Sabtu, 18 Januari 2020

Tempat yang Jauh

Bagian 2. Ketakutan

Selanjutnya setelah turun dan sholat kami sudah berencana untuk melanjutkan perjalanan ke tempat wisata air terjun.
Ah konyol, ketika di atas tadi aku malah menghabiskan tenaga bermain lompat-lompatan layaknya parkour. Sepatuku juga jadi menganga karna pelekat lemnya gak kuat. Syukurnya adikku bawa sandal dan sepatu, kalau enggak bisa-bisa ngeker dah.

Aku antusias. Aku ingin sekali mandi karna badanku sudah gerah dan kotor. Kami pun berangkat melanjutkan perjalanan.
Cuaca mendung lagi. Bisa kulihat butiran-butiran air kecil jatuh lambat. Turun naik kami lewati tiap perjalanan yang kian jauh. Aku mulai berharap agar lokasinya dekat. Akan tetapi.. tujuan kami seperti tak berujung.

Entah apa perasaanku saja ataukah memang terasa sangat jauh. Bahan bakar kendaraan seolah-olah tak pernah habisnya.

Satu desa telah terlewati dengan hasil kurang dari 40% aku pahami dan teliti secara luarnya saja.
Desa berikutnya aku berusaha apa adanya.
Selanjutnya lagi aku fokuskan saja pada tenagaku yang semakin lemah. Pinggangku mulai sakit.
Bagiku yang anak rumahan merasakan perjalanan yang jauh untuk pertama kalinya pastilah sangat melelahkan. Bagaimana rasanya ketika pertama kali berada di tempat yang antah-berantah. Perasaan takut jika perbekalan habis dan tak bisa pulang ke rumah. Ah konyol sekali. Seandainya aku tahu bakalan sejauh dan melelahkan seperti ini pastilah diawal ajakan aku akan langsung menolak. Karena aku bodoh tak punya pengetahuan tentang tempat orang makanya jadi begini.
"Sebaiknya kita balik saja" pikirku begitu. Tak ada gunannya melanjutkan perjalanan yang tak berujung ini. Yaa, memang aku orangnya gampang menyerah makanya aku diam saja kerena yang lain bukanlah aku, tak seperti diriku.
Ahh tanganku mulai mati rasa apalagi pertahananku..

0%..

Habis harapan aku mulai pasrah yang rupanya jadi pemberhentian pertama untuk kali ini. Setelah jauh melewati banyak tempat akhirnya kami sampai. Tepat diujung jalan di hadapan kami terlihat sebuah air terjun cukup besar.
Terlihat sungai kecil yang airnya sangat jernih. Bebatuan besar dan jalan yang sangat licin. Begitu pula dengan suhu di sini sangatlah dingin, sangat dingin. Walaupun sudah memakai jaket tetap saja tembus ke kulit.

Menulusuri area baru tujuan kami sekarang ini adalah sarapan. Aku juga sangat lapar dan lelah. Mampir di warung yang jualannya seadanya saja. Uangku sisa sedikit. Kayaknya perlu menghemat supaya bisa pulang.
Teringat selepas sholat subuh tadi aku juga makan mie. Mungkin itulah penyebabnya mengapa aku mudah lelah pada hari ini.

Topik lain pembicaraan, rupanya yang lain juga merasa kalau perjalanan kami sangatlah jauh. Tak bisa mengelak jika di tiap tugu atau tanda memasuki sebuah desa di perjalanan tadi kami berharap di sinilah lokasinya. Rupanya teramat jauh.
"yang sudah terjadi biarlah terjadi" begitulah.
Sekarang waktunya menikmati hasil perjalan yang jauh.
Untuk yang lain saja..
Aku tak mau mandi karena dari sini saja sudah ke dingin apalagi harus mendekat ke air terjun yang terus menerus menghempaskan air sampai membuat embun dan angin kencang. Kalau aku mandi bisa-bisa mati kedingan terus tenggelam deh. Yeahh gak mungkin aku sampai sekonyol itu.
Sebaiknya aku menjaga barang-barang kami karena yang lain pada mau merasakan mandi dekat air terjun.
Aku mengaktifkan lagi pertahananku.
Ada banyak para wisatawan yang membuatku harus berhati-hati. Maaf deh yaa, bukannya mau suuzan tapi aku hanya ingin berhati-hati. Alam sekitar pun juga aku perhatikan. Semuanya aku perhatikan.

Anjirr ada turis mengambil fotoku.
Asemm.. gak sempat menghindar gara-gara fokus melihat kawanan menaiki tebing dan kena tegur.

Sekitar puluhan menit akhirnya yang lain ke darat untuk membujukku sekaligus ingin mengambil camera. Aku masih menolak mandi karna sumpah masih kedinginan. Jadinya aku yang berperan mengambil foto mereka.
Hahaha pada kedinginan.

Sebentar aku ingin berkeliling sekaligus mencari sinar matahari.

Tempatnya sangat bagus menurut penilaianku sendiri.
Sampah-sampah sedikit. Penataan tempatnya juga bagus. Pohon rindang yang khas. Tapi sayang sih.. aku tidak menemukan semacam perasaan misterius yang sering aku alami ketika berada di tempat baru.
Artinya?
Yaa aku juga tak tahu makanya aku penasaran.

Akhirnya aku memberanikan diri ikut mandi tapi di sungai kecil dulu. Jika tahan maka aku akan coba ke dekat air terjunnya.
Ihh.. menginjak batu-batunya saja sudah dingin.
Memasukan kaki terus badan seluruhnya.
*fuhhh
Dingin bingitz.. tapi seger. Aneh juga.

Cerita terus berlanjut, aku mandi dengan yang lain. Mengambil banyak foto. Sampai pulang.

Aku melihat jam handphone rupanya.. wait aku lupa ingatan 😂 skip skip..

_
Menjadi bagian yang penting dari cerita ini adalah ketika kami di perjalanan pulang pada waktu senja. Rasa ketakutanku semakin besar tentang kecelakaan. Berharap, sangat berharap agar tidak mati konyol akibat kecelakaan. Dengan kondisi tubuh yang sangat lemah ini sulit membayangkan aku bisa selamat sampai ke rumah. Kawanan lain sangat cepat berkendara susah untuk mengejar mereka. Tapi syukurnya si Aldi mau membantuku dengan berkendara tak terlalu cepat agar aku bisa mengikutinya dari belakang dan juga adikku membonceng padanya untuk meringankan bebanku.

Rasa takutku bertambah besar setelah melewati pengendara yang kecelakan tak sadarkan diri di jalan. Sumpah aku tak ingin mati karena kecelakan. Aku ingin mati dengan kebiasaan yang baik. Sepanjang perjalanan aku terus berharap agar umurku masih panjang dan bertekad untuk meningkatkan lagi ibadahku. Hari ini hanya sholat sunnah sebelum subuh dan sholat dhuha saja yang bisa aku kerjakan. Sekarang pun sholat isya belum aku kerjakan.
Bagaiman nasibku?
Seolah-olah langit ini bakal runtuh saja.

Semakin dekat dengan rumah ke khawatiranku sedikit berkurang. Tepat di Mabuun aku dan Aldi harus berpisah karna jalur rumah kami beda.
Adikku ingin yang menyetir. Aku izinkan agar pelan saja tapi ia malah melawanku.
Aku bilang padanya "belum lagi, kalau sudah kecelakaan baru tahu rasa.." parahnya lagi ia malah makin melawan. Aku tahan amarahku. Aku sudah lelah. Sudah cukup aku dengan adikku, aku biarkan saja ia mau apa lagi terserahnya bukan urusanku lagi.

Pulang ke rumah. Sholat terus bersiap hendak tidur mengalahkan rasa laparku.
"tadi hujan kah nek di sini?"
Yaa aku juga tak boleh memberatkan nenekku untuk menangani cucian sementara aku malah bersenang-senang. Aku mendapat pelajaran besar.



Sabtu, 11 Januari 2020

Peningkatan

Aku dan Pak Iban tidaklah akrab. Kami berdua baru membangun hubungan setelah aku bekerja di sini. Pak Iban sendiri jarang sekali terlihat di kampung makanya agak sulit untukku ketika ingin berkomunikasi dengannya.
Aku ingin menanyakan sesuatu yang sangat penting. Tapi sebaiknya aku harus menunggu saat-saat yang tepat saja.
"Fidz.. apa kamu gak malu bekerja di sini?.." Ustadz Ma'mun bertanya padaku.
Jujur aku malu..
Malu karena dilihat siswi-siswi bukan malu karena pekerjaannya.
Mungkin bisa disebut naluri para pria ingin terlihat keren di mata lawan jenisnya makanya agak gerogi gitu bila deket atau di dekati siswi-siswi.. emm
Tapi pertanyaan ustadz adalah tentang pekerjaan jadi aku bisa menjawab bahwa aku tidak malu kalau harus bekerja ini itu yang kurang lebih sama dengan pekerjaan rumah.
Hemph! yang penting pekerjaannya halal dan pengen beribadah enak karena di sini lingkungan agamis. Anak pesantren yang berada di samping sekolah SMA ini bisa aku rasakan aura semangat belajar mereka. Wahh! aku juga harus semangat belajar!!
ups.. jangan sampai melepaskan tenaga besar nanti terpakai tenaga Beater.

Setiap kali aku ingatkan diriku agar tidak boleh membangun hubungan terlalu dekat dengan guru-guru di sini, dengan kata lain mereka tak boleh tahu siapa aku sebenarnya. Aku juga harus menahan diriku supaya tidak labil. Tak boleh terlalu bersemangat, terlalu sedih dan apapun emosi yang berlebihan tak perlu ditunjukkan pada mereka. Kali ini benar-benar sulit. Harus benar-benar teliti.

_
Suatu ketika aku di ruangan, Ma'am Rose bilang padaku pernah melihatku tapi lupa di mana katanya. Aku jadi gugup. Mungkinkah.. ketika aku jadi buronan polisi?? ahaha, bukan-bukan..
Aku berpikir juga demikian tapi untuk ustadz Ma'mun dan Pak Riza, entah di mana aku juga pernah melihatnya. De javu kah? atau memang perasaan dari takdir yang sudah terasa sebelumnya. Kalau memang iya, kurasa itu akan jadi hal yang bagus.

_
Hari kurban.
Ustadz Zul mengajakku untuk ikut partisipasi memotong daging kurban pada hari minggu nanti tanggal 11 agustus. Sulit sebetulnya untuk menolak karena aku juga dapat kupon daging kurban di sini tapi mengingat tenagaku sedikit dan perlu istirahat jadi terpaksa sekali aku harus menolaknya dengan alasan aku juga ingin membantu memotong daging kurban di kampung. Padahal.. belum tentu aku ikut.
Apakah artinya aku berbohong?
Jika aku tidak melakukan berarti berbohong.
Gawat.. pasti, aku takkan melakukannya.

Ada satu alasan lagi kenapa aku ragu dengan bujukan ustadz Zul ini. Instingku berkata orang ini perlu aku jauhi. Matanya pun hampir sama denganku. Hanya wawas diri saja.
Setelah aku menolak terlihat raut wajahnya agak cemberut. Aku jadi gak enakkan.

Pada hari kurbannya terpaksa deh aku menerima bujukannya ustadz. Tak enak banget rasanya kalau dapat kupon tapi gak bantu-bantu apalagi gua baru kerja di sini.

Tempatnya di Mesjid ini yang juga termasuk wilayah Yayasan Hasbunallah. Dulu aku kira cuman ada sekolah SD saja rupanya ada SMP, SMA dan Ponpes. Luas banget. Teringat kata pak Tri yang sekarang menjabat sebagai ketua Yayasan, perjuang Guru Ahmad dan guru lainnya sangat luar biasa. Kalau di ceritakan yaa kurang lebih seperti pada umumnya ujian. Kadang turun naik. Asalkan niat lurus semua perjuangan pasti hasilnya bagus. Btw.. kok cuman ada sedikit kendaraan yang parkir di depan mesjid ini. Jangan-jangan gua salah hari? yang benar saja. Mungkin ada di belakang mesjid ini.

Aku menyusuri lewat samping kiri mesjid. Nah, terlihat dari kejauhan banyak sekali orang, lekas aku berjalan ke sana.
Wahh.. sibuk sekali.
"nah hafidz, ayok jangan berdiri saja cepat bantu.."
"ah, iya-iya.." segera setelah meletakkan tas dan jaketku aku langsung membantu.
Aku lihat bagian memotong kulit sapinya kekurangan orang, baiklah ayo lakukan seperti sewajarnya.
Ramai juga, ada beberapa anak-anak yang ikut membantu kami.
"itu ***** nya sapi masukan dalam kantong juga" 😂😂
Beberapa orang pasti ada juga yang suka bercanda haha.

Istirahat sebentar aku berbincang-bincang dengan ustadz Ma'mun dan salah satu temannya yang sekarang jadi guru mengaji atau guru Ummi. Temannya bercerita banyak tentang perjuangannya dari bawah sampai sekarang. Mulai dari menjadi OB di sebuah studio katanya, kalo gak salah. Jadi intinya dia pengen motivasi aku untuk tidak berkecil hati mendapatkan pekerjaan ini.
Dalam hati aku berkata "aku punya tujuan, bagiku pekerjaan ini adalah pelatihan diri jadi mana mungkin diriku terusik hanya karena pekerjaan ini"
Aku tidak gila harta ataupun jabatan, yang ku inginkan hanyalah menjadi lebih baik.
Jika aku tak berdoa untuk didorong, untuk berjuang kepada Allah swt. mungkin saja aku takkan sampai saat ini. Semuanya bukanlah hasil dariku seorang. Aku tak ada daya maupun kuasa.
...

Kesempatan datang untuk menanyakan tentang OB sebelumnya, maksudku
"Apakah kerja dia sangat bagus?.."
Perasaan memang tak enak membicarakan orang lain diam-diam tapi aku butuh kepastian. Misalnya kerjanya jauh lebih baik maka aku harus lebih berusaha dan jika tidak.. aku bisa perlahan-lahan berkembang tanpa memaksakan diri.
Jawabannya begitulah sebetulnya aku sudah menduga. Tapi karena dari saksinya aku bisa memastikan.
Aku jadi cheer up karena yakin bisa melampauinya.