Senin, 26 Agustus 2019

Rintangan

Kalau hari biasa tiap maghrib pasti rame. Kini langgar sepi. Masalahnya hanya kekurangan imam. Kadang ada, kadang enggak. Banyak yang sholat sendiri di rumah. Setelah 4 hari aku gak ingin lagi sholat maghrib di langgar kami, soalnya bisa gak pasti, pernah sama sekali gak ada orang yang datang selain aku. Sesudah iqamah lama nunggu jadinya sholat sendiri deh. Gak enak. Entahlah, rasanya beda banget sholat sendiri dengan sholat berjamaah, ada yang kurang gitu. Jadi, tak mati langkah lebih baik aku modal dikit untuk bisa sholat ke tempat lain.

Mencoba ke mesjid.
Ah, ada acara bukber tiap hari sementara aku berbuka hanya dengan minum. Takutnya kalau makan dulu baru sholat bisa-bisa hendak buang angin. Cukup mengganggu. Jadinya lama aku duduk menunggu di dalam mesjid, menunggu mereka selesai berbuka.
Untukku hal ini kurang bagus. Aku inginnya sholat dulu baru makan-makan.

Aku coba ke RT sebelah. Di loyang indah.
Setelah minum aku langsung lari atau kadang pake sepeda ke sana.
Aku menyempurnakan wudhu di sana selagi adzan berkumandang. Rupanya yang adzan juga jadi imam. Pastinya aku gak kenal siapa dia apalagi namanya haha. Wahh beliau berbuka hanya dengan minum, sama denganku, pantesan cepet adzannya setelah suling.
Fix, aku bisa berjamaah di sini tiap maghrib.

Di langgar loyang ini banyak mengingatkanku berbagai kenangan seru dan indah. Seperti bermain lari-larian, bolos tarawih pergi ke warnet, dapat ungkapan suka oleh seseorang, habis sholat subuh jalan-jalan ke taman kota. Pokoknya khas banget, mulai dari SD sampe SMP kenangan menumpuk. Pengen sih tarawih di sini tapi yaa mau bagaimana lagi, aku harus menjalankan amanah.
Dan satu hal lagi..

Aku ingin lebih melangkah maju lagi.
Aku ingin tempat yang dapat membuat makin berkembang.

Berat hati sebetulnya tarawih di langgar kami. Tapi mungkin saja itu ujiannya, yaitu aku harus belajar teguh apapun kondisinya. Ibarat diterpa oleh badai. Apa harus berdiam saja tidak melakukan apa-apa atau memilih melangkah maju?
Ataukah malah terlempar dan kalah?
Aku ingin jadi lebih baik lagi dan aku tahu itu..
Makanya aku akan selesaikan misi ini untuk mendapatkan pelajaran berharga. Sampai ku dapatkan lalu melangkah ke tahap selanjutnya.

"ka hapis, padahal dia jauh lebih muda dari kaka tapi sudah jago jadi imam" si Rehan membuka pembicaraan padaku.
Aku terdiam sejenak memikirkan sekejap alasan kenapa agamaku lemah. Sudah menjadi takdirnya aku hidup di keluarga biasa saja, sederhana, yang bukan termasuk golongan keluarga agamis. Tak terpikirkan untuk menyalahkan Tuhan sebab aku yang sekarang paham betul posisi dan yaa banyaklah sudah ilmu pengetahuan yang di dapat. Semua banyak hal telah aku alami.
Percintaan, rasa sakit, pertemanan, terjerumus ke dalam maksiat, hampir mati, menjadi seseorang yang berarti, punya banyak uang, kekurangan uang, disukai banyak orang.. banyak pokoknya. Seharusnya aku dapat penghargaan ya ahaha.
Oleh karena itu yang aku cari sekarang ini adalah melengkapi diriku.
Dengan tenang, menghadapi anak kecil yang ingin tahu. Bersikap ramah dan baik supaya dapat dicontoh. Namanya juga anak kecil.
Aku akui kelemahanku tapi tak melupakan tujuan.

_
Rintangan baru pada bulan puasa yang cukup hot hot tambah musim kemarau jadi makin hot, bahwa bapaknya Gafur hendak jadi imam.
Setelah ba'da isya bapak Gafur tetap berdiam diri menunggu shalawat pembuka tarawih di tempat imam. Iya, fardhu isya tadi dia lah yang jadi imam dan sekarang sedang menunggu. Padahal hari ini kami sudah menyewa imam anak sekolahan yang kemarin. Oh, awalnya aku tak sadar kenapa bapak-bapak yang lain gak bersalawat. Malah, mereka berbincang-bincang seolah-olah ingin me-Trigger bapaknya Gafur.
*Aduhhhh hati ku berkecamuk
Cukup lama sekitar 2 menitan mungkin, yaa waktu yang cukup lama untuk dinanti.
Duar!
Bapaknya Gafur berkata "jadi gak nih tarawihnya?! kalau enggak aku pulang saja!" berdiri hendak pergi.
Ya, jelas yang di depan langsung mengiyakannya.
Sementara aku langsung pusing mengolah informasi semua pihak yang hadir. Sungguh gak enak banget situasi seperti ini. Aku ingin pergi. Ingin sekali pergi dari sini dan tarawih ke tempat lain. Aku berpikir dalam waktu singkat, kepepet.
Sebelum memutuskan, ku lihat bagaimana kondisi kakeknya Halim dan imam sewaan yang berada di depan. Mengolah informasi dari gerakan mereka yang diam sedikit tertunduk, mungkin memejamkan mata, berpikir menanggapi ataukah hal lainnya?..
ahh, tarawih pun dimulai kami semua berdiri.
Kepalaku tambah sakit mendengar imamnya bersuara keras. Kulit wajahnya memerah.
Why?!..
Apa boleh kita mengikuti imam yang marah?!
Kondisi ini baru pertama kali ku alami.
Mencari informan yang telah hidup lama dan menimbang pilihan. Masih kakeknya Halim. Tapi jawaban yang aku inginkan tidak ada. Hanya harus bersikap menengahi. Netral..
Hmm..
Sumpah gak enak didengar. Lain kali kalau yang jadi imam dia lagi  lebih baik aku tarawih ke loyang saja.
Bagian mengejutkannya adalah ketika bersalam-salaman. Bapaknya Gafur malah bersikap ramah berbanding terbalik dengan sikap tajam dari yang lain.
haha..
Ya, betul juga sih, siapa juga yang mau bermusuhan dengan banyak orang.
Jauh berbeda denganku. Aku bahkan tak tanggung-tanggung memusuhi orang-orang yang berusaha merusak kepribadian ku.
...

_
_
Beater meningkatkan 50% kekuatan fisik
Beaster meningkatkan 75% kekuatan fisik dan naluri bertarung.

Sabtu, 17 Agustus 2019

Puasa dan Kerepotan

Bulan puasa telah datang tapi entah kenapa hatiku sulit sekali bahagia menyambut kedatangannya. Tiap tahun rasa bahagia itu semakin memudar. Mengambil langkah pasti, aku takkan membiarkan pembelokan perasaan ini menjadi-jadi. Sebab jika mengabaikannya dan hilang tanpa ada rasa bersalah.. rasanya sama seperti kehilangan sesuatu yang sangat berharga tanpa mengetahui itu benar-benar ada. Sebuah firasat yang paling sering aku alami dari kecil hingga sekarang.
Aku takkan menyerah. Aku akan berusaha mencari penyebab dan solusinya. Pasti terdapat pelajaran yang dapat diambil. Lebih teliti mengoreksi diri. Lebih teliti.
Sembari beraktivitas pikiranku tetap bekerja mencari kesalahan diriku.
Kenapa aku mulai kurang suka dengan datangnya bulan Ramadhan?..
Waktu kecil aku begitu bahagia menyambutnya. Beda dengan sekarang.
Apakah karena waktu kecil aku bisa berlibur lalu bermain sepuasnya? mungkin saja itu alasannya. Karna sekarang aku sudah punya banyak waktu luang jadi... hmm tidak juga. Saat ini aku sedang mengatur waktu untuk beraktivitas soalnya jam tidurku selalu kurang. Makanya datangnya bulan r a madhan- oh! mungkin karena jadwalku terganggu. Ah maksudku aku harus mengatur ulang jadwal seperti tidur, makan, ibadah dan lainnya. Hedehh rupanya hanya karena hal sepele begini. Kalau gitu aku hanya perlu mengikhlaskannya.

Banyak orang-orang alim yang begitu antusias datangnya bulan penuh berkah ini.
Aku tak melihat ke sisi baiknya karna merasa bakal repot lagi mengatur jadwal. Beberapa hari ini atau seminggu ini aku susah sekali istirahat, stamina turun dan tentunya pikiran jadi kelelahan. Ingin berjuang tapi sudah lelah duluan jadinya bakal kerepotan.
Solusinya aku hanya perlu menanamkan kecintaan pada bulan ini dengan begitu karakterku akan jadi lebih baik.

_
>>> Ramadhan bulan penuh berkah <<<

Malam pertama tarawih kondisiku tidak dalam keadaan baik ditambah ruangan Langgar pengap karna jendela sedikit. Angin dari kipas-kipas gak ada gunanya. Malah memperparah. Aku pusing dan ngantuk. Tapi aku masih harus berjuang lagi. Setelah ini kami akan mengadakan tadarusan.
Uhuhu harus kuat lagi..
Setelah tarawih aku dan bapaknya Parid saja yang tadarus. Sebelum bulan puasa aku sudah berjanji bakal tadarusan di sini, kalau yang lain? aku tak tahu, aku tak memaksa hanya mengajak, mau atau tidak terserah mereka, semua punya haknya.
Aku belum lancar mengaji walaupun sudah bisa membaca dengan hukum tajwid. Tapi yang namanya sebatas pengetahuan sendiri dan mencari sendiri tanpa seorang guru pasti masih ada kesalahan. Yep, benar. Aku belajar hanya lewat internet. Mendengarkan langsung dari Hafidz Qur'an asal Arab. Aku suka dan telah belajar mulai dari kelas 2 SMA. Tapi masih disurah Al-Baqarah itupun gak sampai habis. Bayangkan susahnya melawan diri sendiri yang pemalas. Terjebak dalam zona nyaman. Ujungnya akan merasa direpotkan oleh suatu yang pikirku adalah masalah. Bahayanya lagi jika saat ini aku tadarus dengan niat terpaksa menepati janji apa yang akan aku dapat nantinya?
Lebih teliti..
Aku berniat untuk belajar bagaimanapun kondisinya. Sakit, senang, marah apapun itu.

Aku ditegur oleh bapaknya Parid karna banyak salah. Maaf.. aku gugup haha. Padahal aku sedikiiit lancar diawal juz tapi karna gugup.. yah  begitulah.
Cahaya pengingat aktif.
Koreksi diri.
Ahh terselip di dalam hati aku pengen pamer. Sulit juga tadarus memakai mikrofon. Pusing. Pusing. Aku sangat kelelahan.

Besok subuhnya setelah sahur aku hendak pergi sholat. Ah sudah ada yang adzan. Tapi siapa ya? belum kenal aku dengan suaranya, orang baru kah?
Syukurlah.. paling tidak ada yang mau gantikan aku berwirid sebelum subuh soalnya aku masih kesulitan berniat bercampur rasa ingin berbangga diri.
Santai aku berjalan tanpa beban. Aku lihat dari luar sudah banyak orang yang duduk. Hihi rame nih. Pas aku masuk ke dalam ternyata belum ada yang mau berwirid, orang yang adzan tadi adalah temannya adikku, ahh ia belum hafal wiridnya. Setelah sholat sebelum subuh akupun menawarkannya tapi ya ia belum bisa. Uhh terpaksa nih, naitku tak boleh bercampur dengan perasaan bangga.
Suaraku agak bersemangat karna udah makan. Sedikit kurasakan gugup tapi masih bisa diatasi, mengantuk membuatku kurang peka dengan keadaan sekitar.
Bulan ini musuh kita hanyalah diri sendiri.
Aku harus lebih cermat mengatur jadwal dan harus penuh semangat menjalani hari.

...
Berbuka puasa.
Entah kenapa rasanya biasa saja 😑