Rabu, 16 November 2016

Belajar belajar dan belajar

Terlahir di keluarga sederhana membuat karakter ku terbentuk dilengkapi dengan sifat turunan dari kedua orang tua. Kadang saat kecil aku memang menginginkan menjadi orang yang kaya. Bukan itu   hal yang wajar, cita-cita dari kebanyakan orang. Iri melihat orang lain memiliki sesuatu yang tak kita miliki, namun jika kau sudah memilikinya apa kau sudah puas?"Lalu terlintas dibenak mu "jika kau miskin" kata itu seperti magic  ketakutan yang menghantui.

Aku pun pernah berharap kalau tidak ingin jatuh miskin. Agar tidak miskin tentu saja kita harus kerja dan belajar menuntut ilmu banyak-banyak. "Ilmu itu bagaikan udara" kata dari seseorang aku lupa namanya. Benar.. aku tau itu bahkan teori Big Bang sudah ku tambahi dengan jalur umumnya, seperti halnya ikan Nun ataupun tentang UFO. Hal itu membuatku perlunya berpikir luas, seluas alam semesta. Manusia adalah hal yang paling kompleks menurutku. Mereka berpikir, mereka memiliki hati, nafsu, takdir dan lain-lain. Aku pernah mencoba berpikir apakah diluar sana maksudku di galaksi lain makhluknya memiliki agama.

Aku terpukau dan itu membuatku bersalah karena pernah menyalahkan dunia. "Kenapa aku ini bodoh?" "Kenapa aku hidup di keluarga ini?" Padahal disana jauh lebih banyak yang menderita. Mereka berperang! Anak mereka di bunuh, wanitanya diperkosa, kelaparan, haus.. seandainya hidup seperti game mungkin kita bisa memilih yang mana kekurangan kita dan kelebihan kita. "Aku ingin memiliki wajah seperti Raisa serta kehidupan mewah tetapi tak memiliki orang tua" dan semua orang pasti memilih wajah tampan dan cantik. Itu nafsu.

Tujuan manusia hidup memang beragam, aku tak ingin menjelaskannya karena itu memasuki pemikiran ulama, seperti halnya ilmu Tuhan. Percayalah memahami hal yang mustahil bisa membuat kepala sakit. Hidup memang indah jika kalian menikmatinya bersyukur, jika dalam masalah bersabar dan cari solusi terbaik dengan cermat tanpa menyakiti siapapun. Belajar belajar dan belajar tak semua  masalah terletak di manusia.

Presentasi kelas giliran kami, aku paling benci kalau ada presentasi karena itu membuatku gugup dan menjadi perhatian. Aku tau kalau belajar presentasi bisa membantu di masa depan, untuk memamerkan ide kita. Walaupun begitu tetap saja memalukan. Di sesi pertanyaan aku sama sekali tak bisa berpikir ditambah menjadi sorotan dari teman kelas. Bu Leni mencoba membuat ku bicara berani, tapi aku menolaknya dan memilih untuk diam. Aku tau kalau Intan pasrah dengan kelakuan ku, bukan hanya Intan saja. "Bu ngapain memberi pelajaran seperti ini, mereka gak bakalan mengamalkan nya" aku protes dalam hati dan itu membuatku diam.

Saat itu kelakuan ku begitu keterlaluan, Bu leni mungkin berpikir kalau aku marah karena dipisahkan duduksama Shevira atau karena pernah debat tentang UN ditunda menguntungkan atau tidak.. ya itu hanya dugaan saja yang penting tidak membuat Bu leni berpikiran kalau aku sedang ngambek. Aku sangat tak terbiasa soal presentasi. Aku lebih memilih belajar sendiri karena sedari sekolah dasar memang begitu memang begitu.

Aku masih ingat saat pertama test masuk sekolah dasar mencoba menulis angka satu sampai sembilan, tetapi aku menulis angka 7 terbalik hehe.. yah aku jadi teringat dengan kejadian lainnya he.. he.. he.. ah bertapa cengeng nya aku dulu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar