari mereka. Di kasus Herry kami sulit berkomunikasi dengannya, soalnya ia harus menghadapi rintangan dunia di usia menginjak 15 tahun, tak semua orang memiliki harta melimpah, mencari kerja sebuah harapan lain. Aku berharap jika aku seukses nanti bisa membantunya bukan tapi kami.
Sekarang aku mulai mencari pengalaman baru kerja di Bumi Jaya yup sebagai anak magang. Aku senang sekali mereka menyambut kami dengan cara biasa. Di tempat magang aku bertemu lagi dengan tokoh-tokoh baru, yup aku akan selalu belajar. Aku magang bersama teman BLK, aku panggil Fahmi, aku tak terlalu akrab dengannya seoalnya aura yag ia tunjukkan lain dari yang ku harapkan, ia tak menyukai ku, entahlah kenapa bisa begitu. Jujur saja aku mulai tak menyukainya kenapa? ia pernah mengentuti tepat di hadapanku, sebagai sapaan?? Bahkan saat aku mencoba berkomunikasi ia malah menuli. Kelopak mata kanan ku menutup perlahan dan hanya tersisa setengah pandangan, ya itu saat dimana aku bertemu dengannya, aku tak berharap dengannya lagi. Hanya sebagai teman magang, kedudukan lebih rendah dari pada seorang teman.
Pada minggu kedua aku mulai kelelahan, aku merasa kalau tubuh ku belum bisa mengimbangi mereka, mereka yang ku maksud anggota workshop, aku kelelahan memaksa tubuhku mempercepat perkembangan agar sebanding. Pemakaian Beater pun hanya berlangsung 3 hari dimulai saat aku kehabisan tenaga, berat rasanya. Aku tersadar seseorang memanggil ku dari belakang, katanya dia ingin aku bersama kak Albert membeli gallon, kami pun pergi dan kembali membawa 4 galon, “kak biar aku saja yang bawa” pinta ku, kak Albert pun mengizinkannya karena hari ini ia tampak kelelahan. Sesampainya di workshop aku pun memarkirkan kargo yang tinggi ini di dekat dispenser, aku angkat satu gallon dan meletakkannya di bawah disamping dispenser jua, namun saat aku mengangkat gallon yang kedua tiba-tiba saja kargonya terjungkal ke depan dan memecahkan satu gallon yang satunya lagi tutupnya terlepas membanjiri lantai. Mungkin wajah ku tak berbentuk lagi, dengan langkah kilat aku membujurkan kedua gallon tersebut supaya menghentikan alairan air yang keluar, tentu saja aku malu, terlintas aku mengingat pesan kak Almino kalau anak magang yang dulu bandel dan mencoreng nama baik BLK, padahal aku ingin memperbaikinya dangan lulusan kami ini, serasa aku pingin minggat dari sini. Jam 12 kami istirahat, kami makan bareng di tempat istirahat yang sudah disiapkan, sekarang tidak lagi, aku pergi ke kantin saja, siapa yang tahan setelah memecahkan gallon terus makan bersama meraka, mendekat pun aku enggan.
Setengah harinya aku hanya duduk me-las gerobak tanpa istirahat sedikit pun, sakitkan fidz.. aku mulai berfikir keras untuk menjadi lebih baik, memang aku dulu berharap menjadi yang terbelakang tapi sekarang beda ini bukan panggung ku ini panggung BLK !!!! sekarang aku tak membutuhkan mu fidz kini yang kau perlukan hanya aku dan Zheill, aku benci sifat polos dan kecerobohan yang membuat semua berantakan.
Sepulangnya di rumah aku berhenti memakai tenaga dan otakku, aku lelah fisik maupun mental. Aku merbahkan tubuhku yang tiap hari bertambah beratnya di kasur, apa yang telah kulakukan dasar bodoh..
*ting tong*
Suara notifikas dari line dari group “Agen Tahu Bulat nyoi” aku meraih ponsel ku dan membukanya, aku tertawa kenapa?? kenapa masih ada kau, Hafidz?? Jangan tertawa. Mungkin ini yang di maksud sahabat, sahabat yang selalu aku idamkan dari dulu, mereka selalu saja bisa membuatku tertawa. Ya mereka adalah teman ku..


Kalialah yang terbaik..