Rabu, 31 Juli 2019

Lewati Batas

Aku suka sekali berolahraga bila kondisi lagi fit. Biasanya tiap sore aku berolahraga karena suhunya enak. Setelah lelah, beristirahat lalu menulis.
Aku berolahraga sekedar gerakan pemanasan karate saja, yang pernah diajarkan oleh guru saat aku bersekolah dulu. Yep, cuman itu saja tapi aku tingkatkan sampai sekarang. Beruntung kan guru punya murid seperti aku atau kita yang memakai ilmunya untuk kebaikan. Beginilah cara berterimakasih yang benar oleh kita untuk guru-guru kita dengan memakai ilmu yang diajarkan mereka.
Teringat dulu kenapa aku berhenti ikut karate padahal udah sabuk kuning. Alasan simpelnya hanya karena adik kelas cewek tahun baru yang ikut bergabung.
Apa?!! Aku punya hubungan dengan mereka ?!!
Tentu saja tidak ada hubungan atau semacamnya, hanya saja aku gak enak kalau kelihatan gerakan yang lucu oleh mereka. Bagaimana dengan Galuh? Yaa dia kan teman sekelas jadi gak papa. Intinya gak suka dilihat dan.. Aku gak suka memakai baju karate, kegedean sementara badanku kurus.
Alasan yang konyol kan?
Setelah aku berhenti  Raga juga ikutan berhenti. Alasan kami berdua hampir sama.
Aku memang labil. Namun dibalik semua alasanku itu terdapat jawaban yang tersembunyi, yang aku sendiri tak pernah menyadarinya.

_
>>>Tekad<<<

Sehari sebelum memasuki bulan ramadhan aku mendapat rintangan yang lumayan berat. Dari pagi sampai malam aku berusaha sekuat tenaga memaksakan diri.
Ceritanya aku mulai setelah sholat ba'da dzuhur, aku terpaksa harus memenuhi permintaan pak RT untuk minta-minta ke tiap rumah di lingkungan RT kami. Sukarela, berapa saja asalkan ikhlas. Uangnya akan digunakan untuk menyewa imam tarawih nanti. Wajar di kampung kami kekurangan imam. Niatnya siang ini aku ingin tidur pulas tapi apa daya jika aku menolak permintaan sama saja seperti orang yang anti sosial. Tak apalah, hitung-hitung cari pahala.
*crak
Aku memakai sepeda adikku yang kecil. Mengayuhnya sampai di bibir jalan.
Aku memulai dari sebelah kiri soalnya perumahannya sedikit, sedikit karena di seberang jalan lahannya tak memungkinkan untuk membangun rumah, pinggir sungai dan curam.
Aktifkan mode ramah tamah. Sekali lagi aku terpaksa bersikap manis.
Rumah Abdi, Nisa, Erpan, tetangga, Meli, Hakim, Nayai dan terakhir bapaknya Gafur.
*tok tok
Assalamualaikum..
Terdengar langkah kaki dari lantai kayu rumahnya bertanda ada seseorang yang mendekati pintu. Aku mundur sedikit.
"ada apa ya?"
"ah ini ulun minta sumbangan buat menyewa imam tarawih, sukarela aja"
Tak terlalu jelas apa yang dikatakannya, pendengaranku memang agak buruk.
Aku rasa bapaknya Gafur tak ingin menyumbang. Aku menangkap kalau katanya kita gak perlu menyewa imam.
Ah yaa..
Kalau gitu sebaiknya aku lanjut saja.

_
Nah baru ke sebelah kanan. Aku akan memulainya dari seberang jadi aku bisa berputar dan finishnya langsung ke rumah. Sebelum nyebrang tetangga terdekat dulu.
Hari lumayan terik. Aku tak keberatan kepanasan, yang sulitnya itu ketika aku harus menghadapi tiap tetangga yang berbeda-beda. Solusi terbaiknya memang harus bersikap ramah murah senyum, selanjutnya menanggapi reaksi berbeda hanyalah dengan bersabar.
Ada yang reaksinya baik, pintunya gak dibukain padahal aku tahu orangnya ada di dalam, ada yang pelit tapi yaa sukarela juga siiih jadi gak bisa memaksa..
*psst! itu si Aisyah, si cewek cantik, ayo cari perhatiannya
Yaampun cari kesempatan melulu.
next!..

Assalamualaikum..

Nah yang keluar adik cantik..
*le gua  -_____-

"Oiii, bro!" suara yang ku kenal dari belakangku.
Ohh pak Sabri, dia horang kaya lohh..
Aku langsung dapat firasat kalau pak Sabri ingin memberiku uang khusus untukku. Pengen nolak langsung kabur darinya masa iya? haha..
"kenapa ya?" pura-pura gak tahu
Pak Sabri mengeluarkan uang dari kantong Doraemonnya. Tebal, ijo, biru dan merah.
"nih buatmu" pak Sabri ngasih aku uang 10rb 🤣🤣
"duhh, gak usah deh-"
"gak papa buat kamu aja, lumayan buat beli minum" paksanya.
Minum! bener juga. Ya udah aku terima aja.
Next!..
Ada yang ngasih banyak uang. Gak ditanggapi padahal orangnya kelihatan dari luar huhu..
Ada yang pekerja keras, aku doakan supaya banyak rezeki. Ada yang susah. Ada yang berbelit-belit harus nebak siapa namanya, njirrr.
Ada yang kali ini ngasih uang banyak dan reaksinya lebih ramah daripada bulan kemarin, bulannya Isra' Mi'raj. Padahal kalian tahukan yang membawa ajaran islam dan menyempurnakannya adalah Nabi kita Nabi Muhammad saw. masa berat sebelah reaksinya. Sebagai pengingat saja untuk kita. Tapi yaa aku juga tak bisa memastikan apa isi hati seseorang, jadi berpikir positif saja, mungkin kali ini dia lebih rileks daripada yang dulu.
Terus sampai selesai, semua- ah anggap aja semua rumah di lingkungan kami sudah aku tagih.

Aku ingin menyerahkan uangnya ke pak RT tapi beliau sekeluarga tak ada di rumah. Sore nanti aja deh.

_
Aku beli minuman dingin setelah sholat ashar.
Tugas selanjutnya yang harus aku lakukan adalah membersihkan Langgar. Aku sendiri yang menginginkannya demi menyambut bulan ramadhan. Sebab aku tahu, kalau bukan diri sendiri yang memulainya, siapa lagi.

Kopi coklat manis yang luar biasa! membangkitkan semangat tempur!
Oke! waktunya bersih-bersih.

Pertama aku meletakkan tirai penghalang ke luar. Baru sejadah, semua sejadah.
Mikrofon dan segala macam yang kecil-kecil seperti tasbih aku letakkan di gudang.
Well, selanjutnya membersihkan dinding dan jendela dari debu dan sarang laba-laba. Pakai sapu aja.
Done. Selanjutnya menyapunya.
Bapaknya Parid datang. Katanya belum bisa bantu karena sibuk mengurus tempat gapuranya yang hampir roboh tadi.
Uah jadi suara keras tadi berasal dari tempat gapura itu ya.
Bapaknya Parid berkata padaku sebelum pergi, katanya nyalakan nyalakan pengeras suara supaya bisa didengar oleh yang lain. Yang dimaksudkan adalah lantunan Al-Quran dari ponselku supaya di dekatkan ke mik.
Rasa berat hati sih soalnya bakalan banyak orang kemudian membuat kerjaku tak efesien, ah maksudku mengacaukan ritmeku.

beberapa menit berlalu~
-___-
banyak orang apalagi anak-anak.
Ahh!! jadi bingung mau ngapain.
"kita bersihkan saja lantai yang di dalam" kata Parid
*byurr air dari ember membasahi lantai
Huaaa!! basah banget gak bakalan sempat kering, ini sudah jam 5 pula, gak bakalan sempat.
Tapi mereka yakin saja kalau nanti akan kering.
Duh, biarlah, aku sudah cukup kelelahan, sebaiknya istirahat saja.
Keringat badan terus keluar dari pori-pori kulit karena aku banyak minum air gelas kemasan. Ibaratnya air ini adalah oli dan tubuhku mesinnya.
Mode Overheat, yang hanya bisa tubuhku lakukan pada musim kemarau. Melewati batasan penggunaan kekuatan Beater. Kekuatan yang jauh lebih merusak penggunanya.
Tak salahnya kan aku berkorban banyak untuk hasil yang pasti? bener kan?
Tak masalah karena melakukannya, mode Overheat, adalah salah satu keahlianku. Asalkan tak terus menerus dipaksa aku akan baik-baik saja. Esok puasa jadi aku bisa tidur pulas seharian. Oh! tentu saja aku pasti bangun pada jam sholat, bahkan sebelum itu, soalnya biasanya pasti ingin buang angin haha.

_
Aku duduk sebentar di luar datanglah pak Sabri menanyakan keuangan hasil dari pendapatan sumbangan sukarela.
"kalau tak salah sekitar sejuta sekian" rada ingat, uangnya aku tinggal di rumah.
"ambil, biar pasti"
Akupun balik ke rumah untuk mengambilnya dan balik ke langgar.
"nih tambahan" pak Sabri menyerahkan uang yang cukup banyak.
Katanya ini juga buat sekeluarga, perwakilan.
Jadi begitu, tadi rumah yang orangnya ada di dalam namun tak menghiraukan keberadaanku adalah keluarga pak Sabri. Hmm..
Ah aku tak tahu mau bilang terimakasih atau apa, jadi aku simpan saja uangnya dan menulis di kertas laporan.

"kalau bukan kita-kita siapa lagi yang mau mengurus beginian" kata pak Sabri.
Ahh aku agak enek dengar kata-kata itu soalnya mengundang perasaan berbangga diri, sombong. Jikaa kita menangkapnya, terjerat oleh manisnya pujian. Merasa jauh lebih hebat dan benar. Aku sudah belajar dan telah kutancapkan cahaya pengingatnya.
"bro, kamu saja yang peggang uangnya"
"kenapa?" tanyaku.
"soalnya begini.."
Pak Sabri menjelaskan kalau ia kesusahan daftar yang dicatat untuk melihat siapa saja yang menyumbang, tujuannya melihat nilai sumbangan keluarga-keluarganya. Hmm tadi aku juga sempat menolaknya untuk melihatkan laporanku. Apa yang dilakukan pak RT sudah benar, akunya saja yang lembek.

Sekarang terikat oleh amanah, aku tak bisa lagi pindah-pindah sholat tarawih ke tempat lain.
Latihan baru untukku agar tak plinplan.

Senin, 22 Juli 2019

Hak Kepribadian

Datang seorang bapak yang juga ingin memancing. Aku sering melihatnya tapi aku tak tahu siapa dia. Nama, tempat tinggal, keluarga, teman, apapun itu. Cukup tahu dia siapapun dia, punya kepribadian baik aku akan suka dengannya.
Kau tahu? Alasan mengapa aku tak ingin mau tahu dengan identitas seseorang?
"Ibumu tinggal di kaltim ya?" bapak tadi bertanya.
Jawabannya ialah aku tak suka ahh mungkin benci dengan orang yang mencoba mengorek informasi tentang kehidupanku. Mulut ke mulut jijiknya mereka menggosipkan kehidupan seseorang dan saling memberi tanggapan satu sama lain. Begini dan begitu. Setelah dapat jawaban yang mereka pikir benar puaslah kebutuhan ucapannya lalu pulang ke rumah dengan percaya diri. Dalam lubuk hati mereka kami sudah melakukan yang benar.
Tak logis..
Langkah tindakan yang diambil untuk merespon cara mereka sesuai cara Beater adalah dengan pergi menjauh dari mereka, semua.
Aku tak mau peduli dengan urusan mereka karena aku juga tak ingin dikomentari mereka. Yang boleh tahu siapa aku ini hanyalah lewat blog ini.
Berbeda dengan meminta tolong. Jika mereka meminta tolong dan diizinkan untukku agar tahu privasi mereka maka aku akan melakukannya. Membantu memang lebih manusiawi daripada membicarkan dari belakang. Dalam artian bukan sok membantu lalu menghakimi ataupun merasa benar.
Susah dan ribetnya berurusan dengan orang-orang demi menjaga kedua sisi agar tidak meninggalkan kebencian. Harus sangat berhati-hati. Berapa kalipun aku ingat tapi tetap saja selalu salah langkah. Yaa aku akan selalu dianggap sombong oleh orang lain karena aku punya caraku sendiri.
Aku tak suka orang lain dekat denganku. Aku lebih suka menyendiri.
Aku tak ingin diketahui siapa aku maka untuk menjaga diriku aku harus berbuat yang sama terhadap orang lain. Demi diriku sendiri.
Sebuah wilayah yang tak boleh dimasuki. Jika ada yang mencoba memasuki, sebelum mengambil langkah aku sudah menghindarinya, menjauh darinya.
"Bagi yang tak punya kepentingan atau tak diizinkan kagak boleh masuk, titik"
Dengan pola pikir seperti ini gak akan ada yang betah dekat denganku. Yaa aku juga tak mengharapkannya.

_
Tiap orang punya haknya sendiri. Memahami seseorang berdasarkan pengalaman pribadi maupun orang lain.
Benar. Dulu aku juga sering ikut campur urusan orang. Akibatnya mereka menjauhiku dan juga teman yang inginku tolong. Mereka yang aku campuri urusannya merasa sangat terganggu. Sama halnya mencoba ingin memaksakan kehendak sendiri, cara yang kulakukan tak jauh berbeda dengan mereka yang pengganggu.
Bisa dipetik buah pelajaran dari pengalaman simpel ini. Kita tidak boleh seenaknya sendiri mencampuri urusan orang tanpa memperhitungkan semua pihak dan sebab akibatnya.
Tujuan dari menolong kan memang ingin hasil yang bagus. Bagus karena semua pihak merasa senang dan ikhlas.
Adanya campur tangan dari hati yang busuk membuat jalan pikir jadi menyimpang.
Tanda dari tindakan yang salah ialah tak sabaran, bawaannya selalu emosi, enggan menerima pendapat dan ingin merusak. Sebaiknya tenang dan berpikir terus menerus.

_
Punya kepribadian banyak ada gunannya juga, salah satunya berguna untuk berurusan dengan orang lain. Tentu saja aku berharap agar tidak membuat masalah.
Tapi.. Bagian yang merepotkannya ialah ketika masalah itu sendiri yang datang. Misal terpaksa harus menyapa kenalan atau harus berbicara dengan kenalan. Why? Mengapa aku harus menyapa? Adat mungkin, jauh dilubuk hatiku merasa sengat direpotlan. Ahh sekarang ini aku menjadi tipe orang yang pendiam. Jujur aku males ngomong jika topiknya bukan karena game dota atau soal agama. Nah di sini letaknya kepribadian dan kepribadian saling berlawanan atau memiliki daya tarik.
Umumnya kita lebih suka berbicara dengan doi, apapun itu pembahasannya, bahkan seharian penuhpun gak ada bosen-bosennya. Alasan terselubungnya ialah mengharapkan sesuatu yang diharapkan dari dirinya. Membalas perasaan suka.
Sebaliknya jika responnya adalah penolakaan, dari dirinya sedang tak mengharapkan untuk di.. Emm gak ingin diperlakukan? Duhh apa ya kata yang pas.. Ahh pokoknya gak ingin digituin. Jadinya rasa tak suka dan kecewa timbul dalam diri kedua pihak.
Penjelasan singkatnya tentang hak dan kepribadian adalah pada langkah pertama ketika ingin berkomunikasi dengan orang lain kita tidak boleh memaksa. Perhatikan baik-baik ekspresi, mood dan kepribadiannya. Sekali lagi yang diharapkan dari bergaul kan emang kedamaian. Jika bergaul denganku? Lebih baik jangan dah. Aku tipe pemilih, males bicara, gak asik yaahh banyak lah pokoknya. Aku punya pikiran dan jalan yang berbeda. Kalau orang lain suka berkumpul, aku lebih memilih sendiri. Kalau orang lain milih buah mangga, aku lebih suka buah sirsak deh. Kalau orang lain suka mobil, kendaraan dan rumah mewah.. aku, asalkan bisa mencapai tujuan itu saja sudah cukup. Kalau orang lain suka cewek yang cantik, aku.. Yaa i dont know haha..

*mOnStEr lAbIl uyuuyu!!

Minggu, 21 Juli 2019

Akan Mendapatkan

Perutku sakit sekali ketika ada pergerakan di usus. Penyebabnya belum aku ketahui, aku kesulitan berpikir karena kesakitan. Jika muncul rasa hendak bab segeranya aku harus langsung ke wc kalau tidak bisa-bisa aku mencret dicelana. Susah sekali mengingat apa yang sudah aku makan kemarin. Seingatku, aku tidak memakan makanan yang aneh. Mungkinkah pencernaanku terkejut karena aku ingin berpuasa dengan sahur kopi dan mie pedas? Ataukah ada suatu hal yang luput dari perhitunganku?.. uhh sulit sekali berpikir, pikiranku dipenuhi dengan rasa sakit.
Ini rintangan yang cukup berat.

Sorenya, berpikir bagaimana cara supaya aku bisa sholat Ashar berjamaah.
Bisikan setan mulai terdengar di dalam hati, membisikkan agar aku sholat di rumah saja.
Hampir terpengaruh.
Rasa sakit bila bergerak masih bisa aku tahan, tapi kalau mendadak ingin bab terpaksa harus ke wc. Masalahnya wc di mesjid sudah gak layak dipakai. Butuh waktu yang sangat banyak untuk teliti jika ingin keluar dalam keadaan bersih tanpa najis.
Mencoba sebisa mungkin tenang dan menerka dengan insting untuk memilih pilihan yang tepat.
Perasaanku lebih berpihak jika aku sholat di rumah saja tanpa perlu memperjelas alasan alay. Aku tahu kondisiku tak memungkinkan tapi bukan berarti aku memilih untuk menjadi lemah.
Sayang sekali, rugi besar, ini takdir..

Akupun sholat di rumah dan benarnya perasaan menebak yang akan terjadi, pada pertengahan sholat perut makin sakit karena ingin bab. Kalau tadi aku milih ke mesjid mungkin saja gak sempat lari keliling mesjid untuk pergi ke wc dan langsung mencret di tengah jalan ..

Jika dihitung mungkin lebih sepuluh kali aku bab dalam waktu seharian penuh, jam tidur malam tak dihitung. Pencernaanku seperti ingin membuang racun makanya sering bab. Entahlah apa yang sudah aku makan. Rasanya benar-benar menyakitkan sampai aku terbaring lemas karena kesusahan menahan rasa sakit. Tetapi di tengah kesakitan itu aku merasa bersyukur. Bersyukur karna mungkin ini ujian yang mampu aku sadari lebih cepat dari sebelumnya dan menambahkan kekuatan iman. Pelajaran yang sangat bagus. Tapi yaa tak selamanya harus sakit, aku harus sembuh untuk bisa leluasa beribadah.

_
>>>Monster Labil<<<

Setiap hariku terkadang memang biasa saja. Itu karena mungkin aku masih terjebak dalam zona aman. Sebutan bagi seseorang yang pengangguran. Di saat kondisi kita nyaman lalu tiba-tiba masalah datang menyerang akankah kita menanggapinya dengan baik atau sebaliknya? Berlaku khusus padaku, yaa karena ini memang khusus masalahku.
Aku perjelas. Sebelumnya aku pernah menjelaskan kenapa aku belum mau bekerja. Padahal aku punya potensi untuk belajar cepat namun saat ini bukanlah keadaan yang tepat untuk fokus menghasilkan harta benda.
Aku masih punya banyak masalah terhadap kepribadianku sendiri makanya lebih baik aku memperbaikinya sebelum bertambah parah.
Ketika seseorang kehilangan kendali dia tak jauh lebih dari binatang. Mengikuti hawa nafsu dan tujuan yang tak pernah berujung. Sampai lelah dan mati. Berharap mati itu hanyalah mati menghilang, padahal kenyataannya tidak. Itu salah satu kondisi yang paling ingin ku hindari.

Terus belajar dan teliti memperhatikan pelajaran hidup yang bisa diambil untuk melengkapi kepingan puzzle ilmu, untuk melengkapi bagian diriku.
Levelku masih lemah. Faktanya aku bisa belajar maksimal ketika senang dan dalam kondisi prima. Waktu jeda yang lama bisa aku sadari sampai aku siap menerima pelajaran. Yaa beginilah aku. Takkan pernah ada guru sekolah yang dapat mengajariku dengan baik. Kalau memang ada, mereka harus jauh lebih memahami semua materi pelajaran hidup. Bukan hanya bertumpu satu titik tapi menyeluruhnya dalam aspek kehidupan.
Apakah ada?
Yep, jelas ada.
Agama islam tak hanya mengajarkan beribadah tetapi juga mengajarkan bagaimana setiap aktivitas menjadi bernilai ibadah. Mereka yang agamanya kuatlah yang bisa mengajarkanku agar lebih baik lagi.

_
Aku memperhatikan dari jauh sosok Guru yang berjalan menuju mesjid tak jauh dari rumahnya. Hari gerimis namun Guru tetap melangkah dan berusaha melindungi bagian atas dengan serban hijaunya. Kemudian terlihat seorang polisi berjalan di belakang Guru.
Ada perasaan sedih yang muncul dan ada juga perasaan kagum yang muncul.
Aku menangkap pesan moral sesuai yang aku lihat dan sesuai pengalaman.

Perasaan sedih.
Keinginan hati ingin memuliakan seorang Guru terbesit dalam benak.
"Seandainya aku di sana melindungi Guru dengan payung dan menuntunnya sampai ketujuan" sedih karena diri tak bisa berbuat.
Aku mengulas apakah sama perlakuan kita terhadap seorang Guru dan misal dengan seorang pejabat?
Sesuai apa yang pernah aku lihat pastinya seorang pejabat atau petinggi jabatan kebanyakan mendahulukan atau ada di sampingnya seseorang pengawal. Berharap dapat perlindungan dan sebagainya.
Tapi berbeda dengan Guru.
Malah Guru lah yang sendiri yang berjalan duluan.
Kenapa bisa begitu?..
Yaa karena pengalaman dan rintangan yang sangat banyak.

Perasaan kagum muncul.
Pelajaran bahwa kita tak bisa berharap pada makhluk karena makhluk bisa roboh, berkhianat dan juga mati. Akan tetapi jika kita bersandar dan berpegang pada Allah swt. Yang Menguasai alam semesta ini akan mustahil takut pada dunia dan isinya. Di tambah dengan pelajaran diri untuk mandiri, tak harus bergantung pada orang lain atau berharap dapat pertolongan dari orang lain.
Maaf karena kemampuan observasiku bertumpu berdasarkan logika sendiri jadi akan selalu ada kekurangan.

Mereka yang sudah sangat bagus agamanya pastinya telah banyaaak mengalami rintangan, pengalaman dan ilmu yang didapat. Bisa dibilang dari ujian cobaan yang hampir mustahil diatasi oleh orang awam. Levelku? Yep lemah, sekali kena bully aja rasanya sudah pusang banget.

Memilih untuk mengikuti arus saja ataukah ingin bermiat dan berusaha sendiri untuk maju?

Hati bertanya padaku.
Kau tahu? Setiap kali aku sujud terakhir sholat aku selalu bingung ingin minta apa selain ampunan untuk sendiri dan ke empat orang tua. Aku orang yang mudah puas. Ditambah kebutuhan yang selalu terpenuhi dan perbedaan kepribadian dari orang biasa membuat jalan pikirku berkata "semua ini sudah cukup, aku tak ingin meminta apapun untuk kehidupan dunia". Salahnya jalan pikirku ialah hanya terfokus pada kondisi saat ini. Seharusnya aku berpikir kepuasan tersebut harus mencapai jangkuan akhir hayat. Dengan melihat jauh aku bisa sadar sebuah hamparan kosong bekal dan rencana yang seharusnya akan dipakai untuk menghadapi cobaan masa depan.

Aku sadar kini sebenarnya buat apa semua banyaknya waktu luang dan penunjang kehidupan selama ini yang tak lain demi melatih diriku.
Jadi, aku harus banyak meminta apapun permintaan itu yang ditujukan untuk beribadah. Termasuk meminta untuk bisa lebih baik lagi. Demi kepribadian lebih baik. Demi masa depan yang lebih baik.

Minggu, 14 Juli 2019

Diri Sendiri

Aku melihat sesosok makhluk tinggi bersayap berjalan di dalam hutan tepat di belakang rumah-rumah. Tinggi banget, tinggi daripada rumah. Mengatasinya bakalan sulit. Sedikit takut dan gugup namun aku akan tetap berniat melawannya. Setengah efek dari Enchanter membuat merasa tertantang. Setengahnya lagi keinginan untuk menghancurkan.
"Dia mulai bergerak berjalan menjauh"
Tak boleh dibiarkan sampai ada korban. Sial aku tak punya senjata. Aku berlari mengikutinya sambil menjaga jarak.
Mulut terbuka lebar seperti monster di film Jumper Creeper atau hero Night Stalker di Dota 2.
Mode pemburu buas aktif.
Eh? Malah jadi Batman. 😑😑

Ya..
Tadi itu hanya mimpi.. 😂

Di dalam mimpi pun karakter labil tetap aktif. Tergantung bagaimana ceritanya apakah asik, bawa perasaa, emosi, seram dan lainnya. Pernah aku bermimpi menyaksikan ledakan bintang, UFO dan yang seru lainnya. Karakter asli lah yang aktif menanggapinya.
Seru, emosi, tenang dan sedih.
Tapi ku sadari aku masih punya kelemahan dalam karakter labil ku ini yaitu saat menghadapi ketakutan.
Memang sebelum kuatnya karakter Beater aku masih sangat lemah. Bisa ku pastikan pada pengalaman di dalam mimpi ketika dikejar setan, dihantui dan ketindahan.
Setan adalah musuh yang sebenarnya. Belajar dan bertambahnya pengalaman aku sadar apa yang harusku lakukan ketika menghadapi ketakutan.
Ya.. aku harus melawan baliknya.
Alam bawah sadar adalah bentuk visual dari pikiran sendiri. Jika kita berpikir takut mungkin akan semakin takut dan semakin berpikir untuk takut. Pengalaman pertama ketindahan aku takut dan serasa seperti akan mati.
Pengalaman kedua ketindahan aku berpikir semakin takut lalu muncul bayangan hitam seolah-olah ingin memenggal kepalaku.
Pengalaman ketiga aku bisa berpikir setengah tidur dan Beater aktif karena ingin lebih kuat lagi. Tubuh masih takut ketika melihat sosok hitam lagi. Tapi, kali ini berbeda. Aku takkan biarkan satupun yang boleh membelengguku.
Lawan!!!
Bergeraklah!!!
Aku harus jadi lebih kuat!!!
Tak sengaja aku menggerakkan jemariku. Tubuhku langsung merespon seluruhnya dan meluncurkan serangan jari rapat layaknya tombak ke arah bayangan hitam tadi.
Uh.. apa aku mengenainya?
Rasanya kayak nyerang angin aja. Ya itu memang halusinasi. Aku berbaring lagi lalu tertidur.
Perlu beberapa pengalaman saja sudah cukup untuk memberi inspirasi menghadapi pengalaman lainnya yang akan datang. Mengerti dengan memahaminya.
Sekarang kalau bermimpi setan aku yang akan mengejarnya, memukulnya, menendangnya, segala macam jurus untuk langsung melumpuhkan target aku pakai.. yep 😒 brutal banget, pokoknya kalau belum sampai hancur gak bakalan berhenti.
Kekuatan yang didasari oleh amarah, tekad dan dendam. Mereka adalah tempat yang paling cocok untuk menerimanya.
Hmm.. kurasa ada baiknya kalau aku melatih pikiran alam bawah sadarku ketika ketindahan. Supaya? Yaa berjaga-jaga kalau saja nanti ada yang berusaha menghipnotisku atau mengacaukan pikiranku.
Aku tak ingin menjadi orang yang diinginkan orang lain.

>>>The Monster<<<

Malam sabtu sehabis sholat sunnah sesudah magrib di langgar kami juga diadakan pengajian. Kalau malam selasa pengajian Guru Ilmi. Jadi dalam seminggu aku tak pernah bosen. Kalau pernah, iya, itu karena kurangnya ikut pengajian. Berasa kurang ini djiwa kalau gak ikut pengajian. Trust me! Kalau kalian sering ikut karena ingin belajar pasti bakalan ketagihan. Asik dan menyenangkan. Ilmu agama itu mencakupi seluruh pelajaran. Kebanyakan puzzle ilmu yang aku cari ialah ilmu agama.
Memahami diri sendiri. Kekurangan dan kelebihan. Sehingga menjadikan karakter jauh lebih baik lagi. Jika sudah bisa memahami diri sendiri pasti lingkungan sekitar bisa kita pahami. Dalam artian sudah pernah kita alami.

Si Pandi yang merupakan tetanggaku telah lulus sekolah tahun ini dan akan memasuki BLK setelah bulan puasa nanti. Karna punya waktu senggang ia menjadi lebih aktif dalam urusan beribadah. Meramaikan langgar.
Bagiku ia cukup berbeda karena punya pengalaman spiritual yang hebat yang belum pernah aku punya. Hmm.. pengalamannnya, kurasa adalah privasi jadi aku akan merahasiakannya, maaf ya.

Dia bisa jadi lebih baik lagi. Kekurangannya saat ini hanyalah pengalaman yang kurang. Kelebihannya adalah semangat belajar yang luar biasa. Beda denganku yang masih memahami diri sendiri sembari belajar agama. Fokus yang terbagi-bagi.
Sama halnya dengannya yang aku lakukan dahulu ketika masih sekolah yaitu berkeinginan untuk memiliki kemampuan metafisika😑 mm..
"Sebenarnya buat apa sih ingin belajar ilmu laduni?" Ucapku dalam hati. Benar, aku sadar, sekarang rasanya seperti melihat diriku yang dulu, dan tentu saja keinginannya itu hanya akan merusaknya jika terpenuhi.
Pernah guru di sekolahnya berbicara 4 mata dengannya. Membahas tentang dirinya kemudian menawarkan pelajaran tentang ilmu metafisika padanya.
"Ehh tolak saja!" Ucapku spontan. Sudah aku tolak kata Pandi. Hal yang berhubungan dengan dunia pasti datangnya dari setan.

Aku juga pernah belajar tenaga dalam, tujuannya berkeinginan untuk bisa melakukan hal yang luar biasa. Dan aku tahu itu salah makanya aku berhenti.
Tapi sedikit bisa bagaimana caranya melepaskan sedikit aura(sebut saja begitu) dari telapak tangan.
"Uahh panas" kata Rehan, anak kecil keluarganya Pandi.
Nah gimana kalau gini.
Aku memutar jari telunjukku di atas telapak tangan Rehan.
Sekejap setelah beberapa kali putaran ia menarik tangannya. Reaksi yang mengejutkan. Aku bertanya bagaimana rasanya?
"Seperti kesemutan.." katanya.
Wahh mungkinkah aku sudah diperbolehkan hahaha mana mungkin. Ea kalau saja aku bisa mengeluarkan listrik dari tangan, kan bisa charge Hp pas listrik padam haha 😂😂.. keinginan yang cukup aneh.

Sabtu, 06 Juli 2019

Menyingkirkan

Menjelaskan langsung apa saja yang telah aku lakukan pada bapaknya Gafur hanya akan membuat masalah lebih rumit. Usianya yang sudah lanjut mungkin saja respon terhadap sekitarnya berkurang. Masalah sekali kalau umur telah lewat 40 tahun tapi kebiasaan masih buruk, merubahnya gak bakalan mudah. Maka dari itu aku harus berpikir apa yang sebaiknya dilakukan untuk memperbaiki keadaan. Hanya untuk diriku dalu baru yang lain kalau pun itu bisa.

Menyingkirkan buruk sangka.
Coba lihat dari sisi lain kenapa bapaknya Gafur bisa bersikap seperti itu?

>Bersemangat..
Iya mungkin saja karena terlalu bersemangat. Aku juga pernah melakukannya dan menjadi kurang tanggap dengan keadaan sekitar karena terlalu berfokus pada diri sendiri. Termasuk dalam proses belajar.
Tak apa kalau udah tua tapi masih semangat belajar. Tidak ada kata terlambat.
Iya, iya, sekarang aku paham.

>Membantu imam lain
Kita bisa saja lelah dengan aktivitas yang berulang kali dilakukan. Nah dengan adanya pengganti yang melakukan semuanya sendiri akan memudahkan yang lain. Penonton selalu pengen yang enaknya saja tak pernah memikirkan posisi mereka. Salah dikit ngomel.
Uh nusuk banget..
Paham, paham sekali.

Kesempatan selanjutnya harus aku perbaiki.

Singkat cerita.
Datanglah kesempatan itu. Aku setuju dengan pola pikir baru ini namun tetap mempertahankan caraku sendiri. Melakukan wirid sendiri kemudian pada bagian Syahadat aku akan mengeraskan suaraku dan mengikuti ritme imam agar enak didengar. Auraku berubah menjadi lebih ceria. Tujuannya agar menunjukkan sikap setuju dengan si imam. Uhh.. ini salah satu contoh niatan cari muka. Bermaksud untuk mengubah pemikiran si imam dan yang lain.
Kenapa yang lain juga harusku perbaiki?..
Karena akulah yang lebih dulu bersikap sombong makanya aku akan memperbaikinya.

Tapi apakah semua ini untuk kebaikan dia?

Banyak yang sudah pulang lebih dulu sebelum melakukan sholat sunnah sesudah magrib untuk menghindari imam yang ingin bertahlil. Akupun juga sama.
Entahlah..
Rasa tak suka masih ada didalam hati namun bercampur dengan rasa bersalah.
Aku bicara pada hati "lebih baik aku melakukannya sendiri di rumah" dalam artian aku meragukan. Sesaat sebelum berpaling aku melihat si Hakim masih berada di tempat. Hmm..

Aku pusing karena permasalahan ini menyulitkan aku beribadah, ah mungkin saja kami. Aku paham jika aku menolak mentah-mentah orang lain itu berarti diriku adalah orang yang super sombong. Rasa bersalah akan selalu hadir setelah melaksanakan keputusan, keputusan yang aku anggap benar padahal aku sama sekali tak pernah tahu apa isi hati orang lain. Jadinya diri membuat alasan beribu alasan agar bisa lolos. Teringat kata Guru jikalau orang itu benar-benar beriman ia akan dibenci oleh 72 orang mungkin lebih.
Dibenci?
Yaa alasannya yang aneh membenci dia karena alasan yang aku anggap benar.
Pikiran selalu saja ingin menolak kenyataan.
Terima saja.. oke aku akan merubah pola pikir ini. Kemampuan untuk melihat keburukan orang lain. Kalau tak salah kemampuan ini muncul karena aku ingin mengantisipasi penyihir dan orang-orang yang ingin berniat buruk pada ibuku. Alasan Beater ada..
Tapi sekarang Update-an karakter baru jauh lebih bagus dari caraku yang dulu. Selalu ceria dan tidak berpikir negatif. Tetap santuy menyimpan kebuasan di dalam diri yang suatu hari akan aku aktifkan jika sangat-sangat membutuhkannya.

Waktu isya sudah tiba bergegas aku keluar rumah ingin adzan. Ettt- hampir lupa, berniat.
Kadang kalau emang kepepet aku suka lari 😑
Sampai depan Langgar aku melihat bapaknya Gafur dan pak Rt duduk di bangku sedang berbincang.
Otakku sekejap merespon informasi.
Masalah. Diskusi. Makmum. Keinginan. Yang harus diperbaiki.
Uhh.. aahh tak usah berpikiran macem-macem.
Pak Rt mengisyaratkan tangannya agar aku langsung adzan. Aku mengangguk mengerti.

Masalah ini masih belum terselesaikan. Meminta maaf setelah sholat aku niatkan untuk mengampuni diriku sendiri dan tak melakukan kesalahan yang sama.
Mengaplikasikan ilmu baru untuk semua orang yang dapat aku tangkap.

Ini masih kemenangan kecil...